Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Berdebat Lagi


__ADS_3

Hari berikutnya...


Saat Biru terbangun, dia merasa seseorang tengah memeluknya. Dia lalu membuka matanya dan melihat Dylan.


"Dylan, kenapa kau ada di sini? Bukankah kau ada di luar kota?" Ucap Biru.


"Kenapa? Apa kau tidak senang melihatku?" Tanya Dylan.


Dylan tiba-tiba mengingat foto Biru yang dia terima. Perasaannya pun menjadi buruk setelah mendengar pertanyaan Biru.


"Bukan seperti itu." Ucap Biru dengan perlahan.


Dia mencoba untuk melepaskan tangan Dylan dari pinggangnya dan dia ingin bangun dari atas tempat tidur, tapi Dylan menariknya kembali. Dylan menaruh tangannya di pinggang Biru. Dia memegang pinggang Biru dengan erat dan itu membuat Biru merasakan sakit.


Dylan juga kesal mendengar pertanyaan Biru.


'Apakah dia tidak senang aku kembali?' tanya Dylan dalam hati.


Bayangan Biru yang menari di klub dengan pria lain muncul dalam kepala Dylan dan membuatnya lebih kesal dan marah.


"Kenapa? Apakah kembalinya aku ini mengganggu dirimu?" Tanya Dylan.


"Dylan, aku sudah mengatakan bukan seperti itu maksudku." Ucap Biru.


"Jika bukan seperti itu, lalu kenapa wajahmu terlihat kau tidak senang melihatku? Jika bukan karena aku kembali, apa yang membuatmu tidak senang?" Tanya Dylan lagi.


Mendengar ucapan Dylan, membuat Biru jauh lebih kesal. Kemudian dia dengan kasar menarik tangan Dylan dan melemparkannya jauh dari pinggangnya, kemudian dia bangun dari tempat tidur. Dylan mengikuti Biru menuju ruang tamu. Dia lalu menarik tangan Biru.


Biru melihat ke arah Dylan dengan tajam, yang membuat Dylan berpikir bahwa Biru tidak senang dengan sentuhan darinya. Rasa cemburu dan marah kembali menjadi satu dalam diri Dylan.


"Kenapa kelihatannya kau tidak suka aku menyentuhmu sekaran? Apakah dia lebih baik dariku?" Tanya Dylan.


Biru tidak mengerti dengan pertanyaan Dylan. Tapi hatinya merasa terluka dan marah saat dia mendengar hal itu. Dia tidak menjawab pertanyaan Dylan. Dia hanya berjalan lurus menuju dapur.


Wajah Dylan menjadi semakin marah. Dia menarik tangan Biru dengan semua kekuatannya yang membuat Biru kesakitan dan tangannya menjadi merah.


"Kenapa? Apa kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku karena kau sudah ketahuan atau kau ingin mencari alasan lainnya sekarang?" Tanya Dylan lagi.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Biru mulai kesal.


Dylan membuka ponselnya dan memperlihatkan galeri di ponselnya. Biru melihat foto itu kemudian matanya menatap Dylan.


"Dari mana kau mendapat semua ini? Apakah kau mengirim seseorang untuk mengikuti ku?" Tanya Biru kepada Dylan, dia juga merasa begitu marah.


"Tidak peduli dari mana aku mendapat semua itu. Kenapa kau masih mau menyangkal semua ini?" Ucap Dylan.


Biru yang mendengar ucapan Dylan menjadi lebih marah. Tapi dia mencoba untuk meredakan amarahnya. Sebenarnya dia masih merasa sedikit kelelahan. Dia juga masih sedikit lemah dia tidak mau menghabiskan semua tenaganya untuk bertengkar dengan Dylan.


Mereka berdua menatap satu sama lain. Biru melihat kemarahan dan kecemburuan di mata Dylan. Dia mengenal Dylan dengan baik. Rasa posesif Dylan kadang-kadang berlebihan.


Setelah Biru menenangkan dirinya, dia menghela nafas panjang.


"Apa itu yang memang kau pikirkan?" Ucap Biru.


Dia lalu menyentuh wajah Dylan dan membenamkan wajahnya di dada Dylan. Dia mencoba untuk membuat kemarahan Dylan mereda.


Biru berkata, "itu bukan seperti yang kau pikirkan. Tidak ada hubungan apapun antara aku dan Zayn. Dia hanya membantuku. Saat itu aku sedikit mabuk dan seorang pria asing mendekat ke arahku untuk menggangguku. Dia pun datang untuk membantuku."


"Lalu kenapa kau pergi ke sana? Bukankah aku melarang mu untuk pergi ke sana?" Ucap Dylan.


Kemudian Biru mengatakan kepada Dylan tentang semuanya. Setelah itu Biru memegang pipi Dylan dan berjinjit lalu mencium bibir Dylan.


"Aku minta maaf aku membuatmu marah." Ucap Biru.


Melihat Biru yang bersikap manis seperti itu membuat hati Dylan melembut dan kemarahan di matanya menghilang.


"Aku juga minta maaf. Aku marah kepadamu karena aku cemburu dan khawatir. Aku tidak suka pria lain mendekat ke arahmu." Ucap Dylan.


"Dylan, Zayn hanyalah temanku." Ucap Biru.


"Tapi aku tetap tidak menyukainya." Ucap Dylan.


"Tapi.."


Sebelum Biru bisa menyelesaikan ucapannya, Dylan sudah menciumnya . Ciuman mereka bertahan beberapa detik. Dylan melihat ke arah Biru kemudian dia menyadari bahwa wajah Biru masih sedikit pucat.

__ADS_1


"Sayang, apa kau sakit? Kau terlihat pucat." Ucap Dylan.


Biru merasa sedikit terkejut mendengar ucapan Dylan, dia lalu menyentuh wajahnya sendiri.


"Benarkah? Mungkin karena aku sakit kepala tadi malam. Tapi aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah minum obat tadi malam." Ucap Biru mencoba untuk bersikap ceria.


Dylan lalu mengusap wajah Biru. Dia menunduk dan menggendong Biru menuju sofa.


"Kau tetaplah di sini, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita. Kau tidak perlu pergi bekerja hari ini." Ucap Dylan.


"Tidak... tidak... Aku sudah meminta izin kemarin. Jadi aku tidak bisa terus tidak masuk bekerja. Aku baik-baik saja sekarang." Ucap Biru.


"Sayang, aku adalah bos mu. Aku memerintahkan mu untuk tetap di rumah hari ini. Ucap Dylan.


"Tidak, aku baik-baik saja sekarang." Ucap Biru menggelengkan kepalanya.


"Kau mau menolak perintah dariku?" Ucap Dylan.


"Tapi.... Baiklah, aku akan ada di rumah hari ini." Balas Biru.


Dylan lalu mendekat ke arah Biru dan memberikan ciuman kemudian kembali ke dapur. Setelah beberapa saat, sarapan sudah siap di meja. Biru dan Dylan duduk saling berhadapan. Dylan lalu menyuapi Biru. Hal itu membuat hati Biru merasa hangat dan juga sedih di saat yang bersamaan. Dia memikirkan penyakitnya.


'Berapa lama lagi aku bisa menikmati semua ini?' pikir Biru.


"Hei, ada apa?" Tanya Dylan. "Apakah kepalamu masih sakit?" Lanjutnya bertanya.


Biru menggelengkan kepalanya.


Dia tersenyum dan berkata, "aku merasa bahagia. Terima kasih Dylan." Ucap Biru.


"Dasar gadis bodoh." Balas Dylan kemudian dia mendekat ke arah Biru dan memeluk Biru.


Ponsel Dylan berdering. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol jawab sementara tangannya yang lain terus menyuapi Biru.


Biru melepaskan pelukannya. Tapi Dylan terus menarik Biru. Dia menutup sambungan telepon dan mulai mencium Biru.


Biru lalu melingkarkan tangannya di leher Dylan dan membalas ciuman Dylan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2