
Saat mereka ada di restoran, Biru melihat Zoya. Dia dengan cepat berbalik. Tapi dia tidak tahu bahwa Zoya sudah menyadari dirinya ada di sana. Kemudian Zoya pergi dan memasuki sebuah ruangan private. Tidak lama setelah itu, Dylan juga terlihat masuk ke dalam ruangan itu. Biru melihat punggung Dylan.
'Jadi itu memang benar-benar Zoya dan Dylan.' ucap Biru dalam hati.
Biru memegang cangkir teh di tangannya dengan gemetar. Awalnya dia berharap bahwa apa yang digosipkan orang-orang bukanlah dua orang yang dia kenal. Tapi sekarang dia menyadari bahwa semuanya memang benar. Biru melihat ke sekeliling untuk mencari Sarah. Tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang dan dia hampir saja terjatuh.
Sepasang tangan seseorang menangkap Biru dan bertanya padanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya orang itu.
Biru mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Pria itu lalu pergi tapi matanya terus melihat ke arah Biru karena dia merasa seolah dia pernah melihat Biru sebelumnya. Tapi dia sendiri tidak yakin.
Biru duduk di depan Sarah. Dia melihat makanannya di hadapannya. Namun dia hanya mengaduk makanannya itu. Sarah yang duduk di depannya bertanya kepadanya.
"Biru, apa kau baik-baik saja?" Tanya Sarah.
Biru tersadar dari lamunannya.
"Aku baik-baik saja." Balas Biru.
Kemudian dia mulai menyendok makanannya dan menaruhnya di dalam mulutnya. Sarah melihat ke arah tangan Biru dan bertanya padanya.
"Ada apa dengan tanganmu?"
__ADS_1
Sarah merasa begitu khawatir. Biru hanya tersenyum seraya menarik tangannya turun ke bawah meja.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja tanganku terkena tumpahan teh hangat." Ucap Biru.
"Tapi tangan mu merah Biru." Ucap Sarah.
Biru tersenyum kepada Sarah dan kembali berkata.
"Ini tidak sakit. Ini baik-baik saja. Ayolah, kau bilang kita akan berjalan-jalan di pantai dan berjalan-jalan ke area toko lokal yang ada di sini." Ucap Biru.
"Baiklah." Balas Sarah.
Mereka pun selesai makan dan berjalan keluar dari dalam hotel. Ada beberapa toko lokal yang ada di sana yang lokasinya tidak jauh dari resort. Mereka berdua membeli beberapa souvernir. Biru melihat sepasang gelang untuk pasangan kekasih. Dia membelinya dan berencana untuk memberikannya kepada Dylan.
Saat mereka tiba di resort, waktu menunjukkan sudah hampir jam 10.00 malam. Biru melihat Dylan dan Zoya berjalan masuk ke dalam lift. Dylan tampak menggendong Zoya. Biru merasa sakit hati. Sarah juga melihat hal itu, dia mengepalkan tangannya. Dia melihat ke arah Biru yang tampak gemetar.
"Biru..." Ucap Sarah.
Biru kembali kepada kesadarannya. Dia melihat ke arah Sarah dan mengusap air matanya.
"Aku baik-baik saja. Ayo pergi." Ucap Biru.
Kemudian mereka berdua kembali ke kamar mereka. Biru tidak mengatakan apapun. Sarah juga tidak mau bertanya. Sarah lalu pergi ke kamar mandi, sementara Biru berdiri di balkon menikmati pemandangan. Tapi saat matanya melihat ke arah kolam yang tidak jauh dari sana, dia merasa sedikit ketakutan.
__ADS_1
Dia memang suka bermain di pantai dan juga senang melihat orang yang berenang. Tapi dia merasa ketakutan setiap kali dia berjalan dekat dengan kolam. Sepertinya dia memiliki phobia terhadap kolam renang.
Sarah berjalan keluar dan melihat Biru yang tengah berada di balkon. Dia pun berjalan ke sana. Tapi ponsel Sarah berdering. Dia lalu melihat ke arah ponselnya dan itu sebuah panggilan dari Kenzo. Dia berjalan ke arah balkon dan menjawab panggilan itu.
Biru mengalihkan pandangannya dan memberikan sinyal kepada Sarah bahwa dia akan masuk. Saat dia masuk, dia mengambil obat dan meminumnya. Dia merasa kepalanya mulai sakit lagi. Setelah itu dia berbaring di tempat tidur. Saat Sarah selesai dengan panggilan teleponnya, dia melihat Biru yang sudah tertidur.
Sarah melihat wajah Biru. Dia merasa bersalah karena dia membawa Biru kemari. Sebenarnya dia ingin mengajak Biru untuk bersenang-senang. Tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan bertemu dengan Dylan dan Zoya di sini.
Sarah lalu mematikan lampu kemudian berbaring di samping Biru.
...----------------...
Biru tengah bermimpi tentang sesuatu. Dia merasa bahwa dia ditarik oleh beberapa orang. Kemudian di adegan lainnya, Biru dimarahi oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu memanggilnya dengan sebutan pembunuh.
Tiba-tiba Biru terbangun dan keningnya dipenuhi dengan keringat. Dia mengusap keringat yang ada di keningnya. Dia berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Biru berdiri di depan cermin. Dia menutup matanya. Mimpinya itu kembali terbayang dalam pikirannya. Dia melihat seorang wanita memarahinya. Kemudian dia ditarik oleh seorang pria. Kemudian dia berteriak meminta tolong dan sisa mimpinya dia tidak bisa mengingatnya lagi. Dia hanya tahu bahwa dia ketakutan.
'Mimpi itu biasanya muncul saat aku mengalami demam. Tapi kenapa aku memimpikan hal itu sekarang?' tanya Biru dalam hati.
Biru membasuh wajahnya dan mandi kemudian dia berjalan keluar.
Bersambung...
__ADS_1