
Dylan mengendarai mobilnya menuju kantor tempat Biru bekerja. Karena saat itu menunjukkan waktu sudah pulang bekerja, jadi banyak karyawan yang mulai berjalan keluar dari gedung perusahaan.
Dylan mengirim pesan kepada Biru dengan mengatakan bahwa dia menunggu Biru di tempat biasa.
Biru berjalan ke arah mobil Dylan dengan sedikit mengendap-endap. Setelah dia yakin bahwa tidak ada yang melihatnya, dia pun masuk ke dalam mobil.
Dylan yang penuh kemarahan tidak melihat bagaimana cara Biru berjalan. Setelah Biru masuk ke dalam mobil, Dylan dengan cepat mengendarai mobilnya pergi. Biru merasa sangat ketakutan. Dia memegang pintu mobil dengan sangat erat.
Mata Dylan melihat ke arah rok yang dikenakan Biru. Setelah itu, dia kembali menatap jalanan yang ada di depannya. Biru bisa merasakan kemarahan dalam diri Dylan. Dia melihat wajah Dylan yang tidak menunjukkan kehangatan sama sekali.
Tidak ada senyuman di wajah Dylan seperti biasanya. Dia bahkan terdiam sepanjang perjalanan. Biru tidak tahu apa yang salah dengan Dylan.
"Dylan, bisakah kau mengendarai mobil dengan perlahan? Ini sangat bahaya..." Ucap Biru mencoba memperingatkan Dylan.
Dylan melihat ke arah Biru dan saat dia melihat wajah Biru yang pucat, dia pun memelankan laju mobilnya.
Mereka akhirnya tiba di apartemen Dylan.
Dylan lalu keluar dari dalam mobil dan kemudian berjalan ke pintu lainnya. Dia menarik Biru keluar dari dalam mobil dan menuju lift. Biru merasa kesakitan.
"Dylan, ini saki. Kau menyakitiku.,," Ucap Biru berteriak.
Dylan kembali pada kesadarannya. Dia melonggarkan pegangannya di tangan Biru dan dia melihat ke arah wajah Biru yang sangat pucat. Dia melepaskan genggamannya pada tangan Biru dan memeluk Biru.
Saat mereka berjalan keluar dari dalam lift, Dylan bisa melihat sesuatu yang salah dengan cara jalan Biru.
__ADS_1
"Apa yang salah denganmu? Apa yang terjadi dengan kakimu?" Tanya Dylan.
Dylan lalu melihat ke bawah dan melihat kaki Biru yang tampak diperban. Dia menggendong Biru menuju apartemennya. Dia lalu menaruh Biru di sofa kemudian dia duduk di depan Biru dan memeriksa luka di kaki Biru.
"Apa yang terjadi? Apa yang salah dengan kakimu ini?" Tanya Dylan lagi.
Namun Biru tidak menjawab Dylan. Dia masih marah pada Dylan.
Dylan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wajah Biru yang tengah melihat ke arah lainnya. Matanya tampak merah.
"Apakah sakit?" Tanya Dylan.
"Memangnya kau peduli?" Balas Biru yang membalikan kepalanya ke arah Dylan dan mengenai pundak Dylan.
Air mata Biru turun ke pipinya. Dylan yang tadinya marah padanya kini menjadi lembut.
"Aku minta maaf. Aku hanya kesal." Ucap Dylan.
"Maaf? Terus kau pikir kapanpun kau kesal, kau bisa melampiaskannya padaku? Kau pikir aku ini apa? Apa aku ini hanyalah sebuah tempat untukmu melampiaskan kemarahan mu?" Ucap Biru kesal.
"Biru, aku minta maaf. Aku hanya terlalu cemburu." Ucap Dylan kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Biru.
Biru tampak terkejut.
'Siapa yang mengambil foto itu dan mengirimkannya pada Dylan? tanya Biru dalam hati.
__ADS_1
"Ini lihat..." Ucap Dylan.
Kemudian Biru mengatakan kepada Dylan tentang semua yang terjadi tapi saat Dylan bertanya tentang kenapa dia pergi ke rumah sakit, Biru belum mengatakan kepada Dylan bahwa dia pergi ke rumah sakit untuk sakit memeriksakan kepalanya dan dokter mengatakan kepadanya bahwa dia hanya terlalu kelelahan.
Dylan mempercayai hal itu. Biru pun merasa lega saat tahu jika Dylan mempercayai dirinya. Dylan lalu mengusap rambut Biru dengan lembut.
"Apa kau lapar sekarang?" Tanya Dylan.
Biru pun mengangguk. Dia mencium kening Biru kemudian meminta maaf pada Biru lagi.
Setelah itu, Dylan memesan makanan untuk mereka berdua. Kemudian dia menggendong Biru ke kamar mandi dan membantu Biru untuk membersihkan dirinya. Dylan bahkan tidak menanyakan apapun lagi Biru pun menghela nafas lega.
Setelah 2 hari luka di kaki Biru akhirnya sembuh Dia pergi ke rumah sakit lagi untuk memeriksakan kakinya. Tapi kali ini Dylan menemani dirinya.
Saat mereka berada di dalam mobil, Sarah menelepon Biru dan mengatakan bahwa dia akan kembali dalam waktu beberapa hari lagi. Dia juga membelikan sesuatu untuk Biru.
Biru melihat ke ponselnya dan tersenyum. Dylan melihat perasaan Biru yang membaik. Dia memegang tangan Biru dengan erat saat mereka melewati sebuah cafe yang menjual bubble tea Biru pun meminta Dylan untuk berhenti.
Dia pun berjalan keluar dan pergi membelikan Biru bubble tea itu. Biru merasa sangat bahagia dengan melihat ke arah Biru dengan erat. Biru masih sama seperti sebelumnya.
Mata Biru selalu tampak berbinar saat dia melihat bubble tea. Melihat Biru yang sangat bahagia hanya dengan meminum bubble tea membuat Dylan bahagia. Dylan mengusap rambut Biru dengan lembut kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya lagi.
Sepasang mata melihat ke arah mereka dengan penuh kemarahan. Zoya mengepalkan tangannya saat memegang setir mobil. Kebenciannya kepada Biru semakin besar hari demi hari. Dia berpikir bahwa dia harus menemukan cara untuk membuat mereka berdua berpisah.
Bersambung...
__ADS_1