Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Di saat yang bersamaan, Sarah berjalan menuju ruangan di mana Biru dirawat. Dia melihat Biru berbaring di tempat tidur. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Biru dan menangis.


Biru tampak terdiam saat dia melihat Sarah.


"Sarah, kenapa kau ada di sini dan kenapa kau menangis?" Tanya Biru.


Sarah langsung memeluk Biru dengan erat.


"Dasar kau gadis bodoh. Kau membuat aku terkejut. Aku menelpon mu beberapa kali dan seorang perawat mengatakan kepadaku bahwa kau berada di rumah sakit. Dia mengatakan bahwa kau pingsan di cafe. Aku sudah bilang padamu untuk tidak stres memikirkan Dylan. Biarkan saja dia pergi dan aku juga mengatakan kepadamu untuk makan tepat waktu dan lihat sekarang, kenapa kau buat dirimu sendiri menjadi seperti ini?" Ucap Sarah.


Biru merasa tersentuh melihat perhatian Sarah kepada dirinya. Sarah adalah salah satu sahabat baik Biru selain Ruby yang sangat peduli kepada dirinya. Biru lalu mengusap punggung Sarah. Matanya sendiri tampak merah.


"Sarah, terima kasih. Kau selalu peduli kepadaku. Kau lihat aku baik-baik saja sekarang. Aku hanya sedikit lelah dan pingsan. Aku berjanji kepadamu bahwa aku akan menjaga diriku sendiri dengan baik." Balas Biru.


Sarah melepaskan pelukannya pada Biru. Mereka mengusap air mata mereka berdua dan tertawa bersama. Mereka melihat satu sama lain dan hanya hati mereka yang tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.


Beberapa saat kemudian, dokter datang dan mengatakan bahwa persiapan untuk melakukan tes pada Biru sudah siap. Biru pun dibawa ke dalam ruangan tes itu.


Sarah bertanya kenapa Biru harus melakukan tes kesehatan. Biru pun meyakinkan Sarah bahwa semuanya adalah hal yang normal untuk dilakukan dimana pasien yang pingsan harus melakukan tes karena dokter takut kepala pasien akan membentur sesuatu saat mereka terjatuh.


Sarah pun mengangguk dan mengikuti Biru pergi ke ruangan tes. Dia lalu menunggu di luar ruangan pemeriksaan itu.


Di dalam ruangan pemeriksaan, Biru meminta dokter untuk merahasiakan hasil dari pemeriksaan itu. Dia tidak mau Sarah menjadi khawatir. Biru lalu meminta dokter untuk mengatakan kepada Sarah bahwa dia baik-baik saja.


Biru juga ingin segera keluar dari rumah sakit setelah melakukan tes itu. Dia akan ada di sana lagi besok untuk mendengar hasil dari tes pemeriksaan itu dari dokter.


Dokter pun setuju karena ini adalah keinginan pasien yang merupakan hal pribadi bagi pasien sendiri.


Setelah tes pemeriksaan selesai dilakukan, Biru keluar dari dalam rumah sakit bersama Sarah. Mereka berdua lalu pergi untuk makan malam.


Malam itu Biru menginap di tempat Sarah. Orang tua Sarah memperlakukan Biru seperti anak mereka sendiri. Biru merasa kan kehangatan dalam hatinya saat dia berada dalam keluarga Sarah.


Dylan menelepon Biru dan mengatakan bahwa dia harus menginap, dan dia akan kembali lusa karena pekerjaannya. Biru hanya menjawab Dylan dengan balasan 'oke.'


...----------------...


Hari berikutnya Biru bergegas pergi ke rumah sakit setelah dokter menelpon dirinya. Biru meminta izin satu hari untuk tidak pergi bekerja.

__ADS_1


Saat Biru tiba di rumah sakit, dokter menjelaskan kepada Biru tentang situasinya. Wajah Biru pun menjadi pucat dan kakinya terasa lemas.


Tumor...


Itulah alasan kenapa Biru sering merasa sakit kepala. Dokter mengatakan kepada Biru untuk mulai melakukan treatment dan juga melakukan operasi.


Saat Biru berjalan keluar, dia memegang kertas itu dan melihat hasil dari pemeriksaan yang dia lakukan kemarin dan hatinya merasa sakit. Hidupnya begitu menyedihkan.


Biru masih belum menemukan orang tua kandungnya dan sekarang dia malah mendapatkan sebuah tumor di dalam kepalanya. Dia tahu bahwa treatment dan operasi memerlukan banyak uang.


'Tapi dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?' pikir Biru.


Jika dia tidak melakukan treatment dengan segera, dia tahu bahwa kemungkinan dia tidak akan hidup lama lagi.


Biru mengusap air matanya saat tiba-tiba seseorang memanggilnya. Biru dengan cepat memasukkan kertas hasil pemeriksaannya itu ke dalam tasnya dan berbalik.


Dia melihat Zayn berlari ke arah dirinya. Saat Zayn sampai ke sisinya, Biru pun tersenyum kepadanya.


"Biru? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Zayn.


Biru tersenyum.


Zayn hanya mengangguk. Tapi dia melihat mata Biru yang tampak sedih. Dia tahu jika Biru tidak mau mengatakan kepadanya tentang masalahnya. Jadi dia tidak ingin memaksa Biru untuk mengatakan apapun kepadanya lagi.


Zayn lalu bertanya kepada biro ke mana dia akan pergi, fan Biru berkata bahwa dia ingin kembali ke apartemennya. Lalu Zayn pun menawarkan untuk mengantar Biru pulang.


Saat tiba di rumah, Biru menyimpan kertas hasil pemeriksaan kondisinya itu di dalam sebuah kotak dan menaruhnya di bawah pakaiannya. Biru tidak mau Dylan menemukan kertas itu.


Biru berdiri di samping jendela dan berpikir tentang kehidupannya. Dia membuka album fotonya dan melihat foto dari orang tua angkatnya.


"Mama... Papa... mungkin kita akan bertemu secepatnya." Ucap Biru menangis dan kemudian tertidur selama 3 jam.


Saat Biru terbangun, dia melihat sebuah pesan dari Dylan.


Dylan mengatakan bahwa dia sudah tiba di bandara dan menanyakan di mana Biru berada.


Biru membalas pesan Dylan dan mengatakan bahwa dia berada di apartemennya sendiri. Dylan pun mengatakan bahwa dia akan tiba di apartemen Biru secepatnya.

__ADS_1


Biru lalu dengan cepat pergi mandi dan mengenakan make up di wajahnya untuk menutupi wajahnya yang tampak membengkak karena menangis sejak tadi.


Biru memutuskan untuk menikmati sisa hidupnya dengan tersenyum. Apapun yang akan terjadi nantinya, dia akan menerimanya dengan penuh kebahagiaan.


Walaupun nantinya dia tidak bisa melakukan perawatan di rumah sakit, tapi dia juga bersyukur untuk menerima semua takdirnya.


Tujuan utama Biru sekarang adalah untuk menemukan orang tua kandungnya. Dia ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya.


Biru mengingat Zoya.


Zoya mengatakan bahwa dia adalah teman masa kecil dirinya. Mungkin Zoya tahu tentang siapa orang tua Biru. Jadi Biru memutuskan bahwa dia harus menghubungi Zoya besok.


Memikirkan hal itu wajah Biru menjadi ceria dan ada senyuman di bibirnya.


Saat dia berjalan keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Dylan berdiri di samping jendela. Dylan berbalik dan membuka kedua tangannya. Biru berjalan mendekat ke arah Dylan dan memeluk Dylan.


Air mata Biru terjatuh. Dylan melihat ke arah Biru dan mencium kening Biru lalu mengusap air matanya.


"Apa kau sangat merindukan aku?" Tanya Dylan menggoda.


Biru mengangguk. Dia lalu melepaskan pelukannya dari Dylan dan berjinjit. Dia menarik kepala Dylan ke bawah lalu mencium Dylan.


Melihat hal itu, Dylan tersenyum. Dia lalu memeluk Biru dengan erat dan memperdalam ciuman mereka.


Air mata Biru terus mengalir. Dylan menyentuh pipi Biru dan mengusap air matanya. Dylan merasakan sesuatu yang aneh. Dia lalu melepaskan pelukannya dan melihat ke arah wajah Biru. Dia pun bertanya kepada Biru.


"Ada apa sayang? Apa yang salah denganmu? Kenapa kau menangis? Kenapa air matamu terus saja turun?" Tanya Dylan.


Biru membenamkan wajahnya di dada Dylan dan memeluk Dylan dengan sangat erat.


"Aku hanya sangat merindukanmu." Ucap Biru.


"Aku juga merindukanmu Biru." Balas Dylan seraya mengusap rambut Biru.


"Aku mencintaimu Dylan." Ucap Biru lagi.


"Aku juga mencintaimu. Berhentilah menangis oke. Kau itu akan menjadi jelek jika kau tidak berhenti menangis. Aku di sini sekarang. Aku akan ada bersamamu." Balas Dylan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2