
Keesokan paginya...
Zayn datang dan mereka sarapan pagi bersama. Saat mereka selesai, Ruby kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu sementara Biru dan Zayn berada di lobby Hotel menunggu Ruby.
Saat mereka tengah mengobrol, seorang bellboy mendorong sebuah troli melewati mereka dan saat itu sebuah koper terjatuh dan hampir mengenai tubuh Biru. Zayn dengan cepat menarik Biru ke dalam pelukannya. Bellboy itu meminta maaf, kemudian dia pergi.
Biru dan Zayn menyadari posisi mereka yang terlihat begitu intim. Zayn lalu meminta maaf dan kemudian melepaskan lengan Biru. Wajah Biru tampak merona.
"Terima kasih." Ucap Biru kepada Zayn karena sudah membantunya.
Saat Ruby kembali, Zayn mengantar mereka menuju sebuah Mall. Biru memanggil Sarah untuk bergabung dengan mereka.
Mereka bertiga pun menghabiskan waktu mereka membeli tas dan pakaian. Saat mereka mencoba pakaian masing-masing, Sarah melihat kalung yang ada di leher Biru. Sarah merasa familiar dengan kalung itu. Tapi dia lupa di mana dia pernah melihatnya.
Mereka bertiga lalu memilih tiga outfit yang tampak begitu fashionable dan Ruby yang membayar untuk mereka.
Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke Hotel. Ruby harus pergi ke bandara sekarang, karena penerbangannya akan berangkat jam 08.00 malam.
Biru dan Sarah mengantar Ruby pergi ke bandara. Setelah itu mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Setelah tiba di apartemennya, Biru pergi ke kamar mandi kemudian dia membersihkan dirinya. Dia memeriksa ponselnya dan dia merasa sedikit kecewa karena Dylan tidak menghubunginya.
Biru lalu mengeluarkan laptopnya dan kemudian mulai bekerja. Setelah mengirim beberapa email, Biru menutup laptopnya dan berjalan ke kamarnya. Saat itu pintu apartemennya berbunyi. Dia lalu pergi membuka pintunya dan melihat bahwa itu adalah Dylan.
Biru merasa gemetar melihat sorot mata Dylan yang tampak penuh kemarahan.
'Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia terlihat marah? Aku lah orang yang seharusnya marah, bukan dia. Tapi kenapa tatapan matanya seolah dia ingin membunuhku?' pikir Biru.
Dylan melangkah masuk ke dalam apartemen Biru. Dia langsung menutup pintu dengan keras dan mendekat ke arah Biru dengan maTanya yang tidak lepas dari wajah Biru. Sementara Biru sendiri berjalan mundur.
Biru berdiri diantara Dylan dan meja makan. Dia berkata kepada Dylan dengan suara yang gemetar.
"Di... Dylan, kau di sini." Ucap Biru.
Dylan semakin mendekat dan berdiri di depan Biru. Dia memegang dagu Biru dan membuat Biru menatap maTanya.
__ADS_1
"Di... Dylan... kau." Ucap Biru gugup.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu Princess?" Ucap Dylan.
"Mengatakan apa? Aku tidak mengerti. Apa yang kau bicarakan?" Ucap Biru yang benar-benar tidak tahu apa maksud dari perTanyaan Dylan itu.
"Apa kau yakin, kau tidak tahu?" Tanya Dylan.
Dylan mengeratkan genggamannya di dagu Biru dan membuat Biru merasa kesakitan.
Biru tidak pernah melihat Dylan semarah itu. Dia menjadi semakin takut. Tapi dia benar-benar tidak mengerti tentang pertanyaan Dylan itu.
'Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya jika aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaannya itu?' pikir Biru.
Tatapan mematikan dari Dylan itu membuat Biru sangat takut.
"Di... Dylan!" Ucap Biru lagi seraya mencoba untuk melepaskan tangan Dylan dadi dagunya, tapi Biru gagal dan dia mulai memukuli dada Dylan.
"Ini sakit Dylan. Lepaskan aku dulu. Bisakah kita bicara dengan tenang. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan." Ucap Biru.
"Itu..."
"Itu apa? Apa yang kau lakukan dengannya di sana?" Ucap Dylan memotong ucapan Biru.
Akhirnya Biru mengerti apa yang dimaksudkan Dylan. Biru melihat kemarahan dan rasa cemburu di mata Dylan. Biru lalu dengan cepat menjelaskan semuanya. Kemudian dia menjulurkan tangannya dan melingkarinya di leher Dylan. Dia menarik kepala Dylan ke bawah dan mencium Dylan.
"Apa kau cemburu? Kekasihku sangat tampan seperti ini. Bagaimana bisa aku tertarik dengan orang lain?" Ucap Biru.
Perasaan Dylan menjadi membaik saat dia mendengar ucapan Biru. Matanya mulai tampak lembut saat dia melihat ke arah Biru. Dia bahkan tersenyum.
Dia mencubit hidung Biru dan berkata, "sangat baik sekali kau paham dengan hal itu."
Kemudian dia menundukkan kepalanya dan ingin mencium Biru lagi. Tiba-tiba Biru menutup bibirnya dengan tangannya dan mendorong Dylan menjauh darinya.
__ADS_1
Dia berkata kepada Dylan dengan tatapan yang marah.
"Tapi tunggu dulu! Bukankah aku seharusnya yang marah denganmu karena kau tidak menepati janjimu dan kau juga muncul dengan seorang wanita di hotel itu. Siapa dia?" Ucap Biru.
Dylan menarik Biru mendekat ke arahnya dan memeluk Biru. Kemudian dia memegang dagu Biru untuk bisa melihat ke arahnya.
"Seseorang kelihatannya cemburu." Ucap Dylan.
"Siapa yang cemburu? Kaulah yang cemburu." Ucap Biru.
Dylan mencubit pipi Biru dan mencium keningnya.
"Tentu saja aku cemburu. Aku punya seorang kekasih yang menggemaskan dan menarik hati seperti ini dan dia juga sudah berani mengenakan sebuah gaun yang membuat para pria meneteskan air liur mereka." Ucap Dylan seraya mencubit hidung Biru dan kemudian mencium bibirnya.
"Jangan pernah kenakan gaun seperti itu lagi tanpa aku di sampingmu." Ucap Dylan lagi.
"Kenapa? Apakah aku tidak cantik dengan mengenakan gaun itu?" Tanya Biru dengan menggoda.
"Kau sangat cantik. Tapi aku tidak suka melihat pria lain meneteskan air liur mereka saat mereka melihatmu karena kau hanyalah milikku." Ucap Dylan.
Biru berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Dylan lagi kemudian dia mencium Dylan lagi.
Aksi Biru itu membuat Dylan terkejut. Dylan lalu menggendong Biru kemudian keduanya berciuman lebih dalam. Sudah cukup lama mereka tidak bermesraan seperti itu. Ciuman mereka menjadi semakin panas.
Dylan melepaskan ciumannya untuk membuat Biru bisa bernapas. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Mereka melihat hasrat di mata satu sama lain, kemudian mereka melanjutkan ciuman mereka.
"Sayang aku menginginkanmu." Ucap Dylan di sela ciumannya.
Sambil berciuman mereka masuk ke dalam kamar. Mereka berdua jatuh di atas tempat tidur.
Setelah malam yang panjang, Biru akhirnya tertidur. Dylan berbaring di samping Biru dan mencium keningnya kemudian dia menarik Biru ke dalam pelukannya dan menutup matanya ada senyuman di wajah Dylan.
Biru akhirnya menjadi milik Dylan sepenuhnya. Sejak mereka bersama, walaupun mereka begitu intim, selain ciuman mereka tidak pernah melakukan hubungan itu. Jadi ini adalah pertama kalinya bagi mereka melakukannya.
__ADS_1
Dylan selalu mencoba untuk menahan dirinya sendiri, karena saat itu Biru masih seorang mahasiswa. Tapi sekarang dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Di samping itu, dia juga takut kehilangan Biru. Saat dia melihat Biru dekat dengan pria lain kemarin, dia menjadi begitu cemburu.
Bersambung...