Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Tumor


__ADS_3

Mereka pergi ke sebuah restoran private. Tidak ada banyak customer di sana. Orang-orang mengatakan bahwa itu restoran private karena hanya selebriti atau orang kaya yang bisa pergi ke sana dengan memesan sebuah ruangan private. Orang yang bisa kesana juga merupakan member dan VIP di restoran itu.


Makan malam berjalan dengan lancar. Bahkan walau Biru merasa Dylan menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Biru terus meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin ini bukan waktunya bagi mereka untuk melangkah lebih jauh. Biru mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka baik-baik saja.


Setelah makan malam, Dylan dan Biru kembali ke apartemen Dylan.


Bahkan walaupun Biru mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka baik-baik saja, tapi di dalam hatinya dia masih merasa tidak nyaman. Sepanjang waktu dia lebih banyak diam.


Dua hari kemudian Dylan pergi lagi untuk melakukan perjalanan bisnis. Biru tidak kembali ke apartemennya kali ini karena Dylan hanya pergi selama satu hari.


Biru berjalan keluar dari perusahaan dan dia melihat sebuah mobil terparkir di luar kantor. Seorang sopir keluar dari mobil itu saat dia melihat Biru.


Sopir itu mengatakan kepada Biru bahwa seseorang menunggu Biru di dalam mobil. Dan saat Biru berjalan mendekat ke arah mobil, jendela mobil terbuka dan ada Zoya di dalam mobil itu.


Zoya mengatakan bahwa dia ingin membicarakan sesuatu dengan Biru tentang Dylan. Sopir itu pun membuka pintu mobil dan meminta Biru masuk ke dalam mobil. Mereka lalu pergi ke sebuah kafe dan memilih duduk di sudut ruangan cafe itu.


Zoya terus menatap Biru.


"Lama tak bertemu Biru. Kelihatannya Kau hidup dengan baik sejauh ini." Ucap Zoya.


Biru tampak bingung dengan ucapan Zoya. Dia tidak mengenal Zoya. Dia hanya tahu Zoya adalah teman Dylan. Tapi Biru heran kenapa Zoya menyapanya, seolah mereka adalah teman lama.


"Aku minta maaf Nona Zoya. Tapi apakah aku mengenalmu? Maksudku apakah kita pernah mengenal satu sama lain sebagai teman?" Ucap Biru.


Zoya menyeringai.


"Jadi itu memang benar bahwa kau kehilangan ingatanmu. Aku adalah temanmu. Sebenarnya Kau adalah teman masa kecilku Biru." Ucap Zoya.


Biru melihat ke arah Zoya dengan bingung. Dia mencoba untuk mengingat masa kecilnya. Tapi dia tetap tidak bisa mengingatnya.


"Aku minta maaf tapi aku tidak bisa mengingat apapun." Ucap Biru.

__ADS_1


" Oh tidak masalah aku bisa membantumu untuk mengingatnya." Balas Zoya.


Biru merasakan suatu hal yang buruk. Tapi dia mencoba untuk tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Biru.


Tentu saja Biru ingin mengetahui masa lalunya karena dia ingin menemukan keluarga biologisnya.


"Tidak apa-apa." Ucap Zoya kemudian dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya dan mendorongnya ke arah Biru.


Biru melihat ke arah foto itu dan melihat ada tiga gadis kecil dan dia mengenali salah satu dari mereka. Iya benar, itu adalah dirinya sendiri.


"Ini...." Tangan Biru gemetar.


"Ini adalah foto masa kecil kita. Ini aku, kau, dan Ella." Ucap Zoya.


"Ella?" Ucap Biru bingung.


Nama itu terdengar familiar bagi Biru.


"Iya, Ella. Adik dari Dylan." Ucap Zoya lagi.


"Adik Dylan?" Ucap Biru semakin bingung.


Dia melihat ke arah foto Ella lagi. Hatinya merasa terluka. Dia pernah mendengar bahwa Dylan memiliki seorang adik tapi sudah meninggal. Biru tidak pernah bertanya kepada Dylan tentang adiknya karena dia tidak mau membuat Dylan merasa sedih. Dia juga menyadari bahwa Dylan tidak mau membicarakan hal itu kepadanya.


"Malang sekali, dia meninggal saat dia masih berusia kecil usia.," Zoya tampak berpura-pura sedih dan kepalanya tertunduk kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Dylan sangat menyayangi Ella. Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin Ella masih menjadi adik kecil kita. Dia lebih kecil dari kita. Sampai sekarang Dylan masih merasa sedih saat dia mengingat Ella." Ucap Zoya lagi.


Biru merasa hatinya terluka saat dia mendengar ucapan Zoya. Sesuatu mengganggu pikirannya. Hatinya terluka dan kepalanya mulai sakit lagi. Zoya melihat Biru memegang kepalanya. Dia berpura-pura peduli kepada Biru.


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat." Ucap Zoya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit sakit kepala." Ucap Biru.


"Oh aku minta maaf karena sudah mengganggumu kita bisa membuat Janji lainnya kau harus kembali pulang untuk istirahat Ucap Zoya.


Biru mengangguk dan Zoya pun berdiri lalu berjalan keluar dari dalam cafe dengan senyuman jahat di wajahnya.


"Ella..." Ucap Biru memegang dadanya. "Apa yang terjadi antara aku dan Ella? Kenapa aku merasa terluka saat mendengar namanya?" Ucap Biru lagi.


Biru mencoba mengingat hal itu. Namun rasa sakit di kepalanya muncul lagi. Dia berdiri dan mencoba untuk berjalan. Tapi tiba-tiba dia terjatuh dan dia pun tak sadarkan diri.


...----------------...


Saat Biru terbangun, dia sudah berada di rumah sakit. Seorang dokter masuk dan memeriksa kondisi Biru.


"Nona, apakah kau sering merasa sakit kepala akhir-akhir ini dan rasanya seperti kau ingin muntah dan perasaanmu selalu tidak beraturan?" Tanya dokter itu.


Biru mengangguk, sementara dokter itu menghela nafas.


"Apa kau bersedia untuk melakukan pengobatan?" Tanya dokter itu.


"Dokter apa yang terjadi dengan ku?" Tanya Biru


"Aku menduga bahwa kau memiliki tumor di kepalamu." Ucap dokter itu.


Biru menatap dokter itu dengan wajah yang tampak terkejut. Dokter itu langsung bicara.


"Tapi ini hanya masih prediksi saja. Kau masih harus melakukan beberapa tes untuk mengetahuinya. Jika kau bisa melakukannya, aku akan membuat janji denganmu. Saran dariku, lebih baik jika kau melakukannya secepatnya. Jadi kita bisa menemukan solusi untuk mengobatinya." Ucap dokter panjang lebar.


Biru menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan melakukannya." Ucap Biru.

__ADS_1


Dokter itu lalu pergi dan berjalan keluar untuk menyiapkan tes bagi Biru.


Bersambung...


__ADS_2