Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 23 Apa kamu mengkhawatirkanku?


__ADS_3

...HAPPY READING...


...BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA:)...


...READY?...


...LES'T GO!...


...*...


Di ruang keluarga terdapat Ara, Jackson dan juga Bimo. Jangan di tanyakan gimana perasaan Bimo saat ini, Bimo terduduk tak berani menatap sang tuannya.


Bimo hanya bisa memegang erat ujung bajunya.


" Kenapa kamu bisa ada disana?" Suara familiar di telingga Bimo membuat bulu kutuk Bimo berdiri.


" Saya juga tidak tau tuan, saat ingin membuka pintu tiba-tiba ada seseorang yang memukul punggungku keras. Saya mencoba melawan tapi lagi-lagi dia memukulku hingga akhirnya saya jatuh tak sadarkan diri," Tuturnya menunduk tak berani menatap Jackson.


" Lalu apa kamu tau siapa pria itu?" Tanyanya


" Tidak tuan! Saya sudah mencoba mengambil kain dari wajahnya tapi orang itu sangat lincah dan cerdik, saya tidak bisa melihatnya," Jawabnya.


" Tuan! Apa jangan-jangan  Ferdy yang melakukan itu?" Tebaknya.


Ara yang mendengar itu langsung membuka suara.


" Itu tidak mungkin, Ayah aku tidak akan pernah mau melecehkan aku anaknya sendiri," Sergahku.


Jackson terdiam mencerna perkataan Ara, memang benar tidak mungkin Ferdy mau melecehkan putrinya sendiri.


Itu berarti ada seseorang yang ingin berbuat bejat terhadap Ara.


Jackson menyuruh Bimo untuk pulang dan  mencari tau tentang siapa di balik ini semua. Bimo menganguki perintah Jackson, dan beranjak pergi.


Jackson menuntun Ara ke halaman belakang, Ara merasa bingung karna tiba-tiba Jackson mengajaknya ke halaman belakang.


Jackson pergi ke dalam rumah, tapi sebelum itu Jackson menyuruh Ara ubtuk tetap di sana. Ara menganguk dan mengikuti perintah Jackson untuk tetap diam di halaman.


Tak lama, Jackson datang. Aku terkejut bukan main saat kala melihat Jackson datang dengan tangan yang tidak kosong.


Jackson memegang sebuah pistol besar di tangannya, Jantungku berdegup kencang ketakutan ku muncul saat ini.


Aku bertanya-tanya dalam hatiku 'kesalahan apa lagi yang sudah aku perbuat?'.


Jackson menghampiriku dengan tangan yang membawa pistol, Aku mundur perlahan karna merasa takut akan Jackson. Jackson mengerutkan dahi melihat tingkahku yang seperti ini, Aku terus mundur hingga tanpa sadar kakiku keseleo dan hampir saja terjatuh ke tanah.


Tapi, untung saja dengan cepat Jackson meraih tubuhku hingga akhirnya tubuhku tidak ambruk ke tanah.


Tatapan kami bertemu netraku terus menusuk ke mata elang yang rasanya membuatku nyaman saat melihatnya.


Degh


Degh


Degh


Lagi-lagi jantung ku berdetak tak normal saat kala di dekatnya. Apa-apaan ini kenapa dengan jantungku?.


Tak lama Jackson melepas pelukannya, aku tersadar dan membetulkan posisi berdiriku.


" Pegang ini!" Jackson melempar pistol besar itu ke arah ku.


Dengan segap aku menangkapnya, pistol ini sangat berat terbuat dari apa ini?.


" A_apa ini?" Tanyaku


" Coba tembakan peluru ituh ke arah sana," Suruhnya.


" Hahh! T_tapi aku ngak bisa," Ucapku.


" Lakukan!" Suruhnya tanpa memerdulikan aku yang sudah bilang tidak bisa.


Aku memegang pistol itu dengan tangan yang gemetar hebat, ini baru pertama kalinya aku melakukan ini. Tangan dan mulutku kaku rasanya tidak bisa di gerakan. Jackson yang melihat itu geram dan membuang nafas kasar.


" Apa kamu tidak bisa memegang pistol hah?" Tanyanya dengan nada tinggi.


Aku mengeleng sebagai jawaban. Jackson membuang nafas lelah dan langsung merebut pistol itu dari tanganku.


Jackson berjalan ke arah sampingku.


Jackson membantuku untuk cara memegang pistol dan cara mengunakannya. Aku terkejut saat kala Jackson memegang pundakku.


...



...


Kenapa dengan perasaanku, kenapa rasanya nyaman saat di pegangnya seperti ini!.


" Saat kamu seperti kamu harus pokus dengan apa yang ingin kamu tembakan di depanmu," Ucapnya


Aku menganguk sebagai jawaban,


" Tembakan!" Suruhnya


" Apa?"


" Apa aku harus mengulangnya lagi?"


Aku mengeleng sebagai jawaban, seperti dengan perintahnya aku mulai memegang pistol itu dengan gengamanku. Aku memfokuskan netra mataku dengan Apel berwarna merah di depan sana. Tanganku   bergemetar baru kali ini aku memegang pistol seperti ini.


Ku tarik benda kecil itu dengan kedua mata yang tertutup ku lepas benda itu dan_


Duarrrrr


Jantungku berdetak tak normal, ku buka mata secara perlahan dan terkejut saat melihat Apel berwarna merah itu hancur karna satu tembakan yang aku buat.


Jackson tersenyum kecil merasa berhasil sudah mengajari Ara.


PROKKK_PROKKK_PROKKK


Suara tepukan tangan mengema di telinggaku, aku menoleh dan melihat Jackson yang menatapku dengan senyuman kecilnya. Baru kali ini aku  melihat pria saat ini di depanku sedang tersenyum ke arahku walaupun hanya senyuman kecil tapi itu bisa membuatnya terlihat lebih sempurna dari pada dingin dan tidak tersenyum sama sekali.

__ADS_1


" Woww kamu hebat Ara baru saya ajarkan sedikit, kamu sudah bisa menembak dengan sempurna," Pujinya.


Aku masih diam tidak mengubris ucapannya, saat ini aku sedang diam tak percaya dengan apa yang ku pegang dan apa yang sudah aku lakukan tadi.


Jackson menuntunku ke meja kursi kayu di sana, Jackson memberikan ku sebuah minuman. Tanganku kaku saat mengambil minuman itu, karna takut kalau Jackson sudah memberikan sesuatu ke minuman itu.


" Kenapa kamu diam? Kamu tenang saja aku tidak menaruhkan apapun di minuman itu," Seakan tau dengan pikiranku Jackson membuka suara.


Aku memnganguk dan langsung memnimun minuman itu.


GLEKK


Satu tegukan telah ku minum, aku tidak merasakan apapun saat meminumnya. Mungkin benar ini hanyalah ketakutan dan kecerugiaanku saja.


Aku meminum minuman itu lagi.


Aku melihat Jackson sedang diam ntah apa yang di pikirannya. Ku beranikan diri untuk bertanya kepadanya.


" Jackson," Panggilku pelan.


Terlihat Jackson tersadar dan mungkin memperbolehkanku untuk berbicara.


"Kenapa kamu mengajariku menggunakan pistol?" Tanyaku.


" Saya kira ada seseorang yang ingin melakukan sesuatu, saya hanya mengajari kamu hanya agar kamu bisa menjaga diri kamu sendiri," Jawabnya.


" Tapi kenapa harus pistol? Aku ngak bisa menggunakannya aku takut kalau saat menembaknya aku terpeleset, dan itu bisa melukai orang lain termasuk kamu," Ucapku.


Jackson berpindah posisi, kini dia menatapku dengan mata elangnya yang menusuk netra mataku.


" Apa tadi kamu terpeleset?" Tanyanya.


" I_itu hanya kebetulan_"


" Itu bukan kebetulan, kamu memang mempunyai bakat dalam hal ini. Aku percaya sama kamu, jangan pernah merusak kepercayaanku," Selorohnya.


" Aku mempercayai kamu Ara, aku yakin ada darah Mafia dari dalam dirimu," Batinnya.


Jackso bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah.


" Apa kamu mengkhawatirkan ku?" Langkah Jackson terhenti saat kala mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.


Aku berbalik  menatap punggungnya.


" Jangan geer saya hanya tidak mau melihatmu terluka karna orang lain. Karna, hanya saya yang harus membuat kamu terluka dan menderita,"Jawaban yang tidak pernah ku pikirkan keluar dari mulut Jackson.


Aku kira dia melakukan ini karna dia peduli dan mengkhawatirkanku tapi ternyata, dugaanku salah dia hanya tetap ingin membuatku terluka dan menderita.


Jackson pergi berjalan kedalam rumah meninggalkanku yang mematung di sana.


Kenapa begitu sakit? Dulu saat mendengar ucapannya tidak sesakit ini. Tapi, kenapa saat mendengar ucapannya sekarang hati aku begitu sakit. Tidak mungkin kalau aku sudah jatuh cinta, kalau memang benar aku harus memendamnya sendiri sampai kapanpun Jackson ngak akan pernah mencintaiku.


*


Di Kediaman Fando


______________________


" Gimana caranya?" Tanyanya


Sonya tersenyum licik dan mendekati Fando. Sonya berbisik ketelingga Fando, Fando terkejut saat kala mendengar rencana bodoh Sonya.


" Lo gila! Kalau lo lakuin itu, itu sama saja menghancurkan harga diri Ara," Sarkasnya


" Gue memang masih cinta sama Ara tapi gue ngak bisa melakukan itu," Teriaknya.


" Fando_fando lo sendiri yang menginginkan Ara, sekarang gue sudah memberikan solusi yang bagus untuk lo, tapi lo? Lo malah seperti ini,"


" Lo jangan egois, gue tau lo menginginkan Ara bukan? lalu untuk apa lo berpura-pura seakan tidak mau memiliki Ara," Sambungnya


" Gue bukàn gak mau memiliki Ara tapi gue sadar Ara sudah tidak mencintai gue lagi, lalu untuk apa gue memaksa Ara untuk  kembali," Sarkasnya


" Hahh lo pengecut Fando," Fando menatap Sonya sinis.


" Seharusnya lo berjuang buat mendapatkan dia lagi, setelah lo dapat Ara, Jackson akan menjadi milik gue," Lanjutnya.


" Sekarang lo pergi!" Usir Fando


" Hahh (membuang muka) Lo ngusir gue?"


Fando tidak melihat bahkan melirik Sonya pun tidak.


" Oke fine gue pergi, tapi nanti kalau lo berubah pikiran lo tinggal datang aja. Gue akan bersedia melakukannya dan membantu lo kembali bersama Ara," Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Fando yang terdiam mematung disana.


*


Di Kediaman Jackson


________________________


Terlihat Ara sedang sibuk memasak di dapur, tanpa Ara ketahui sejak tadi Jackson terus memerhatikan Ara dari arah jauh.


Kini Ara sedang memotong sayuran, dan tanpa sengaja jari Ara terkikis dan hal itu berhasil membuat sang empu meringis kesakitan.


" Awshhhh," Dengan cepat Jackson menghampiri Ara dan meraih tangan Ara.


DEGHHH


Jantung Ara berdetak tak normal  dan terkejut saat kala Jackson menghisap darah dari tanganku.


" Apa yang kau pikirkan? Apa kamu ingin memotong jarimu seperti ini?" Tanyanya dengan nada tinggi.


Jackson menuntun ku ke meja makan dan mendudukan ku di kursi. Jackson mengambil P3K dan langsung mengobati tanganku.


Aku terdiam karna terus memikirkan sifatnya yang berubah sekarang, Apa pria di hadapanku saat ini adalah Jackson pria yang berhati gelap? Atau Jackson yang baru aku kenal? Kenapa sifatnya seakan mengkhawatirkanku.


Aku tak berani bertanya tentang kenapa dia mengkhawatirkanku, karna aku sudah tau pasti jawabannya adalah 'Tidak ada siapapun yang boleh menyakitimu selain dirinya'.


Ku tarik tanganku dari tangannya.


" Tidak usah aku bisa sendiri, Lagian ini juga kan yang kamu mau?" Ara bangkit dari tempat duduk dan beranjak pergi ke dalam kamar meninggalkan Jackson yang terdiam mematung melihat tingkah Ara yang  berubah menjadi dingin.


Balik Pintu

__ADS_1


______________


"Kenapa? Kenapa aku harus di pertemukan dengannya? Aku tidak menginginkan takdirku seperti ini. Aku telah melanggar perjanjian itu, aku telah menyukainya. Tapi, kenapa harus dia? Seharusnya aku tidak menyukainya seperti ini," Ara terduduk dengan air mata yang tidak dapat di bendung lagi.


Tibà-tiba sakit di kepala Ara muncul lagi, Ara terus memegang kepalanya berniat mengurangi sakit di kepalanya. Tapi, hal itu tidak membuat rasa sakit itu berkurang. Malah rasa sakit itu kiat menjadi-jadi.


" Ahkkkkk sakittt! Ada apa dengan kepalaku? Kenapa rasa sakit ini selalu muncul ahkkkk," Racauku menahan rasa sakiţ.


Ara berjalan tergontai  ke arah nakas, Ara mengambil ponsel dan mencari nama Kiran di ponselnya.


Drttt_drttt_drttt.


Nada dering panggilan menandakan panggilan tersambung, namun tidak menandakan Kiran mengangkatnya.


Rasa sakit terus menyerang seakan mengerogoti kepala Ara.


" Ahkkkk aku udah ngak kuat!" Racau Ara


Bughhh


Ara terjatuh tak sadarkan diri.


Beberapa detik Ara tak sadarkan diri, Kiran mengangkat panggilan Ara karna Ara belum sempat memutuskan panggilan telpon.


" Hallo Ara! Ada apa?" Tanyanya di sebrang sana.


Tidak ada yang menjawab karna nyatanya Ara sedang tak sadarkan diri sekarang.


" Hallo Ara?"


" Ara lo ngak papa kan?" Tanyanya khawatir karna sejak tadi tak ada tanda Ara menjawab.


" Ara? Lo ngak papa kan? Ara jangan buat gue khawatir deh,"


" Hallo Ara_hallo?"


Tutt_Tuttt_tutt


_________________


Kiran memutuskan  panggilan sepihak, karna merasa khawatir Kiran bergegas keluar kantor menuju rumah Jackson.


Skip Rumah Jackson.


Terlihat Jackson sedang terdiam menatap langit-langit rumah sembari memikirkan tentang sikap Ara beberapa menit yang lalu.


Tintong_tintong_tintong


"Ara! Buka pintu ada orang di luar," Teriaknya


Tintong_tintong_tintong


Jackson berdecak karna tidak mendapat sahutan dari Ara dan dengan terpaksa Jackson harus turun tangan.


Krekkk


Jackson membuka pintu itu dan mendapati Kiran dengan wajah pucat.


Jackson mengerutkan dahi karna tidak biasanya Kiran datang ke rumah.


" Ada apa?" Tanyanya dingin


" Pak Aranya ada?" Tanyanya dengan nada engos-engosan.


" Ada! Dia sedang di kamar, Ada apa emangnya?" Tanyanya


" Pak apa boleh aku bertemu Ara? Aku khawatir sama Ara karna tadi Ara nelpon aku tapi pas aku angkat ngak ada sautan dari Ara. Aku takut Ara_"


Belum selesai bicara Jackson sudah lebih dulu pergi ke dalam kamar untuk melihat Ara, Kiran langsung masuk menyusul Jackson.


Tokk_tokk_tokkk


"Ara kamu di dalam gak papa kan?" Tanya Jackson dari luar.


Kiran terus memegang tangannya karna khawatir dengan keadaan Ara.


Tidak mendapat sahutan sama sekali Jackson langsung mengobrak pintu itu dan terkejut saat mendapati Ara yang sudah tak sadarkan diri di lantai.


" Ara!"


" Araaa," Teriaknya.


Jackson menghampiri Ara dan mengankat kepala Ara ke pahanya dengan tangan yang menepuk-nepuk pipi Ara pela.


" Ara bangun!" Jackson terus menepuk-nepuk wajah Ara berharap Ara bangun.


Jackson mengangkat tubuh Ara ala brindal style dan membaringkan tubuh Ara hati-hati ke ranjang.


Jackson meraih ponselnya dan mencari nama Dokter kepercayaannya, namun tidak ada tanda dokter itu mengangkatnya.


" Sial! Kenapa tidak ada yang mengangkatnya," Umpatnya.


" Ara lo kenapa? Kenapa lo bisa kaya gini hiks," Tanggis Kiran dengan tangan yang terus mengengam tangan Ara erat.


" Pak gimana ini? Aku takut Ara kenapa-kenapa," Tanyanya khawatir


" Saya coba menghubungi tapi tidak ada yang mengangkatnya," jawabnya


" Eunghhh," lengkuhan Ara.


" Ara!" Gumam Kiran


...*...


...Bersambung...


POJOK CERITA:


" Hidup itu sederhana dengan hanya bersyukur saja sudah bisa membuat kita lebih baik:)"


See you next time:D


...Jangan lupa vote, komen, and follow makasih....

__ADS_1


__ADS_2