Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 30 Takdirku


__ADS_3

...HAPPY READING...


BIASAKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA!!


...*...


Di kediaman Jackson


Di ruang tamu terlihat seorang gadis berambut hitam dengan rambut yang terurai sedang tertidur pulas karna menunggu kepulangan Jackson yang tak lain adalah Ara.


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan sosok pria tampan menggunakan kemeja putih dengan kancing atasnya ia biarkan terbuka yang tak lain adalah Jackson.


Pertama kali netra Jackson jatuh ke sosok wanita cantik yang sedang tertidur di sofa panjang itu, Jackson perlahan menghampiri Ara dan berjongkok menatap lekat wajah Ara yang sebagian wajahnya tertutup rambut miliknya.


Hal yang ingin Jackson katakan adalah ' cantik '.


Tanpa pikir panjang Jackson langsung mengangkat tubuh mungil Ara ala brindal style dan membawanya ke kamar.


Jackson membaringkan tubuh Ara hati-hati. Namun, saat ingin melepas tangannya dari kepala Ara tiba-tiba tangan Jackson tersangkut membuat Jackson kehilangan keseimbangan dan_


Bibir mereka beradu, Ara yang merasakan ada benda kenyal yang menyentuh bibirnya sontak membuka mata. Ara membulatkan mata saat melihat siapa yang ada di atasnya, sontak Ara menjerit dan langsung mendorong tubuh kekar Jackson kasar.


" Ahhh apa yang kamu lakukan?"  Nada ku tinggi dengan kedua tanganku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.


" Tidak! Saya tidak melakukan apa-apa," Jawabnya datar.


" Tadi kamu mencium bibirku, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan saat aku sedang tidur," Timpalku


" Hah! Untuk apa saya mencium kamu?"


"Terus tadi?"


" Tadi saya kehilangan keseimbangan, dan tidak sengaja saya mencium kamu,"


" Kalau tidak karna kehilangan keseimbangan saya juga nggak akan mencium kamu, lagian saya tidak selera mencium kamu, kamu bukan selera saya," Ucapnya dengan menekankan kata di akhir kalimat.


Aku terkejut mendengar ucapan nya, setelah melakukan itu dia bisa bilang tidak selera? Haish_ pria egois.


" Kamu sudah makan?" Tanyanya


" Belum," Jawabku datar


" Apa? Kenapa tidak makan? Aku sudah menyuruh mu makan, apa kamu tidak dengar?" Ucapnya menatap tajam ke arahku.


" Aku mau makan jika kamu sudah makan, aku di sini tamu. Mana mungkin aku makan, sedangkan orang rumah belum makan sedikitpun," Jawabku


Jackson membuang nafas lelah.


" Ayok!"


" Kemana?"


" Makan," Jawabnya dingin


Aku bangkit dari tempat tidur dan langsung mengekori Jackson ke bawah menuruni anak tangga.


Di meja makan hanya ada keheningan tidak ada yang membuka suara dari Ara juga Jackson.


Jackson melahap makanan yang di buat Ara dengan lahap, Jackson akui makanan yang di buat Ara memang lezat dan enak, itu sebabnya Jackson lebih suka makan di rumah di banding di luar. Berbeda dengan dulu saat belum ada Ara di rumah, Jackson selalu memesan makanan lewat online kalau tidak lewat online, Sonya yang mempersiapkan makanan Jackson walaupun tak seenak makanan yang di buat Ara.


Skip selesai makan!


Kamar!


Di dalam kamar Ara sedang melihat langit-langit kamar, sedangkan Jackson sedang sibuk dengan laptopnya, apalagi sekarang pekerjaan Jackson di tambah lagi karna kematian Godracx yang di bunuh.


Ara yang melihat Jackson seperti kelelahan, berinisiatif membuatkan Jackson teh kesukaannya.


" Jackson," panggil ku


" Stop memanggil ku dengan sebutan Jackson," Ucapnya dengan tatapan yang pokus ke layar Laptop.


" Lalu aku harus memanggil mu dengan sebutan apa?"


" Sayang," Jawabnya spontan


Aku terkejut mendengar ucapan, mana bisa aku memanggilnya dengan sebutan seperti itu, rasanya geli jika harus memanggil Jackson dengan sebutan Sayang seperti itu.


" Kenapa diam? Ayok katakan," Suruhnya


" Aku tidak mau,"


" Kenapa?"


" Geli!" Jawabku


Jackson terkekeh pelan mendengar jawaban ku.


" Geli apa maksud kamu? Kamu hanya memanggil ku dengan sebutan sayang, lalu dimana gelinya?" Tanyanya dengan tatapan yang kini menatapku.

__ADS_1


" Ya karna kamu bukan siapa-siapanya aku," Jawabku spontan


" Apa aku harus melamar, menembak kamu agar kamu mau memanggilku dengan sebutan sayang?"


Jantungku berdetak tak senada, apa maksudnya? Apa mau dia? Dia selalu membuat ku salah tingkah.


" Jangan membuat wanita baper karna kata-kata manismu itu," Ucapku


" Wait! Kamu baper? Karna aku menyuruh mu memanggil ku dengan sebutan sayang saja?" Tanyanya menatap ku dengan tatapan yang tak percaya.


" Ti_tidak,"


" Oke, jika kamu tidak baper panggil aku dengan sebutan sayang bisa?"


" Aku tidak mau. Kenapa kamu memaksa ku terus menerus? Jika kamu ingin di panggil sayang, suruh Bimo yang mengatakan nya," Sarkasku


Aku melihat Jackson tersenyum ke arahku, aku mengerutkan dahi bingung dengan senyumannya.


" Kenapa? Ada yang lucu?"


" Tidak aku hanya mendengar kamu mengatakan sayang ke padaku,"


Sontak aku terkejut.


" Apa? T_tidak aku tidak mengatakan apa-apa,"


" Kamu mengatakan nya,"


" Tidak!"


" Iya,"


"Tidak!"


" Iya,"


" Haish _ terserah kamulah. Cape ngeladenin orang yang keras kepala seperti batu," Desisku


Jackson hanya terkekeh kecil.


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang jatuh ke tanganku, aku terkejut saat melihat percikan darah di tanganku.


" Darah?" Batinku


Dengan langkah setengah berlari ku langkahkan kaki ku ke dalam toilet. Untung saja Jackson tidak melihatnya.


Di wastafel aku melihat hidung ku mengeluarkan darah. Ku nyalakan keran air dan ku membersihkan darah yang terus keluar tanpa henti dari hidungku.


" Ahhh kenapa darah ini selalu keluar?" Gumamku dengan terus membersihkan darah yang terus keluar tanpa henti.


Suara ketukan pintu berhasil membuatku semakin kacau.


" Ara kamu sedang apa di dalam sana? Cepat buka pintunya aku ingin memakai toiletnya," teriak Jackson


" I_iya sebentar!" Sahutku


" Astaga bagaimana ini? Jackson tidak boleh melihat darah ini, kalau dia lihat, dia pasti akan emosi karna Jackson sangat emosional dengan darah. Ya ampun kenapa darah ini terus keluar?" Racauku


" Ara buka! kalau tidak saya dobrak pintu ini," Teriaknya


" 1_2_3_"


Ceklek


Ara keluar dari toilet.


" Kenapa lama? Minggir,"


Jackson masuk melewati ku, aku bernafas lega karna aku bisa menghentikan darah ini.


Ku langkahkan kakiku dan ku baringkan tubuhku di atas ranjang, ntah kenapa setelah mengeluarkan darah dari hidungku, kepala ku menjadi pusing mungkin akibat darah itu keluar terlalu banyak.


Ku pejamkan kedua mataku mencoba menghilangkan rasa pusing yang terus berdenyut di kepala ku.


Ceklek


Jackson baru saja keluar dari kamar mandi, dan mendapati Ara yang sudah tertidur di ranjang. Jackson berjalan mendekati ranjang.


" Dia sudah tidur? Cepat sekali," Gumamnya


Jackson mematikan lampu kamar dan langsung tidur menyusul Ara. Mereka tidur saling membelakangi dengan bantal guling sebagai pembatas mereka.


*


Skip Pagi Hari


Pukul 07, 30 pagi, Aku meminta izin kepada Jackson untuk keluar rumah, karna ingin bertemu dengan sahabat ku Kiran. Awalnya Jackson melarang ku, tapi karna aku bersikeras memaksanya dengan berat Jack mengizinkanku pergi namun dengan satu syarat, dia yang harus mengantarku ke rumah Kiran.


Di rumah Kiran_


Ruang tamu!

__ADS_1


" Ara tumben kamu kesini ada apa?" Tanyanya


" Sebenarnya aku_"


Aku tidak melanjutkan ucapanku, Karna aku takut Kiran akan khawatir.


" Sebenarnya apa?"


" Nggak gue hanya kangen lo aja, emangnya nggak boleh kalau gue kangen lo," Ucapku sendu


" Ya enggak lah. Sini aku peyuk gue juga kangen lo,"


Kami saling berpelukan erat, ingin rasanya aku bercerita tentang apa yang sering aku rasakan, tapi ku urungkan karna aku tidak mau Kiran khawatir.


" Sejak lo tunangan sama pak Jackson, gue jadi nggak bisa ketemu elo," Gumamnya menatapku sendu


Aku terdiam mendengar ucapan Kiran, apa ini saatnya aku beritahu dia kalau sebenarnya aku dan Jackson tidak berhubungan, kami hanya berhubungan di atas kontrak bukan ikatan.


" Kiran gue mau jujur sama lo,"


"Jujur? Jujur soal apa?" Tanyanya  menunggu jawaban ku


" Sebenarnya gue sama Jackson nggak ada hubungan apa-apa, dan soal tunangan itu, itu tidak benar,"


" Tunggu! Apa maksud lo? Gue nggak ngerti,"


" Iya jadi sebenarnya gue sama Jackson nggak bertunangan, Jackson menyuruhku tinggal di sana dan menandatangani kontrak yang sudah dia buat, gue nggak punya cara lain selain mendata tangani kontrak itu. Karna Jackson terus-terusan mengancam gue tentang ayah, gue bingung gue harus ngapain," Tuturku


" Jadi lo sama Jackson nggak ada hubungan apa-apa? Terus Lo baru ngomong sama gue sekarang?"


" Gue minta maaf, Jackson suruh gue buat ngerahasiain ini dari semua orang, Gue juga mau cerita ini sama lo tapi gue takut gue takut Jackson marah dan berlaku kasar, kerna dia seorang_"


"Seorang apa?"


" Astaga! Kenapa aku hampir saja keceplosan," Batinku


" Ara jawab! Jackson seorang apa?" Tanya nya penasaran.


"Tapi Lo janji nggak akan kasih tau siapapun soal ini,"


" Iyah gue janji," Jawab Kiran


" Sebenarnya Jackson seorang_ seorang Psychopat,"


" Apa?"


Kiran tersontak kaget mendengar ucapanku, awalnya Kiran tidak percaya tapi setelah ku yakini dia percaya.


" Astaga kenapa lo baru bilang sekarang? Kalau gue tau dari awal mungkin gue akan bantu lo keluar dari rumah itu, gue nggak akan ngedukung lo sama Jackson,"


" Astaga Ara seorang Psychopat? Lo tau kan bagaimana pikiran Psychopat dan bagaimana jahatnya seorang Psychopat? Mereka nggak akan pernah punya pikiran jernih jikalau dia marah, astaga Ara gimana bisa Lo bertahan di sana selama ini? Gimana nasib Lo apa dia sakiti lo?" Pertanyaan yang bertubi-tubi terlontar dari mulut Kiran.


" Tidak! Dia akan sakiti gue jikalau gue tidak menuruti permintaan nya, dan untung saja akhir-akhir ini dia nggak sakiti gue," Jawabku


" Ara lo harus ikut gue pergi! Gue nggak bisa ngebiarin lo tetap di sana dan bersamanya. Ayok kita pergi dari kota ini," Ujarnya


" Nggak Ran. Jackson pasti akan terus mencari gue, gue nggak mau lo kebawa-bawa masalah gue,"


" Yaudah kita pergi aja dari negara ini, kita akan pergi ke Jepang? Atau Inggris? Atau nggak London?".


" Nggak Kiran semua itu percuma. Jackson pasti akan suruh anak buahnya untuk cari gue, gue cuman satu permintaan sama lo, gue mohon jaga bokap gue. Gue nggak mau dia kenapa-kenapa gue mohon,"


Aku terus memohon kepada Kiran, karna hanya Kiran lah yang bisa membantuku dalamn hal ini.


" Tapi Ra. Gue nggak bisa ngebiarin lo hidup sama dia, nanti kalau dia berani macem-macem sama lo gimana? Kalau nanti dia sakiti lo gimana? Ra gue nggak bisa liat Lo seperti ini hiks gue kira lo bahagia bersama dia hiks kalau gue tau ini dari awal mungkin gue akan lapor polisi atau nggak culik lo dari sana," Racau Kiran


Tangis Kiran pecah, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Aku tak tega melihatnya menangis seperti ini apalagi karna diriku, ku seka air matanya dan mencoba menenangkan nya.


" Gue nggak papah, ini udah takdir gue. Lo nggak usah pikirin gue, sekarang gue harus pulang dan ingat jangan kasih tau soal ini ke siapapun ngerti? Gue pergi dulu jaga baik-baik diri Lo,"


" Nggak Ra. Lo tetap disini jangan balik ke rumah itu lagi aku mohon,"


Kiran terus memelukku erat, ingin sekali aku mengikuti keinginan nya tapi aku juga sadar bahwa ada orang yang paling berharga yang harus aku lindungi.


" Gue pergi yah, jaga diri Lo. Kita ketemu lagi di lain waktu,"


Aku bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Kiran yang masih terisak-isak karna menangis.


" Ara takdir macam apa ini? Dari kecil Lo sudah di tinggal ibu Lo dan saat usia Lo menginjak dewasa ayah lo selalu menyiksa lo, dan sekarang lo di pertemukan dengan orang se jahat itu, astaga gue nggak bisa ngebayangin bagaimana rasanya menjadi lo," Gumam Kiran terisak-isak.


...*...


...❤...


...BERSAMBUNG!...


...HOLLA KETEMU LAGI DENGAN AKU HEHEH....


...Gimana ceritanya? Makin hari makin seru, menegangkan atau makin ngebosenin? ...


...Komen yang bawel dong:)...

__ADS_1


...Yuk ahkk go!!!...


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK:)...


__ADS_2