
WARNING!!
SIAPKAN TISU!!
Calvin terus melangkah melewati anak tangga dan berbagai lantai yang sudah tertutupi oleh debu. Semuanya terlihat sangat mengerikan dan kotor, ia berpikir kenapa ayahnya bisa berada di tempat seperti ini? Calvin benar-benar mempersiapkan dirinya sendiri, karena mungkin sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan ayahnya sendiri.
BRAKKK
Suara debrakan sesuatu terdengar jelas di telinga Calvin. Calvin menghentikan langkahnya dan mendekati sumber suara itu.
BRAKKK
" Arghhh,"
" Jackson?" Calvin terkejut saat melihat Jackson yang sedang terduduk karena pukulan kayu yang di berikan pria berbadan besar di belakangnya.
Wajah yang babak belur dengan sedikit darah di bibirnya, tapi hal itu tidak membuat Jackson menyerah. Jackson bangkit dan melawan mereka yang mengeroyokinya.
Calvin yang geram melihat tingkah ayahnya yang bahagia menyaksikan Jackson di pukuli, tanpa pikir panjang Calvin langsung membuka pintu besar itu dan langsung membantu Jackson melawan para bawahan Chandra.
Chandra terkejut dan bangkit dari duduknya saat melihat anaknya yang tiba-tiba datang dan membantu Jackson.
" Kenapa kau ada disini?" Tanya Jackson bingung dengan kehadiran Calvin yang tiba-tiba.
" Kalau bukan karena istrimu saya tidak akan datang kesini dan membuang waktuku percuma," Jackson tersentak kaget saat Calvin mengatakan tentang Ara.
Ia berpikir kalau Ara sedang bersamanya selama ini.
" Calvin kenapa kamu ada disini?" Tanya Chandra menatap sang anak
" Aku disini untuk menghentikan ayah,"
" Cih kau memang tidak pernah mendukung apa yang ayah lakukan. Kau memang bukan anak saya,"
" Saya tidak menginginkan lahir dari keluarga yang tidak punya hati seperti anda,"
" Beraninya kau!"
Jackson sedikit terkejut saat Calvin mengatakan hal itu kepada Chandra. Apa selama ini dirinya salah menilai Calvin?
" Pergi jika kau tidak ingin mati bersamanya," Ucap Chandra
" Saya tidak akan pergi. Jika kau ingin membunuhku silahkan, karna kau bilang kalau saya bukan anak anda bukan?" Tandas Calvin membuat Jackson dan Chandra tersentak kaget.
Bagaimana tidak? Calvin berani mengatakan hal itu kepada ayahnya sendiri?
" Semakin besar kau semakin keterlaluan Calvin!" Teriak Chandra kehilangan kesabaran.
" Kau datang kesini untuk membela musuh dari ayahmu? Baiklah kalau begitu lawan saya!" Calvin terdiam kaku mana mungkin ia melawan ayahnya sendiri.
" Tidak," Jackson berjalan ke depan membelakangi Calvin.
" Lawan mu bukan dia tapi saya,"
Chandra tersenyum smrik menanggapi jawaban Jackson.
Chandra berbalik membelakangi Jackson dan Calvin, mereka tidak tau apa yang dilakukan pria tua itu, tapi tiba-tiba _
Srettt!
Chandra melempar pisau tajam ke arah Jackson, tapi untung saja dengan cepat Jackson mengelakknya sehingga pisau itu tidak mengenai tubuhnya.
" Kau harus mati!" Chandra berlari dan mendorong tubuh Jackson kasar dengan sebuah pisau tajam di tangannya yang siap menusuk ke wajahnya.
Calvin yang berniat menolong Jackson tiba-tiba saja orang-orang itu membawa Calvin ketempat lain dan langsung menyerangnya.
Sedangkan di sisi lain Ara tidak bisa tenang karna terus memikirkan keadaan mereka di atas sana.
" Tuhan tolong lindungilah mereka. Semoga mereka kembali dengan keadaan selamat," Gumam Ara lirih
*
Kedua pria itu bergulat memainkan sebuah pisau di tangannya, mereka tidak peduli dengan keadaan mereka yang sudah babak belur di sekujur tubuhnya. Jackson terus saja mengelakkan serangan yang di lakukan Chandra, umurnya memang di bilang sudah tua tapi hal itu tidak membuat pria itu lemah dan mudah untuk dikalahkan.
Kini tubuh Jackson di himpit Chandra di atas meja dengan pisau yang berusaha Chandra tancapkan di tubuh Jackson, Jackson mendorong tubuh Chandra itu kasar hingga terpental ke belakang dan langsung menendangnya.
Chandra terjatuh ke lantai kotor itu, darah dan air keringat bercampur menjadi satu. Chandra yang sudah terluka parah masih saja menyombongkan dirinya dan terus ingin mencoba membunuh Jackson.
" KAU HARUS MATI!" JACKSON BERLARI DAN LANGSUNG MENGARAHKAN PISAUNYA KE TUBUH CANDRA YANG KINI BERADA DI BAWAHNYA.
Tapi, sialnya Chandra bisa menahan pisau itu. Amarah, kecewa, sedih, dendam, penyesalan bercampur aduk di dalam pikiran Jackson. Saat melihat wajah Chandra membuat dirinya sedikit berpikir, ia benar-benar tidak menyangka jika orang yang selama ini ia percayai tega mengkhianati nya.
Sedangkan Candra yang melihat Jackson sedang melamun ia mengambil kesempatan itu dan langsung menindihi tubuh Jackson dan_
Blessh
Kedua mata Jackson memerah menahan air mata yang sedari tadi terus memberontak. Chandra menusukan pisau tajam itu di dada bidang Jackson dengan sempurna. Chandra tertawa renyah karna tusukannya berhasil mengenai tubuhnya.
Tangan Jackson beralih memegang pisau itu, Jackson menahan rasa sakit di dadanya saat Chandra terus menekan-nekan pisau itu di dadanya.
" Bagaimana rasanya? Apa sakit? Cup_cup_cup saya akan menghilang kan rasa sakit ini hanya dengan satu gesekan. Kau tau jika saya mengesekan pisau ini ke bawah maka jantungmu akan terluka, dan kau tau bagaimana jika jantungmu terluka hm?" Chandra terus tersenyum melihat Jackson yang berada di bawahnya dengan keadaan terluka seperti ini karna ulahnya.
" Baiklah sepertinya kau merasa sakit. Akan ku hilangkan rasa sakit ini," Sekuat tenaga Jackson menahan pisau itu.
Tangan Chandra terus berusaha menarik pisau itu ke bawah dengan tatapan penuh amarah.
" Jangan!"
Bughh
Tubuh Chandra tergeletak di lantai dengan keadaan tak sadarkan diri saat tiba-tiba Ara datang dan langsung memukul kepala Chandra keras menggunakan kayu.
Ara langsung menghampiri Jackson dan mengangkat kepala Jackson ke pangkuannya.
" A...apa yang terjadi hiks, kenapa kamu bisa seperti ini?" Tangis Ara di atas Jackson.
Tangan Jackson perlahan terangkat dan mengusap air mata itu dari wajah Ara yang memucat.
" Kenapa kamu ada disini? Kenapa wajah kamu sangat pucat? Apa kamu sakit?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar di mulut Jackson.
Ara tidak menjawab ia hanya menangis. " Suttt jangan menangis aku tidak papa. Ini hanya luka kecil."
" Luka kecil kamu bilang? Kamu terluka parah. Kamu harus segera di obati, kenapa kamu so jadi pahlawan sih hah? Kamu tau dia orang jahat dan kamu berani datang kesini sendirian?" Jackson terkekeh melihat istrinya yang mendumel tak henti di atasnya.
" Ketika kamu marah seperti ini kamu semakin cantik," Tangis Ara semakin pecah.
Bisa-bisanya di saat seperti ini ia masih saja menggombal.
Jackson mendekatkan kepalanya ke perut Ara yang buncit dan berkata. " Sayang apa kamu baik-baik saja disana? Apa kamu sudah menjaga ibumu dengan baik? Maafkan Daddy karna sudah mengusir kalian dari rumah, apa kamu mau memaafkan Daddy?" Ara meneteskan air mata saat Jackson berbicara seperti itu di depan perutnya.
__ADS_1
" Dia sangat merindukanmu begitu juga aku,"
" Benarkah?"
Ara mengangguk menanggapi ucapan Jackson.
" Sayang aku minta ma_"
" Suttt udah jangan berbicara lagi ku mohon. Kita harus pergi sebelum dia sadar," Ujar Ara memotong ucapan Jackson.
" Apa kamu mau membantuku?"
" Apa?"
" Tolong cabut pisau ini dari tubuhku," Ara sedikit terkejut mendengar ucapannya.
Mana berani dirinya mencabut pisau itu. " Tidak aku tidak bisa." Jawab Ara. " Kenapa?"
" Aku takut," Ucap Ara lirih. " Kamu tidak usah takut, aku akan baik-baik saja. Kau bilang ingin keluar bukan? Maka lakukanlah, cabut pisau ini dari tubuhku."
" Ku mohon jangan lakukan ini aku sangat takut,"
Jackson meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat. " Kamu percaya kepadaku kan?" Ara mengangguk pelan. " Maka lakukanlah. Tidak akan ada yang terjadi." Ucap Jackson meyakinkan Ara.
Dengan terpaksa Ara mengangkat kedua tangannya dan memegang pisau itu bersiap untuk mencabutnya.
" Ini sangat sakit aku minta maaf," Jackson tersenyum kecil mendengar ucapan Ara.
Kedua mata Ara tertutup rapat-rapat dan melepas pisau itu dalam satu tarikan.
" Arghhh," Ringis Jackson saat pisau itu tercabut
" Kamu baik-baik saja?" Tanya Ara khawatir
Jackson menganguk sebagai jawaban.
Ara membantu Jackson berdiri, Ara tak tega melihat Jackson yang kesakitan, tapi mau bagaimana lagi Jackson harus tahan.
Sedangkan di tempat lain Calvin berhasil menumpas semuanya, meskipun tubuhnya sedikit terluka ia masih bisa menahannya. Cepat-cepat Calvin menghampiri Jackson dan melihat Ara disana, Jackson menatap tajam ke arah Calvin karna ia tau kalau Ara datang kesini bersamanya.
" Kalian tidak papa?"
" Jackson terluka karna tusukan Chandra," jawab Ara
" Maafkan saya," Ara memicingkan matanya tak mengerti kenapa Calvin malah meminta maaf.
" Kenapa kamu harus meminta maaf?"
" Karna sebenarnya dia adalah ayah saya," Ara sedikit terkejut mendengar ungkapan Calvin.
Ara baru tau jika Chandra adalah ayah Calvin, hanya saja sifat mereka bertolak belakang Calvin lebih baik sedangkan Chandra ia lebih jahat.
" Eumm sebaiknya kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum mereka datang," Ujar Calvin
Calvin meraih tangan Jackson dan membopong nya, tatapan mereka bertemu namun hanya beberapa detik saja. Jackson menarik tangannya tapi Calvin malah kembali menariknya membuat Jackson sedikit terkejut. Tidak mungkin mereka akan bertengkar di saat seperti ini bukan?
" Kamu jalan duluan ," titah Jackson kepada Ara
" Ahh?! Tidak kamu yang duluan aku dari belakang," Tolak Ara
" Ck patuhi apa yang suamimu katakan!" Jackson berdecak saat kala Ara menolak perintah nya.
Ara mendongak melingak-linguk saat sebuah senter laser berwarna merah itu sekilas mengenai wajahnya. Ara melingak-linguk mencari asal senter laser itu, seketika Ara terkejut saat melihat 3 orang berbaju hitam itu memegang sebuah pistol dan laser itu membidik ke arah Jackson. Ara memang tak mengerti dengan laser tersebut tapi karna pria itu memegang pistol ia mengerti kalau saat ini dia ingin menembak Jackson.
" Ara kenapa kamu berhenti?" Tanya Calvin bingung saat Ara tiba-tiba berhenti.
" Sayang?"
" Jackson awas!!"
Dorrr_ dorrr _doorrr!
Suara tembakan mengemma di seluruh sudut ruangan sana. Jackson dan Calvin membulatkan mata terkejut dengan apa yang tiba-tiba terjadi, Ara memeluk tubuh kekar itu erat namun seketika tubuh ramping itu melonggarkan pelukannya. Jackson meneteskan air matanya saat melihat darah di punggung Ara. " Ara?!"
Tubuh Ara lemas di pelukan Jackson. Kedua mata Calvin memerah dengan kedua tangannya mengepal ia berteriak histeris dan langsung berlari ke arah pria itu dan menghajar nya bruntal.
Sedangkan Jackson dia terus saja meneteskan air matanya tak henti saat melihat kondisi Ara. Ara terkena tembakan 3 kali berturut-turut tepat di punggungnya, jika saja Ara tidak memeluk tubuh kekar itu mungkin yang saat ini ada di posisinya yaitu Jackson.
" Sayang kenapa kamu lakukan ini kenapa? Kamu harus kuat. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepadamu, aku mohon bertahanlah," Tangis Jackson pecah tak kuasa menahannya.
" Ini untuk terakhir kalinya aku menolongmu. Maafkan aku jika selama ini aku selalu menyusahkan mu,"
" Tidak kamu tidak boleh berbicara seperti itu,"
" Ma_maafkan aku kar...na selama ini aku tidak pernah membuatmu bahagia. Aku mo..hon bahagialah, jangan membalaskan dendammu lagi, kali ini kamu harus bahagia," Ucap Ara lirih menahan rasa sakit di punggungnya.
" Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku mohon jangan berbicara seperti itu,"
" Aku sangat menci..ntaimu," Ucap Ara lirih
" Ahhhkkk,"
" Sayang kamu kenapa?" Jackson terkejut dan khawatir saat tiba-tiba Ara berteriak menjerit kesakitan.
" Ahhh kepala aku sangat sakit hiks,"
" Ada apa dengan kepala kamu?" Jackson benar-benar bingung dengan kondisi Ara.
Yang Jackson tau Ara terluka karna tembakan di bagian punggung tapi kenapa Ara berteriak kesakitan di area kepalanya?
Sedangkan Calvin yang mendengar teriakan Ara dengan cepat menghampiri Ara.
" Ara?!"
" Calvin aku nggak kuat," Jackson menatap Calvin bingung.
Ia benar-benar tidak mengerti maksud ucapannya.
Penglihatan Ara tiba-tiba mengkabur dan perlahan kedua mata itu tertutup rapat. Jackson terkejut melihat Ara yang tak sadarkan diri di pangkuannya, dengan cepat Jackson mengangkat tubuh Ara dan membawanya keluar, Calvin tau jika saat ini Jackson sedang sakit karna tusukan itu tapi ia tidak peduli ia malah mengangkat Ara dan membawanya ke mobil.
Skip Rumah Sakit
Sesampainya di Rumah Sakit 2 orang suster itu memberikan bankar untuk Ara, tapi Jackson menolaknya ia malah langsung membawa Ara ke ruangan UGD. Tapi, sayangnya suster itu melarang Jackson masuk ke ruang UGD, Jackson bersikeras ingin masuk namun nihil suster itu melarangnya.
" Jackson tenangkan dirimu! Kau ingin Ara baik-baik saja bukan? Jika kau ingin dia baik-baik saja maka kau harus memberikan dokter untuk menangani Ara," Gubris Calvin
" Arghhh ini semua salah Kau dan Ayahmu itu. Jika, kalian tidak hadir di dalam kehidupan keluarga saya maka ini tidak akan terjadi," Teriak Jackson penuh emosi
Calvin hanya diam ia tau jika saat ini Jackson benar-benar sangat emosi dan marah. Calvin sangat kesal ingin sekali ia melayangkan tangannya, tapi disisi lain Calvin mengerti dengan kondisi Jackson, dia pasti tertekan dan khawatir dengan apa yang sudah terjadi kepadanya dan juga Ara.
__ADS_1
Sedangkan di dalam ruang UGD Ara sedang di tangani oleh dokter dan beberapa Suster, mereka mengeluarkan peluru yang ada di punggung Ara, karna tembakan itu membuat Ara kehilangan begitu banyak darah.
" Dokter denyut nadi pasien menurun," Ucap salah-satu suster itu.
" Kita harus menghentikan darahnya,"
......
Di luar UGD
Jackson tidak bisa duduk tenang, ia terus saja mondar-mandir memikirkan keadaan Ara. Penyesalan terus saja menghantui pria berwajah dingin itu.
" Jackson biar saya obati lukamu itu," Ucap Calvin
" Tidak perlu!" Jawab Jackson dingin
" Tuan?!" Tiba-tiba Bimo datang dan langsung menghampiri tuannya.
Jackson menarik kerah baju Bimo kasar dan meremasnya. " Kemana saja kamu hah? Saya menyuruhmu untuk cari Ara dan bawa dia pulang, tapi apa ini? Kau malah pergi berkencan dengan wanita hah."
" Tidak tuan, mobil saya mogok. Dan Kiran_"
" Cukup!"
" Saya tidak ingin mendengar alasan mu itu. Kau tau? Karna keteledoran kamu istri saya berada di dalam, kalau sampai istri saya kenapa-kenapa saya tidak akan memaafkanmu lagi," Bimo terkejut mendengar ucapan tuannya.
" Ara kenapa pak?" kini Kiran yang membuka suara
Ceklek
Perhatian mereka kini beralih ke arah pintu saat seorang suster keluar dari ruang UGD. " Sus bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Jackson khawatir
" Saat ini pasien masih kritis karna terlalu banyak kehilangan darah. Kami membutuhkan donor darah secepatnya, karna dari rumah sakit kami darah dengan golongan itu habis," Tutur suster itu
" Kalau boleh tau golongan darah pasien apa?" Tanya Calvin
" Golongan darah pasien O,"
" Saya O kalian bisa mengambil nya," Jackson melirik Calvin sekilas
" Baik kalau begitu ikut saya," Calvin mengikuti suster itu untuk melakukan pendonoran darah.
" Maafkan aku di saat seperti ini aku tidak bisa menolongmu," Batin Jackson
.......
Beberapa menit telah berlalu Jackson masih setia menunggu di luar UGD. Kiran terus saja menangis ia benar-benar takut kehilangan sahabatnya. Tak lama seorang dokter keluar dari ruang UGD itu dengan cepat Jackson, Bimo, Calvin dan Kiran bangkit dari duduknya menghampiri dokter itu.
" Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Jackson dengan tatapan sendu
" Kami sudah menghentikan darahnya tapi_"
" Tapi apa dok?" Dokter itu mengantung ucapannya membuat Jackson dan yang lainnya semakin khawatir dan penasaran.
" Pasien masih dalam kondisi kritis," tubuh Jackson melemas saat dokter mengatakan jika kondisi Ara semakin memburuk.
" Kritis dok?"
" Bukannya darahnya sudah berhenti? Lalu apa yang terjadi?"
" Luka tembakan itu sudah kami atasi, saya kira pasien sudah di nyatakan melewati masa kritis nya tapi setelah kami periksa lagi kami menemukan sebuah...."
" Dokter katakan yang benar. Jangan bertele-tele seperti ini," Gubris Jackson kehabisan kesabaran
Bimo mengelus pundak sang tuan mencoba menenangkan nya.
" Setelah kami periksa, pasien saat ini mengidap kanker otak stadium akhir,"
Deghh
Tubuh Jackson lemas tak berdaya lagi dan lagi air matanya lepas. Saat ini tatapan nya sangat kosong, Jackson benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan dokter itu.
" Hah...hahah kau mencoba mempermainkan saya hm? Saya tidak bisa di bodohi kali ini. Kau tidak bisa membodohi saya dan mengatakan jika istri saya mengidap penyakit itu, istri saya sehat dia baik-baik saja lalu sekarang kau mengatakan istri saya mengidap penyakit serius itu?" Jackson benar-benar tidak percaya dengan ucapan dokter itu.
Ia meremehkan setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu.
" Tidak pak saya mengatakan yang sebenarnya, istri tuan saat ini sedang mengidap kanker otak stadium akhir. Dan kami harus melakukan penanganan terhadap istri tuan," Ucap dokter itu
Tiba-tiba Kiran menangis membuat Jackson bingung. " Hey kenapa kau menangis? Apa yang dikatakan dokter itu bohong. Sahabat mu itu baik-baik saja kau mengerti?" Bukannya mereda Kiran malah semakin menangis keras.
" Bimo katakan apa yang dikatakan dokter itu bohong bukan?"
" Tidak tuan apa yang di katakan dokter itu benar. Ara mengidap kanker otak dan selama ini Ara menutupi penyakitnya dari tuan, karna dia tidak ingin tuan mengkhawatirkan nya,"
" Apa?!"
" Tuan saat ini Ara sangat membutuhkan dukungan tuan. Hal yang membuatnya bangkit itu adalah tuan," Ucap Bimo
" Maaf pak kami perlu persetujuan keluarga secepatnya. Kami harus mengoperasi pasien, tapi sebelum itu kami harus meminta persetujuan dari tuan, dan dengan berat hati kami harus melakukan operasi Caesar/ sesar untuk bayi tuan,"
Semua orang tersentak mendengar penuturan dokter itu. " apa dok sesar? Tapi ini belum waktunya istri saya untuk melahirkan." Ucap Jackson
" Saya tau tapi melihat kondisi sang ibu seperti nya kami harus melakukan operasi, tapi kami tidak bisa menjamin untuk keselamatan ibu dan bayinya. Karna itu kami akan melakukan operasi sesar untuk bayi tuan,"
Jackson berpikir sejenak, ia benar-benar bingung dengan apa yang saat ini di pikirannya. Jika melakukan operasi sesar ia takut dengan kondisi sang bayi yang saat ini belum waktunya keluar. Tapi, Jackson tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Dokter itu meminta tanda tangan Jackson sebagai bukti jika Jackson menyetujuinya.
" Dokter sebelum istri saya melakukan operasi apa boleh saya menemuinya?" Tanya Jackson lembut tanpa emosi
" Silahkan tapi hanya sebentar. Karna kami harus segera melakukan operasi," Ujarnya yang diangguki Jackson.
Jackson masuk ke dalam ruang UGD. Hal yang pertama kali ia lihat adalah wanita yang sangat ia cintai sedang terbaring lemah di atas kasur kecil itu, Jackson berjalan menghampiri Ara dan duduk disampingnya.
Jackson meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat.
" Kenapa kamu menutupi penyakit kamu dariku? Apa aku bukan orang penting di dalam hidup kamu sehingga kamu tidak memberitahukan ku dan malah orang lain yang lebih dulu mengetahuinya," Gumam Jackson lirih menatap wajah pucat Ara sendu
" Kamu berjanji kepadaku untuk tetap bersamaku dan merawat bayi kita bersama-sama. Tapi, kamu malah seperti ini, aku mohon bangun, kamu harus sembuh kamu harus tepati janjimu itu kepadaku,"
" Kamu bilang kamu ingin mendengarkan aku mengatakannya bukan? Maka ayok kamu harus kuat dan sembuh. Aku berjanji aku akan mengatakannya, tapi aku mohon bangun," Jackson menangis di depan Ara. Tapi, sayangnya Ara tidak mengetahui hal itu.
Waktu sudah habis Jackson harus meninggalkan Ara. Tapi, sebelum itu Jackson mencium kening Ara lama dan menyatukan kening nya dengan kening Ara. " Aku akan kembali."
Jackson melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ara disana.
...Bersambung!...
...Vote! Komen! And Follownya jangan lupa ya gey's...
__ADS_1