Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 40 Permainan Hidup


__ADS_3

"Apa?"


" Ara? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu tadi lagi ngobrol sama Kiran. Lalu, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Bimo terkejut saat Ara datang tiba-tiba.


" Kiran lagi ada urusan kerjaan. Makanya aku kesini, tapi tadi aku dengar ada orang yang ingin mencoba membunuh Jackson apa itu benar?"


Jackson hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


" Iya itu tadi_"


" Hallo Jackson kamu nggak papa kan? Apa kamu terluka? Siapa? Siapa yang tega ingin membunuh mu?" Seloroh Ara mengambil ponsel di tangan Bimo.


Dan Bimo terkejut di buatnya.


" Kenapa kamu keluar rumah?" Bukannya menjawab Jackson malah berbalik bertanya.


" Aku bosan_"


" Berikan ponselnya ke Bimo!" Suruh Jackson dingin


" Ini bukan salah Bimo. Jangan salahkan dia dalam hal ini, aku hanya bosan di dalam rumah terus makanya aku_"


" Berikan!" Selorohnya


Ara membuang nafas pasrah dan memberikan ponsel itu ke Bimo.


" Iya tu_"


" Kenapa kamu membiarkan nya keluar rumah?" Seloroh Jackson


" Itu tuan. Ara_ Ara yang maksa ingin keluar rumah, katanya dia bosan di dalam rumah terus makanya dia ingin pergi ke kantor untuk melihat-lihat," Jawab Bimo menelan saliva susah payah


" Baiklah! Jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa kabari saya mengerti?"


" B_baik tuan!"


" Tapi tuan siapa orang yang ingin membunuh tuan?" Tanya Bimo


" Saat pulang nanti saya jelaskan!".


" Baik tuan,"


Ara berdecak dan pergi ke arah meja untuk mengambil air minum karena merasa tenggorokan nya yang kering.


" Sedang apa dia?" Tanya Jackson di saat-saat keheningan.


" Dia? Siapa tuan?" Tanya Bimo tak mengerti.


" Wanita yang ada di ruangan itu!"


" Ouhhh Ara? Dia lagi minum," Jawab Bimo.


Jackson berpikir sejenak setelah itu tersenyum kecil saat mengingat saat Ara sedang minum. Entahlah, karena menurut nya ketika Ara sedang minum itu terlihat sangat seksi.


.....


Toilet!


" Ahhkk,"


Suara teriakan kesakitan terdengar sangat jelas. Ara terus berusaha menahan teriakan nya dan rasa sakit yang menyerang seluruh kepalanya agar tidak terdengar oleh orang lain.


" Ahhh aku mohon jangan sekarang," Gumam Ara lirih dengan tangan yang terus memegang kepalanya.


Ara berniat membuka pintu untuk mengambil sebuah obat penahan sakit yang ada di dalam tasnya. Tapi, saat ingin membuka pintu tiba-tiba _


Tap_tap_tapp


Suara langkah kaki terdengar jelas di telinga Ara. Ara menutup pintu itu kembali dan langsung mulutnya sekuat tenaga agar suara nya tidak keluar.


Serrr

__ADS_1


Suara aliran air dari keran wastafel.


" Huhh ternyata kamu sangat cantik! Pantas saja dulu Jackson menjadikanmu permainan malam," Gumam Sonya sambil melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


Sedangkan di dalam toilet Ara bersusah payah menahan rasa sakit yang menggila. Keringat panas dingin terus bercucuran, dan tanpa sadar air matanya menetes dan bercampur dengan keringat nya sendiri.


*


Saat Sonya ingin berangkat pergi tiba-tiba netranya terhenti ke sebuah tas hitam di sampingnya.


Sonya memincingkan matanya saat melihat sebuah tas yang familiar di netranya. Sonya perlahan berjalan ke arah tas itu dan mengambil untuk melihatnya.


" Tas ini? Gue kaya pernah melihat nya tapi dimana?" Gumam Sonya sambil mengingat-ngingat tentang tas itu.


...Plashback On...


" Tolong kamu urus berkas ini jangan sampai berkas ini hilang, nanti kalau Pak Jackson sudah pulang kamu harus segera menyerahkan nya ke pak Jackson," Suruh Ara kepada salah-satu karyawan


" Baik Bu!"


Prok_prokk_prokk


Suara tepukan seseorang berhasil mengalihkan netra Ara. Ara membuang nafas lelah dan menyuruh karyawan Jackson untuk pergi.


" Woww sangat hebat! Baru menjadi tunangan nya saja kamu sudah berani menyuruh-nyruh karyawannya dan mengatur kantor ini. Cee bagaimana kalau sudah menjadi istri? Huhh tidak pernah aku bayangkan jika istri sang CEO Muda ternyata seorang wanita Matre!" Ucap Sonya dengan menekankan kata di akhir kalimat.


" Aku memang tunangan nya karena itu aku ingin membantu tunangan ku yang nantinya akan menjadi suamiku dalam urusan pekerjaanya agar dia tidak merasa kelelahan, lagian apa salah jika aku ingin membantu kekasihku sendiri dalam hal pekerjaan seperti ini?" Timpalku


" Haish," Desis nya membuang muka ke arah lain.


" Apa sudah selesai? Kalau sudah saya pergi, banyak pekerjaan yang harus saya urus di bandingkan berbicara dengan orang yang hanya membuang waktu saya saja!" Tekan Ara dan berlalu pergi meninggalkan Sonya di sana.


" Yaakkk_ kamu pikir kamu siapa hah? Kamu hanyalah simpanan dia! Jangan pernah berpikir kalau kamu adalah wanita satu-satunya di hati Jackson. Karena kamu nggak tau di luaran sana banyak wanita murahan seperti mu yang di jadikan permainan malamnya," Sonya berteriak seperti orang gila di sana.


Dan untungnya di sana hanya ada mereka berdua. Ara yang mendengar itu langkahnya terhenti dan langsung membuang nafas panjang setelah itu pergi melanjutkan langkahnya.


Di sisilain Sonya melihat Ara yang memegang tas Ara yang terlihat sangat mewah.


" Haish itu pasti pemberian Jackson!" Gumam Sonya.


" Hah apa dia gila? Dia meninggalkan tas mewah ini disini?" Gumamnya


Tanpa rasa malu Sonya membuka tas itu. Sonya mengacak-acak isi tas Ara, saat sedang mengacak-acak semua isi dari dalam tas Ara tiba-tiba Sonya mendapatkan sebuah botol berukuran kecil yang di dalam nya terdapat beberapa pil (obat-obatan) "Obat apa ini?"


Sonya mengecek tulisan yang tertera di dalam botol itu. " Obat pereda sakit?"


Sonya berpikir tarik di dalam pikirannya. "Apa Ara sakit?"


Krekkk!


Suara pintu terbuka membuat Sonya sontak kaget, refleks langsung menyembunyikan botol berisi obat itu ke belakang tubuhnya.


" Ngapain kamu disini?" Tanya Ara datar


" Ya terserah aku dong ini toilet umum dan siapa saja boleh masuk ke sini!" Jawab Sonya


Tanpa berbicara lagi Ara mengambil tasnya dan pergi keluar. Sonya membuang nafas panjang saat setelah kepergian Ara.


" Apa dia benar-benar sakit? Wajahnya tadi sangat pucat hum aku harus tau apa yang di deritanya sekarang," Gumam Sonya dan berlalu pergi keluar kantor.


.....


Ruangan Jackson!


Setelah dari toilet Ara bergegas ke dalam ruangan Jackson dan langsung mengeluarkan semua kesakitan yang sedari tadi ia tahan. Ara mencari-cari botol obat pereda sakitnya di dalam tas, namun tidak ada.


Ara memegang kepalanya sakit karna sakit yang luar biasa menggerogoti seluruh tubuhnya. " Dimana obatnya? Aku sudah nggak kuat. Permainan hidup apa ini? Kenapa penyakit ini ada di dalam tubuhku? Apa salahku Tuhan? Dosa apa yang sudah aku lakukan sehingga kamu memberikan penyakit mengenaskan ini hiks? Aku tidak kuat lagi kepalaku sangat sakit hiks dan tanpa obat itu aku tidak bisa menahan rasa sakit ini terlalu lama," Lirih Ara dengan Air mata yang keluar dengan sendirinya.


Ara yang tidak menahan nya lagi refleks mengambil ponsel dan mencari nama Calvin disana.


" Ya hallo Ara ada apa?" Suara Calvin di sebrang sana

__ADS_1


" Ca_calvin tolong aku!" Suara lirih


" Ara? Kamu kenapa? Apa penyakit kamu kambuh lagi?" Tanyanya


" Iya dan aku tidak menemukan obat pereda sakitnya. Aku mohon aku tidak kuat lagi ini sangat sakit. Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan agar bisa menghilangkan sakit ini?" Tanya Ara lirih kesakitan


" Kemana obatnya? Aku sudah bilang kamu akan merasakan sakit dan kamu tidak bisa menahannya jika kamu tidak meminum obat itu!" Terdengar suara nada Calvin yang kesal dan marah.


" Aku juga tidak tau. Aku mohon aku tidak tahan menahan rasa sakit ini, beri tahu aku?"


" Baiklah kamu dimana sekarang?" Tanyanya


" A_aku. Aku ada di perusahaan Jackson_"


" Bertahanlah saya segera ke sana!"


" Ja_jangan!"


" Kenapa?"


" Aku tidak ingin semua orang tau tentang penyakit ku_"


" Astaga! Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu kasian kepada dirimu sendiri atau orang lain?" Tandas Calvin


" Aku mohon jangan membuat mereka tau tentang penyakit ku_"


Tuttt_tutt_tutt


Calvin memutuskan panggilan sepihak.


" Hallo? Calvin?" Ponsel yang Ara pegang jatuh karna Ara tak sanggup memegang nya lagi.


Tok_tok_tok


Suara ketukan dari luar sontak membuat Ara frustasi bingung apa yang harus dia lakukan. Karna Ara nggak mau ada orang yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.


" Ara apa kamu di dalam?" Tanya Kiran di luar


" Kiran? Tidak dia tidak boleh melihat ku dalam kondisi seperti ini," Racau Ara


" Ara? Apa kamu baik-baik saja?" Suara Kiran dari luar.


" I_iya aku baik-baik saja. Ada apa?" Sahut Ara menahan kesakitan


" Aku sudah selesai bekerja dan sekarang waktunya istirahat' ayok! Kita makan siang tadi kamu mengajakku makan siang bukan?"


"A_aku sudah tidak lapar lagi. Kamu makan saja dulu, a_aku nanti menyusul," Bibir Ara bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa.


Kiran yang mendengar suara lemah Ara merasa khawatir apa benar Ara baik-baik saja di dalam?


" Ara apa kamu baik-baik saja?"


" I_iya aku baik-baik saja. Pergi dan makanlah jangan pikirkan aku, aku hanya ingin tidur. Cepat! Makan yang banyak sebelum waktu istirahat kamu habis," Suruh Ara.


" Tidak! Aku yakin kamu kenapa-kenapa di dalam. Katakan! Kamu kenapa? Buka pintunya aku ingin melihat mu,"


" Apa yang kamu katakan aku di sini baik-baik saja_"


" Okeh kalau kamu baik-baik saja biarkan aku masuk!" Seloroh Kiran.


" Kiran aku mohon jangan membuat ku kesulitan," Lirih Ara menahan isakan.


" Ara! Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tau aku khawatir disini, aku mohon buka pintunya!" Teriak Kiran mencoba berbicara agar Ara mau membukakan pintu itu.


Ara tidak menggubris teriakan Kiran dari luar. Rasa sakit yang luar biasa itu mampu membuat Ara tak bisa berbicara lagi.


Clup


Satu tetesan demi tetesan darah keluar dari hidung Ara lagi dan lagi. Ara yang melihat itu hanya pasrah dengan kepala yang ia sandarkan di sofa. Tubuh Ara lemas saat ini bahkan untuk berbicara pun tidak bisa.


Sedangkan Kiran yang sedari tadi masih setia di luar semakin khawatir saat Ara tidak membuka suara lagi.

__ADS_1


" Ara!"


Suara teriakan Kiran dari luar semakin lama semakin mengkabur. Kedua mata indah itu perlahan menutup seiring penglihatan nya mengkabur.


__ADS_2