
BIASAKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA!!
...Go!!!...
...*...
" Hahahah kau memang bodoh Jackson!" Tawa pria itu mengema di sana
" Kamu benar-benar pengecut yang bisanya menyerang musuhnya dari belakang!" Tandas Jackson di sela-sela menahan kesakitan.
" Hahahah saya memang pengecut Jackson. Tapi, saya tidak peduli! Saya akan melakukan apapun itu asalkan kamu mati," Jawab nya
" Jika saya mati kau juga harus mati!" Setelah mengucapkan kata itu Jackson langsung mengarahkan pistolnya ke arah pria di depannya.
Anak buah yang berada di sampingnya pun ikut langsung mengarahkan pistolnya ke arah Jackson.
Di samping itu Jackson merasakan ada sebuah laser merah pistol itu membindik ke arah nya tepat ke arah kepala Jackson, Jackson tau jika saat ini ada seseorang dari arah gedung yang terletak di samping Jackson bersiap untuk menembak dirinya, jika saja Jackson menembak pria di depannya otomatis Jackson pun akan ikut tertembak.
" Kamu yakin ingin menembakku?" Tanya Pria itu datar
" Pikirkan Jackson disini banyak anak buah saya dan jika kamu menembakku mereka dengan sigap akan menolong ku. Tapi kamu? Jika orang itu menembakmu tidak ada siapapun yang akan menolong mu, dan kau akan lenyap disini dan sekarang apa kamu masih yakin ingin menembakku dengan pistolmu itu Jackson?" Jelasnya memincingkan matanya
Jackson merasa sudah lemas tak berdaya. Pistol yang ia pegang terlepas begitu saja, sekuat tenaga Jackson berusaha meraih pistol miliknya itu, namun tiba-tiba Pria itu menginjak tangan Jackson membuat Jackson sekuat tenaga menahan sakit di punggung nya dan juga tangannya
" Apa yang ingin kamu lakukan Jackson? Kamu sudah tidak berdaya dan sebaiknya kamu pergi untuk menyusul orang tuamu di sana," Ucapnya dengan terus menekankan kakinya menginjak tangan Jackson.
" Arghhh!" Lirih Jackson menahan kesakitan.
" Kau harus mati!" Gumam pria itu dengan wajah yang penuh amarah melihat Jackson di bawahnya.
Dorrrr
" Siapa itu?" Teriak Pria itu terkejut saat tiba-tiba sebuah peluru hampir saja mengenai tubuhnya.
" Saya!"
Jackson mendongak melihat ke arah sumber suara itu begitu juga dengan pria itu.
Pria itu melepas injakan nya dan berlari mendekati pria itu yang tak lain adalah Ferdy bersama tangan kanannya.
" Kamu! Siapa kamu?" Tanya pria itu
" Hm akting yang sangat bagus," seru Ferdy menatap smrik ke arah pria itu.
" Kamu pikir saya tidak tau siapa kamu? Chandra,"
Chandra terdiam sejenak saat Ferdy tau itu dirinya.
" Hah kau memang sahabat yang yang setia, sudah beberapa tahun kita tidak pernah bertemu dan sekarang kamu masih mengenalku?"
" Siapa yang akan melupakan orang Penghianat seperti mu!" Tandas Ferdy yang mendapat tawa lelucon dari Chandra.
" Ouh mereka anak buah kamu? Apa kamu masih menjadi seorang Mafia Ferdy?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan saat melihat beberapa orang bersenjata di belakang Ferdy
" Saya kembali untuk menyelamatkan Putri saya!"
" Kamu ingin menyelamatkan Putri mu tapi kamu malah menghalangi ku untuk memusnahkan nya?" Ucap Chandra sesekali melirik Jackson yang lemas tak berdaya.
Jackson hanya diam tidak tau apa yang mereka berdua bicarakan.
" Lepaskan dia dan pergi! Jika kamu tidak ingin semua rencana busuk mu itu untuk mendapatkan semua aset miliknya terbongkar," Titah Ferdy
" Hah tau apa kamu tentang rencana ku?"
" Jangan pikir saya lupa tentang apa yang dulu ingin kamu lakukan untuk merebut aset Jordan. Chandra," Chandra terdiam tak bisa berkutik saat Ferdy mengingat kannya tentang usahanya yang dulu ia lakukan.
" Semuanya mundur!" Teriak Chandra dengan tatapan yang tak lepas dari Ferdy.
Satu persatu anak buah Chandra mundur pergi begitu juga dengan Chandra. Setelah kepergian mereka Ferdy langsung mendekati Jackson yang sudah berumuran darah.
Tanpa berpikir panjang Ferdy dan bodyguard nya langsung membopong Jackson. Jackson yang masih setengah sadar tidak percaya jika musuhnya menyelamatkannya. " Kenapa kamu menyelamatkan ku?" Tanya Jackson setengah sadar
" Saya lakukan ini demi Putri saya," jawab Ferdy datar
Jackson diam tak bisa berkata-kata lagi, rasa sakit di punggung dan dadanya membuat dirinya tak berdaya.
........
RS. Fitroduction Hospital.
" Ayah bagaimana keadaan Jackson?"
Setelah mendapat kabar dari Ferdy tentang kondisi Jackson cepat-cepat Ara dan Bimo bergegas ke rumah sakit.
" Dia masih di dalam," jawab Ferdy dingin
" Sebenarnya apa yang terjadi ayah? Kenapa Jackson bisa tertembak? Dan kenapa ayah bisa bersama Jackson? Ouh apa jangan-jangan kalian bertengkar lagi? Dan karna itu Jackson tertembak?" Racau Ara dengan wajah berkaca-kaca menatap sang ayah.
" Tidak! Bukan ayah yang melakukan nya,"
" Lalu siapa kalau bukan ayah? Ayah adalah musuh terbesar nya. Apa kalian tidak bisa berdamai sedikit pun hah?" Sarkas Ara
Ferdy hanya diam menatap sang anak yang menangisi anak dari musuhnya sendiri.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan Calvin yang keluar dari ruangan Operasi, dengan cepat Ara menghampiri Calvin menanyakan kondisi Jackson saat ini. " Calvin bagaimana keadaan Jackson? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Ara cemas
" Berkat dia Jackson bisa di selamatkan," Tutur Calvin sambil melirik ke arah Ferdy
Ara dan Bimo mengikuti arah lirikan Calvin dan itu tertuju kepada Ferdy. " Ayah?"
" Apa? Dia ayahmu?"
Ara mengangguk pelan menangapi pertanyaan Calvin.
" Jadi saat Jackson di bawa kesini dia sudah banyak kehilangan darah, dan untung saja ayah kamu berbesar hati mendonorkan darahnya untuk Jackson,"
Ara terdiam melirik sang ayah, apa benar yang dikatakan Calvin? Jika ia, Ara benar-benar bahagia karna ayahnya mau menolong Jackson.
__ADS_1
" Apa kita boleh menjenguk nya?" Kini Bimo yang membuka suara
" Pasien sudah melewati masa kritis nya, dan kami sudah mengeluarkan peluru yang ada pada punggung nya, setelah kami pindahkan pasien ke ruang perawatan, kalian boleh menjenguk nya," jawab Calvin
" Baik. Berikan fasilitas VVIP untuk nya," Titah Bimo
Calvin mengangguk dan kembali masuk ke dalam ruangan.
Ara berbalik menatap sang ayah, Ara benar-benar merasa bersalah karna sudah menuduh yang tidak-tidak tentang ayahnya.
" Ayah aku_"
" Tidak papa," jawab Ferdy sebelum mendengarkan ucapan Ara. Hal itu membuat Ara semakin merasa bersalah ke sang ayah.
.......
Kediaman Chandra!
" Arghhhh!" Teriak Chandra frustasi dengan apa yang terjadi.
" Brengsek beraninya dia mengancam ku!" Umpatnya dengan kedua tangan yang terkepal.
" Bos siapa pria tadi?" Tanya salah-satu anak buahnya
" Dia musuh kedua saya,"
" Ouhhh tadi saya lihat sepertinya Bos takut kepadanya," Ucap pria itu tak sadar.
Pria itu yang sadar dengan ucapannya barusan, hanya bisa menelan saliva susah payah.
" Apa kamu bilang? Takut?" Ucap Chandra mendekati pria itu
" Ti_tidak bos ma_maksud saya!"
" BERHENTI BERBICARA JIKA KAMU TIDAK INGIN MATI DI SINI!" TERIAK CHANDRA MATA YANG MEMERAH MENATAP PRIA DI DEPANNYA.
Tubuh pria itu bergemetar hebat saat mendapat Teriak dan tatapan tajam dari bosnya.
" Jangan menyebutkan nama itu di hadapan ku mengerti!"
" Me_mengerti bos," jawab nya gugup
" Ferdy awas saja. Kali ini kamu boleh menghalangi ku tapi nanti, kamu akan mendapatkan hal yang sama seperti nasib Jackson," Umpatnya
Ceklek
" Catran bagaimana? Apa kamu berhasil?" Tanya Chandra
" Tidak aku gagal. Dia tau kalau itu aku dan dia mengancam akan mengatakannya kepada Jackson dan_"
" Dan kamu takut Iya?" Seloroh Chandra
Catran mengangguk menangapi pertanyaan sang ayah. " Dasar bodoh!"
Plakkk
" Kamu benar-benar bodoh! Bisa-bisanya takut dengan ancaman wanita itu?"
Plakkk
Satu tamparan lagi mendarat di wajah Catran hingga berbebekas merah disana.
" Berani sekali kamu menjawab ucapan ayah hah!"
Catran menatap sang ayah dengan penuh amarah, dengan cepat ia bergegas pergi meninggalkan sang ayah disana.
" Ck dasar anak tak berguna," Umpatnya sesaat setelah kepergian Catran.
.........
Ruang VVIP!
Terlihat Jackson terbaring lemas di atas bankar dengan Ara yang setia duduk di sampingnya.
" Ara apa kamu ingin makan?" Tanya Bimo
" Tidak aku tidak lapar,"
" Tapi sejak tadi kamu belum makan,"
Ara tidak menggubris ucapan Bimo. Bimo hanya membuang nafas lelah " Jika nanti tuan bangun dan dia tau kalau kamu belum makan, maka saya akan di marahi. Saya akan pergi keluar cari makanan."
Bimo keluar pergi mencari makanan untuk ia dan Ara makan. Sedangkan Ara ia masih setia menemani Jackson yang masih belum sadar di sana.
Ceklek
Pintu terbuka lebar dan menampilkan Ferdy di sana.
" Ayah?"
Ferdy menghampiri Ara yang bangkit dari duduknya saat melihat sang ayah.
" Dia masih belum bangun?" Tanyanya
" Belum," jawab Ara
" Ara ayah harus pergi. Berhati-hatilah, ayah ingatkan satu hal lagi jangan pernah dekati Chandra ataupun keluarga nya," Titahnya
" Tapi kenapa? Ayah terus-menerus menyuruh ku untuk menjauhinya tapi ayah tidak pernah mengatakan alasannya,"
" Nanti kamu juga akan tau sendiri," Ucap Ferdy
" Lalu ayah mau kemana?" Tanya Ara
" Ayah mau menyelidiki kasus ibumu,"
" Berhati-hatilah!" Ferdy tersenyum kecil ke arah Ara.
Ara tersenyum bahagia saat setelah bertahun-tahun tidak pernah mendapat senyuman itu darinya. Walaupun, hanya senyuman kecil tapi bagi Ara itu sangatlah berarti.
__ADS_1
Ferdy melangkahkan kakinya keluar " Ayah makasih!" Teriak Ara berhasil menghentikan langkah kakinya.
" Makasih karna ayah sudah menolong Jackson dan sudah memberikan donor darah untuk Jackson yang ke dua kalinya,"
Ferdy berbalik menatap sang anak.
" Ayah tidak ingin dia kenapa-kenapa karna ayah tau putri ayah menyukai nya," Senyuman bahagia terukir di bibir Ara. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya setelah sekian tahunnya ia lewati bersama ayahnya, tidak pernah Ferdy mengatakan hal semanis itu.
Ferdy pergi meninggalkan Ara disana.
" Ayah aku harap ini awal yang baik untuk mu dan juga untuk ku," Batin Ara dengan wajah berkaca-kaca karna bahagia.
.......
Beberapa jam sudah berlalu dan kini Jackson masih setia terbaring lemah di atas tempat tidur itu de kedua matanya yang masih setia tertutup.
Ara pun yang lama menunggu kesadaran Jackson, hingga tak sadar dirinya pun ikut tertidur di samping Jackson.
" Ahhhss," Ringis Jackson saat pertama kali bangun dari tidur panjangnya.
Hal yang pertama kali Jackson rasakan adalah rasa sakit dari bagian tubuh yang tertembak itu.
" Ferdy! Apa dia benar-benar menyelamatkan ku? Tapi kenapa? Bukannya dia membenciku seharusnya dia ikut membunuh ku saat itu," Batin Jackson dengan menatap langit-langit kamar VVIP yang bernuansa putih itu dengan pikiran yang tertuju di saat Ferdy menyelamatkannya tanpa ragu-ragu.
Jackson terus berpikir keras memikirkan tentang kejadian tadi, hingga ia tidak sadar kalau sudah berjam-jam ada seseorang yang menunggu dirinya bangun.
" Ara?" Batin Jackson saat mendapati Ara yang tertidur di samping nya.
" Sejak kapan dia ada disini? Dimana Bimo? Haish awas saja kalau dia datang akan ku beri hukuman dia karna sudah membiarkan Ara tertidur disini," Batin Jackson dengan menatap Ara yang sedang tertidur.
Tangan kiri Jackson perlahan bergerak, karna tangan kanan Jackson yang menjadi bantal kepala Ara. Jackson perlahan mengelus rambut Ara lembut dengan senyuman yang terukir di bibir kecil itu saat melihat imut dan polosnya wajah Ara ketika sedang tidur seperti itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Jackson menghentikan aktivitas nya dan berpura-pura tertidur. Karna dia tidak ingin kelakuannya kepergok orang lain.
" Bimo? Haish dia benar-benar membuatku jantungan. Saya kira itu orang kantor," Batin Jackson saat melihat Bimo karna sebenarnya matanya terbuka sedikit tanpa di ketahui oleh Bimo.
Setelah Jackson tau kalau itu Bimo. Jackson membuka matanya lebar-lebar dan menatap ke arah Bimo. " Tuan_tuan sudah sadar? Bagaimana keadaannya? Apa ada yang sakit? Dimana? Apa saya perlu memanggil dokter kesini? Apa saya ha_"
" Cukup!"
" Haish telinga ku sakit mendengar pertanyaan yang tidak ada remnya itu," Sarkas Jackson menatap Bimo jengkel
" Hehe maaf. Saya khawatir dengan keadaan tuan," Ucapnya terkekeh
Jackson yang mendengar ucapan Bimo hanya memincingkan matanya jijik.
" Lupakan! Kenapa kamu membiarkan nya tidur disini? Dan kenapa kalian ada disini?" Tanya Jackson menatap Bimo serius
" Ouh itu saat tuan sedang di operasi Ferdy menelpon dan dia memberitahu kalau tuan tertembak dan di bawa ke rumah sakit, karna itu saya datang kesini. Dan obrolan kami di dengar Ara karna itu Ara bersikeras ingin ikut," Tutur Bimo memperjelaskan nya.
" Lalu apa yang kamu bawa?" Tanya Jackson saat melihat tangan Bimo membawa sebuah tas.
" Ouh ini tadi kata dokter tuan akan di rawat beberapa hari disini, karna itu saya bawa baju ganti untuk tuan,"
" Lalu itu?"
" Ini makanan untuk Ara, karna sejak tadi Ara belum makan,"
" Apa dia belum makan?"
Bimo mengangguk pelan.
" Bangunkan dia!" Titahnya
" Apa? Tapi tuan Ara masih tidur,"
" Bangunkan saja! Apa dia akan nyaman tidur dengan perut kosong?"
Tanpa berkata-kata lagi Bimo langsung membangunkan Ara yang masih tertidur pulas.
Sang empu yang di bangunkan hanya menguliat dengan lenguhan yang keluar dari bibirnya itu.
Jackson yang melihat itu hanya menatap Ara datar, sedangkan Ara masih setengah sadar tidak tau kalau saat ini sedang di perhatikan oleh seseorang.
" Huwaaaa!" Uapan Ara saat bangun tidur.
" Ahhh Bimo kenapa kamu membangun kan ku? Aku masih ngantuk karna menunggu pria es ini bangun," Ucap Ara tanpa sadar dengan ucapannya yang kini mendapat tatapan dari Jackson.
" Ara_"
" Apa?" Tanya Ara berbalik menatap Bimo di belakangnya.
Bimo mengisyaratkan Ara agar menoleh ke arah samping nya. Ara yang mengerti hanya mengigit bibirnya dan menoleh ke arah samping yang dimana disana terdapat Jackson yang menatap Ara datar.
" Ehkk kamu sudah bangun? Sejak kapan ? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Apa ada yang sakit? Atau apa perlu aku panggil dokter untuk datang kesini? Atau_"
Ara tidak melanjutkan ucapannya karna mendapat tatapan yang tak enak dari Jackson.
" Ahk baiklah. Ouh iya dokter bilang jika kamu sudah bangun, kamu harus cepat-cepat minum obat tapi sebelum itu kamu harus makan dulu," Ujarku sembari tersenyum
" Bimo keluar!"
Degghh
Senyuman Ara memudar saat tiba-tiba Jackson menyuruh Bimo untuk keluar, haishh apa yang ingin dia lakukan lagi? Massa karna masalah ucapannya tadi dia langsung marah. Haishh ni mulut nggak bisa di kontrol sih.
" Eee kenapa kamu suruh dia keluar?" Tanya ku hati-hati
" Saya tidak ingin ada orang yang melihat ketika saya sedang menghukumnya," Bisik Jackson di telinga ku
Ara membulatkan mata mendengar suara bisikan itu. Haish kesalahan apa yang sudah aku perbuat? Ini sangat konyol!
Bimo keluar pergi meninggalkan ku berdua bersamanya. Aku hanya diam menunduk tak berani melihat ke arahnya, sedangkan Jackson dia terus saja memerhatikan ku.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAH:)
KOMEN!! FOLOW!!! AND VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA!!!!!
__ADS_1
OKE SEE YOU NEXT TIME EVERYONE:)