
BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA!
...*...
Suara tembakan yang di lakukan Chandra menggema di seluruh sudut atap itu. Jackson yang sedang mengendong Aldren sontak terkejut begitu juga dengan Bimo, Bimo jatuh ke lantai dengan dadanya yang penuh dengan darah.
Jackson membulatkan mata melihat Bimo yang tertembak karena melindunginya dan juga Aldren, Jackson menekan dada Bimo mencoba menghentikan darahnya yang terus keluar.
" Bimo apa yang kau lakukan hah!" Bentak Jackson.
" Tuan saya melakukan tugas saya sebagai bodyguard tuan," jawab Bimo lirih
" Kau bodoh!" Sarkas Jackson
Wajah Jackson memerah melihat Bimo yang lemas tak berdaya di bawahnya. Jackson meraih pistol di balik tubuhnya dan langsung menembaknya ke arah Chandra, Jackson menembak Chandra tanpa memberi kesempatan Chandra untuk menembaknya lagi. Air mata Jackson jatuh saat detik-detik ia menembak Chandra, di saat penembakan Jackson mengingat saat kenangan-kenangan nya bersama Chandra, ia benar-benar tidak menyangka jika orang yang selama ini ia hormati justru telah mengkhianatinya.
Chandra tergeletak dengan seluruh tubuhnya di penuhi oleh darah. Jackson menepuk-nepuk wajah Bimo mencoba menyadarkan nya.
" Bimo bangun!" Suruh Jackson namun Bimo tak kunjung bangun
Tak lama kedua mata Bimo terbuka sedikit. " Bimo kau tlharus tetap hidup. Ini perintah!"
" Tuan terimakasih kar..na selama ini tuan sudah mau menampung diriku di rumah tuan. Saya benar-benar berhutang budi, mungkin ini tidak cukup untuk membayar semua kebaikan tuan kepada saya. Tapi, setidaknya saya bisa membalas semua kebaikan tuan dengan ini,"
" Apa yang kau katakan Bimo? Kenapa kau lakukan ini,"
" Sekarang tuan bisa mengabulkan janji tuan kepada Ara. Tuan memiliki keluarga sedangkan saya hah saya hanya hidup sebatang kara disini,"
" Kau bodoh!" Jackson memukul wajah Bimo sebagai seorang Kakak yang memarahi adiknya
" Kau harus tetap hidup! Ini perintah kakakmu," Bimo sedikit terkejut mendengar ucapan Jackson.
" Saya bangga menjadi adikmu kak," Kedua mata Jackson memerah melihat Bimo yang sedang kritis di bawahnya.
Bimo menarik nafas dalam-dalam, Bimo merasakan sakit di dadanya karna peluru itu pas mengenai jantungnya.
" Tuan jika saja nanti saya tidak bisa selamat. Tolong berikan ini kepada Aldres dan juga Aldren," Bimo memberikan sebuah gelang coupel ke tangan Jackson
" Ini memang tidak seberapa tapi saya tulus memberikan ini. Ma...maafkan saya jika selama ini saya gagal dalam menjadi bodyguard maupun adik tuan,"
" Berbicara omong kosong apa kau ini? Kau akan tetap hidup. Kau harus merawat Aldres dan juga Aldren hingga dewasa," Sarkas Jackson
" Uhuk_uhukk,"
" Saya ti... tidak mampu tuan. Tu...tugasku sudah cukup sampai disini, sa...ya harap tuan dan juga Ara bisa hidup bahagia, jangan pernah berpisah tuan dia adalah seseorang yang sudah tuhan hadirkan untuk tu...an," Ucap Bimo lirih menahan sakit.
Perlahan netra Bimo mengkabur kedua mata itu perlahan menutup, tangannya yang sempat berpegangan teguh kini terlepas seiring kedua mata itu tertutup. Jackson menatap Bimo yang sudah tertidur untuk selamanya.
" Bimo bangun! Apa kau dengar hah? Saya bilang bangun. Kau bilang kau sudah menganggap saya sebagai kakakmu bukan? Lalu sekarang apa ini? Bahkan kau tak sanggup mematuhi perintah kakakmu sendiri," Jackson terus berusaha membangunkan Bimo. Namun sayangnya Bimo tak kunjung bangun karna nyatanya Bimo sudah tidak ada.
Jackson meneteskan air matanya yang selama ini ia pendam. Ini adalah untuk sekian kalinya dirinya melihat orang terdekatnya mati di hadapannya, takdir begitu rumit hingga manusia pun tak bisa memecahkannya. Jackson berteriak frustasi dengan semua yang selama ini ia lalui, tiba-tiba Jackson mengingat saat-saat hari-hari nya bersama Bimo, dari kecil hingga sekarang Bimolah orang yang selalu ada di sampingnya, dialah orang yang selalu menghibur Jackson ketika sedang terpuruk walaupun tidak mempan untuk Jackson. Karna nyatanya Jackson lebih dingin dari kecil di banding saat dewasa.
Tap_tap_tap
Suara larian langkah kaki terdengar jelas di telinga Jackson. Langkah Calvin terhenti saat melihat Bimo dan juga Chandra yang sudah tergeletak di sana, Calvin melangkah kan kakinya mendekati ayahnya.
Kedua mata Calvin memerah melihat orang tuanya meninggal dengan keadaan seperti ini. Calvin tidak bisa menyembunyikan air matanya, perlahan air mata itu jatuh.
" Sudah ku katakan jangan lakukan ini. Tapi, kau tidak pernah mendengarnya, ini untuk kedua kalinya saya melihat orang yang sudah membuatku lahir disini seperti ini,"
" Kenapa? Kenapa kau begitu iri dengki? Kenapa kau tidak bisa hidup bahagia bersama keluarga mu? Kenapa yang ada di pikiran mu hanya harta, tahta dan drajat? Kau tau? Saya memang marah kepadamu tapi itu bukan berarti aku benci mempunyai ayah seperti mu," Lanjut Calvin lirih
Calvin membuang air matanya kasar. Calvin berjalan menghampiri Jackson yang masih terdiam menatap Bimo yang kini sudah berwajah pucat.
" Maafkan ayah saya. Mungkin apa yang dilakukan ayah saya tidak bisa menerima maaf dari kalian semua, tapi disini saya sebagai anaknya memohon minta maaf sebesar-besarnya kepada kalian termasuk kamu dan juga Ara," Jackson masih tetap diam tidak menggubris ucapan Calvin.
" Tidak ada yang tau kapan, dimana dan siapa yang akan mati hari ini. Ini untuk kesekian kalinya saya melihat orang terdekat saya pergi dengan cara seperti ini, hidup saya sudah hancur sejak ayah dan ibu saya pergi. Kau tenang saja saya tidak akan membalas semua kejahatan orang tuamu terhadap keturunannya," Gumam Jackson
Jackson bangkit dan mendongak menatap Calvin di depannya. " Hidup saya sudah hancur. Saya sudah kehilangan banyak darah merah yang tumpah dari orang-orang yang saya sayangi, dan kali ini saya tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi."
Jackson mengangkat dan mengulurkan tangan kanannya. " Kita akhiri disini."
Calvin menatap Jackson datar. Perlahan tangan kanan itu terangkat, Calvin membalas uluran tangan Jackson dan memegangnya erat.
" Kita buka lembaran baru," Tatapan mereka saling bertemu. Jackson melepas pegangan tangan nya begitu juga dengan Calvin.
Beberapa orang berhamburan datang dan membopong tubuh Bimo begitu juga Chandra dan membawanya ke dalam mobil ambulans.
Jackson dan Calvin berjalan berdampingan dengan Jackson yang mengendong Aldren. Setiap langkah demi langkah telah di lalui mereka, akhir dari balas dendam mereka kini berakhir sudah. Kesalahan dan perbuatan Chandra sudah dia bayar sendiri olehnya tapi sayangnya Bimo harus tewas saat kejadian.
Dan banyaknya darah yang tumpah karna perbuatannya.
.....
Skip Rumahsakit!
Di rumah sakit Jackson mengurus semua biaya administrasi kematian Bimo. Tak lama Ara, Kiran dan juga Aldres yang di gendong Ara datang dan sedikit tak percaya mendengar perkataan Jackson di telpon kalau Bimo sudah tiada.
__ADS_1
" Sayang bagaimana keadaan mu? Dan Aldren dimana dia? Kenapa dia tidak bersamamu? Dia baik-baik saja kan?" Pertanyaan bertubi-tubi terlontar di mulut Ara.
" Kamu tenang dulu. Aku dan Aldren baik-baik saja, Aldren sedang di ruang perawatan karna dia sempat sesak nafas,"
Ara bernafas lega mendengar penjelasan Jackson.
" Lalu Bimo?" Kini Kiran yang membuka suara
Wajah Jackson kini berubah bisa Ara lihat perubahan itu dari wjaah suaminya. " Ada apa? Apa yang kamu katakan di telpon itu tidak benar kan?" Tanya Ara menatap suaminya
" Aku tidak pernah berbohong kepadamu apalagi menyangkut nyawa seseorang,"
Ara terdiam tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak menyangka jika orang yang selama ini sudah mendukungnya pergi meninggalkan nya secepat ini.
Sedangkan Kiran dia menangis dan langsung menyeka air mata itu agar Ara dan Jackson tidak mengetahuinya, Kiran benar-benar kehilangan sosok seorang Bimo, meskipun di setiap pertemuan pasti ada perdebatan di antara mereka, tapi Kiran bisa merasakan jika Bimo adalah orang baik.
" Sayang kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Ara lirih
" Ini semua karna ku," Ara memincingkan matanya mendengar ucapan Jackson
" Karna berusaha menyelamatkan ku Bimo tertembak. Jika saja Bimo tidak menyelamatkan ku mungkin aku yang akan tiada,"
" Suthh kenapa kamu mengatakan hal itu?" Ara menutup mulut Jackson dengan tangannya karna tidak suka dengan ucapan suaminya itu
" Apa yang aku katakan itu benar," Bisa Ara lihat rasa bersalah dari diri Jackson.
Kiran melangkahkan kaki pergi meninggalkan Ara dan juga Jackson.
" Jangan salahkan diri kamu sendiri tentang kematian Bimo. Ini adalah sebuah pengabdian dia kepada kamu sebagai tugasnya, kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Dia menyelamatkan mu karna dia orang baik, dia begitu menyayangi mu sampai dia tidak perduli dengan hidupnya saat menolongmu," Ara terus meyakinkan Jackson untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Bimo.
" Aku minta maaf,"
" It's oke aku mengerti, tapi aku tidak ingin dengar kamu menyalahkan diri kamu sendiri atas apa yang terjadi terhadap Bimo," ujar Ara
Jackson mengangguk pelan. Tatapannya kini beralih ke Aldres yang tidur di gendongan Ara. " Apa dia menangis?" Tanya Jackson dengan tangannya yang terus mengelus rambut tipis itu
" Iya. Sejak tadi dia terus menangis mungkin karna dia merasakan kalau adik dan ayahnya dalam bahaya," jawab Ara
Jackson tersenyum tipis ke Ara dan beralih mencium pipi Aldres. " Sekarang Daddy dan adikmu baik-baik saja." Ucap Jackson menatap sang anak
.....
Disisi lain Kiran menangis melihat Bimo yang terbaring di atas bankar. Kiran benar-benar tidak menyangka jika Bimo sudah tiada.
" Kenapa kau pergi secepat ini? Kau tau aku pasti akan merindukan mu, aku akan merindukan kekonyolan kamu, keresean kamu semua yang ada di dalam diri kamu aku pasti akan merindukan nya," Gumam Kiran lirih
......
Jackson dan Ara kini sudah membuka lembaran baru. Tapi, hanya saja Jackson tetap menjadi seorang Psychopat berhati dingin terhadap orang lain tapi tidak dengan Ara, sifat dan sikapnya sangat berbeda jika menyangkut tentang Ara, sikap Jackson sangat lembut dan manja kepadanya tapi dengan si kembar Jackson sangat keras dia tidak ingin anaknya menjadi lembek dan manja kepadanya apalagi kepada ibunya.
Hari ini adalah hari keseratus kematian Bimo. Jackson teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu dimana Bimo menaruhkan nyawanya demi menyelamatkan dirinya, Jackson datang ke tempat jadian yaitu gedung itu. Jackson bergumam sendirian, dia terus berterima kasih dan sesekali Jackson menceritakan kenangan-kenangan nya saat bersama Bimo. Entah tau atau tidak? Saat ini Jackson bisa merasakan kehadiran Bimo di sampingnya, dia merasakan jika saat ini Bimo sedang mendengar semua keluh kesah saat bersamanya. Bimo merangkul tuannya dan tersenyum ke arahnya, angin yang tidak terlalu kencang menerpa wajah tampan itu. Bibir tipis itu terangkat, Jackson tersenyum tipis dan mengucapkan kata terimakasih lagi sebelum melangkah kan pergi meninggalkan tempat itu.
...~Kediaman Jackson~...
" Daddyy!!!" Teriakan imut anak kecil berhasil mengejutkan Jackson saat ingin masuk ke dalam rumah.
Setelah pertumbuhan Aldres dan Aldren membuat mereka semakin aktif dan lincah. Bibirnya yang kecil dan pipinya yang chuby membuat mereka sangat imut jika di bandingkan dengan ayahnya xixi.
Jackson mengendong Aldren dan juga Aldres dan membawanya masuk ke dalam rumah.
" Mommy Daddy udah pulang," teriak si kakak (Aldres)
" Bentar Mommy lagi buat teh hijau dulu," sahut Ara di dapur
Jackson menurunkan Aldres dan juga Aldren dan berjalan menghampiri Ara yang sedang di dapur, Jackson melihat punggung istrinya dan langsung memeluk tubuh ramping itu.
" Astaga kamu mengagetkanku!"
Latah Ara sedikit terkejut, Jackson menyimpan kepalanya di bahu Ara dengan memeluk tubuhnya itu erat.
Ara berbalik menatap sang suami. Seperti biasa Ara mencium bibir tipis itu setiap kali suaminya pulang, hal itu bukan kemauan Ara melainkan permintaan Jackson.
" Gimana udah kesana?", Tanya Ara
" Hum. Kamu tau aku merasakan kehadiran Bimo disana," Tutur Jackson
" Benarkah?"
" Hum. Aku tidak akan melupakan jasa dia kepada ku,"
PoV Ara
Ku elus lengannya lembut.
" Aku senang karena kamu sudah tidak menyalahkan diri kamus sendiri atas kematian Bimo,"
" Itu semua karena kamu,"
__ADS_1
Dia memelukku erat. " Makasih." Desusnya di telingaku.
Aku tersenyum dan membalas pelukan itu.
" Daddy jangan ganggu Mommy," Jackson melepas pelukannya saat tiba-tiba Aldren datang dan memisahkan ku dengannya.
" Sayang,"
" Mommy apa Daddy ganggu Mommy? Tidak_ tidak ada satupun yang boleh ganggu Mommy," Aldren memeluk ku erat seakan tak ingin melepaskan.
Aku yang melihatnya hanya terkekeh geli melihat tingkah Aldren yang menurut ku sangat imut. Baru berumur 9 bulan saja dia sudah mengoceh dan pintar seperti ini apalagi sudah besar.
" Sayang Daddy tidak ganggu Mommy kok. Daddy cuman mau bermanja saja sama Mommy," Uacpku melirik Jackson
" Benel?" Aldren mengangkat jari nya
" Bener," Ara menyatukan jarinya dengan jari kecil Aldren
" Ouh iya dimana kakak kamu?" Tanya ku
" Ka Aldles lagi ngebunuh hewan telbang," Aku tersentak kaget mendengar ucapan Aldren.
Sekecil ini kenapa dia bisa berbicara seperti itu? Aku mendongak menatap Jackson yang menggeleng menandakan tidak tau.
" Sayang dimana dia?" Tanya ku dengan tatapan dingin
" Dia ada di lual," jawabnya cadel
Aku bangkit dan bergegas pergi keluar mencari keberadaan Aldres. Dan benar saja aku melihat Aldres yang sedang bermain dengan seekor capung, Aldres melepas kepala capung itu dari tubuhnya, tiba-tiba Jackson datang dan menghampiri ku.
" Sayang,"
" Tidak Jackson. Aku tidak ingin anak aku menjadi seperti ini, cukup kamu anak kita jangan," Ucap ku lirih
Mana ada seorang ibu yang ingin anaknya memilik sifat seorang Psychopat seperti ini? Aku benar-benar tidak mau jika Aldres dan Aldren menjadi seperti ayahnya. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mereka.
Susah payah aku merawatnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian, tapi jika ujung-ujungnya mereka akan menjadi seperti aku tidak bisa membiarkannya.
" Sayang dengarkan aku. Aku juga tidak mau Aldres menjadi seperti ini, tapi seberusaha apapun kita menjauhkan mereka dari semua ini tetap saja mereka menjadi seperti ini,"
" Dengarkan aku Aldres dan Aldren tidak akan kenapa-kenapa. Ini semua sudah takdir....,"
" Aku sudah bilang sama kamu untuk stop menjadi seorang Psychopat tapi apa? Kamu tidak mau dengar dan apa hasilnya? Anak kita juga menjadi seperti kamu. Jackson aku benar-benar takut, dulu kamu kehilangan orang terdekat kamu dan banyak orang yang berusaha menyakiti kamu, aku tidak mau semua yang kamu alami terjadi kepadanya," Tangis ku
Jackson membuang nafas berat. Sudah beberapa bulan akhir-akhir ini aku memang melihat perubahan kedua anakku, sifat mereka sangat berbeda bahkan aku saja tidak mengerti dengan mereka berdua. Aldres, dia memiliki sifat sama persis seperti ayahnya (Jackson) Aldres selalu bersikap dingin tidak sewajarnya ketika sedang balita. Sedangkan Aldren, ntah kenapa rasanya dia memiliki sifat yang sama persis seperti ayahku (Ferdy) aku benar-benar tidak mengerti dengan sifat mereka yang berbeda. Apa yang ada di pikiran ku selama ini itu benar? Jika Aldres memilik sifat Psychopat yang menurun dari ayah dan kakeknya (Jordan) sedangkan Aldren dia memiliki sifat Mafia yang menurun dari kakeknya (Ferdy). Arghh kenapa ini semua bisa terjadi? Aku benar-benar bingung tak mengerti dengan semua ini.
Ku langkahkan kakiku menghampiri Aldres dan duduk di sampingnya. " Sayang ayok masuk!"
" Mommy lihat aku udah membelikan kebebasan untuk dia, tadi aku liat dia kesakitan dan tidak bisa telbang kalna itu aku membuat nya tidak sakit lagi," Ucap Aldres dengan cadelnya itu
" Sayang dengarkan Mommy. Kamu tidak boleh lakukan itu, mereka binatang hidup. Mereka ingin hidup sama hal nya seperti kita, jadi mulai sekarang kamu tidak boleh melakukan itu lagi ke hewan-hewan lagi yah," Aku berusaha menasehatinya pelan-pelan.
Aldres mengangguk pelan dengan tatapannya yang dingin. Aku membawanya masuk ke dalam rumah, aku benar-benar tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menjauhkan dia dari benda tajam dan juga hal-hal yang bisa membuatnya melakukan hal bodoh lagi.
Waktu cepat berlalu malam ini terlihat Ara yang masih terdiam memikirkan si kembar.
" Chagia?!"
" Hum,"
" Sudah jangan pikirkan hal itu. Aku yakin mereka akan baik-baik saja, kamu percaya kan sama mereka?"
" Aku tidak tau. Selama ini hidupku sudah di penuhi oleh peristiwa-peristiwa yang menurut ku aneh, aku kehilangan orang yang aku sayangi dan hampir saja aku kehilangan dirimu, aku tidak mau kehilangan orang lain lagi Jackson. Kita sudah susah payah membuka lembaran baru, tapi kenapa masa lalu datang lagi," Jackson memeluk ku erat.
Dia tau bagaimana perasaan ku sekarang. "Sudah jangan di pikirkan lagi." Desusnya
" Dari pada kita memikirkan hal yang bisa membuat kita mengingat masa lalu. Mending kita buat adik untuk si kembar," Aku tersentak kaget mendengar ucapannya, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dalam keadaan seperti ini.
" Kau ini aku tidak ingin bercanda," gubrisku
" Sapa yang bercanda? Aku serius. Sudah lama kita tidak melakukan nya, dan aku yakin Aldres dan Aldren juga menginginkan adik lagi terutama Aldres,"
" Mereka masih kecil tidak mungkin mereka menginginkan adik lagi. Kamu kali yang mau punya anak lagi," Jackson terkekeh menampilkan deretan gigi putihnya ke arahku.
Aku terkekeh geli melihat tingkah Jackson yang sangat imut. Wajah Jackson semakin dekat aku tau apa yang akan di lakukan nya, tapi aku hanya diam pasrah dengan apa yang akan dia lakukan.
Satu cm saja Jackson akan mencium ku tapi tiba-tiba si kembar datang, refleks ku dorong tubuh kekarnya menjauh dariku. Jackson berdecak kesal karna setiap dia bermanja denganku si kembar selalu datang mengangunya.
" Sayang belum tidur?" Tanya ku
Aldres dan Aldren naik ke atas ranjang dan tidur di tengah-tengah kami.
" Aku dan kak Aldlen tidak bisa tidul. Aku ingin tidul disini sama Mommy dan Daddy," ucapnya imut
Ku lirik Jackson yang kini sedang melihat ke arah lain dengan wajah datarnya itu. " Yasudah tidur disini." Jackson menatapku tajam seakan tak suka dengan ucapan ku.
...See You next time...
__ADS_1