
...Markas Psy-Mafia ...
Tidak ada yang tau Markas si kembar Al. Mereka menyembunyikan tempat markas mereka dari siapapun termasuk ayahnya [Jackson], bukannya mereka ingin menyembunyikan sesuatu dari sang ayah, hanya saja mereka tau kalau ayahnya tidak akan menyetujui dan akan merusak semua tempat yang mereka tempati.
Di dalam Markas yang cukup luas itu, ini kali pertamanya bagi Aldres membawa seorang gadis ke Markas. Ntah apa yang akan dia lakukan yang pasti Aldres merasa gadis itu cocok untuk mainannya.
Di dalam kamar yang serba hitam dan di penuhi kotoran-kotoran hewan dan darah manusia. Keisha merasa takut berada di tempat itu apalagi bersama pria yang saat ini ia takuti di dunia.
" Kenapa sayang? Kenapa kamu menangis? Apa aku menyakitimu?" Tanya Aldres menatap wajah Keisha yang kini di banjiri air mata dan keringat.
" T_tolong lepaskan aku. Aku harus pulang, ibuku sedang menungguku di rumah," isakan demi isakan keluar dari si pemilik bibir ranum itu.
Keisha tak henti-hentinya memohon kepada Aldres untuk di lepaskan. Tapi, Aldres tidak peduli ia malah merasa bahagia saat melihat seorang gadis menangis sesenggukan di hadapannya.
" Menangislah Sayang, sampai kapanpun kamu tidak bisa keluar dari tempat ini. Karena sekarang tempat ini adalah rumahmu,"
" A_aku tidak mau, aku mohon lepasin aku. Aku janji aku tidak akan memberitahu siapapun lagi, aku mohon lepasin aku...,"
" Sayangnya aku tidak sebodoh kamu gadis. Aku sangat pintar, bahkan aku tidak pernah percaya pada siapapun di dunia ini. Selain ibuku,"
" Benar! Kamu punya ibu yang sangat kamu sayangi. Sama sepertiku, aku memiliki seorang ibu yang sangat aku sayangi, dan sekarang dia sedang sakit di rumah sakit. Aku harus kembali ke rumah sakit agar ibuku bisa melakukan operasi,"
" Apa kamu berbohong membawa nama ibumu agar aku mau membebaskan mu begitu?"
"Ahaha bodoh! Ibumu adalah ibumu. Aku tidak peduli mau dia mati atau tidak, dia bukan ibuku. Aku hanya mencintai ibuku seorang!" Tegas Aldres menatap tajam Keisha
" Kenapa kamu tidak mengerti? Ibuku sedang sekarat di rumah sakit, dia membutuhkanku sekarang. Aku mohon lepaskan aku, aku harus pergi ke rumah sakit sekarang!" Teriak Keisha kehabisan kesabaran
" Wow bagus sekali suaramu Sayang. Aku ingin tau bagaimana kamu mengeluarkan suara indahmu nanti saat bermain bersamaku!"
" Brengsek! Kamu bukan seorang manusia. Melainkan iblis yang menyerupai manusia...."
Plakkk!
Aliran panas menyerang wajah cantik itu saat kalau Aldres melayangkan tangannya keras ke wajah Keisha. Keisha terus meneteskan air matanya sedangkan Aldres mencengkram dagu Keisha kasar hingga membuat sang empu meringgis kesakitan.
" Berani sekali kamu berkata kasar. Apa aku melakukanmu kurang baik? Aku hanya menahanmu disini dan kamu hidup damai disini. Aku hanya memberikan kehidupan yang baik untukmu, tapi apa ini balasanmu huh?"
" Percuma saja aku hidup! Untuk apa aku hidup kalau ibuku sedang sekarat di rumah sakit!" Teriak Keisha mengeluarkan amarahnya kepada Aldres " Jika saja ibuku terjadi apa-apa. Kamu! Kamu adalah orang yang pertama aku cari."
Plakkk!!
Aldres memukul Keisha hingga tak sadarkan diri. Ini kali pertamanya untuk Aldres merasakan aliran panas yang begitu menyengat di tubuhnya, seorang gadis yang tidak takut dan berani berteriak kepadanya.
Keisha kamu adalah wanita yang berani menentang kekerasan Aldres.
......
Keesokan harinya di sekolah Aldres pergi ke kelas sang Kaka Aldres untuk menanyai bagaimana kabar sang gadis teman sekelasnya.
" Bagaimana permainan mu kemarin bersama Keisha?" Tanya Aldren menatap wajah sang kaka.
" Jangan berani kamu sebut namanya. Aku benar-benar akan membunuhmu!" Tandas Aldres menahan emosinya.
" Wow ada apa ini? kenapa apa permainan mu kemarin gagal? Apa dia sudah kendor?"
" Ahaha ternyata gadis pendiam seperti dia itu ternyata sangat ganas," goda sang adik
" Tutup mulut mu itu. Aku tidak bermain-main dengannya, ini untuk pertamanya dalam kamusku ada seorang wanita yang berani membentak dan berteriak keras di depanku! Berani sekali dia berteriak di depan King Psychopat seperti ku,"
" Apa?"
" Dia bersikeras ingin pergi. Dia bilang ibunya sedang sekarat di rumah sakit, huh dia pikir aku bodoh? Aku tidak akan pernah percaya pada siapapun terkecuali Mommy,"
" Benar! Tapi, jika benar ibunya sedang sekarat di rumah sakit bagaimana?" Aldres terdiam sejenak mendengar ucapan sang adik.
" Apa seorang Psychopat peduli tentang hal itu?"
" Aku tidak peduli tentang hal itu bodoh!"
" Apa maksudmu menyebutku bodoh?"
" Kamu memang seorang mafia bodoh!"
" Kamu berani mengataiku bodoh huh?" Teriak Aldren terpancing emosi oleh sang kaka
" Tutup mulutmu itu dan pergi ke kelas. Guru yang kamu idamkan sudah ada di kelas,"
" Siapa maksudmu? Pa Geri? Huh pria tua itu kapan dia mati?" Celetuk Aldren dan bergegas pergi ke dalam kelasnya.
Aldres yang melihatnya hanya menyunggingkan senyum dan tiba-tiba teringat dengan ucapan sang adik.
.....
Pukul 20.00 malam.
Aldres pergi ke sebuah gudang yang kotor itu dengan membawa makanan dan minuman di tangannya.
__ADS_1
Puukkk!
" Makan-makananmu. Aku tidak mau kamu mati secepat ini jadi makanlah!" Titah Aldres sesaat setelah melempar makanan itu ke depan Keisha.
Saat ini Keisha terlihat sangat kumuh, kotor dan pucat. Keisha tak henti-hentinya menangis memikirkan bagaimana kondisi ibunya saat ini.
" Apa kamu tuli? Aku bilang makan!"
" Aku tidak mau makan,"
" Kamu ingin mati?"
" Apa kamu pikir aku selalu berbaik hati seperti ini huh? Kalau kamu tidak mau makan, maka jangan makan!" Ucap Aldres dan mengambil makanan dan minuman itu.
Sudah beberapa hari Keisha tidak makan. Bahkan Keisha menepis makanan yang Aldres berikan hingga jatuh, sehingga membuat Aldres kesal dan lagi-lagi melayangkan tangannya ke wajah Keisha.
Sudah hampir seminggu Keisha bertahan berada di ruangan kotor bau amis itu tanpa makan dan minum. Keisha sering pingsan karena merasa pusing dan lapar, sedangkan Aldres ia tidak peduli lagi dengan Keisha yang makan atau tidak.
Di tempat lain Aldren melakukan Hobbienya bermain Billiard, dengan di temani oleh wanita-wanita cantik dan seksi. Dalam Billiard ini Aldren sangat handal ketimbang kakaknya Aldres, mereka memiliki keahlian dan kemampuan yang berbeda-beda. Aldres sangat menyukai permainan Golf, bahkan dulu sejak SMP Aldres mendapat penghargaan karena mendapat juara 1 dalam permainan Golf.
" Sayang kamu sangat hebat!" Seru seorang wanita berpakaian terbuka itu.
Semua wanita di sana sangat meyukai Aldren, walaupun Aldren masih anak SMA tapi itu tidak membuat wanita-wanita itu berhenti menaklukan hati sang berondong Aldren.
Dari balik pintu itu terlihat dua pria dan satu wanita datang secara bersamaan. Aldren sedikit memicingkan matanya karena merasa familiar dengan wajah wanita itu. Aldren melangkah menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Shafira Vera'lose.
" Apa kita pernah bertemu?" Tanya Aldren dingin sembari menatap Vera.
" A_aku nggak kenal kamu," jawab Vera terbata-bata
" Benarkah? Tapi, sepertinya aku pernah lihat kanu. Tapi dimana?" Aldren mencoba mengingat dan benar saja Aldren ingat kalau mereka pernah bertemu di koridor sekolah.
" Ternyata itu kamu? Hah... Apa yang anak kecil lakukan disini huh?" Ucap Aldren seperti meremehkan.
Aldren melirik dua pria di belakang Vera. " Apa kamu datang kesini untuk menemani orang tua itu?" Celetuk Aldren.
Dua pria yang benar sudah tua itu terkejut dan tidak terima dengan ucapan Aldren. " Apa kamu bilang? Tua?"
" Hey anak kecil ngapain kamu disini? Kamu seharusnya di sekolah bukan di tempat ini,"
" Ahaha," tawa renyah Aldren
" Apa tempat ini milik nenek moyang kalian huh?"
" Kalian tamu disini jadi jangan sok mengatur hidup orang lain!" Kedua pria itu benar-benar sudah kalut terbawa emosi dan langsung menghajar Aldren, nun dengan sigap Aldren menangkisnya.
" Hey tunggu!" Panggil Vera berhasil membuat Aldren menoleh ke arah belakang.
" Ada apa cantik?"
" Kamu sudah mengusir semua uangku. Kamu harus membayarnya!"
" Apa aku salah dengar? Ternyata kamu juga mau menemani para pria tua itu seharian hanya untuk uang?"
" Jangan banyak bicara! Ganti rugi sekarang. Semua uangku hangus karna kamu,"
Aldren merogoh ponselnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkan nya ke Vera. Tangan Vera terangkat hendak mengambil uang itu, namun saat hendak mengambilnya tiba-tiba Aldren menarik kembali uang itu.
" Setelah aku pikir-pikir. Aku bisa memberikanmu uang lebih dari pria tua itu membayarnya, tapi dengan satu syarat!"
" Apa?"
" Tiap pulang sekolah kamu harus menemaniku bermain Billiard. Bagaimana?"
" Apa kamu tidak akan menyesal?" Tanya Vera serius
" Apa yang akan membuatku menyesal kalau di temani wanita cantik seperti mu," goda Aldren
Vera berpikir sejenak dan menyetujui persyaratan Aldren tanpa pikir panjang. Aldren memberikan uang kepada Vera dan bergegas pergi, tapi sebelum itu Aldren menyimpan nomor telepon Vera di ponselnya.
~ Skip Keesokan harinya
Di sekolah, tepatnya di kantin. Vera sedang makan sendirian. Vera tersadar kalau ada orang yang terus memperhatikannya, ia pun menoleh ke arah orang itu dan benar saja Aldren sedang memperhatikan Vera dari kejauhan. Tak lama, Vera selesai dengan kegiatan makannya dan hendak membayarnya, disisi lain juga Aldren dan Aldres berjalan berpapasan dengan Vera. Langkah Aldren terhenti sejenak tepat di samping Vera dan membisikkan sesuatu. " Nanti sore jangan lupa oke?" Bisik Aldren dan bergegas pergi.
Vera terus menatap punggung Aldren lama dengan di akhiri senyuman smrik di bibirnya.
....
" Apa yang tadi kamu bisikin?" Tanya Aldres penasaran
" Teman main baruku,"
" Bukannya kamu suka wanita yang bertubuh sexy? Lalu kenapa pilih wanita itu?"
" Aku hanya ingin membuat gadis itu seperti wanita-wanita ku," Aldres hanya tersenyum kecil dan menggeleng kepalanya saat mendengar pikiran adiknya itu.
" Lalu bagaimana Keisha?"
__ADS_1
" Huh... Dia benar-benar bodoh. Aku memberinya makanan tapi dia menolak dan malah melempar makanan itu, dia benar-benar gadis terbodoh yang pernah aku temui,"
" Lalu kenapa kamu tidak langsung membunuhnya kalau kamu sedang kesal? Sepertinya menarik,"
" Biarkan dia mati dengan sendirinya. Dia sudah tidak berdaya, dan mungkin tinggal menghitung hari dia akan mati!" Ucap Aldres santai
.....
Bel pulang sekolah berbunyi, Aldres dan Aldren berjalan hendak pulang. Namun, samar-samar terdengar jelas suara guru-guru yang sedang membicarakan hilangnya Keisha.
" Iyah sudah hampir 2 Minggu Keisha tidak ketemu. Polisi juga tidak bisa menemukan keberadaan Keisha,"
" Kasian sekali anak itu, di saat detik-detik terakhir ibunya meninggal dia malah tidak ada di sampingnya," Aldres dan Aldren tersentak kaget dan spontan saling bertatapan satu sama lain.
Aldres benar-benar tidak menyangka kalau ucapan Keisha itu benar. Aldres bergegas pergi menuju Markas meninggalkan Aldren adiknya.
" Abangku ini memang paling bisa mengatur waktu," gumam Aldren sedikit tertawa.
Aldren pergi naik mobil dan melihat dari arah sana Vera yang sudah menunggu Aldren. Aldren berhenti tepat di depan Vera dan menyuruh Vera masuk ke dalam mobil.
Markas
Aldres berjalan setengah berlari menuju gudang. Terlihat Keisha yang sudah tidak berdaya di lantai kotor itu, Aldres mengangkat tubuh Keisha dan mencoba menyadarkan Keisha.
" Keisha bangun!"
Aldres terus menekan-nekankan dada Keisha agar Keisha bisa kembali bernafas.
Uhukk...uhukkk
Keisha kembali sadar tapi kondisinya yang masih buruk.
Aldres mengambil minum dan memberikannya kepada Keisha.
Keisha sempat menolak namun Aldres memaksanya untuk minum.
" Kenapa kamu biarkan aku hidup? Kamu ingin aku mati bukan? Aku sudah hampir mati tapi kenapa kamu malah lakukan ini?" Aldres tersentak mendengar ucapan Keisha.
Jujur saja Aldres juga tidak tau apa yang sudah ia lakukan. " Kenapa? Kenapa aku menolongnya? Seharusnya aku membiarkannya mati." Batin Aldres tersadar dengan ucapan Keisha.
" Kamu adalah budakku. Aku tidak mau kamu mati dengan sia-sia, kamu harus menjadi budakku dan mematuhi semua perintahku!"
" Tidak... Aku tidak mau. Biarkan aku mati,"
" Apa aku harus mengatakannya? Tapi, untuk apa? Biarkan saja, lagi pula ibunya juga sudah tidak ada," batin Aldren.
" Aldres... Aku mohon lepasin aku. Aku hanya ingin melihat kondisi ibu aku sekarang, dia butuh aku sekarang. Aku janji aku akan menuruti semua perintah kamu,"
Aldres berpikir sejenak. " Benarkah?"
" Jika aku sudah berjanji, maka aku tidak akan mengikarinya," jawab Keisha mantap
" Baiklah, aku akan meberimu kesempatan bertemu dengan ibumu. Tapi, ingat?! Kamu harus mematuhi semua perintah ku, jika sampai kamu berani berbohong. Maka saya benar-benar akan menghukum mu!"
Keisha menelan Saliva susah payah dan mengaguki ucapan Aldres.
Di tempat lain Vera merasa bosan karna harus menemani Aldren bermain Billiard. Tapi, mengingat tugasnya Vera mencoba menahan kekesalannya.
.....
Rumah sakit
Keisha berlari ke ruang rawat ibunya. Namun, saat datang ia tidak menemukan ibunya di sana. Dengan tubuhnya yang lemas tak berdaya Keisha berlari kesana kemari untuk menanyakan kepada dokter dan suster disana tentang ibunya. Tak lama, seorang dokter pria datang dan memberitahu Keisha kalau Pasien yang berada di kamar rawat itu sudah meninggal. Sontak hal itu membuat Keisha terduduk lemas tak berdaya.
Kesedihan yang di rasakan Keisha benar-benar membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun.
" Ibu...!!!!" Teriak Keisha pecah di sana.
Hancur hati Keisha mendengar kabar meninggalnya sang ibu. Keisha tak henti-hentinya menangis, kehilangan orang yang sangat istimewa di dalam hidupnya adalah hal yang paling menyakitkan. Keisha benar-benar tidak bisa berpikir ia bangkit dan pergi ke tempat pemakaman sang ibu, Keisha menangis terisak-isak melihat tempat peristirahatan terakhir sang ibu.
" Ibu kenapa ibu ninggalin Keisha secepat ini?"
" Keisha nggak punya siapa-siapa lagi selain ibu. Keisha benar-benar takut ada disini, orang-orang semua jahat. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri,"
" Ibu, Keisha pengen ikut sama ibu. Jangan tinggalin Keisha sendiri disini, tidak ada orang baik disini bu, maafin Keisha karna tidak ada di samping ibu di saat detik-detik terakhir ibu, ada orang jahat yang yang ingin aku menderita Bu. Aku nggak kuat disini bu, aku ingin ikut ibu," Keisha terus menangis sembari memeluk tempat peristirahatan terakhir sang ibu.
Terlintas di pikirannya tentang Aldres. Keisha membuang air matanya kasar dan bergegas pergi mencari keberadaan Aldres.
..........
...Next Part...
Hii... Maaf yah baru up lagi. Ada yang masih nunggu cerita ini?
Jangan lupa tinggalkan jejak yah..
Makasih😊
__ADS_1