Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 55 Cemburu


__ADS_3

" Ara," Bimo datang dan terkejut melihat kondisi Ara yang sangat mengkhawatirkan. " Kiran ada apa dengan Ara? Kenapa kondisi nya seperti ini?" Pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari mulutnya


" A_aku juga tidak tau. Kita harus membawa nya ke rumah sakit sekarang," Bimo mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Ara dan membawa nya ke rumah sakit.


Skip Rumah Sakit.


" Dokter dokter tolong pasien ini," Teriak Bimo saat sampai di rumah sakit dengan Ara di pangkuannya.


Suster itu langsung mengeluarkan bankar. Bimo membaringkan tubuh Ara yang lemas di sana dan membawanya ke ruang UGD.


" Sus tolong selamatkan sahabat saya. Saya mohon hiks," Tangis Kiran memohon kepada salah-satu suster disana


" Kami akan melakukan semaksimal mungkin, kalian berdoa saja semoga pasien baik-baik saja," Suster itu masuk ke dalam dan menutup pintu besar itu rapat-rapat.


" Ara hiks kenapa lo bisa seperti ini, gw nggak tega lihat kondisi lo seperti tadi. Sebenarnya apa yang di derita lo?" Gumam Kiran lirih dengan air matanya yang tak henti-hentinya terus keluar.


Bimo yang melihat itu tak tega dan merangkul Kiran mencoba menenangkannya. " Percayakan semua kepada dokter, semoga saja Ara tidak kenapa-kenapa." Ujar Bimo menenangkannya.


Di dalam ruang UGD seluruh badan Ara di penuhi oleh alat-alat medis. Dokter dan suster itu turut turun tangan membantu memeriksa keadaan Ara yang semakin memburuk.


.........


Di tempat lain


Perusahaan Gruop Lexus


Jackson sangat khawatir dengan keadaan Ara karna sejak kepergiannya dia tidak bisa menemukan keberadaan nya lagi, ntah kemana perginya Ara. Saat ini Rekan Bisnis teman dari ayahnya sudah datang dan diberi sambutan yang hangat luar biasa oleh Jackson maupun semua karyawan yang ada disana, Dia pun merasa bangga dan senang bisa datang ke perusahaan Jackson. Di saat berpidato dia berterima kasih kepada Jackson dan juga para karyawannya, dia begitu mengapresiasikan semua hal yang menyangkut tentang Jackson dan hal itu membuat semua karyawan bangga dan senang, tapi semua itu tidak dengan Jackson, saat ini Jackson benar-benar tidak fokus pikiran nya terus memikirkan Ara.


Tubuhnya memang disana tapi pikirannya traveling ntah kemana.


" Ara kamu dimana?" Batin Jackson


.......


" Dok disana!" Suara perempuan berhasil mengalihkan perhatian Bimo dan juga Kiran.


" Calvin tunggu!"


" Sus tangani dia!" Titah Calvin menghiraukan Bimo yang memanggil nya dan bergegas masuk kedalam ruang UGD. " Baik pak."


" Sialan!" Umpat Bimo kesal dengan tingkah dingin Calvin


" Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya suster yang di cap sebagai sekretaris Calvin.


" Tidak ada kamu boleh masuk membantu nya," Suster itu terdiam bingung dan langsung masuk ke dalam.


.....


" Dokter apa yang terjadi?" Tanya Calvin saat baru datang keruangan.


" Syukurlah pak Calvin datang. Kondisinya semakin memburuk pak, kami sudah melakukan pertolongan pertama untuk pasien," Tutur pria paruh baya itu.


" Kenapa bisa seperti ini? Saya tidak bisa melihat mu seperti ini, bertahanlah saya tidak akan membiarkan mu seperti ini," Batin Calvin tak kuasa melihat orang yang dia cintai terbaring lemah tak berdaya sedang melawan penyakit ganasnya itu.


" Pasangkan semua alat untuk kemoterapi sekarang!" Titah Calvin


" Tapi pak dia sedang hamil, kita tidak bisa melakukan nya tanpa sepertujuan keluarganya," Sergah dokter paruh baya itu.


Calvin tersadar ia baru menyadari kalau saat ini Ara sedang hamil karna yang ia pikirkan hanya kondisi Ara.


Tanpa pikir panjang Calvin langsung menaruh kedua tangannya tepat di dada Ara dan terus menekan-nekan dadanya itu.


" Pak Calvin apa yang kamu lakukan?" Semua orang yang ada di sana terkejut dengan aksi yang di lakukan Calvin.


" Ara saya mohon bangun. Kamu sudah berjanji kepadaku untuk tetap hidup, ayok bangun semua orang di luar menangis karna mu, bangun atau saya tidak akan membantu mu lagi," Calvin terus menekan-nekan dada Ara mencoba membuat Ara sadar.


Dokter tua itu menghentikan aksi Calvin dan menjauhkannya dari tubuh Ara. " Dokter Calvin sadar kamu kenapa? Apa dengan melakukan seperti tadi itu bisa membuat dia bangun?" Sarkasnya


Calvin merengkuh kedua pundak Ara. " Apa yang harus saya lakukan Ara katakan?" Teriak Calvin menatap sendu wajah pucat Ara.


" Maafkan saya. Saya harus melanggar semua perjanjian kita,  saya tidak punya pilihan lain selain pergi menemui Jackson dan meminta persetujuan untuk melakukan kemoterapi untukmu," Tekad Calvin.


" Dokter chu saya mohon lakukan sebisa bapak untuk menyelamatkannya setidaknya membuat dia bangun,"


Calvin bertekad pergi menemui Jackson, namun saat ingin membuka pintu tiba-tiba suara parau berhasil menghentikan langkah nya.


" Calvin?" Calvin berbalik melihat pemilik suara parau itu.


" Jangan pergi!" Pinta Ara lirih. " Ara!" Calvin menghampiri Ara dan mengengam tangannya erat.


" Kamu bangun?"


Ara tersenyum kecil mendengar ucapan Calvin. " Aku tidak lupa dengan janjiku." Calvin membuang wajahnya dan mengerjap-erjap matanya agar tidak keluar.


" Kenapa kamu ingin melupakan janjimu itu? Kau sudah berjanji kepadaku untuk tidak memberitahunya. Tapi, tadi kau ingin membuat dosamu semakin menumpuk karna sudah mengingkari janji yang kau buat sendiri," Ucap Ara lirih dengan tawa kecil di bibirnya


Calvin menatap Ara datar, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini dia masih bisa-bisanya bercanda.


" Tidak tadi saya hanya mengancammu bangun, dan ternyata kau bangun karna kau takut dengan ancaman ku,"


" Kamu benar aku sangat takut dengan ancamanmu itu,"


" Berhenti berbicara kamu belum pulih. Aku harus mempersiapkan semua alat kemoterapi untuk mu," Gubris Calvin


" Kenapa kamu seperti ini? Aku tidak mau. Aku mohon jangan lakukan itu_"


" Nyawamu lebih penting dari egomu Ara!"


" Tapi anak aku lebih penting dari nyawaku Calvin!" Tandas Ara berhasil membuat Calvin diam.


" Aku sudah mengambil janjimu itu. Jika kamu melanggarnya aku tidak akan pernah mau lagi bertemu dan mengenalmu lagi," Ancaman Ara berhasil membuat Calvin diam dan tak berani mengatakan satu kata pun.


" Dokter chu periksa dia," Titahnya dan pergi keluar.


" Maafkan aku Calvin, aku tau niatmu baik untuk ku. Tapi, saat ini aku tidak memikirkan hidupku melainkan hidup anakku," Gumam Ara dalam hati.


........


" Calvin berhenti!" Panggil Bimo yang tidak di dengar Calvin

__ADS_1


" Calvin saya bilang berhenti!" Teriak Bimo berhasil menghentikan langkah kakinya


Bimo langsung menghampiri Calvin saat dia berhenti. " Calvin jika kita memiliki masalah pribadi maka kesampingkan itu. Disini saya hanya ingin bertanya bagaimana keadaan Ara di dalam? Tapi kau_kau malah acuh seperti ini. Apa kamu benar seorang dokter? Kalau ia sikapmu itu tidak mencerminkan jika anda sebagai seorang dokter," Tandas Bimo menatap tajam Calvin.


Calvin menatap tajam Bimo balik ingin sekali semua ucapan nya ia keluarkan tapi sayangnya ini sedang di rumah sakit membuat dirinya mengurungkan niatnya.


Calvin membuang nafas panjang mengatur nafasnya. " Ikuti saya!" Titahnya


Bimo dan juga Kiran mengikuti Calvin dari belakang hingga sampai di sebuah ruangan dengan sebuah nama Drs. Spesialis Kanker di garis bawahi Calvin Alexandra yang tertera di atas pintu itu.


Tatapan Kiran dan juga Bimo bertemu saat melihat nama yang tertera di sana. " Spesialis Kanker? Jadi dia masuk ke dalam  dokter ahli spesialis kanker, hebat juga." Seru Bimo dalam hati


" Silahkan duduk!" Ucap Calvin mempersilahkan mereka duduk.


Dengan senang hati Bimo dan Kiran duduk. " Ada apa? Kenapa kamu menyuruh kita kesini?" Tanya Bimo dengan tatapan serius


Calvin tidak menjawab dia hanya menyodorkan sebuah foto Rontgen. " Apa ini?" Tanya Bimo tak mengerti


" Lihat saja,"


Pukkk!


Kiran terkejut saat tiba-tiba Bimo menyimpan kasar foto Rontgen itu ke meja. " Kamu ini pura-pura bodoh atau bagaimana? Kamu suruh kita lihat foto_foto apa?"


" Foto Rontgen," sahut Kiran


" Ya itu foto Rontgen yang jelas-jelas kita tidak tau sama sekali tentang hal itu," Gubris Bimo


Calvin benar-benar sangat pusing dengan tingkah pria satu di depannya. Bagaimana bisa dia di jadikan Bodyguard? Dengan otak dan tingkah seperti itu.


" Baiklah saya jelaskan foto Rontgen ini adalah hasil foto isi kepala Ara. Di sini terlihat beberapa benjolan dan benjolan-benjolan ini awalnya sangat kecil tapi jika kita tidak melakukan tindakan maka benjolan-benjolan ini akan semakin membesar,"


" Tunggu kenapa kamu tadi ikut membantu Ara? Bukannya kamu dokter spesialis penyakit kanker? Lalu kenapa kamu memeriksa Ara?" Tanya tiba-tiba Kiran berhasil membuat kedua pria itu diam.


Bimo yang mendengar ucapan Ara terdiam kenapa dia tidak kepikiran tentang hal itu?


" Iya benar Calvin. Kenapa kamu ikut masuk saat itu?" Kali ini Bimo yang membuka suara.


" Huhh makanya jika ada orang yang sedang berbicara dengarkan dulu," Gubris Calvin sabar


" Kami tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan penjelasan mu itu. Katakan intinya bagaimana keadaan Ara?" Gubris Bimo dengan tatapan serius.


" Saya disini hanya akan menangani pasien yang menderita penyakit kanker selain dari itu saya tidak,"


" Ma_maksud kamu Ara_"


Calvin mengangguk menanggapi pertanyaan Kiran. Bimo dan Kiran terkejut dengan jawaban Calvin.


" Ka_kalau boleh tau kanker apa?" Tanya Kiran lirih


" Kanker otak stadium akhir,"


Deghh


Air mata yang sedari tadi ia tahan keluar begitu saja. Kiran menangis histeris di sana, begitu juga dengan Bimo_ Bimo benar-benar terkejut dan tidak percaya jika Ara memiliki penyakit separah itu.


" Tidak hiks Dokter pasti salah. Tidak mungkin sahabat saya menderita penyakit separah itu, sahabat saya baik-baik saja dia masih melakukan aktivitas seperti biasanya tidak mungkin dia memiliki penyakit seperti itu," Teriak Kiran tak percaya dengan semua ucapan Calvin.


" Kau sudah tau tapi kenapa kau tidak memberitahu kepada saya jika Ara sedang sakit hah?!" Gubris Bimo menatap tajam Calvin


" Saya ingin sekali memberitahu kalian tapi dia menahan saya. Dia memohon agar saya tidak memberitahu kan  keadaan nya kepada kalian. Tapi, semakin hari kondisinya semakin memburuk, karna itu saya memberitahukannya kepada kalian berdua. Agar kalian berdua mau membantuku untuk merawatnya,"


" Ara kenapa lo sembunyikan penyakit lo dari gw?" Gumam Kiran lirih


" Saya punya satu permintaan dari kalian,"


" Apa?"


" Sembunyikan kondisi Ara dari Jackson, jangan sampai Jackson tau tentang keadaan Ara,"


" Kenapa? Dia suaminya!" Sarkas Bimo


" Ara yang mengatakannya. Dia tidak ingin jika Jackson tau tentang kondisinya, karna dia tau Jackson akan menyuruhnya melakukan kemoterapi," jawab Calvin


" Lalu apa salahnya? Bukannya itu hal baik untuk kesembuhan Ara?"


" Itu benar tapi saat ini Ara sedang hamil jika kita melakukan kemoterapi itu berarti Ara melakukan dan meminum obat-obatan, dan hal itu akan mengimbas ke dalam tubuh bayi yang ada di dalam perutnya," jelas Calvin


" Jadi maksud kamu kita hanya diam saja melihat Ara yang kesakitan melawan penyakit nya seorang diri begitu?" Kini Kiran yang membuka suara.


" Tidak ada cara lain,"


" Haish kau seorang dokter spesialis Kanker dan kau tidak tau apa yang harus kamu lakukan? Hah lalu apa gunanya kau sebagai seorang dokter hah?" Teriak Kiran tak sadar dengan ucapannya.


Kiran pergi begitu saja dengan Isakan demi isakan yang keluar dari mulutnya sedangkan Bimo dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada Ara. Orang yang terlihat ceria, terlihat sehat, ternyata di dalam tubuhnya terdapat penyakit yang menggerogoti tubuhnya.


" Kenapa kamu tidak melakukannya saja?" Tanya Bimo tanpa melihat kearah Calvin.


" Saya ingin melakukannya, tapi Ara tidak mau. Dia tau jika hal itu akan buruk untuk bayi di kandungan nya," jawab Calvin


" Calvin kau tau jika saya dan tuan sangat membencimu, tapi hari ini saya ingin kau berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan Ara dan juga bayinya, saya mengatakan ini bukan sebagai musuhmu melainkan sebagai seorang Bodyguard yang menginginkan kesembuhan tuannya," Calvin tersenyum tipis mendengar ucapannya


" Tanpa kau suruh pun saya akan melakukan nya!" Tandas Calvin


........


Di ruang VVIP terlihat Ara sedang beristirahat di atas kasur kecil itu.


" Ara?!" Ara terbangun dari tidurnya saat tiba-tiba Kiran datang dengan kondisi menangis memeluk nya.


" Kiran kamu kenapa menangis? Apa ada pria yang menyakitimu?" Ara tau jika Kiran menangis seperti itu pasti karna masalah pria. Begitulah dia jika sedang galau ataupun ada orang yang ia suka ujung-ujungnya nangis di pelukanku.


" Hiks kali ini bukan karna pria ghosting itu,"


" Bukan? Lalu siapa?"


" Kamu!"


" Apa aku? A_apa yang aku lakukan?" Ara sedikit terkejut dan menatap Kiran bingung

__ADS_1


" Kenapa lo bohong sama gw? Kenapa lo nutupi semua kenyataan pahit yang di derita lo? Gw sahabat lo tapi lo tidak pernah anggap gw sahabat. Kenapa? Kenapa lo sembunyikan penyakit lo dari gw kenapa Ra?"


" Kiran kamu_"


" Gw sahabat lo Ra. Lo bilang lo sudah anggap gw seperti kaka lo sendiri tapi apa buktinya? Seorang adik tidak akan pernah nutupi apapun itu termasuk penyakit lo. Kenapa? Apa lo tidak mau gw tau karna gw nggak bisa bayar biaya pengobatan lo begitu? Gw memang orang miskin tapi gw bisa melakukan apapun itu untuk sahabat gw,"


Ara tak kuasa menahan air matanya. Ara benar-benar terkejut karna Kiran tau tentang kondisinya.


" Ra penyakit yang di derita lo itu bukan penyakit biasa, lo tau kan penyakit kanker otak itu sangat ganas dan sebagian orang yang menderita penyakit itu menyebabkan mereka meninggal hiks tapi lihat?! lo tau jika lo  termasuk ke dalam kategori itu tapi lihatlah seakan lo ingin mati, lo tidak mau berusaha untuk pengobatan lo_"


" Aku bukannya tidak mau berusaha Kiran," Seloroh Ara


" Sejak dulu aku terus berusaha bangkit dan bangkit dari penyakit ini, tapi tiba-tiba ada seorang malaikat kecil berada di perutku. Aku berpikir jika mulai sekarang aku tidak akan meminum obat- obat resep untuk penyakiku yang di berikan dokter itu karna aku tau perawatan dan obat-obatan itu tidak baik untuk anak ku. Dan aku tidak ingin menjalani kemoterapi karna aku tau aku tidak punya biaya dan ayah, bahkan sekarang aku tidak tau dia ada dimana. Jadi, apa yang aku harapkan sekarang? Hidup aku tidak lama lagi tapi sebelum itu aku ingin berjuang melawan penyakit ini hingga sampai anak aku lahir. Setelah itu aku ikhlas jika itu saatnya untuk aku pergi," Kiran dan Ara sama-sama menangis.


Mereka tidak sadar jika ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka, Bimo meneteskan air matanya kasian karna melihat kondisi Ara di dalam sana. Bimo tidak bisa berbuat banyak selain berdoa dan mengharapkan dokter bisa menyembuhkan nya.


" Maafkan aku Kiran maaf karna aku tidak jujur kepadamu, aku tidak mau kamu mengkhawatirkan ku dan lihatlah, kamu menangis ini yang tidak aku inginkan karna itu aku tidak ingin jujur kepadamu, aku menyembunyikan ini bukan karna tidak menganggap mu sebagai sahabat ku justru karna aku tidak ingin melihat kakakku menangis hanya karna menangisi keadaanku yang sekarang hiks," Kiran memeluk Ara erat begitu juga sebaliknya.


" Maaf karna tadi gw berbicara keras, gw sangat kesal, kecewa, khawatir arghh campur aduk," Teriak nya frustrasi


Ara yang melihatnya hanya terkekeh kecil melihat begitu frustrasi nya sahabat nya yang satu ini.


" Kiran?"


" Hum," dehemannya


" Kamu mau kan janji sama aku?"


" Janji apa?"


" Janji dulu," Ara meengangkat jari kelingkingnya


" Yaudah janji," Kiran menyatukan jari kelingkingnya


" Jadi apa?" Tanya Kiran penasaran


" Kamu harus janji jangan kasih tau Jackson tentang keadaanku sekarang," Kiran tersentak saat sahabatnya mengajukan janji yang menurutnya sulit.


" Tapi Ra dia suamimu!"


" Aku tau tapi aku tidak punya cara lain selain menutupi keadaanku darinya untuk sekarang, aku takut jika dia tau dan memaksaku untuk melakukan pengobatan, Kiran aku tidak ingin anak aku kenapa-kenapa. Mungkin lebih baik seperti ini,"


" Tapi bagaimana dengan keadaan mu? Ra penyakit kamu sudah parah secepat mungkin kamu harus melakukan perawatan lebih lanjut,"


" Aku gak akan kenapa-kenapa. Aku akan menjaga kesehatan ku seperti biasa,"


" Tapi Ara bagaimana kamu bisa melewati rasa sakit itu? Keadaan kamu semakin lemah apalagi kamu membutuhkan tenaga untuk melahirkan anak ini," perkataan Kiran berhasil menampar Ara. Tapi, Ara tidak punya cara lain selain cara ini. Dan keputusan nya tidak bisa di ganggu gugat.


" Aku_"


Ceklek!


Ucapan Ara terhenti saat tiba-tiba ada seseorang masuk. " Jackson." Ara sedikit terkejut saat tiba-tiba Jackson memeluknya erat.


Kiran yang sadar melangkah kan kakinya pergi dari ruangan meninggalkan mereka berdua.


" Ara kamu tidak papa? Bimo bilang dia melihat mu tak sadarkan diri di parkiran, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Jackson khawatir


" Aku tidak papa,"


" Maafkan aku karna aku telat datang kesini, seharusnya aku meninggalkan semua pekerjaan ku dan segera datang kesini. Huh aku benar-benar menyesal, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu denganmu dan juga baby kita,"


" Suthh," Ara menempelkan satu jarinya di depan bibir Jackson


" Kenapa kamu khawatir seperti itu? Aku tidak papa. Aku hanya kecapean, dan baby dia baik-baik saja. Lihatlah bahkan sekarang dia sedang aktif menendang-nendang perutku," Ara mencoba meredakan kekhawatiran Jackson


" Bagaimana aku tidak khawatir kamu sedang hamil besar dan kau pergi dengan keadaan_" Jackson tidak melanjutkan ucapannya


" Keadaan apa?"


" Kamu pergi saat melihat ku berduaan dengan Sonya di kantor. Bisa aku jelaskan saat itu aku dengannya tidak melakukan apapun, dia hanya mimijitku dan pijitannya sangat enak," Jackson melirik Ara yang mendapat tatapan tajam.


" Tapi tak seenak pijatan kamu," lanjutnya yang mendapat senyuman dari Ara.


" Tapi tiba-tiba dia pingsan di pangkuan ku dan bertepatan saat kamu datang. Jadi_"


" Jadi kamu pikir aku pergi karna cemburu melihat kamu berdua sama Sonya gitu?" Tebak Ara yang mendapat anggukan dari Jackson.


Ara terkekeh kecil mendengar anggukan Jackson. " Kamu salah aku pergi bukan karna cemburu melainkan karna kepala aku pusing dan berniat cepat-cepat pergi, tapi saat di parkiran kepala aku sangat pusing dan akhirnya seperti ini." Jackson menatap istrinya kecewa dia kira istrinya pergi karna cemburu karna melihat dirinya bersama wanita lain, tapi ternyata tidak.


" Jadi kamu tidak cemburu?" Tanyanya meyakinkan


Ara menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban tidak. " Oke itu berarti saya boleh dong bawa wanita ke dalam kantor dan kerumah setiap hari?" Ara tersentak kaget saat Jackson mengatakan hal yang tidak pernah ia pikirkan.


" Loh kok gitu?


" Kenapa? Bukannya kamu tidak cemburu? Jadi nggak papa dong kalau aku bawa wanita luar ke dalam rumah,"


" Tidak boleh!" Sarkas Ara


" Loh kenapa tidak boleh?"


" Ya_ ya tidak boleh,"


" Bilang aja cemburu gitu aja susah," Tandas Jackson kesal dengan istrinya yang tidak mau ngaku jika dirinya cemburu


" Kamu benar Jackson aku benar-benar cemburu lihat kamu sama Sonya tadi, meskipun kamu sudah menjelaskan nya tapi tetap saja aku cemburu. Karna Sonya adalah orang yang sudah lama mengenal mu dibandingkan aku," Batin Ara


JANGAN LUPA UNTUK BERIKAN KOMEN, VOTE, DAN FOLLOWNYA :)


YUK MARI KITA BERTEMAN DENGAN CARA ADD+ :


IG : Dwimn17


...Yuhuu jangan pernah bosan dengan author star kw oke xixi😁...


...Yuk ahkk dipilih-pilih....


...Kalian kalau mau request cerita untuk author buat cerita boleh banget komen aja yh:)...

__ADS_1


...Semakin banyak yang minat...


...Semakin semangat author ngetiknya!!!!🤗...


__ADS_2