Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Ep.71


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan Follow sebelum baca!


...*...


Keisha berjalan tak tau arah, Keisha mencari sosok pria yang membuatnya tidak bisa berada di samping sang ibu di saat detik-detik terakhir nya. Keisha pergi ke Markas Psy-Mafia dengan keadaan buruk, Pintu besar itu dengan sekali dorongan kasar  terbuka sempurna. Dengan penuh amarah, kedua mata yang memerah dengan air mata yang bercucuran membasahi wajah wanita itu. Keisha berteriak menyebut nama Aldres, namun tak ada tanda-tanda pria itu ada di dalam rumah.


" Aldres keluar kamu! Kamu yang sudah menyebabkan ibuku meninggal. Kamu yang sudah membunuh ibuku, kau sudah membuatku menderita. Berhari-hari aku memohon kepadamu seperti orang gila, tapi apa yang kamu lakukan? Sekarang ibuku meninggal dan itu karna mu!"


" Aldres dimana kamu?! Jangan menjadi pengecut. Semua perbuatan burukmu tidak akan pernah membawa baik kepadamu. Kamu akan selalu berada di dalam penderitaan Aldres William Willson!" Teriak Keisha murka, darahnya yang dingin, ucapannya yang lembut kini berubah dengan sekejap. Aldres adalah orang yang sudah membuat seorang gadis polos menjadi gadis yang tidak mengenal kata itu.


Kehilangan sang ibu sangat membuat Keisha sedih, sedangkan pria itu tidak pernah peduli dan merasakan rasa kehilangan yang kini di rasakan Keisha.


Tap_tap_tap


Suara langkah kaki berhasil mengalihkan perhatian Keisha. Keisha mengambil sebuah guci di atas meja dan memegangnya erat. Terlihat dari balik tembok Aldres datang dengan santainya, air mata dan amarah bercampur menjadi satu. Keisha benar-benar marah dan tidak akan memaafkan pria di depannya.


" Ada apa sayang? Kenapa kamu teriak-teriak?"


" Tutup mulutmu Aldres, aku kehilangan ibuku. Kenapa kamu lakukan ini? Apa salahku?"


" Bahkan kesalahan kecil ku tidak sebanding dengan kematian ibuku!"


Srett


Aldres mencekik leher Keisha dan menghimpit tubuhnya ke tembok. " Apa katamu hal biasa?"


" Perbuatan mu itu aku tidak menyukainya. Dan kematian ibumu, itu bukan kesalahan ku. Dia memang sudah di takdirkan untuk pergi,"


" Kau yang membuatnya pergi Aldres, detik-detik terakhirnya aku tidak ada di sampingnya. Dan itu karna kamu Aldres, seharusnya aku ada di sampingnya dan membayar semua pengobatan ibuku, tapi karna kamu ibuku tidak tertolong," Tandas Keisha.


" Dimana hati nurani mu hah? Kau sama seperti ku mempunyai ibu yang kamu sayang. Tapi, apa kamu berpikir bagaimana kalau ibumu yang ada di posisi ibuku yang sekarat....,"


Plakkk


Aliran panas mengalir di tubuh Keisha, Aldres melayangkan tangannya ke wajah Keisha. " Jangan kamu berani membawa nama ibuku dalam hal ini!" Ucap Aldres penuh penekanan.


" Kenapa? Marah? Apa kamu pikir aku tidak marah saat kamu terus mengabaikan keselamatan ibuku huh?"


" Kamu seperti ini karna belum merasakan bagaimana kehilangan sosok seseorang yang begitu kamu cintai Aldres," Air mata itu terus jatuh membasahi pipinya. Tak ada hal yang membuat emosi Aldres reda, kehilangan sosok sang ibu membuat Keisha seakan tak ada gunanya lagi di dunia.


Keisha meraih tangan Aldres dan mengarahkannya ke leher sendiri. " Ayok bunuh aku! Aku tidak mau lagi hidup di dunia kejam itu. Dengan aku pergi semua penderitanya ku akan berakhir, dan kau akan senang."


" Ayok bunuh aku Aldres kenapa kamu diam saja hah?" Teriak Keisha


Aldres benar-benar tidak menyangka kalau Keisha akan seemosional seperti ini. Darah mafia yang ada di dalam diri Aldres membuat Aldres muak dan mencekik leher Keisha. Wajah cantik, natural itu kian memerah saat Aldres terus mencekik Keisha hingga kehilangan Oksigen un bernafas.


Kedua mata yang di penuhi air mata itu membuat Aldres sedikit tersadar. Wajah yang polos, cantik dan murah senyum itu kian membuat pikiran rasa kasian menyentuh hatinya, Aldres menarik tangannya kasar dari leher Keisha. Keisha terjatuh ke lantai tak sadarkan diri karna cekikan itu.


Aldres membawa Keisha ke dalam kamar dan menelpon seorang dokter kepercayaan nya ntuk memeriksa keadaan Keisha. Dokter itu menatap sekilas dan menggelengkan kepala. " Bagaimana keadaannya dok?"


" Apa kamu mencekiknya?" Tanya dokter itu menatap Aldres.


" Dia seharusnya mati!"


" Kalau begitu kenapa kamu memanggil saya? Jika kamu mau dia mati, biarkan saja dia. Lagi pula bukannya kamu tidak pernah peduli tentang orang lain? Lalu kenapa sekarang kamu malah menolong gadis ini?" Pertanyaan dokter itu membuat Aldres bingung. Bahkan dirinya juga tidak tau kenapa malah menolong Keisha.


" Ini salep untuk mengobati luka di lehernya. Jika kamu tidak mau dia mati, maka jangan lakukan hal yang akan membuatnya mati Aldres," pesan Dokter itu dan berlalu pergi


Aldres mendekati ranjang dan menatap wajah pucat Keisha. " Apa seperti ini kehilangan orang yang kita sayang? Aku tidak tau Keisha. Aku tidak pernah kehilangan orang yang aku sayang."


Taut-taut perasaan aneh Aldres rasakan. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan kini tiba-tiba menghantuinya.


***


Di tempat lain Aldren, Ara dan Jackson sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka merasa bingung karna akhir-akhir ini Aldres tidak ada di rumah, sedangkan Aldren yang tau dimana sang kakak hanya diam tidak membuka suara karna Aldren tau jika sang ayah Jackson tau dimana sang kaka, Jackson pasti akan memarahinya apalagi kalau sampai ketahuan menyembunyikan seorang wanita di Markas itu.


" Daddy tidak bisa hubungi Aldres, apa kamu benar tidak tau dimana Aldres?" Tanya Jackson ke Aldren


Aldren yang pintar dalam berakting tidak membuat Jackson dan Ara curiga. Semua wajah yang Aldren tunjukkan semuanya menunjukan kalau Aldren mengatakan yang sebenarnya kalau dia tidak tau keberadaan sang kakak.


Aldren pergi menjauhi Jackson dan Ara dan langsung menghubungi Aldres di sana.


Aldress


Apa?


^^^Kamu dimana?^^^


Markas.


Memangnya kenapa?


^^^Cepat pulang!^^^

__ADS_1


^^^Mommy sama Daddy nyariin kamu.^^^


Aku nggak bisa!


^^^Apa ada masalah?^^^


Ibu gadis itu meninggal.


Dan Keisha menyalahiku atas kepergian ibunya.


^^^Kok bisa?^^^


Ceritanya panjang.


Beritahu Mommy dan Daddy, kalau aku baik-baik saja!


^^^Ok!^^^


...~...


...S...


ambungan telepon berakhir. Aldren kembali menghampiri Ara dan Jackson,  terlihat Ara yang sedikit cemas dengan keadaan Aldres, namun dengan baik Aldren menjelaskan kalau Aldres baik-baik saja dan membuat Ara sedikit lebih tenang.


Ara pergi ke dalam kamar meninggalkan dua pria itu di sana. Jackson yang curiga langsung menatap wajah Aldres intens. " Jujur sama Daddy, kamu tau kan dimana Aldres sekarang?"


" Astaga Daddy tidak percaya? Aku sudah bilang tidak tau dan tadi itu aku hanya membuat Mommy tenang," jawab Aldren membela diri, sungguh sangat sulit bagi Aldren dalam melawan ucapan sang Daddy.


" Awas saja jika Daddy tau kalian bersengkongkol membohongi Daddy dan Mommy. Daddy tidak akan mengampuni kalian!" Ancam Jackson berniat membuat Aldren dan Aldres jera.


Jackson pergi menyusul istrinya ke kamar, sedangkan Aldren ia merasa terbebani dengan ancaman Jackson. " Kenapa aku merasa musuh terbesar mu adalah Daddy. Dia sangat menakutkan di banding yang lain, apa dulu Kakek seperti itu?" Gumam Aldren selepas kepergian Jackson.


***


Keesokan harinya Aldren pergi ke sekolah seorang diri. Yang biasanya berangkat berdua bersama Aldres tapi sekarang dia harus berangkat sendiri, saat hendak pergi ke dalam kelas Aldren berpaspasan dengan Vera.


Jackson menarik Vera sedikit kasar dan menghimpit tubuhnya di tembok. " Apa yang kamu lakukan?"


" Kemarin kemana kamu pergi? Bukannya kamu sudah berjanji akan menemaniku bermain Billiard?" Tanya Aldren menatap manik mata drak itu


" Aku tidak pergi, kamu yang pergi ninggalin aku,"


" Kau berani membalikkan kesalahan?"


Yang ia ingat hanyalah, saat dirinya merasa kesal dan marah saat tau Vera pergi. Tapi, ia tidak ingat saat ia meluapkan amarahnya dengan minum-minuman yang berhasil membuatnya mab*k berat.


" Dan untungnya malam itu orang tua kamu tidak ada. Jadi, kamu tidak akan mendapat hukuman dari oenag tua kamu karna kamu mab*k!" Lanjut Vera membuat Aldren perlahan  sedikit ingat.


Vera mendorong tubuh Aldren dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba tangannya di pegang Aldren. " Baiklah kali ini ucapannya bisa aku percayai, tapi lain kali aku tidak akan mempercayai mu jika aku tidak ingat."


" Baiklah terserah! Apa ada yang ingin kamu bicarakan lagi?"


" Tidak ada!" Vera mengangguk dan bergegas pergi.


" Gadis itu sedikit mencurigakan, tapi gadis sepolos itu. Apa dia pantas aku curigai?" Gumam Aldren menatap punggung Vera yang perlahan menghilang di balik tembok.


***


Markas Psy-Mafia


Di dalam kamar luas itu, terlihat Keisha yang tak henti-hentinya melamun dengan air mata yang terus menetes. Keisha tidak bisa melupakan kepergian ibunya, karna baginya kepergian sang ibu adalah kesalahannya karna tidak bisa datang ke rumah sakit dan menebus biaya operasi sang ibu, sehingga ibunya harus pergi karna tidak bisa menahan rasa sakit di tubuhnya.


" Ibu maafin Keisha, Keisha bukan anak baik. Keisha tidak bisa menyelamatkan ibu, Keisha tidak ada di saat ibu membutuhkan Keisha...," Tangis Keisha lirih.


Tanpa Keisha sadari dari balik pintu itu ada Aldres yang sedang menguping. Terlihat dengan jelas kesedihan mendalam yang di rasakan Keisha, tapi hal itu tidak membuat pria berdarah dingin itu tersentuh atau merasa iba.


Aldres masuk ke dalam kamar dan memberikan sebuah makanan untuk Keisha, namun dengan sekali ucapan Keisha menolak makanan yang di berikan Aldres dan membuat Aldres sedikit tersinggung dan marah.


" Tidak tau berterimakasih! Aku sudah baik memberikan makanan ini dan kamu malah menolaknya?" Terdengar dari nada Aldres yang sedikit tinggi.


" Ayok makan! Apa sulit untukmu membuka mulut?"


Aldres mencengkeram rahang Keisha agar Keisha mau membuka mulut. Tapi Keisha, tetap tidak membuka mulut dan malah menepis piring itu kasar hingga pecah di lantai.


" Kau?!!" Aliran darah mengalir deras, rahang mengeras dan mata elang itu memerah padam. Aldres sudah kehabisan kesabaran dan menampar wajah Keisha kasar.


" Apa mau mu huh? Apa kamu tidak mau di perlakukan baik? Kalau begitu aku akan menyiksamu hingga kamu tidak bisa mengingat atas perbuatan mu ini!" Aldres berjalan ke arah nakas dan mengambil sebuah pistol.


Aldres memainkan pistol itu di tangannya. Aldres berniat menakut-nakuti Keisha, namun ia tidak menyangka kalau niatnya malah membuat wanita itu benar-benar gila!


Keisha menarik pistol di tangan Aldres dan mengarahkannya ke kepala. Aldres di buat kaget dengan aksi gila Keisha yang menyuruhnya untuk menarik senapan itu.


" Bunuh aku Aldres, aku ingin mati. Aku tidak mau hidup lagi, orang yang membuat aku bisa bertahan sampai detik ini malah pergi meninggalkan ku. Aku tidak punya keberanian untuk hidup lagi, sekarang tembak aku. Jika ini bisa membuat kamu dan Aldren merasa lega maka tarik pelatuknya maka aku akan mati!"

__ADS_1


Aldres tersentak kaget mendengar ucapan Keisha. Kehilangan sang ibu membuat Keisha tidak bisa sadar dengan ucapannya, Aldres menarik kasar pistol di tangannya dan menjauhkaannya dari Keisha.


" Kenapa? Kenapa kamu tidak menembakku? Ayok tembak aku. Aku ingin mati! Jangan membuat aku menderita seperti ini,"


" Kamu benar-benar sudah gila!" Tandas Aldres dan bergegas pergi meninggalkan Keisha, tak lupa mengunci kamar itu.


***


" Wanita itu benar-benar sudah gila, semua orang ingin hidup. Tapi, wanita itu malah meminta mati," gumam Aldres


Tak lama Aldren datang, Aldren langsung duduk di sofa dan menatap sang kakak yang sedang bolak-balik ntah kenapa. " Kamu kenapa? Apa wanita itu menyusahkan mu lagi?"


" Jika iya, kenapa kamu tidak membunuhnya langsung?" Lanjut Aldren membuat Aldres terdiam dan menatap Aldren datar.


Aldren menghampiri Aldres dan menatapnya dengan kedua tangannya menyilang di depan dada. " Kenapa? Kamu tidak bisa membunuhnya?" Goda sang Adik


" Apa maksudmu? Aku bisa membunuhnya. Hanya saja aku suka membuat dia menderita," jawab Aldres sedikit gugup


Aldren tertawa kecil disana. " Lalu kenapa kamu tidak melakukannya? Sudah lama ini terjadi dan kau tidak bisa mengendalikan nya."


" Apa kamu tidak sadar Aldres? Kalau kau memang tidak bisa membunuhnya. Kalau begitu biar aku yang membunuhnya!" Aldres sedikit tersentak saat merasa Aldren meremehkannya.


Aldres menarik pistol yang sempat Aldren rebut darinya. " Aku akan membuktikan kalau aku bisa membunuhnya. Tanpa bantuan dari tanganmu itu!"


Aldres bergegas pergi kedalam kamar Keisha dengan Aldren berada di belakangnya. Terlihat Keisha yang sedang terduduk sembari memeluk kedua lututnya, tangisannya tidak pernah hilang dari pandangan Aldres. Sekilas Aldren melirik wajah sang Kakak yang terus memperhatikan Keisha.


Keisha merubah posisinya saat sadar dengan kehadiran Aldres dan Aldren. Keisha bangkit dari duduknya dan menatap Aldres nanar, perlahan tangan Aldres terangkat dan mengarahkan sebuah senapan ke arah Keisha.


Keisha yang mengerti hanya bisa memejamkan matanya dengan air mata yang terus keluar.


" Ayok tembak dia kakak, apa yang kau tunggu?" Goda sang Adik


Jari Aldres sedikit menarik pelatuk itu. Hanya dengan sekali tarikan lagi senapan itu akan langsung mengenai tubuh Keisha. Sudah beberapa menit berlalu, namun Aldres belum melepas pelatuk itu. Sekejap Aldres memejamkan matanya dan membuka mata lagi, kali ini Aldres akan menembakkan senapan itu.


Doorr


Suara tembakan menggema di seluruh ruangan itu. Aldres sudah melepaskan senapan itu.


" Hah! Sepertinya kamu memang sudah tidak bisa membunuhnya," bisik Aldren tepat di telinga Aldres.


Tangan Aldres mengepal sempurna. Aldren Menyunggingkan senyuman dan bergegas keluar kamar meninggalkan Aldres dan Keisha yang masih syok.


Yak!! Aldres tidak menembak Keisha, melainkan menembak sebuah tembok di samping Keisha. Tubuh Keisha bergemetar hebat, bahkan saat ini Keisha tidak bisa berbicara karna bibirnya yang kaku.


Aldres pergi keluar kamar, ia benar-benar tidak bisa berpikir kenapa dirinya tidak bisa menembak gadis di depannya. Sedangkan di luar kamar Aldren tak henti-hentinya menggoda sang kakak, Aldres yang mulai muak dengan semua ocehan Aldren langsung mengusir Aldren dari Markas dan bergegas pergi pulang kerumah.


Skip Kediaman Jackson


Langkah Jackson terhenti saat Ara memanggilnya. Jackson refleks menoleh ke sumber suara. " Kamu dari mana saja? Akhir-akhir ini kamu tidak pulang." Tanya Ara lembut


" Aldres nginep di rumah temen Mommy. Di sekolah banyak tugas jadi aku nginep di rumah temen,"


" Yasudah sekarang kamu istirahat', nanti Mommy bawain makanan untuk kamu,"


Ara pergi ke dapur sedang Aldres pergi ke dalam kamarnya. Tak lama Ara datang dengan membawa makanan di tangannya. Aldres memakan makanan itu, namun samar-samar Aldres teringat Keisha saat melihat makanan itu. Dari kemarin Keisha belum makan karna ingin menyiksa dirinya sendiri, karna sudah beberapa hari ini Keisha mencoba untuk bunuh diri.


Ara merasa bingung saat melihat wajah Aldres yang sedikit cemas. " Sayang ada apa?" Tanya Ara


" Daddy dimana?" Tanya Aldres. " Daddy di kantor." Jawab Ara


" Ada apa memangnya?"


" Mommy apa Mommy pernah  kehilangan seseorang yang Mommy sayang?" Tanya Aldres berhasil membuat Ara sedikit tersentak.


Tidak ada yang tau apa yang di rasa Ara dulu. Banyak sekali tumpah darah di dalam perjalanan hidupnya, kehilangan orang- orang yang Ara sayang perrlahan pergi. Di tinggalkan orang yang kita sayang, harus menerima kenyataan pahit apa lagi yang belum pernah Ara rasakan? Semua kenyataan pahit di dalam kehidupan Ara adalah sebuah proses yang menurutnya harus ia jalani.


" Kenapa kamu bertanya hal itu?" Tanya Ara.


" Aku hanya ingin bertanya saja. Bagaimana perasaan Mommy saat di tinggal pergi sama Nenek?" Tanya Aldres


" Tentu saja Mommy sangat sedih dan kehilangan. Nenek bukan hanya orang yang membuat Mommy ada di dunia, melainkan Nenek juga adalah orang yang selalu ada di saat Mommy butuh pundak," Mendengar ucapan Ara seketika Aldres terdiam.


" Mommy aku pergi dulu,"


" Loh kamu baru pulang. Kamu mau kemana lagi sekarang?"


" Tiba-tiba Aldres ada urusan Mommy. Tidak akan lama kok, setelah urusan Aldres selesai, Aldres langsung pulang dan menemui Daddy," Aldres bergegas pergi meninggalkan kediaman Jackson, namun sebelum itu Aldres mencium kkening Ara lama.


...~...


...Jangan lupa tinggalkan jejak yah...


...Next time...

__ADS_1


__ADS_2