
Tubuhku ambruk tak sadarkan diri setelah beberapa detik yang lalu saat Jackson tiba-tiba mengarahkan pistolnya ke arahku berniat ingin menembak seseorang yang sudah ada di belakangku.
Jackson mengangkat tubuhku Ala Bridal Style dan menidurkanku di atas ranjang king size miliknya itu.
Jackson menyuruh anak buahnya untuk mengurus mayat di bawah dan membuangnya.
Tak begitu lama aku tak sadarkan diri, aku terbangun dari pingsan ku dan mendapati Jack yang sudah berdiri di depanku.
" Jack!"
DOORRRR
" AHKKK," TERIAKKU SAAT JACKSON MENEMBAKAN PELURUNYA KE LANGIT-LANGIT KAMAR.
" Jack apa yang kamu lakukan?" Teriakku
Jackson mengankat kakinya satu ke atas ranjang dan menatapku dengan penuh amarah.
" Saya Sudah Menyuruhmu Untuk Tidak Keluar Dari Kamar Tapi Kenapa Kamu Malah Keluar Hahk." Bentaknya
" Jack, Aku mengkhawatirkan kamu kalau saja kamu kenapa-kenapa gimana," Ucapku tak kalah tinggi darinya.
" Saya Sudah Bilang Saya Tidak Akan Kenapa-kenapa Apa Kamu Tidak Dengar?" Bentaknya lagi.
" Lagi-lagi Disini Aku Yang Di Salahin, Jelas-jelas Aku Menghawatirkan Keselamatan Kamu Tapi Kamu Tidak Pernah Memikirkan Hal itu." Sarkasku.
Jackson mendekat ke arahku dan menatapku.
" Saya Tidak Butuh Perhatian," Sarkasnya dan beranjak pergi.
" KAMU MEMANG TIDAK BUTUH PERHATIAN KARNA MEMANG KAMU TIDAK PUNYA RASA PEDULI SAMA ORANG." TERIAKKU BERHASIL MENGHENTIKAN LANGKAHNYA.
JACKSON BERBALIK DAN MENATAPKU TAJAM.
" Berani Sekali Kamu Berteriak Kepadaku." Tekan Rey menatap tajam kearahku.
**DOORRR.
PRANKKK**.
" Ahkkkk."
Jackson menembakan pistolnya ke arah Guci yang ada di sampingku. Aku berteriak dan menutup kedua telingaku karna terkejut.
" Sekali Lagi Kamu Berani Membangkang Lihatlah Apa Yang Akan Di Lakukan Oleh Pistol Kesayanganku Ini." Ucap Jack melirik pistolnya itu.
BUGHH
Jackson keluar dari kamarnya dan menutup pintu itu dengan keras.
Aku memegang lutut dengan air mata yang terus keluar, bukan- bukan karna bentakan dan ancaman Jackson melainkan teringat Ayah.
Aku pergi dari rumah untuk tidak di sakiti ayah lagi tapi takdirku berkata lain, aku malah di pertemukan dengan pria berhati gelap yang tidak pernah ada rasa peduli sedikitpun.
" Hiks Takdir macam apa ini,?" Gumam ara.
" Ngak! Aku harus pergi dari sini, aku ngak mau terus-terusan berada di tempat neraka ini." Gumamku lirih.
Aku bangkit dari tempat tidurku dan mulai mencari-cari benda atau hal lain yang bisa aku gunakan untuk lari dari tempat ini.
" Arghhh, kenapa ngak ada barang yang bisa aku gunakan sih!" Grutuku
Tatapan ku terhenti kesebuah kain panjang!.
" Aku tau aku harus ngapain!"
Ara menarik sebuah kain panjang dan juga menarik selimut, ara mulai menalikan kedua benda tersebut sehingga menjadi lebih panjang.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai Ara melangkahkan kakinya ke arah balkon.
" Hahhh, tinggi juga tapi ngak lo harus lakuin ini, gue ngak mau terus-terusan berada di kengkangannya." Gumamku
Aku melemparkan selimut yang sudah aku satukan dengan kain panjang itu ke bawah dan ujungnya ku talikan lagi ke pagar balkon untuk menyangganya.
Perlahan-lahan aku turun mengunakan tali itu.
*
PoV Jackson.
" Cari tau tentang siapa di balik penyelusupan ke rumah saya." suruhnya
" Baik tuan,"
" Delvin tunggu sebentar." ucap jackson menghentikan langkah Bimo.
" Iyah tuan?"
" Dimana Pembunuh itu tinggal?" Tanya Jackson dengan menekankan kata Pembunuh.
" Di sebuah komplek kecil tuan." jawab Delvin
" Baiklah kau boleh pergi."
Delvin menunduk dan meninggalkan Jackson.
" Akhirnya kita akan bertemu juga ." Gumam jack dengan rahang mengeras.
*
~Disisi lain
" Huhh_ akhirnya aku bisa lepas dari sini, aku harus cepat-cepat pergi sebelum dia sadar kalau gak ada aku di kamar," Gumamku.
Ara mengendap-endap keluar lewat pintu belakang, karna di luar penjagaannya sangat ketat.
*
" ARGHHHHH." Teriak Jackson
" Berani Sekali Dia Kabur Dariku " Teriak Jackson prustasi.
" Ara Lihat Saja Apa Yang Akan Kamu Dapatkan Karna Telah Berani Bermain Dengan Saya." Umpatnya
*
~PoV Ara.
" Hahh akhirnya aku lepas juga dari manusia iblis kaya dia, Tapi sekarang aku harus tinggal dimana? Aku tidak punya uang sepersen pun." Gumamku lirih.
" Ahkkk kepala gue! shhh." Ringgisku kesakitan
Aku berjalan tergontai karna menahan kesakitan.
" Arghhh kepala gue." Ringgisku kesakitan dan hampir saja terjatuh untuk dengan cepat ada seseorang yang menolongku.
" Kamu ngak papa?" Tanyanya
Aku mendongak menatap siapa yang sudah menolongku.
" Kiran?"
" Ara!"
" Lo kenapa? " Tanya kiran.
__ADS_1
Ya Kiran adalah sahabatku yang selalu ada di setiap suka maupun duka begitupun sebaliknya, bahkan kiran tau tentang hubungan aku dan fando dulu.
Aku terpisah dengannya saat kami melanjutkan pendidikan kami ke universitas yang berbeda, tapi kini aku bahkan tidak berkuliah lagi karna masalah biaya.
" Shhh kepala gue sakit ran," Ucapku
" Yaampun! yaudah duduk dulu." Ucap kiran membantuku duduk.
" Cerita sama guelo kenapa? kenapa bisa kaya gini? *Tanya kiran.
" Ceritanya panjang ran, yang jelas gue ngak tau lagi harus tinggal dimana, gue pergi dari rumah *Tuturku
" Apa! Lo serius ra?" Tanya kiran terkejut mendengar ucapanku.
Aku hanya mengangukinya sebagai jawaban.
" Yaampun kasian banget si lo, yaudah sekarang lo tinggal sama gue yah, tapi maaf gue tinggal cuman di kostan kecil, gue hidup sebatang kara bahkan sekarang gue ngak ngelanjutin kuliah gue." Tutur kiran
" Loh kenapa?"Tanyaku
" Biasa biaya, gue ngak mampu Ra orang tua gue cerai dan mereka sekarang udah pada nikah.
Ya jadinya gue hidup sebatang kara." Tuturnya
" Mmmm sabar yah ran, gue yakin lopasti bisa ngejalanin ini semua." Ucapku menyemangatinya.
" Yaudah sekarang kita kekostan gue, muka lo pucat banget nanti di kostan gue lo istirahat ." Ujarnya
Aku menganguki ucapan kiran, Kiran membantuku jalan ke kostannya.
*
" Ara lo mandi habis tu istiraht, Ini baju gue pake aja." Ucapnya sambil menyodorkan pakaian ke arahku.
Aku mengambilnya dan bergegas ke kamar mandi.
5 menit telah berlalu kini aku sudah selesai dengan ritual mandiku, Ahkkk rasanya saat ini badanku lebih membaik.
" Ara! Makan dulu yuk aku udah siapin makanan buat kamu." Ucapnya
Aku keluar kamar dan duduk berhadapan dengan Kiran, tidak ada kursi hanya ada meja saja aku duduk di atas lantai yang di tutupi karpet.
" Ara maaf yah mkanannya cuman ada ini doang soalnya aku masih belum ada uang." Ucapnya
" Ouh ngak kok gapapa, malahan aku suka enak kok makanannya." Jawabku.
Ara dan Kiran makan bersama, tak perlu makan enak yang penting perut terisi itulah yang ada di pikiran Ara dan Kiran.
" Kiran!"
" Mmm,"
" Mmm Aku mau kerja, tapi aku ngak tau harus kerja apa kamu punya kerjaan gak sapa tau di kantor kamu ngebutuhin karyawan baru?"Tanyaku
" Kebetulan banget Ra di kantor gue ada lowongan pekerjaan, cuman_" kiran tidak melanjutkan ucapannya
" Cuman apa Ran?"Tanyaku
" Iya cuman pekerjaannya Office Girl." Tuturnya
" Ouh gitu yaudah gapapa aku mau."
" Tapi Ra sayang, lo kan udah tinggi pendidikannya masa pekerjaan elo cuman Office Girl." Ucapnya
" Gapapa kok yang penting saat ini gue punya pekerjaan, gue harus biayai hidup guen gue ngak mungkin terus-terus ngandelin lo doangk kan?" Tuturku
" Yaudah nanti besok gue ajak lo ke kantor gue." Ucapnya
" Makasih ran."
__ADS_1
...❤...
Jangan lupa like, komen, follow, and vote makasih.