Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 41 Kecurigaan


__ADS_3

Suara teriakan Kiran dari luar semakin lama semakin mengkabur. Kedua mata indah itu perlahan menutup seiring penglihatan nya mengkabur.


Bughh


Tubuh Ara perlahan jatuh ke lantai.


.....


Inggris


__________________________________


Prokk_prokk_prokkk


Suara tepukan tangan membuat seisi ruangan mewah itu berisik. Tepukan tangan ini adalah sebuah tepukan keberhasilan dan kemenangan untuk Jackson.


" Thank you it's a pleasure to work with you. Once again congrats for being successful in this business," Ucap pria bertubuh putih itu sembari tangannya menjabat tangan Jackson menandakan meeting dan kerjasama mereka berhasil.


" thanks congrats to you too," Balas Jackson.


Di luar dugaan Jackson, kerjasama nya dengan perusahaan Inggris lebih cepat dari dugaan. Dia kira kerja samanya bisa lebih dari 1 bulan tapi tidak, bahkan belum beberapa hari kerjasamanya sudah selesai dan karna hal itu Jackson mendapatkan bonus dan apresiasi dari negara Inggris.


......


Perusahaan Gruop Lexus!


" Maaf pak kami tidak bisa mengizinkan sembarang orang masuk ke perusahaan ini," Ucap penjaga berbaju hitam itu.


" Pak saya mohon. Saya hanya ingin menolong orang, saya seorang dokter dan bapak juga pasti mengenal saya bukan? Saya tidak mungkin melakukan apapun di perusahaan ini. Di dalam sana ada pasien yang sedang membutuhkan bantuan saya, jadi saya mohon izinkan saya masuk ke dalam!" Ucap Calvin berusaha masuk ke dalam perusahaan Jackson namun penjaga perusahaan itu sangat ketat di luar dugaan Calvin.


" Maaf pak. Meskipun anda seorang Dokter yang terkenal, itu bukan berarti saya membolehkan anda masuk ke dalam tanpa ada izin," Larang penjaga itu.


" Astaga apa saya terlihat seperti orang jahat?" teriak Calvin kesal karna mereka bersikeras tidak mengizinkannya masuk.


" Ada apa ini?" Suara tiba-tiba berhasil mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


" Maaf pak dokter ini bersikeras ingin masuk ke dalam," Jawab penjaga itu


Bimo memincingkan matanya saat melihat Calvin yang tak biasa berada di perusahaan.


" Kenapa kamu disini?" Tanya Bimo dengan tatapan yang tak suka dengan keberadaan Calvin.


" Saya seorang dokter dan saya datang kesini sebagai seorang dokter!" Jawab Calvin simpel.


" Ck anda seorang dokter dan seharusnya seorang dokter berada di rumah sakit bukan disini!" Tandas Bimo


" Kalau tidak ada pasien disini mungkin saya tidak akan ada disini," Jawab Calvin


Bimo terdiam sejenak saat mendengar pasien. " Berhenti berbicara omong kosong! Disini tidak ada orang yang sakit dan pasienmu itu. Pergilah disini bukan tempatmu!" Usir Bimo


" Apa kau serius dengan ucapanmu itu? Jika saya pergi pasien yang ada di dalam ruangan bos mu itu akan mati. Dan bos mu itu akan memarahi kalian semua termasuk anda karna bertele-tele dan melarang saya melakukan pekerjaan saya sebagai seorang dokter!" Sarkas Calvin berhasil membuat semua orang terdiam tak mengerti dengan ucapannya.


" Siapa yang dia maksud?"


" Tunggu di dalam ruangan Jackson hanya ada Ara. Apa Ara?" Batin Bimo


Calvin berbalik dan melangkah kakinya pergi.


" Tunggu!" Teriak Bimo menghentikan langkah Calvin.


" Apa orang yang anda maksud itu Ara?" Tanya Bimo menunggu jawaban


Tolongg_tolong!!!


Suara teriakan minta tolong mengema di setiap sudut ruangan. Semua orang yang ada di dalam kantor terkejut dengan teriak minta tolong yang berasal dari ruangan Jackson.


" Ara!" Gumam Bimo da langsung berlari menuju ruangan Jackson.


Calvin yang mendengar teriakan itupun ikut berlari menuju ruangan Jackson yang berada di  lantai 6.


Lantai 6.


" Ara apa kamu dengar gue? Ara gue mohon katakan sesuatu jangan membuat gue khawatir seperti ini," Teriak Kiran dari luar


Lantai 3.


" Ara bertahanlah! Kamu pasti kuat. Aku membawa obatmu jadi bertahanlah," Batin Calvin dengan perasaan khawatir di hatinya.


Di sisilain Bimo berusaha menghubungi staff kantor yang berada di lantai 6. Namun, sialnya tidak ada yang bisa Bimo andalkan dan hubungi.


" Sial! Kemana orang-orang kantor ini?" Umpat Bimo berdecak.

__ADS_1


Calvin yang mendengar nya hanya diam.


Kini lift yang mereka tumpangi berada di lantai 5. Calvin terus melihat arloji di tangannya, Bimo yang melihat Calvin khawatir ikut khawatir karna takut ucapannya tentang Ara itu benar.


" Apa yang kamu katakan itu benar? Ada apa dengan Ara?" Tanya Bimo


" Kenapa bertanya kepadaku? Anda hanya membuang waktuku saja," Tangan Bimo mengepal ingin sekali rasanya Bimo melayangkan tangannya agar pria di samping nya mengatakan yang sebenarnya.


Tinggg


Suara lift berhenti tepat di lantai 6. Calvin langsung berlari mengikuti Bimo yang berada di depannya.


Netra Bimo dan Calvin menangkap sosok wanita yang bingung dengan air mata yang sembab karna menangis di depan ruangan Jackson.


" Kiran ada apa? Dimana Ara?" Tanya Bimo mendekati Kiran yang sedang menangis.


" Ara ada di dalam. Aku sangat khawatir, dia tidak membuka suara sedikitpun. Aku takut, aku takut dia kenapa-kenapa karna tadi saat dia berbicara dengan ku suara dia seperti sedang menahan kesakitan, aku mohon buka pintunya. Aku terus mencoba membuka pintu ini dan meminta bantuan ke semua orang yang ada di kantor ini tapi tidak ada satupun yang mendengar nya," Tutur Kiran terisak-isak.


Mendengar penuturan Kiran. Bimo langsung mencoba membuka pintu itu, tapi tetap tidak bisa karna Ara menguncinya dari dalam. " Pintunya terkunci. Dan saya tidak punya cadangan kuncinya karna saya sudah memberikan nya ke Ara."


" Apa? Terus Ara gimana? Gimana caranya kita masuk?"


" Ouh Iyah Pak Jackson pasti tau kode masuknya. Kita harus bertanya kepadanya," Ujar Kiran


" Tidak! Kalau tuan Jackson tau. Itu akan membuatnya kepikiran,"


" Lalu kita harus gimana?"


Saat dua orang di depannya sedang berdebat. Netra Calvin menangkap penjepit rambut yang di gunakan Kiran, mau tak mau tanpa busa-basi Calvin langsung mengambil penjepit itu kasar membuat sang empu meringis kesakitan.


" Ahhkk apa yang kamu lakukan?" Teriak Kiran kesakitan memegang kepalanya.


Calvin mencoba membuka pintu itu dengan penjepit yang dia pegang tanpa memperdulikan Kiran yang berteriak kesakitan karna ulahnya. Namun, Calvin tidak peduli, saat ini yang membuat seorang Dokter yang terkenal dingin itu sedang merasa khawatir dengan wanita yang ada di dalam sana sekarang.


Sesekali Calvin kesulitan membukanya karna penjepit nya yang terlalu kecil, tapi dengan usaha Calvin yang berupaya membuka akhirnya pintu itu terbuka.


Krekkk


Jantung mereka seakan berhenti berdetak saat melihat kondisi Ara yang mengkhawatirkan.


" ARA!!!" teriak Kiran berlari mendekati Ara yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan wajah pucat dan darah segar yang mengalir di hidung nya.


Tidak mendapat sautan dari Ara. Calvin langsung mengangkat tubuh Ara ala brindal style dan membaringkan tubuh Ara di atas ranjang milik Jackson hati-hati.


......


" Hiks ada apa dengan Ara? Kenapa Ara bisa seperti ini hiks?" Tangis Kiran pecah saat melihat kondisi sahabat nya yang mengkhawatirkan.


Beberapa menit telah berlalu Calvin sudah memeriksa kondisi Ara. Calvin bernafas lega karna dirinya datang tepat waktu, sebenarnya Calvin khawatir dengan kondisi Ara, saat melihat kondisi Ara tadi jantung dan nafasnya seakan berhenti, rasanya dirinya sudah telat. Tapi,  dirinya yakin kalau Ara adalah wanita yang kuat sehingga dirinya bisa melewati masa kritis nya. Hanya dengan beberapa detik saja dirinya telat mungkin nasib Ara tidak bisa ia tolong lagi.


" Bagaimana?" Tanya Bimo menunggu jawaban dari Calvin.


" Dia baik-baik saja, dia sudah melewati masa kritis nya,"


" Apa masa kritis? Penyakit apa yang dialaminya sehingga dia melewati masa kritis nya? Apa penyakitnya separah?" Tanya Bimo bertubi-tubi


Gleegh


Calvin menelan saliva susah payah. Ini yang tidak ia inginkan saat berada di dalam pertengahan seperti ini. Di sisilain Calvin ingin sekali mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Ara tapi disisi lain Calvin sudah berjanji kepada Ara untuk tidak mengatakan nya. Haishh kenapa kamu membuat ku berada dalam kesulitan seperti ini Ara?


" Dia hanya kecapean dan karna itu dia pingsan seperti ini," Jawab Calvin mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.


" Konyol! Anda bilang hanya kecapean? Lalu tadi anda bilang melewati masa kritisnnya dan tadi kondisi Ara sangat mengkhawatirkan apa itu benar karna kecapean?"


" Masa kritis adalah kata seorang dokter ketika mengatakan kalau pasien sudah melewati hal yang buruk dari kondisi nya!" Lanjut Bimo membuat Calvin tak bisa berkutik.


" Saya seorang dokter dan saya lebih tau tentang bagaimana kondisi pasien saya!" tandas Calvin berhasil membuat Bimo tak bisa berkutik.


" Jika anda berbohong anda pasti tau apa yang akan saya lakukan!"


" Anda mengancam seorang dokter yang sudah bersumpah atas negara?"


" Seorang dokter bisa saja berbohong hanya karna sebuah recehan!" Tekan Bimo menatap tajam ke arah Calvin


Sedari tadi Calvin menahan emosinya, perkataan pedas yang terlontar dari mulut pria di hadapannya membuat dirinya ingin sekali melayang kan tangannya bersiap untuk membuat pria itu diam tak berani mengeluarkan kata yang tak pantas ia keluarkan.


" Cukup! Apa kalian tidak bisa diam sedikit pun? Kalian tidak lihat kondisi Ara sekarang hah?" Teriak Kiran yang sedari tadi menahan semua perdebatan pedas antara mereka berdua.


Dua sejoli itu diam setelah Kiran berteriak dengan isakannya. Tak lama kedua kelopak mata Ara terbuka perlahan. " Ara?" Gumam Kiran lirih


" Ahhsss," Lirih Ara sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


" Ara kamu baik-baik saja?" Tanya Bimo


Ara mengangguk pelan sebagai jawaban.


Netra Ara kini menangkap sosok pria berjas putih di samping Bimo. Jantung Ara tiba-tiba berdetak tak normal saat melihat Calvin berada di sana, Ara benar-benar takut kalau Calvin mengatakan sesuatu tentang penyakit yang di deritanya ke orang lain. Sedangkan, Calvin yang di tatap Ara seakan mengerti dengan tatapan itu, Calvin mengangguk pelan sebagai jawaban tidak.


" Ara! Kenapa lo seperti ini? Lo tau gue khawatir sama lo, lo jahat sama gue. Kenapa lo nggak bilang kalau lo sakit, sebenarnya apa penyakit elo? Gue sudah beberapa kali lihat kondisi lo seperti ini. Gue mohon katakan yang sebenarnya gue yakin ada hal yang lo sembunyikan dari gue," Gumam Kiran lirih dengan air mata yang terus mengalir.


Tubuh Ara sangat lemas bahkan mengusap air mata Kiran pun rasanya berat. Kiran memegang tanganku erat dengan kedua tangannya.


" Berhenti menangis. Aku gak papa, aku hanya merasa pusing makanya saat ini aku sangat lemas," Ucap Ara tersenyum


" Bohong!"


" Sampai kapan lo akan terus berbohong? Gue yakin ada sesuatu yang lo sembunyikan dari gue. Kenapa lo nggak terus terang ke gue? Apa gue orang asing bagi lo? Sampai-sampai lo nggak mau mengatakan hal yang sebenarnya?"


Ara bingung harus mengatakan apa lagi. Tidak mungkin Ara mengatakan yang sebenarnya, ia sudah berusaha untuk menyembunyikan tapi apakah secepat ini ia harus membukanya?.


" Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah berbohong. Jika kamu tidak percaya katakan saja kepada dokter dia pasti lebih tau tentang penyakit aku," Ujarku


Kiran menatap ke arah Calvin yang kini sedang menatapku.


" Katakan yang sebenarnya!" Tandas Kiran


" Dia benar! Tidak ada hal yang perlu kamu khawatir kan dan takutkan. Seperti yang saya katakan tadi, dia hanya kelelahan itu saja," Tutur Calvin


" Oke sekarang gue percaya. Tapi, jika nanti lo mengalami hal seperti ini lagi. Gue akan bawa lo ke rumah sakit dengan dokter yang berbeda!" Ancam Kiran sambil melirik ke arah Calvin.


Terlihat Kiran dan Bimo memang curiga dengan Ara dan juga Calvin. Karna, tidak mungkin Ara hanya kecapean dan kelelahan saja.


Drttt_drttt_drtt


Panggilan masuk!


Bimo yang mendapat panggilan masuk langsung izin keluar untuk mengangkat nya.


Disilain Kiran berpamitan keluar untuk mengambil sebuah teh dan makanan untuk Ara. Hari ini Ara sangat beruntung karna mendapatkan sahabat sekaligus teman yang menyayangi nya dan selalu ada di sampingnya.


Kini sekarang di dalam kamar hanya ada Calvin dan juga Ara.


Calvin berjalan mendekati Ara dan duduk di tepi ranjang.


" Maafkan saya. Karna saya telat datang," Ucap Calvin merasa bersalah


" Kenapa kamu meminta maaf? Ini bukan salah kamu,"


Calvin mengambil sebuah botol kecil itu dan menyodorkan nya ke Ara. " Ini obatmu, jangan menghilangkan nya lagi. Obat ini yang terakhir, karna saya hanya mempunyai satu botol lagi obat pereda sakit ini."


Ara mengambil botol itu dari tangan Calvin " Makasih."


Calvin mengangguk pelan sebagai jawaban.


" Kenapa kamu bisa seperti ini? Dan kenapa obat kamu bisa hilang?" Tanya Calvin


" Aku juga tidak tau, saat aku ingin mengambil obat. Obat itu sudah tidak ada di dalam tas,"


" Apa kamu lupa menyimpan nya atau apa kamu menitipkan tas kamu ke orang lain?" Ara terdiam sejenak.


Ara berpikir saat dirinya sedang sakit menahan rasa sakit di kepalanya. Ara melihat Sonya sedang berada di toilet itu dan hanya mereka berdua di sana.


" Sonya?"


" Apa?" Calvin memincingkan matanya mendengar gumaman Ara.


.......


RS. Fitroduction Hospital.


" Bagaimana dok hasilnya?" Tanya Sonya kepada pria yang berjas putih itu.


" Setelah saya periksa obat ini adalah obat pereda sakit. Jika, seseorang mengalami kesakitan karna penyakit yang di deritanya maka obat ini bisa membantu untuk meredakan sakitnya itu," Tutur pria itu yang di cap sebagai seorang dokter.


" Lalu? Penyakit apa yang di perlukan orang itu untuk meminum obat ini?" Tanya Sonya menunggu jawaban dari dokter itu.


......**WARNING!!!......


Sebelum nya maaf yak jarang up.


Curhat dikit boleh yah. Banyak cerita-cerita yang ada di otak aku, cuman sayangnya tidak banyak yang resfect sama cerita aku. Setiap aku up nggak ada yang like, komen, vote atau komen setidaknya kasih semangat gitu buat aku semangat upnya. Di sini lebih banyak pembaca gelap hm🙏 Banyak yang baca tapi nggak ada satupun jejak mereka hm:(.


Aku up lagi karna ada satu orang yang komen tapi nggak papa aku menerimanya hehe makasih yah buat kamu yang slalu komen, makasih banyak itu sangat berarti bagi author thank'u 😘😘😭😭😭😭**

__ADS_1


__ADS_2