Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.

Takdirku Di Tangan Seorang Psychopat.
Bab : 59 Terpecah Misteri 1


__ADS_3

" Ayok!" Jackson menarik tanganku pergi meninggalkan Bimo di bawah tanah.


Rasanya berat sekali langkahku pergi meninggalkan Bimo disana sendirian, tapi mau gimana lagi? aku tidak bisa mengubah pikiran Jackson.


Dalam kamar


Jackson menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kedua matanya yang tertutup rapat. Ku langkahkan kakiku mendekatinya.


Ku angkat tanganku berat dan ku sentuh tangannya lembut, dia membuka matanya pelan saat merasakan pegangan tanganku di tangannya. Jackson bangkit dari tidurnya dan langsung memelukku erat.


" Aku ingin seperti ini aku mohon untuk tetap disini," desusnya lirih.


Ku usap punggung nya hangat dan membiarkan dia tenang di pelukanku.


" Aku tidak tau siapa yang harus aku percayai sekarang. Dia orang yang selama ini yang sudah mengasuhku dan menjagaku sejak kecil, dan orang yang berada di bawah dia adalah orang yang sudah ku anggap adik sejak kecil. Aku benar-benar bingung siapa yang harus ku percayai sekarang?" Lirih Jackson di telingaku


" Aku mengerti keadaan kamu,"


" Dengarkan aku," Ku tangkup wajahnya


" Apapun keputusan mu aku akan selalu mendukungmu, tapi aku hanya ingin mengingatkan mu satu hal untuk mengikuti apa kata hati kamu. Jangan lihat orang dari luarnya saja tapi lihatlah dia dari dalamnya, kamu tidak tau siapa yang benar dan salah disini, jika memang Bimo salah kamu harus pikirkan apa yang akan kamu ambil selanjutnya. Tapi, jika Chandra lah yang salah maka kamu harus menerimanya," Ujarku menenangkan nya


Jackson membuang  nafas panjang dan tangannya beralih menggenggam tanganku erat. " Makasih karna kamu sudah ada di sini, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sampingku sekarang, mungkin saat ini aku akan keluar dan mencari orang yang bisa ku ajak bermain." Ara terdiam sejenak mendengar penuturan Jackson.


" Sayang,"


" Apa?"


" Apa kamu mau menuruti kemauan ku?" Tanyaku menatap nya serius.


" Apa itu?"


" Tapi kamu harus janji untuk tidak marah,"


" Iya... Katakan?"


" Aku ingin kamu berhenti untuk menjadi seorang psychopat apa kamu bisa?" Jackson tersentak mendengar permintaan Ara. Bagaimana tidak? Menjadi seorang psychopat itu adalah hal yang ia rindukan dari sosok ayahnya, jika bukan menjadi pria psychopat mungkin saja dirinya tidak bisa bertemu dengan Ara.


" Kenapa?"


" Aku ingin melihat kamu menjadi Jackson yang sebenarnya, bukan memiliki sifat psychopat seperti ini,"


" Ini aku Jackson yang sebenarnya. Kamu ingin aku berubah seperti apa lagi?"


" Aku tidak mau kamu banyak musuh di luaran sana, kamu tau jika kamu seperti ini maka banyak orang yang ingin menyakiti mu dan aku tidak mau itu. Aku mohon berhenti disini aku ingin kita merawat anak ini dan memulainya dari awal, kita buka lembaran baru,"


" Maaf tapi aku tidak bisa,"


" Kenapa?"


" Ini adalah identitas ku. Aku tidak akan menghilangkannya di dalam diriku," Aku terdiam tak bisa berkata-kata.


Aku hanya mampu berbicara tak mampu untuk merubahnya.


" Jika ini yang kamu mau maka aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tapi, aku hanya punya satu permintaan untuk mu. Kamu harus tetap baik-baik saja, jika kamu terluka sedikitpun maka aku tidak akan memaafkan mu,"


" Aku berjanji kepadamu untuk baik-baik saja," Aku tersenyum kecil mendengar janjinya. Aku hanya bisa berdoa untuk Tuhan selalu melindunginya dimana pun dia berada.


......


Di bawah tanah


Bimo terduduk disana. Ia benar-benar nostalgia saat bersama tuannya. Bimo benar-benar bingung dengan semuanya, jika ia berada di dalam sana maka dirinya tidak bisa menjaga tuannya di luar, jika sampai terjadi sesuatu kepadanya maka dirinya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Tap_tap_tap


Perhatian Bimo beralih melihat sumber langkah kaki.


" Ara?"


Ara datang dan membawakan makanan dan minuman untuk Bimo. Bimo tersenyum mendapat perhatian dari nyonyanya.


" Ara kenapa kamu disini? Jika tuan lihat maka dia akan marah," Ucap Bimo


" Tidak akan. Dia sedang tidur lelap jadi dia tidak akan tau,"


" Tapi menurutku dia sangat sayang kepadamu buktinya dia sangat berat menguncimu disini," lanjutku


" Benarkah?"


Aku menganguk menanggapi ucapannya.


" Tapi kamu percaya kan jika aku melakukan ini karna tuan?"


" Aku percaya,"


" Tapi, bukti apa yang di rampas Chandra?" Tanyaku penasaran


" Di sana terdapat video dimana detik-detik Godracx tiada. Dan di Video itu Godracx memberikan sebuah bukti dimana Chandralah orang yang membuat masalah antara Ferdy dan tuan besar salah paham,"


" Apa?"


" Sepertinya aku harus mengatakannya kepadamu. Sebenarnya selama ini yang membuat tuan membenci Ferdy dan melampiaskan nya kepadamu itu karna,"


" Karna apa?" Tanya ku penasaran


" Karna Ferdy yang sudah membunuh ayahnya tuan yaitu tuan besar Jordan,"


Deghh


Jantung ku seakan berhenti berdetak mendengar penjelasan Bimo. Hal yang selama ini inginku tau kini sudah terungkap sudah, jadi orang yang ayah bunuh itu adalah ayah Jackson?


" Kenapa baru sekarang kamu memberitahukannya?"


" Saya ingin sekali mengatakan nya tapi tuan selalu saja menahanku, ia bilang dia sendiri yang akan mengatakan nya tapi sampai sekarang ntah kenapa tuan tidak memberitahu kamu," jawabnya


" Astaga, pantas saja Jackson sangat membenci ayah dan muak jika melihat wajahku," gumam ku lirih. " Ara kamu harus berhati-hati Chandra sangat licik dan bisa saja dia akan membunuh ayahmu." Ucap nya


" Aku akan cari tau ini semua. Tapi, sejak aku disini aku tidak pernah tau bagaimana wajah orang tua Jackson," Tuturku


" Apa? Jadi kamu belum tau wajah tuan dan nyonya besar?" Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban

__ADS_1


" Foto tuan dan nyonya besar sudah lama tuan sembunyikan semua itu agar orang-orang musuh tuan besar tidak bisa mengenal keturunannya," Tuturnya


" Lalu dimana fhoto itu?"


" Tuan menyimpan nya di kamar tuan dan nyonya besar,"


Ara melirik arloji di tangan nya. " Bimo seperti nya aku harus pergi. Makanlah aku akan berusaha membujuk tuan untuk mengeluarkan mu dari sini."


" Terima kasih,"


Kuanggukan kepalaku dan cepat-cepat pergi meninggalkan Bimo disana.


Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam sebuah ruangan. Netraku jatuh pada sosok pria paruh baya yang selama ini ku rindukan, ku tatap wajah pucat itu sendu. " Ayah aku baru tau jika orang yang ayah bunuh adalah ayah dari suamiku. Kenapa? Kenapa ayah melakukan itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini, katakan ayah. Siapa yang harus ku bela ayah? Atau suamiku sendiri?" Gumam ku lirih


" Ayah aku tau jika kau bisa mendengar suara ku, aku mohon bangun,"


Aku terus saja berbicara di samping Ferdy, namun tetap saja Ferdy tak kunjung sadar. Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang kebusukan Chandra, Aku bangkit dari dudukku dan bergegas pergi ke sebuah ruangan di pojok, ku buka ruangan itu pelan. Saat aku masuk aku tidak bisa melihat apapun disini karna semuanya gelap, ku cari tombol lampu dan menekannya. Hal yang pertama kali yang aku lihat adalah sebuah ruangan luas yang sangat rapih, ku langkahkan kakiku melihat-lihat isi ruangan itu yang tak lain adalah kamar Jordan.


Aku melihat berbagai buku yang tersusun rapih di raknya, banyak debu tebal membaluti buku itu.


Bughh


" Ahkk," Aku tersandung meja membuatku kakiku sedikit sakit karna benturan keras itu.


Namun, aku tidak terlalu merasakan rasa sakit itu karna pikiran ku jatuh ke sebuah bingkai yang tak sengaja jatuh karna sandunganku. Ku ambil bingkai itu dan ku balikan bingkai itu, debu yang tebal membuat gambar di bingkai itu tidak terlihat, ku bersihkan kotoran debu itu dengan tanganku. Perlahan debu itu sedikit hilang dan gambar pun sedikit terlihat.


Aku memicingkan mataku melihat sebuah foto ayah dan juga seorang pria paruh baya di sampingnya, di dalam foto itu terlihat Ayah dan pria itu saling merangkul layaknya sahabat. Tiba-tiba pikiran ku teringat tentang dimana aku menemukan sebuah topeng yang sama persis dengan gambar topeng yang aku temukan di kamar Chandra.


" Orang ini? Tunggu apa dia ayah Jackson?" Aku terus bergumam dan berpikir keras tentang hal ini.


Aku terus mencari barang yang bisa di jadikan bukti jika dia memang benar ayah Jackson, aku berdecak kesal karna tidak bisa menemukan sebuah petunjuk lainnya.


" Ya aku yakin kalau dia adalah ayah Jackson, itu berarti...." Gumam ku tak melanjutkan ucapanku.


Ku langkahkan kakiku pergi ke sebuah ruangan yang tak asing lagi bagiku, tanpa ragu-ragu ku buka pintu itu tak lupa menutupnya kembali.


Ku tekan tombol itu dan dengan otomatis lemari buku itu terbuka dengan sendirinya, aku bergegas mencari peti kecil itu dan mencari apaa yang ingin aku cari.


Ku ambil topeng itu dan ku sandingkan topeng itu dengan wajah pria yang ada di foto itu, dan benar saja wajah yang ada di topeng sangat mirip dengan wajah pria yang ada di foto. " Apa maksudnya ini? A...ku tidak mengerti sama sekali, apa mungkin orang yang melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap ibuku adalah.... Chandra?"


Ceklek


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu, refleks aku bangkit dan melihat ke arah pintu.


" Ara? Sedang apa kamu disini?" Tanya Chandra menatapku datar


" A_aku," aku sangat gugup dan takut saat melihat wajahnya yang sangat menakutkan.


Chandra menahan emosi saat melihat ruangan rahasianya terbuka. " Kau?" teriak Chandra membuat ku tersentak kaget.


Dia meraih lenganku dan mencengkeramnya kasar. " Berani sekali kamu masuk ke dalam kamar saya hah." Ucapnya dengan nada penuh penekanan. " Ahhh lepaskan ini sangat sakit." Ucapku lirih sambil terus memberontak


" Kau disini hanyalah tamu. Jadi kau jangan bertingkah di rumah ini, kau mengerti!" Bentaknya.


Ku tempis tangannya kasar dan menatap nya tajam. " Kenapa kau lakukan ini hah? Apa yang sudah ibu aku lakukan terhadap mu? Kenapa kau membunuhnya kenapa?"


Chandra terdiam setelah mendengar teriakan ku. " Hah apa kamu katakan Ara? Saya tidak mengerti dengan semua yang kamu katakan."


" Kamu benar-benar bejat Chandra. Apa yang sudah keluarga aku lakukan terhadap keluarga kamu sehingga kamu bisa menganiaya ibu saya seperti, apa kamu belum puas dengan semua yang kau lakukan kepada ibuku hah? Kenapa sekarang kau ingin merebut ayahku kenapa?" Teriakku tak kuasa menahan air mata.


" Ahahah Ara_ Ara ternyata kamu pintar dari yang ku duga. Berbeda dengan ayah mu itu, dia sangat bodoh. Dia sangat gampang saya bodohi, hah saya sangat bahagia karna musuh saya sebentar lagi akan mati!"


" Kau benar-benar keterlaluan Chandra,"


" Ibumu yang keterlaluan," Teriaknya berhasil membuat ku diam


" Dari dulu saya sangat mencintai ibumu itu, saya menunggu dia apapun yang ku punya saya selalu memberikan semua itu kepadanya, tapi apa? Apa yang di berikan ibumu kepada saya? Dia tidak pernah peduli dengan semua perhatian saya, dan pada akhirnya Ferdy datang dia merebut cinta saya. Dan ibumu dia berubah kepada saya dia malah memilih orang baru di banding saya yang sudah lama menunggunya, dan kau bilang saya keterlaluan?"


" Jika kau mencintai ibuku lalu kenapa kamu membunuhnya hah? Kau benar-benar brengsek,"


" Diam!!!" Aku terkejut saat tiba-tiba Chandra mencengkeram leherku dan menghimpit tubuhku ke tembok.


" Saya sangat mencintainya. Dia sangat mirip denganmu, dia sangat cantik dan menggoda karna itu sebelum saya mengakhiri hidupnya ku cicipi tubuhnya sedikit di hadapan suaminya sendiri,"


" Ibuu!!" Teriak Ara histeris


Chandra tersenyum smrik melihat Ara yang menangis histeris di bawahnya.


PoV Ara End


Sedangkan Jackson yang tertidur pulas di ranjang tiba-tiba terbangun saat mendengar teriakan Ara, Jackson bangkit dari ranjang dan bergegas mencari Ara.


" Tidak hiks jangan," Gumam Ara lirih dengan isakan


" Ara?!" Tiba-tiba Jackson datang dan terkejut melihat kondisi Ara yang ketakutan di sudut kamar.


Jackson tidak bisa melihat Chandra karna sebelum Jackson datang Chandra sudah lebih dulu pergi.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Jackson khawatir melihat Ara yang menangis ketakutan.


" Jangan lakukan itu aku mohon," racau Ara


Jackson meraih tubuh Ara dan mendengkap nya. " Aku ada disini." Desus Jackson.


Jackson mengangkat tubuh Ara dan membawa nya ke dalam kamar.


" Sayang ada apa? Kenapa kamu bisa ada disana?" Tanya Jackson


" D_dia ja....hat,"


" Dia siapa?"


" Chandra," Jackson terdiam mendengar ucapannya.


Baru saja beberapa jam yang lalu dirinya sudah terlepas dari kejadian tadi, tapi sekarang Ara malah mengangkitnya lagi.


" Ada apa dengan Chandra?"


" Dia sudah membunuh ibuku,"


" Apa?" Jackson sedikit terkejut mendengar pengakuan Ara. Apa lagi ini? Kenapa masalah datang terus-menerus dengan topik yang berbeda?

__ADS_1


" Apa yang kamu katakan? Tidak mungkin Chandra membunuh ibumu,"


" Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak mau percaya kepadaku? Bimo mengatakan yang sebenarnya. Aku punya bukti," Ara mencari-cari benda yang ia temukan tadi namun tak di temukan.


" Kamu cari apa?"


" Aku_aku menemukan bukti kalau Chandra yang melakukan nya, dia menggunakan topeng dengan wajah ayahmu, agar ayahku berpikir jika orang yang membunuh ibuku adalah ayahmu,"


" Itu mustahil," Gubris Jackson


" Tidak Jackson. Aku mohon percaya dia tidak baik, dia jahat. Dia ingin mencelakaimu dan ayah, aku mohon percaya," Tangis Ara menatap Jackson sendu.


" Tidak Ara. Stop membuatku berpikir yang tidak-tidak tentang Chandra, jangan terus mengopori saya. Saya mohon!" Jackson menyatukan kedua tangannya dan memohon kepada Ara.


Ara tersentak mendengar ucapannya. Ara membuang nafas berat.


" Baiklah jika kamu pikir aku hanya ingin mengopori kamu dengan Chandra, aku tidak  akan meyakinkan mu lagi. Tapi, asal kamu tau Jackson aku tidak terima dengan orang yang sudah membuat ibuku menderita di detik-detik hidupnya, aku akan melakukan apa yang aku bisa dan membuat mu percaya jika Chandralah yang membuat hidupmu dan hidupku menderita," Tandas Ara.


Jackson terdiam setelah Ara mengatakan hal itu. Ara berjalan ke arah lemari dan memasukkan pakaian dirinya ke dalam koper. Jackson yang melihat itu terkejut dan langsung menghampiri Ara. " Kamu mau kemana?" Tanya Jackson namun tidak di gubris Ara sedikit pun. " Sayang dengarkan aku, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak berkata seperti tadi, kamu mau kemana?" Tanya Jackson yang terus di hiraukan oleh Ara.


Jackson menutup koper itu kasar dan menatap Ara. " Kamu mau kemana hah? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memasukan pakaian mu ke dalam koper?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Jackson


" Aku ingin pergi dari rumah ini, aku ingin membawa ayah pergi jauh, aku tidak bisa membiarkan penjahat itu menyakiti ayahku," Tangis Ara di depan Jackson.


" Lalu aku?"


" Apa kamu ingin meninggalkan ku sendiri disini?"


" Aku...,"


" Baiklah, jika kamu ingin pergi_ pergilah. Aku tidak akan menahan mu,"


" Apa maksud kamu? Kamu ikut bersamaku,"


" Kenapa?"


" Ini rumahku lalu aku harus pergi meninggalkan rumahku sendiri begitu? Tidak. Jika kamu ingin pergi bersama ayahmu itu maka pergilah, lagipula aku tidak sudi membiarkan pembunuh itu tinggal disini," Celetuk Jackson tanpa sadar.


Sontak hal itu membuat Ara terkejut mendengar ucapan Jackson, jadi selama ini dia masih menganggap ayahnya sebagai pembunuh? Jadi selama ini kebaikan yang ia berikan kepada Ferdy itu hanyalah semata-mata? Ara tertawa hambar menanggapi ucapan Jackson.


" Jadi itu yang selama ini kamu pendam? Jika kamu tidak mau kalau dia tinggal disini lalu kenapa kamu memindahkannya ke rumahmu? Kenapa kamu tidak membiarkan nya mati saja di sana," Teriak Ara membuat Jackson tersadar dengan ucapannya.


Ara cepat-cepat bergegas pakaiannya dan langsung menelpon Calvin berniat meminta bantuan untuk Ferdy di rawat di rumah sakitnya. Jackson sedikit cemburu dan marah saat Ara meminta bantuan Calvin dan berdekatan seperti itu, tapi sayangnya ego di dalam dirinya lebih tinggi, Jackson hanya diam tidak mencegah kepergian Ara. Ara pikir Jackson akan meminta maaf dan menahannya pergi tapi ternyata tidak, saat Ara berniat pergi Jackson malah pergi ke dalam kamar. Hatinya sangat sakit sekali baru rasanya ia mendapat pernyataan jika Jackson bisa berubah tapi ternyata tidak.


Ara melangkah kakinya pergi meninggalkan rumah besar itu dengan Calvin mengekorinya dari belakang dengan membawa sebuah koper milik Ara. Tanpa Ara sadari di jendela besar itu terlihat sosok pria tampan yang sedang melihat kepergian nya.


" Apa ini? Kenapa kau malah membiarkan nya pergi? Dulu kau yang mengengkangnya di dalam rumah tapi sekarang dia pergi dengan pria lain dan kau hanya diam saja? Jackson apa yang ada di otak mu sekarang? Arghhh terserah dia mau pergi kemana saja itu bukan urusanku sekarang," Batin Jackson bergerutu.


.......


Sudah satu hari lebih Jackson tidak mendapat kabar sedikit pun tentang keadaan Ara lagi. Hari hari Jackson lalui tanpa sosok seorang wanita di sampingnya ia merasa sangat hampa dan sulit beraktivitas, apalagi sekarang Bimo masih berada di bawah tanah. Jackson sesekali pernah melawan egonya dan menghubungi Ara tapi nomor Ara tidak bisa di hubungi ntah kenapa, dan hal itu membuat pikiran gelap masuk ke dalam pikirannya, ia berpikir jika saat ini Ara sedang bersenang-senang dengan Calvin tapi ternyata_


Di tempat lain!


Rumah Sakit Internasional!


Ara terbaring tak berdaya di atas kasur kecil itu dengan alat medis memenuhi tubuhnya. Setelah pergi meninggalkan Jackson, kondisi Ara semakin hari malah semakin memburuk, setiap hari Ara tak henti-hentinya memikirkan keadaan Jackson. Calvin yang melihat itu selalu menasehati Ara tapi tetap saja, Ara sangat keras kepala ia tidak mau mendengar nasehat-nasehat yang masuk ke dalam otaknya.


Calvin dan Kiran berusaha untuk membuat Ara mau meminum obat, tapi Ara bersikeras menolaknya ia kata ia tidak ingin menyakiti anaknya hanya karna meminum obat untuk penyakit kanker itu.


" Ara kau benar-benar keras kepala. Apa kamu tidak peduli dengan kesehatan mu? Apa kamu tidak pikirkan bagaimana perasaan Jackson dan pak Ferdy saat tau kondisi mu seperti ini?"


" Aku tidak sanggup melihat mereka saat mengetahui keadaan ku seperti ini. Tapi, rasa sakit yang ku rasakan sekarang akan terbayar dengan senyuman Jackson dan ayah dan juga tangisan bayi ku," Ucap Ara lirih


" Kenapa kau terus mengatakan hal itu hiks," Tangis Kiran


" Kamu akan sembuh, kamu harus janji kepada ku kamu harus sembuh, aku tidak mau tau kamu harus sembuh," Tekan Kiran terus mengucapkan kata sembuh.


Ku raih tangan Kiran dan ku letakan tangannya di perutku yang buncit. " Kamu harus berjanji. Jika suatu saat nanti aku pergi kamu harus menjaganya, anggap saja ini adalah anak kamu."


" Apa yang kamu katakan? Aku bilang kamu tidak akan pernah pergi titik. Kenapa kamu terus mengatakan hal itu?" Gubris Kiran.


Kiran pergi keluar dengan keadaan marah.


" Sayang sebentar lagi tugas mommy selesai. Kamu akan lahir dan mommy akan berjuang antara hidup dan mati, kamu harus kuat yah 2 bulan lagi," Gumam Ara lirih dengan air mata keluar dengan sendirinya.


" Jackson aku sangat merindukanmu,", Batin Ara


......


Jackson berjalan ke arah kamar.


Krekkk


Jackson membuka pintu kamar Chandra pelan dan menghidupkan lampu kamar, Jackson melihat-lihat seisi kamar, pikiran nya teringat saat Ara menangis ketakutan di sudut ruangan itu. Kaki dia melangkah dan tanpa sengaja menginjak sesuatu refleks Jackson menghentikan langkahnya dan mengambil benda yang di injaknya.


Sebuah topeng dan bingkai foto Jordan disana, Jackson hanya bisa diam dengan apa yang ia lihat dan pegang sekarang, Jackson mengarahkan topeng itu ke wajahnya dan memakainya. Setelah topeng itu pas di wajahnya Jackson berjalan ke arah cermin dan terkejut saat melihat betapa miripnya dirinya dengan ayahnya.


" Ayah?"


Jackson terduduk lemas dan melepas topeng itu. Tangannya mulai mengacak rambutnya kasar, Jackson benar-benar frustasi kenapa ia tidak pernah datang ke tempat ini sebelumnya?


" Ara kamu dimana?"


...Bersambung!...


Hallo semua nya apa kabar?


Ada yang kangen nggak sama aku? Ehk maaf salah maksudnya Ara dan Jackson? Hehehe


Tuh loh mulai nyesel kan si Jackson... Hm makanya jangan emosi mulu lo sebel dah gw😒


Ara mengrita banget sih idup lo😭 gw aja yang nulis cerita lo nangis gini tanggung jawab lo Ra😭😭


Gimana kalian nangis nggak? Hm ada yang ya ada juga yang nggak tuh biasa aja... Ok lah no problem:)


Oke NEXT part selanjutnya😅


Jangan lupa Komen, Vote, dan Followan nya yah:)


...SEE YOU NEXT TIME:)...

__ADS_1


__ADS_2