
"maaf kan kakak karna tidak pernah jujur" suara nya di balik benda kecil ini
"tidak masalah kak mungkin ini suda menjadi jalan hidup kita masing-masing aku turut bahagia karna kakak suda menemukan pasangan hidup walau bukan aku" jawab gadis itu yg masi menahan tangis
" kamu harus yakin pasti akan bertemu dengan laki-laki yang benar tulus mencintaimu yang menyayangimu, umur kamu masi muda kakak tidaklah pantas untuk kamu"
"bukan kakak yang tidak pantas tapi aku yang tak sadar diri mengharapkan emas dari langit" kini butiran bening itu berhasil keluar
" hai dengarkan kakak kamu cantik kamu baik kamu pantas mendapatkan yang lebih dari kakak percaya kamu akan bahagia tapi bukan bersama kakak"
"kak aku mau belajar, aku tutup dulu telponnya" aku suda tak sanggup lagi mendengar suaranya yang lama tak ku dengar dan disaat aku mendengar nya kembali, dia malah tambah membuat luka
ku matikan telepon itu secara sepihak tanpa mengucapkan salam lagi
aku berlari kebelakang rumah menujuh jurang yg biasa aku datangi bersama teman ku, aku ingin menangis meraung mencurahkan segala isi hati ku, tampa ada yang bertanya kenapa, terkadang seseorang yang sedang patah hati tak memerlukan kata kenapa meraka hanya perlu pelukan dan sandaran,
__ADS_1
aku duduk dan mulai menangis sakit benar2 sakit orang yang telah membuat hari mu berwarna kini malah membuat hari mu menjadi kelabu, kini langit seolah ikut menangis bersama ku air mata dan air hujan kini tak lagi dapat dibedakan mereka sama2 menyatuh diwajahku, hingga datang seseorang memeluk ku dari belakang
" kamu gila, bagaimana kalau sakit, patah hati boleh ****** jangan" dia laki-laki yang suda ku anggap kakak ku sendiri
" kamu pulang, kenapa tidak beri tau" kata ku sedikit mengusap wajah
dituntunya aku kesebuah pondok kecil yang memang dia pernah buat kan untuk ku
" aku mau beri kamu kejutan tapi aku yang malah terkejut, kenapa kamu ngak beri tahu aku, malah disimpan sendiri begini, aku suda pernah bilang kalau ada apa2 bilang aku" dia membuka jaketnya dan menyelimuti ku,
dia hanya diam tak menjawab lagi aku pun sama lama kami tak bersua
hujan mulai reda kami beranjak pulang dr sana kami masi sama hanya diam seribu kata, hingga tiba di depan rumah ku dia pamit pulang
"ci aku pamit pulang dulu"
__ADS_1
" kamu ngak mau masuk dulu, baju mu basah semua gara2 aku, biar aku buat kan teh"
" tidak usah biar aku ganti dirumah saja"
" hmmm" jawab ku singkat
dia melangkah pulang dengan raut yg susah ku tebak
lalu aku " yan makasih ya, kalau ngak ada kamu tadi mungkin aku udah pingsan"
" sama-sama, kamu tenangkan pikiran dulu nanti aku kerumah kamu lagi" jawabnya dengan senyumnya yang terukir dipipinya
dia brian teman kecilku sekarang dia kulia di ibu kota dan jarang sekali pulang, kami beda 2 tahun tapi karna kami terbiasa bersama maka aku tak terbiasa memanggilya kakak, dia anak temannya mama ku aku sering dititipkan dirumahnya saat orang tua ku sibuk bekerja,
orang tua ku sibuk bekerja pergi pagi pulang jarang, aku terbiasa dirumah sendiri semenjak aku SMA, dulu dr SD sampai SMP aku sering dititipkan dibanyak tempat tp karna aku suda besar aku tak mau lagi dititipkan dan jadilah aku sendirian dirumah yang cukup besar ini
__ADS_1