Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Suami siaga


__ADS_3

"Eits, Tuan mau kemana?" tanya Dara yang melihaBagas sudah rapi pagi itu, tapi bukan memakai pakaian kantor seperti biasanya yang Dara sering lihat dulu, saat ini Bagas hanya memakai celana chino coklat susu dipadukan dengan polo shirt hitam, sumpah demi apapun Dara memuji dalam hatinya kalau Bagas terlihat sangat tampan dan gagah pagi itu.


"Mengantar mu check up ke rumah sakit," jawabnya sambil meraih tas milik istrinya yang memang sudah di persiapkan Dara untuk di bawanya ke rumah sakit, namun Bagas sudah terlebih dahulu menyampirkan tas wanita yang sama sekali tak bermerek itu ke bahunya, tanpa ada rasa risih atau malu sama sekali.


Semalam juga Bagas rela tidur di ruang tamu paviliun, karena memang tempat itu hanya mempunyai satu kamar dan Dara keberatan dan belum siap bila harus berbagi ranjang dengannya, untungnya Bagas mau patuh dengan keinginan Dara itu meski hampir satu jam sekali dia mengecek keadaan istrinya di kamar, sekedar membetulkan selimutnya atau bahkan hanya menatap wajah istrinya yang tertidur pulas, terkadang Bagas juga mencuri-curi untuk mengelus perut buncit istrinya meski dengan perasaan takut-takut kalau saja Dara terbangun dengan aksinya itu, dia hanya ingin menyapa anaknya dan mengatakan kalau ayahnya ada dan peduli juga sangat sayang padanya.


"BIar aku di antar kak Yoga saja, lagi pula bukankah anda harus ke kantor?" Dara merasa canggung dan kikuk jika harus pergi bersama Bagas, dia juga tidak terbiasa di perlakukan se perhatian itu oleh Bagas, meski Faisal pun sering memberi perhatian yang seperti itu padanya dan dia merasa nyaman-nyaman saja tak ada masalah sama sekali, namun mengapa dengan suaminya sendiri dia merasa sangat canggung.


"Aku sudah mengatakan kalau aku bisa bekerja dari rumah, Panji bisa mengatasimasalah pekerjaan ku, dia sudah biasa, dan untuk masalah kakak mu, sebaiknya jangan ganggu dia, aku sedang berusaha untuk melatihnya agar mau bekerja, aku ingin dia menjadi laki-laki yang bisa menghasilkan uang sendiri, sehingga kedepannya dia bisa bertanggung jawab kepada istri dan anaknya jika kelak menikah." ucapnya panjang lebar.


"Hahaha, kak Yoga bekerja? Jangan terlalu berharap tuan, dia laki-laki paling pemalas di dunia ini, bisanya cuma minta, gak mau berusaha nyari sendiri." Dara terkikik geli, karena dia sangat hafal dengan watak dan tabiat kakak laki-lakinya yang super pemalas itu.


"Serahkan padaku, aku yakin dia bisa berubah.Ayo sudah hampir siang, kita janjian dengan dokter satu jam lagi." pungkas Bagas membukakan pintu mobilnya dan membatu Dara untuk naik dengan hati-hati kedalam mobilnya.


Sementara di kursi taman belakang sepasang mata berkaca-kaca namun penuh marah menyaksikan kebersamaan Bagas dan dara yang terlihat begitu sangat manis, namun terasa pahit untuk dirinya.


"Kenapa anda duduk menangis sendirian, nyonya?"


Tanya Yoga mengagetkan Kamila yang sedang menatap mobil Bagas yang semakin menjauh dan tak terlihat seperti cintanya Bagas padanya yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi.


"Kenapa kau ingin tau urusan ku? Terserah aku mau nangis sendirian kek, nangis rame-rame kek, orang asing kepo!" ketus Kamila memandang sinis Yoga yang asik memperhatikan wajahnya, membuatnya menjadi salah tingkah karena di tatap sebegitunya.

__ADS_1


"Apa yang salah dengan wajah ku? Kau melihat ku seperti baru pernah melihat wanita cantik saja!" sambung Kamila percaya diri.


"Anda memang cantik nyonya, wajah anda sangat mirip dengan wajah adik ku, tapi nyonya terlihat lebih cantik menurut ku, meskipun usia tak dapat berbohong," polos Yoga.


"Eh, berengsek kau, ini kedua kalinya kau menyinggung ku tentang masalah usia, bajing an kau! Aku masih muda, usia ku tak jauh dengan usia adik sialan mu itu!" sewot Kamila berapi-api.


"Jangan marah-marah seperti itu nyonya, karena anda menjadi terlihat semakin menggemaskan," goda Yoga, kali ini berhasil membuat Kamila beranjak pergi dari taman belakang dan tak lagi merasakan sedihnya karena telah berganti dengan perasan kesal pada tingkah slebor berondong yang terang-terangan menggoda dirinya meski tau kalau dirinya adalah istri dari Bagas juga, entah apa maksud dari tingkah Yoga itu berbuat seperti itu pada Kamila.


"Mas Yoga, tuan berpesan kalau hari ini jadwal mas Yoga adalah belajar mengemudi," Anwar yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Yoga dan Kamila itu baru berani mendekat setelah Kamila pergi dari sana, Andai saja Yoga bukan kakak Dara, dan tuannya tidak memerintahkan untuk mengajarinya, rasanya Anwar sangat enggan melakukan semua itu, Yoga sangat sulit untuk di arahkannya, apalagi sikapnya di rumah itu seperti tuan besar saja, apa-apa minta di ladeni, dan semua wanita di godanya, bahkan termasuk Kamila, barusan.


"Aku sudah bisa mengemudi, meskipun tidak terlalu lancar, dulu di kampung gini-gini aku sering jadi supir tembak angkutan pedesaan, latihannya besok saja ya, aku cape!" jawab Yoga melengos begitu saja meninggalkan Anwar yang tidak bisa apa-apa selain merasa kesal yang tertahan dalam hatinya.


Rupanya Yoga masih penasaran dengan Kamila, dia ingin mengenal lebih jauh madu dari adiknya itu, Yoga memang selalu tertarik dengan para wanita yang usianya di atas usia dirinya.


"Nyonya, namaku Yoga, usia ku sebentar lagi 25 tahun, emh,,,sekitar tiga bulanan lagi lah, tepatnya tanggal lima belas desember, aku berulang tahun." oceh Yoga mengatakan hal yang sangat tidak penting dan sangat tak ingin Kamila ketahui itu, sehingga Kamila tak memperdulikannya dan tak menanggapinya sedikit pun.


"Nyonya, mengapa nyonya mau di jadikan istri kedua tuan Bagas? Padahal nyonya sangat cantik, pasti banyak pria yang mengantri ingin mempersunting anda, dan pastinya bukan untuk di jadikan yang kedua seperti sekarang ini," Yoga trus saja mengoceh tanpa henti.


"Kenapa kau sangat ingin tau dan ikut campur urusan ku? Tidak sopan!" ketus Kamila lantas meninggalkan meja makan meski makanannya belum habis.


Sejak awal kedatangannya, Yoga memang sudah membuat Kamila selalu naik darah dengan celetukan-celetukan tak sopannya dan sok akrab itu.

__ADS_1


"Berhenti mengikutiku, atau kau aku adukan pada suami ku karena telah berbuat lancang pada ku!" tunjuk Kamila membalikkan badannya karena merasa ada seseorang yang mengikutinya sampai ke halaman rumah.


Namun saat dirinya membalikkan badannya, Kamila kaget bukan kepalang, karena bukan Yoga yang ada di belakang tubuhnya itu, melainkan sang ayah yang berdiri sambil berkacak pinggang, tak lupa matanya yang membelalak ke arahnya.


"Anak kurang ajar, tak tahu diri, kau hanya bisanya menyusahkan ku saja, Aryo sangat marah karena kau malah menghilang dan tak mau di jodohkan dengannya, gara-gara ulah mu aku jadi harus membayar semua hutang-hutang ku padanya, ayo cepat ikut aku menemui Aryo, kau hanya perlu tidur dengannya sekali saja dan semua hutang ku dianggap lunas olehnya, Aryo masih sangat penasaran dengan mu!" Entah ayah seperti apa pria itu, yang rela mengorbankan anak perempuannya berulang kali hanya demi uang dan kedudukan.


"Ayah lepaskan, aku tak mau, aku sudah menikah dengan Bagas, aku yakin dia akan membayarkan hutang-hutang mu pada tua bangka itu, tapi jangan bawa aku!" mohon Kamila ketakutan.


Kamila lantas mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lantas menghubungi Bagas berulang kali, namun suaminya itu tak memperdulikan panggilan teleponnya.


"Sudah tak ada waktu lagi ayo cepat ikut aku!" tangan Kamila di seret paksa masukke dalam mobil ayahnya.


"Tolong,,,tolong,,,!" teriak Kamila berteriak-teriak.


"Hey Anwar, kenapa kau biarkan nyonya mu di bawa pergi pria asing?" protes Yoga yang mendengar teriakan dan ribut-ribut dari luar rumah, sementara saat di lihat, Anwar hanya menontonnya tanpa reaksi apapun, bahkan yang lain pun Anwar larang untuk menolongnya, tak ada yang berani menentang perintah kepala pelayan itu, karena Anwar adalah orang kepercayaan Bagas di rumah, dan terbilang sangat dekat dengan tuannya yang sangat tempramen itu.


"Itu ayahnya nyonya Kamila, kami tak berani ikut campur kalau itu urusan keluarga," elak Anwar beralasan, padahal dia memang sengaja membiarkan ayahnya Kamila membawa istri kedua tuannya itu pergi, agar wanita itu tak lagi mengganggu kehidupan Bagas yang kini sudah sangat bahagia dengan keluarga kecilnya, Anwar akan menjadi orang yang sangat berbahagia jika Kamila pergi dan kalau perlu tak usah kembali lagi.


"Ah persetan, nyonya kamila sepertinya tak ingijn di bawa pergi, dan dia membutuhkan pertolongan, aku harus menolongnya!" ujar Yoga.


"Silahkan mas! Semoga berhasil!" kata Anwar mengajak para pelayan yang menonton pertunjukan drama antara ayah dan anak itu untuk segera masuk kembali ke dalam rumah dan melanjutkan lagi pekerjaannya seperti biasa, seolah tak melihat kejadian apapun pagi ini pada diri Kamila.

__ADS_1


Terkesan jahat memang, namun jika saja Anwar mengingat betapa hancur dan sedihnya Bagas saat di tinggal Kamila, Anwar merasa itu tak seberapa jika di bandingkan dengan apa yang di alami dan dirasakan tuannya dulu.


__ADS_2