Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Mas,


__ADS_3

Tiga hari berlalu, namun belum ada perubahan pada kondisi Dara saat ini, wanita yang telah menjadi ibu itu pun bahkan belum sempat melihat wajah putranya.


Sementara Bagas yang menolak bantuan dari siapapun meskipun itu dari orang tuanya Dara, dia bersikerasa untuk mengurus istri dan anaknya yang sampai saat ini masih berada di rumah sakit, tentu saja di kalau di bantu perawat dia tak menolaknya, hanya selain perawat ari rumah sakit Bagas menolak siapapun.


"Dara, lihatlah anak kita, tampan sekali, aku belum memberinya nama karena aku ingin persetujuan mu untuk nama anak kita, cepatlah bangun, kasihan anak kita belum mempunyai nama karena menunggu ibunya siuman." ucap Bagas yang sedang menggendong bayi mungil nan tampan itu sambil memberinya susu formula karena Dara belum bisa menyusinya.


"Boy, bilang sama ibumu, untuk dia segera bangun, katakan padanya kalau kita berdua sangat menyayanginya dan sangat rindu pada mata coklatnya," ujar Bagas lagi kini mengobrol pada bayi berumur 3 hari yang jelas belum tau apa-apa itu.


Namun tiba-tiba sebulir air mata meluncur dari sudut mata Dara, membuat Bagas yang saat itu sedang menggendong bayinya, hampir saja melempar bayi mungil itu saking kaget dan bahagianya karena melihat reaksi dari istrinya.


"Suster,,,dokter,,,!" teriak Bagas, dia sampai lupa kalau hanya perlu menekan tombol saja untuk memanggil dokter ataupun perawat karena saking paniknya.


"I- istri saya tadi tiba-tiba menangis!" lapor Bagas .


Seorang dokter dan dua orang perawat segera mendekati Dara dan memeriksa kondisi Dara,


"Bagus jika istri anda sudah bisa bereaksi, berarti keadaan istri anda sudah hampir membaik, sering-sering saja anda menstimulasi istri anda dengan mengajaknya bercerita, itu akan mempercepat pemulihan, apalagi sudah ada reaksi dari istri anda seperti itu," terang dokter yang akhirnya memberikan secercah harapan bagi ayah dan anak yang sangat merindukan istri dan juga ibunya itu.


Tak terbayangkan di benak Bagas kalau dia akan mengalami hal-hal seperti ini, menyedihkan, merepotkan tapi juga sekaligus membahagiakan karena dapat berkumpul bersama istri dan anaknya, meski dia juga kadang kewalahan jika malam tiba bayinya menangis dan tak bisa di diamkan, sementara pekerjaan kantornya juga belum selesai di kerjakan, namun Bagas selalu ikhlas dalam menjalani semua ini, dia menganggap semua ini sebagai balasan atas perlakuan uruknya pada sang istri di waktu sebelumnya.


Seperti malam ini, di saat dirinya sedang serius memeriksa beberapa dokumen yang tadi sore di antar Panji ke sana, tiba-tiba bayinya menangis kencang, dengan sigap Bagas langsung berlari ke arah boks bayi yang berada di sebelah ranjang tempat istrinya berbaring, pria itu sudah sangat lihai memeriksa popok bayinya, membuat takaran susu, bahkan sampai membersihkan kotoran anaknya pun dia tak pernah merasa jijik.


"Ada apa boy,,, apa kau mimpi buruk?" Bagas segera mengangkat anaknya dari dalam boks, lantas menimangnya, namun bayi tampan itu terus saja menangis dengan kencangnya, dia pun menolak saat Bagas memberikan botol susu padanya.


"Oh tolong berhenti menangis boy, kau membuat ayah mu bingung, aku tak tau apa yang kau mau," ujar Bagas putus asa karena semua upaya untuk menenangkan anaknya rasanya sia-sia dan gagal semua.


"Mas, apa itu bayi kita?"


Suara lirih yang selama hampir seminggu ini tak terdengar dan sangat di rindukannya itu membuat tubuh Bagas membeku seketika, perlahan dia membalikan badannya yang sedang memunggungi Dara, airmata pria bertubuh kekar itu jatuh tak tak terbendung saat melihat mata dara kembali terbuka dan berbicara padanya, dan tunggu,,, dia memanggilnya dengan sebutan 'mas' apa dirinya sedang berhalusinasi, atau bermimpi, atau mungkin dirinya sudah gila karena saking stress dengan keadaannya sekarang ini.

__ADS_1


"Oh ayolah, kenapa kalian berdua malah sama-sama menangis, aku bingung harus menenangkan yang mana!" seloroh Dara seolah dirinya baru saja bangun dari tidur dan tak pernah mengalami hal-hal yang membuat panik Bagas dan membuat nyawanya hampir saja melayang.


"Da-Dara, kau sadar? Kau sudah bangun?"


Dengan langkah lebarnya Bagas menghampiri ranjang pasien tempat Dara berbaring.


"Oh, mas hati-hati, kamu membuat anak kita sesak karena terhimpit tubuh mu!" ujar Dara mendorong pelan dada suaminya yang langsung berhambur memeluk dirinya sementara putra mereka masih dalam dekapan pria itu, jadilah mereka bertiga saling berpelukan erat.


"Aku--aku sangat bahagia, tolong panggil aku lagi, lagi, dan lagi, aku suka dengan panggilan baru mu untuk ku," ucap Bagas membuat pipi pucat Dara merona seketika.


"Boy, ibu mu sudah bangun, lihatlah bertapa cantik mata coklatnya, ibu mu sudah kembali!" oceh Bagas seraya menidurkan bayi mereka di samping tubuh istrinya, ajaibnya bayi yang sejak tadi menangis itu diam seketika , dia seperti tahu kalau kini dia berada di dekat dekapan hangat ibunya.


"Aku akan memanggil dokter," tangan Bagas terulur hendak memijit tombol pemanggil dokter jaga, namun tangannya di tahan Dara.


"Nanti saja mas, aku baik-baik saja, aku ingin menikmati kebersamaan kita bertiga, aku juga belum puas melihat wajah tampan bayi kita, dia begitu mirip dengan mu, tak ada satu pun bagian yang mirip dengan ku!" protes Dara sambil terus saja menatap wajah putranya.


"Matanya coklat terang seperti mu, aku sangat suka, mata kalian berdua sangat indah!" cicit Bagas.


"Kau tak sadarkan diri hampir satu minggu, dan itu membuat aku sungguh ketakutan, tolong jangan seperti itu lagi!" cicit Bagas menyeka air matanya yang terus saja menetes tanpa permisi.


"Satu minggu? Rasanya lama sekali. Jangan menangis, sudah cukup setiap hari kamu menangisi ku mas." Dara mengusap pipi Bagas.


"Apa maksud mu?" gagap Bagas.


"Aku tau, aku bisa mendengar apa yang kamu bicarakan dan orang-orang katakan di sekitar ku, aku juga bisa mendengar tangisan jagoan ku ini, namun mata ku rasanya tak bisa terbuka meski aku sudah berusaha sekuat tenaga ku." urai Dara mengenai apa yang di alaminya selama dia hampir seminggu terbaring di tempat tidur itu.


"Maksud mu, kamu bisa---"


"Ya, aku bisa mendengar semuanya, apalagi saat kamu mengancam ku akan membawa anak kita pergi dan kamu akan menikah lagi dengan wanita lain kalau aku tak bangun, sungguh aku sangat ingin memukul mu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa," kesal Dara.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, aku tak sungguh-sungguh mengucapkan itu," ujar Bagas yang tak menyangka jika ternyata selama ini Dara mendengar semua kata-katanya, beruntung hanya sekali itu saja dia mengatakan hal aneh, karena dirinya yang frustasi karena Dara yang tak juga siuman, selebihnya dia hanya menceriatan perkembangan bayinya dan kadang membicarakan masalah pekerjaan jika dia sedang bosan dan tak ada topik untuk di ceritakan.


"Aku tau, aku bisa mendengar ketulusan pernyataan cinta anda tuan," goda Dara.


"Ish,,, aku tak suka kau memanggil ku dengan sebutan itu lagi!" protes Bagas.


"Oh iya mas, bukannya kamu bilang waktu itu kalau akan memberi anak kita nama kalau aku sudah kembali sadar, apa kamu sudah punya nama untuk nama anak kita?"


"Kaisar, namanya Kaisar Abdi Prawira, apa kau setuju? Aku ingin dia kelak menjadi seperti kaisar yang mempunyai kedudukan dan di hormati semua orang, yang berjiwa seperti perwira yang gagah berani."


Dara mengangguk "Nama yang bagus, aku suka."


"Maaf sudah merepotkan mu dan membuat mu hawatir selama beberapa hari ini." sambung Dara.


Sungguh perubahan sikap Dara pada Bagas ini bukan hal yang instan, saat dirinya terpejam tak sadarkan diri, dia benar-benar bisa mendengar suara yang ada di sekitarnya, mendengar ucapan-ucapan tulus Bagas padanya yang tak pernah dia dengar sebelumnya membuatnya merasa luluh dan ingin memberi Bagas kesempatan untuk memperbaiki semuanya, karena tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tak ada orang hebat yang belum pernah mengalami apa yang namanya kegagalan, semoga keputusannya ini tepat dan baik untuk keluarga kecilnya, apalagi pada suatu hari saat dirinya masih terpejam itu, Bagas pernah menceritakan masalah dirinya dan Kamila, dia mengatakan kalau antara dirinya dan Kamila sebenarnya sudah tak ada apa-apa hanya rasa kasihan karena Kamila selalu memohon untuk tak mengusirnya dari rumah itu, sementara Bagas mengaku kalau dirinya sudah sempat mengucap talak pada Kamila saat pertengkaran mereka akibat Kamila yang ketahuan selingkuh dengan berondong saat itu.


Oh iya ada satu lagi yang membuat Dara penasaran tentang hubungan suaminya dengan Kamila, hampir saja dia lupa untuk menanyakan hal penting itu.


"Mas, apa benar apa yang kamu ceritakan kalau kamu tidak pernah berhubungan badan dengan Kamila selama kalian menikah?"


Bagas yang sedang minum sampai terbatuk mendengar pertanyaan istrinya itu, dia tak menyangka jika cerita saat dirinya gabut pun di serap dara dengan begitu baiknya.


"Apa kau juga mendengar dan ingat dengan cerita itu?"


"Mas, benar atau tidak?"


"Tentu saja benar, aku tak berbohong sama sekali." ujar Bagas dengan yakin dan percaya dirinya.


"Kalau bohong, aku dan Kaisar akan pergi dari kamu, apa kamu berani?"

__ADS_1


"Hemh,, tentu saja, karena apa yang aku katakan pada mu semua benar adanya,"


__ADS_2