Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Rumah yang nyaman


__ADS_3

"Mas, kenapa?" tanya Dara pada suaminya.


Saat ini dara dan Bagas sedang berada di kamar mereka, memperhatikan Kai, bayi mereka yang sedang tertidur lelap, seakan memberi ruang dan waktu untuk kedua orang tuanya membicarakan semua hal yang terjadi selama beberapa minggu terakhir ini.


Setelah terusirnya Kamila dari rumah mereka tadi pagi, sampai siang ini belum ada pembahasan apapun tentang hal itu, baik dari Dara maupun Bagas, mereka berdua seperto sama-sama sedang cooling down dengan cara mereka masing-masing, sampai akhirnya Dara merasa sudah siap dan memang sudah waktunya untuk membuka pembicaraan dengan suaminya itu.


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa mas menyimpan sendiri tentang semua ini, kenapa mas membiarkan aku berpikir buruk, jahat dan membenci mu, kenapa mas tak mengatakan tentang semua ini, sehingga aku tak harusmenilai mu dengan sebegitu buruknya? Bukankah aku istri mu? Aku bersedia membantu mu, tapi kamu malah berjuang dan berkorban sendirian," ungkap Dara.


"Sayang, aku ini pria, aku seorang kepala rumah tangga, seorang suami dan ayah, tak ada yang lain yang ingin ku berikan pada issti dan anak ku selain kebahagiaan, biarlah semua masalah dan kesulitan aku yang menanggungnya sendiri, aku mampu dan aku pasti berusaha untuk mampu, aku sudah terlalu banyak memberi mu kesakitan dulu, dan itu akan menjadi penyesalan ku sampai aku mati, aku tak mau menambah itu semua, kalian pantas dan berhak untuk bahagia." Urai Bagas, sesekali tangannya terulur untuk menyeka air mata yang jatuh di pipi mulus istrinya.


"Apa aku salah? Atau aku menyakiti mu lagi sampai kau menangis seperti ini, hem?" tanya Bagas yang semakin sibuk menyeka air mata Dara yang semakin deras mengalir.


Dara hanya menggeleng pelan, bukan,,,bukan karena tersakiti alasan dia menangis saat ini, tapi karena dia merasa sangat bersalah pada suaminya itu atas pikiran-pikiran buruk terhadapnya.


"maafkan aku, sudah sudah mengira yang tidak-tidak tenrang mu, aku juga sudah berprasangka sangat buruk atas kebaikan mu pada Kamila, aku tak tau jika yang kamu lakukan adalah demi memperjuangkan keluarga kecil kita, aku menyesal," ucap Dara dalam isak tangisnya yang semakin menjadi.


"Hanya minta maaf dan menyesal?" tanya Bagas.


"Kamu ingin aku bagaimana? Ingin aku berbuat apa?" cicit Dara.


"Aku ingin kamu tetap di sisi ku, jangan pergi, lupakan perjanjian kesepakatan konyol itu, kita mulai lagi semuanya dari awal, bukankah belum terlambat untuk kita saling mengenal lagi? Ayo kita berpacaran!" ujar Bagas seraya menyunggingkan senyumnya.


"Mas, kita sudah menikah dan punya anak, apa kamu lupa!" cebik Dara.

__ADS_1


"Berpacaran halal sepertinya asik!" Bagas mengedipkan sebelah matanya genit, sontak saja itu membuat Dara merasa geli melihatnya, bagaimana tidak, melihat Bagas yang biasanya tegas, kaku dan dingin tiba-tiba bertingkah genit seperti itu rasanya aneh!


"Mulai sekarang lupakan kesepakatan itu, lupakan juga niat kamu akan pergi perninggalkan ku, percayalah aku tak akan membiarkan mu pergi untuk ke dua kalinya dari hidup ku, karena jika pun tetap pergi, aku akan mengerjar mu meski kau bersembunyi di belahan dunia manapun, aku tak akan membiarkan mu lari begitu saja dari ku." Bagas memeluk tubuh Dara dan menenggelamkannya dalam dadanya.


Tak ada perlawanan dari Dara saat Bagas berulang kali mengecup pucuk kepalanya dengan sangat dalam, seolah ada kerinduan yang teramat sangat pada diri istrinya yang kini tak lagi berontak saat dirinya mengungkapkan perasaannya lewat bahasa tubuhnya.


"Aku tak akan pergi ke mana-mana mas, karena aku sudah menemukan rumah yang nyaman untuk ku dan untuk anak kita, aku baru menyadari kalau pelukan mu adalah rumah ternyaman untuk ku dan Kaisar. Terimakasih sudah mau berkorban dan berjuang untuk kita, aku akan berusaha menjadi kekasih dan istri yang baik untuk mu, karena rasa-rasanya aku mulai jatuh cinta pada mu, tolong untuk tetap seperrti ini, jangan berubah." Dara melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bagas dan balas memeluk pria itu dengan eratnya untuk pertama kalinya.


"Pasti, kau boleh pegang janji ku, aku tak akan berubah, selama nyawa dan raga ku masih bersatu, maka hidup ku hanya untuk membahagiakan kalian."


Bagas mengurai pelukan mereka, menjauhkan tubuh Dara dari dadanya, lama dia memandangi wajah wajah istrinya yang kini bermata sembab karena terus menangis itu, kedua telapak tangan Bagas membingkai wajah istrinya di sisi pipi kanan dan kirinya, sejurus kemudian wajahnya mendekat, dan bibirnya mendarat tepat di atas bibir merah Dara yang spontan sedikit membuka bibirnya yang tadi terkatup rapat, tanpa sadar wanita itu menyambut ciuman hangat dan lembut suaminya, ciuman pertama tanpa paksaan, tanpa kebencian, tanpa emosi dan kemarahan, namun ciuman penuh cinta yang kini bersemi di antara kedua nya.


"Sudah tidak takut lagi?" bisik Bagas saat pagutan mereka terlepas.


"Oh iya mas, bagaimana Kamila tau tentang perjanjian kesepakatan kita, apa kamu memberi tahunya?" tanya Dara, sepertinya hal itu sangat mengganggunya sejak tadi, bagaimana bisa hal sepenting itu bisa suaminya katakan pada Kamila begitu saja.


"Aku tak pernah memberi tahu siapapun, hanya aku kamu dan Panji yang tau, dan aku yakin kalau Panji juga tak akan memberitahukan masalah ini pada siapapun, apa Kamila tau masalah perjanjian itu?" Bagas malah balik bertanya dengan kening mengernyit bingung.


"Hemmh,," jawab Dara singkat sambil mengangguk, kini dia pun sama bingungnya, kalau bukan dari mereka bertiga, lantas dari siapa Kamila tau.


"Ah iya sayang, aku juga masih sangat penasaran dengan cerita bagaimana kamu bisa menghilang saat di Bali, dan membuat kita terpisah sangat lama, kau harus tau kalau itu adalah saat-saat yang sangat menyiksa buat ku." tanya Bagas, tiba-tiba dia teringat lagi dengan kejadian hilangnya Dara, pernah dia pertanyakan, namun dia belum mendapat jawaban apa-apa dari istrinya itu.


"Oh itu, mungkin sudah saatnya aku menceritakan masalah yang terjadi sebenarnya disana dan tentang kecurigaan ku pada---"


Tok,,,tok,,,tok,,,!

__ADS_1


"Dek,,,dek,,,tolong buka pintunya, cepat!" suara teriakan Yoga terdengat dari luar pintu kamarnya.


"Arrrggghhh,,,kenapa selalu ada gangguan saat kita sedang berduaan seperti ini, awas saja, Anwar akan ku potong gajinya karena membiarkan orang naik dan mengusik kebersamaan kita, gak tau apa nahan rindu hampir empat hari lamanya!" kesal Bagas yang merasa waktunya yang berharga bersama istrinya itu.


"Ishh, lagian pake acara ngilang segala, aku juga hampir gila karena kamu gak ada kabar selama itu,"


"Aku ke Singapur sayang, ngurus tes paternitas, aku mau hasilnya cepat keluar makanya aku lakukan uji di sana." kilahnya dengan mu\=imik wajah yang kesal karena saat baru saja Dara membuka pintu kamarnya, Yoga menarik istrinya keluar tanpa basa basi atau izin pada dirinya.


"Ikut aku dek!" ucap Yoga menarik tangan Dara sekuatnya agar adik perempuannya itu mengikuti langkahnya menjauh dari kamar tidurnya tempat kini Bagas terdiam menahan kesal dan marah, kalau saja Yoga bukan kakak dari istrinya, sudah dipastikan kakak iparnya yang jauh lebih muda darinya itu akan babak belur di hajarnya, karena membawa istrinya begitu saja tanpa pamit.


"Dek, apa yang di katakan para pelayan di bawah itu benar kalau mbak Kamila di usir suami mu pergi dari sini?" tanya Yoga dengan segala ke kepoannya yang tingkat dewa.


"Iya, ada apa memangnya, kak?" heran Dara karena kakaknya terlihat se heboh itu mendengar berita yang harusnya tak ada sangkut pautnya dengan dirinya itu.


"Lantas tentang gosip kalau bayi yang di kandungnya bukan anak tuan Bagas?"


"Itu bukan gosip kak, tapi memang kenyataan, karena mas Bagas sudah membuktikannya dengan hasi tes uji DNA, dan memang terbukti anak itu memang bukan anaknya mas Bagas." terang Dara.


"Aduh, cilaka,,,,!" Yoga menepuk jidatnya sediri dan meremas rambutnya seperti kebingungan.


"Apanya yang cilaka?" tanya Dara dengan kedua alis yang bertaut karena merasa sangat bingung dengan tingkah random kakak laki-lakinya itu.


"Sepertinya itu anak ku, dek!" ujarnya lemas.


"APA?!" teriak Dara.

__ADS_1


__ADS_2