
Dara terlihat mondar-mandir dengan raut wajah sangat gelisah di teras paviliun, menantikan kakaknya yang tak kunjung pulang meski hari sudah semakin larut.
Tadi saat pulang dari rumah sakit, Bagas memaksa Dara untuk membeli beberapa keperluan bayi, karena menurut prediksi dokter, jagoan mereka akan lahir sekitar satu bulan lagi, sementara mereka belum ada persiapan sama sekali, maka jadilah ada acara shopping di toko bayi, meski Dara berulang kali menolak, namun Bagas tetap bersikeras, dengan dalih dia ingin membelikan untuk anaknya, akhirnya Dara tak bisa berkata apa-apa, karena memang benar adanya, Bagas membelikan semua barang-barang yang sangat banyak itu tak lain untuk keperluan anaknya, bagaimana mungkin Dara menolak seorang ayah yang ingin membelikan sesuatu untuk anaknya.
Karena acara shopping mendadak itu, sore hari mereka baru sampai pulang ke rumah, baru saja Bagas mendudukan diri di kursi karena merasa lelah seharian berputar-putar di toko bayi, Anwar langsung menghampirinya, memberikan kabar tentang apa yang terjadi pada Kamila tadi pagi selepas tuannya pergi ke rumah sakit bersama Dara, termasuk juga menceritakan tentang Yoga yang menyusul Kamila yang di bawa pergi ayahnya, namun mereka berdua belum juga pulang sampai sore itu.
"Tuan, apa tidak sebaiknya tuan mencari keberadaan mereka berdua, ini sudah hampir pukul sebelas malam, aku takut terjadi apa-apa pada kakak ku." ucap Dara terlihat sangat cemas, tentu saja jika bukan karena kakak laki-lakinya yang juga ikut menghilang, dia tak akan se cemas itu.
Namun anehnya raut wajah Bagas justru terlihat biasa saja, tak ada kesan khawatir atau was-was karena mendapat kabar istrinya di bawa pergi oleh Jamal, dan sampai saat itu belum juga ada kabarnya.
"Aku sudah mengutus Panji dan beberapa anak buah ku untuk mencari Yoga, mungkin dia hanya berteduh dan menunggu hujan reda, sudah lah jangan terlalu tegang, kasian yang ada di perut mu itu lho, semoga sebentar lagi kakak mu pulang." jawab Bagas, pandangan matanya tertuju pada perut buncit Dara.
Sejak tadi siang memang hujan turun dengan lebatnya, bahkan sampai malam ini masih gerimis.
"Semoga saja Yoga benar-benar hanya berteduh menunggu hujan reda dan tak terjadi apa-apa padanya." gumam Dara seraya mengusap-usap perutnya menyembunyikan kegusarannya.
Dan apa Dara tak salah dengar?sejak tadi yang di bahas Bagas hanya kakaknya saja, tak sekalipun suaminya itu menyebut nama Kamila, atau karena merasa tak enak hati karena di depan dirinya, jadi pura-pura tak peduli? batin Dara.
"Apa anda tak merasa cemas karena istri anda menghilang dan belum juga kembali?" tanya Dara hati-hati, meski sangat takut untuk menanyakan hal itu, tapi dirinya juga penasaran.
"Dia sudah pernah menghilang selama hampir 5 tahun lamanya, namun dia kembali dengan sendiriya, jadi aku rasa, aku telah cukup terbiasa." jawab Bagas santai.
"Apa saat aku menghilang selama 8 bulan kemarin juga tuan setenang ini, dan tak merasa cemas?"
Entah keberanian dari mana dan rasa percaya diri dari mana datangnya tiba-tiba Dara mempertanyakan hal itu pada suaminya.
"Kau boleh tanya Panji atau orang-orang sekitar villa di Bali, atau orang-orang pelabuhan tempat kamu menghilang, setiap minggu aku datang ke sana dan mencari mu seperti orang gila, kau juga boleh bertanya pada orang tua mu atau tetangga mu di kampung, dua kali dalam sebulan aku pasti datang kesana untuk mencari kabar mu, berharap kamu pulang dan ada di sana." beber Bagas.
Sungguh Dara sangat ingin tidak percaya dengan apa yang baru saja Bagas katakan, namun melihat betapa Bagas sangat serius mengatakan itu semua bahkan di sertai membawa nama-nama dan pihak-pihak yang tak mungkin berbohong, hal itu hanya mampu membuat Dara terdiam membisu tak dapat berkata-kata apapun lagi.
__ADS_1
Batinnya saling bertentangan dan bergejolak, separuh hati percaya dan separuhnya lagi merasa itu hanya akal-akalan Bagas saja untuk mengambil simpatinya.
"Tuan, mereka sudah pulang!" lapor Anwar setengah jam kemudian.
"Apa mereka baik-baik saja? Tidak terjadi apa-apa dengan kakak ku? Dimana kakak ku, aku ingin menemuinya!" heboh Dara.
"Dara, ini sudah tengah malam, sebaiknya kamu beristirahat, besok saja kalau mau menemui kakak mu!" cegah Bagas.
"I-iya, Ta-tapi---" Dara terbata, dia sangat tergugu, sekian lama menjadi istrinya Bagas, baru kali ini dia mendengar Bagas memanggil namanya dengan benar, biasaya pria itu hanya memenggilnya dengan sebutan hey, kau, seperti sangat alergi jika menyebut namanya.
"Mereka baik-baik saja nyonya, benar dugaan tuan, mereka berteduh dan menunggu hujan reda."terang Anwar.
"Ayo masuk kamar dan tidurlah!" titah Bagas lagi.
"Apa anda tak ingin menemui istri anda, dan memastikan keadaannya?" entah apa maksud Dara bertanya seperti itu, hanya saja dia ingin memastikan sikap Bagas saja.
"Ah, sadarlah Dara, dia seperti itu hanya karena kau sedang mengandung anaknya, jika tidak, maka akan kembali seperti di awal pernikahan mereka yang penuh dengan drama menyakitkan.
Keesokan paginya Dara berikeras meminta sarapan di rumah utama, dia tak sabar ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang keadaan kakak laki-lakinya, meskipun sebenarnya dia bisa saja memanggil Yoga untuk datang ke paviliun, namun entahlah Dara inginnya seperti itu, terkadang keinginan ibu hamil itu sering aneh-aneh.
"Wah wah wah, ada angin apa tuan dan nyonya besar ikut sarapan di sini, apa kalian sengaja ingin pamer kemesraan pada semua orang?" sinis Kamila saat dirinya menyadari kalau Bagas dan Dara kini sudah berada di meja makan untuk makan bersama dengan dirinya, bahkan saat Dara belum kembali ke rumah itu pun, Bagas sudah sangat jarang sarapan di meja itu bersamanya, dia lebih senang menyantap sarapanya sendirian di paviliun atau sarapan di kantor.
"Rumah ini adalah milik ku, semua bagian dari rumah ini bebas untuk aku ataupun Dara pakai, jadi apa masalahnya dengan mu?" jawab Bagas dengan mode garangnya.
Suasana sarapan pagi itu di awali dengan ketegangan yang terjadi antara Bagas dan Kamila, membuat para pelayan menjadi agak ketakutan, sudah lama mereka tak merasa senam jantung seperti waktu-waktu dulu dimana Bagas masih sering mengamuk.
"Tuan, sudah lah.Aku hanya ingin melihat keadaan kakak ku saja, jika kira-kira akan menjadi sumber keributan, aku kembali ke paviliun saja!" ucap Dara merasa tak enak hati.
"Aku baik-baik saja dek! Lihatlah, aku sehat dan tak kurang suatu apapun!" Yoga muncul di waktu yang tepat, sehingga Dara mengurungkan niatnya untuk kembali ke paviliun.
__ADS_1
"Syukurlah kak, lain kali jangan buat hawatir ya, ponsel kakak juga tak bisa di hubungi." ujar Dara sambil terus menelisik keadaan wajah dan tubuh Yoga, memastikan kembali jika kakaknya itu benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
"Ponsel ku mati, dek. Aku lupa ngisi daya." jawabnya cengengesan.
"Bagas, apa kamu tak ingin bertanya keadaan ku? Apa kamu juga tak ingin bertanya apa yang terjadi pada ku kemarin? Bahkan kamu juga tak bisa aku hubungi." rengek Kamila manja.
"Anwar sudah menceritakan semua yang terjadi, lantas untuk apa aku bertanya lagi." ucapnya asal.
"Cih, Anwar,,,, tau apa dia, melihat ku di bawa paksa oleh ayah ku saja dia tak peduli dan hanya menonton, seolah itu tontonan menarik bagi babu kesayangan mu itu!" kesal Kamila.
"Tutup muluit mu, jelas dia lebih aku percaya di bandingkan ucapan mu, dan sekali lagi kau mengatakan dia babu, maka kau yang akan ku jadikan babu di sini!" gertak Bagas.
Sontak saja itu membuat Dara sangat kaget, bagaimana bisa Bagas yang sebelumnya dia ketahui sangat terobsesi dan tergila-gila dengan Kamila sampai seluruh dinding di rumahnya berhiaskan foto wanita tercintanya itu, namun kini terlihat berubah 180 derajat, sunguh tidak dapat di percaya, apa mungkin pikiran Bagas sudah benar-benar gila karena dia menjadi tiba-tiba bersikap kasar pada Kamila dan menjadi sangat baik dan manis padanya, pikirnya.
Dara tak tau kalau sebenarnya hubungan Bagas dan Kamila sudah tak sebaik dulu semenjak Bagas mengetahui prilaku menjijikan Kamila yang sering bermain dengan banyak pria-pria muda di luar rumah.
"Tuan, ada mobil pengirim barang belanjaan anda kemarin, mau di simpan dimana?" sela Anwar menginterupsi.
Kamila melongok ke luar jendela ruang makan dimana langsung tembus ke parkiran depan taman belakang.
"What, mereka belanja satu mobil box penuh?" gumamnya dalam hati sambil menahan rasa kesal.
"Untuk sementara masukan ke kamar Dara di rumah utama, dan satu lagi, turunkan semua foto dan hiasan dinding yang ada di rumah utama ini, aku akan merombak total tatanan rumah dan mengecat ulang semua ruangan, untuk menyambut kelahiran putra ku." titah Bagas.
"Bagas, apa-apaan kau ini, itu berarti kau akan menurunkan foto-foto ku?" protes Kamila membelalak, sejak awal mereka pacaran, Bagas yang bucin pada Kamila itu sudah terbiasa menempelkan foto-foto Kamila di setiap sudut rumahnya, bahkan ada beberapa foto yang mereka pasang bersama.
"Bukan hanya foto-foto mu, tapi semua hiasan dinding yang ada di rumah ini, apa kau tak bisa mendengarnya!?" ketus Bagas, membuat Kamila semakin menyimpan dendam kesumat pada Dara yang dia yakini bahwa semua ini tak lepas dari hasutan Dara dengan tujuan untuk menyingkirkan dirinya.
"Oke, kita lihat siapa yang akan tersingkir dari rumah ini nantinya!" geram Kamila dalam hatinya menatap tajam ke arah Dara yang merasa canggung dan tak enak hati karena telah menyebabkan keributan di pagi ini.
__ADS_1