
"Jadi seperti itu rencana mereka,Tuan." Urai Panji melaporkan hasil penyelidikannya.
"Baik, kita tunggu saja aksi mereka. Dan ingat, jangan sampai istri ku tau tentang masalah ini, aku tak mau dia semakin merasa tak enak hati pada ku atas apa yang terjadi, apalagi ini sepertinya akan sangat fatal akibatnya." Bagas mengakhiri pembicaraannya dengan Panji di telepon, karena tak ingin apa yang di bicarakannya sampai terdengar oleh Dara, sementara tanpa dia ketahui, Dara yang tadinya berniat mengantarkan kopi untuk suaminya itu tak sengaja mendengar semua pembicaraan suaminya dengan asisten pribadinya di telepon.
Bukan Dara namanya jika dia tak merasa penasaran dan semakin tertantang dengan sikap diam-diam Bagas itu, seemakin suaminya merahasiakan semua itu darinya, maka semakin tinggi rasa penasaran dirinya untuk mengetahui apa yang tengah suaminya dan Panji hendak rencanakan.
Bagas agak sedikit gugup saat Dara tiba-tiba datang ke teras belakang tempat dirinya kini duduk sambil mengajak main putra mereka, dalam hatinya bertanya-tanya apakahbDara mendengar percakapannya dengan Panji, namun Dara sangat pintar menyembunyikan perasaan kepo dan penasarannya, dia bisa bersikap biasa saja seolah kalau dirinya baru datang dan tak tau menahu tentang apa yang kini sedang di khawatirkan oleh suaminya itu.
"Terimakasih sayang," seperti halnya Dara, kini Bagas pun berusaha bersikap se normal mungkin, dalam hal ini mereka berdua sama-sama berpura-pura dengan maksud dan tujuan mereka masing-masing.
Dara menggangguk kecil seraya tersenyum sangat manis pada suaminya, wanita itu lantas menyibukan diri dengan cerceloteh dan bergurau dengan putra kesayangannya untuk mengalihkan perasaannya.
"Sayang, nanti malam sepertinya aku akan lembur, mungkin besok aku baru akan pulang, jadi tak usah menunggu ku malam ini." Ujar Bagas di sela menyeruput kopi panasnya sore itu.
__ADS_1
"Lembur?" Tanya Dara, semenjak dirinya kembali ke rumah itu, rasa-rasanya Bagas sudah tak pernah lagi lembur, bahkan pulang agak telat saja dia sudah jarang, selalu tepat waktu, katanya dia selalu kangen degan anak dan istrinya, tapi mengapa tiba-tiba dia izin untuk lembur malam ini, apalagi dia mengatakan untuk tak menunggunya karena baru akan pulang keesokan harinya, ini terlalu aneh dan membuat Dara curiga.
"Iya sayang, ada beberapa pekerjaan yang harus aku dan Panji selesaikan, mungkin Anwar juga akan ikut membantu pekerjaan ku di kantor agar semuanya cepat selesai dan aku bisa cepat pulang bertemu kamu dan Kai lagi." Tangan Bagas menggusak lembut pucuk kepala istrinya
Yang kini semakin bertanya tanya dan merasa semakin curiga.
"Anwar?"
"Iya Anwar, dia biasa membantu ku pekerjaan kantor dulu, jadi dia lumayan bisa semakin memperingan pekerjaan nanti malam."
"Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu tak keberatan, kan kalau malam ini aku tinggal lembur?" Bagas menundukan kepalanya dan memandang lekat wajah istrinya yang pandangannya mulai kosong.
"Ah, i-iya,,, tentu saja, aku tak apa-apa, hanya saja agak sedikit aneh, sudah lama kamu tak lembur, dan aku juga sudah lama tak pernah di tinggal lama oleh mu, jadi rasanya agak aneh dan sedikit kaget saja. Tapi aku tak apa-apa, toh kamu pergi buat bekerja, dan aku percaya pada mu, aku doakan semoga semua urusan mu lancar dan beres." Sedikit kaget karena dirinya sedang melamun, dan akhirnya kata-kata itulah yang meluncur dari bibirnya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, do'a istri yang baik seperti mu pasti di dengar Tuhan, dan akan menjadi penyemangat juga pelindung buat ku." Bagas mengecup kening istrinya dalam, sungguh tak ada niat di diri Bagas unuk membohongi istrinya itu, tapi semua ini harus dia lakukan demi kebaikan istrinya.
Pukul 6 sore Panji sudah datang ke rumah, Anwar juga sudah siap menunggu tuannya di lantai bawah, sementara Bagas masih berada di lantai atas, berpamitan dengan istri dan anaknya.
"Mas,,, hati-hati! Jaga diri, ingat aku dan Kai menunggu mu pulang!" Ucap Dara saat melepas kepergian suaminya di teras rumah.
"Oh ayolah sayang, aku hanya akan lembur di kantor, jangan terlalu berlebihan!" Bagas menyeringai dan menertawakan istrinya yang terlihat khawatir seperti istri prajurit yang hendak di tinggal p[erang.
Dara hanya tersenyum simpul, matanya bahkan kini berkaca-kaca saat Bagas sudah mulai masuk ke dalam mobil di susul oleh kedua asisten setianya.
Terserahlah mau di katakan lebay, atau berlebihan atau apapun, namun dirinya saat ini memang sedang merasa sangat khawatir dengan kepergian suaminya kali ini, bagaimana tidak, saat tadi suaminya bersiap di walk in closet kamar mewah mereka, tanpa sengaja Dara melihat Bagas menyelipkan sepucuk senjata di balik jaket kulit coklat tua yang kini di kenakannya, jantung Dara kini bahkan berdetak sangat kencang, menebak-nebak apa yang akan dilakukan suaminya malam ini, selain itu, wajah Panji dan Anwar pun terlihat sangat tegang sore itu, tak seperti biasanya yang selalu bersikap serius tapi santai, membuat pikirannya semakin mengembara ke mana-mana.
Suara hatinya bahkan kini terbagi menjadi dua kubu yang bersebrangan, dimana satu sisi mengatakan kalau sebaiknya Dara menyusul dan memastikan sendiri apa yang akan di lakukan Bagas malam ini, namun di sisi lain hatinya emaksanya untuk mempercayakan semuanya pada sang suami untuk mengurus apapun itu permasalahannya, apalagi dia sudah di dampingi oleh dua asisten setianya, dia hanya perlu bedoa untuk keselamatan semuanya di rumah.
__ADS_1
Sungguh dua suara yang sama-sama mendominasi dalam hatinya itu membuat dirinya di landa kebingungan yang teramat sangat, suara mana yang harus dia pilih dan dia turuti.