Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Anak Bapaknya


__ADS_3

Dara terlihat agak gelagapan saat di tanya hal seperti itu, jujur saja dia belum punya jawaban untuk pertanyaan Bagas yang satu itu, dia merasa belum saatnya membuka mulut tentang apa yang di alaminya, meski kecurigaannya mengarah kuat pada Kamila, namun Dara belum punya bukti yang lebih kuat selain feelingnya. Apalagi saat ini Kamila juga sedang mengandung, sebagai sesama perempuan yang juga sudah pernah mengalami masa-masa sulit kehamilan, dia tak ingin memberi tambahan kesusahan bagi Kamila, terlebih dia kini menjalani kehamilannya seorang diri tanpa di pedulikan oleh Bagas, masih beruntung dirinya yang saat masa kehamilan awal di rawat oleh Faisal yang berbaik hati merawatnya dengan penuh kesabaran.


Di tengah kebingungan Dara mencari jawaban untuk pertanyaan Bagas yang lumayan sulit untuk di jawab olehnya, tiba-tiba teriakan perawat Kamila terdengar begitu nyaring sehingga membuat seisi rumah berhamburan menuju kamar Kamila, tak terkecuali Dara dan di susul oleh Bagas yang meski langkahnya terlihat agak sedikit malas, namun dirinya lumayan penasaran juga dengan apa yang membuat Yati, perawat yang di percaya untuk mengurus semua kebutuhan Kamila itu berteriak histeris.


Para pelayan yang kepo dan berkerumun di muka pintu kamar Kamila, langsung minggir dan memberikan jalan saat Bagas tiba di sana, dari pintu yang terbuka lebar itu terlihat Yati yang sedang berusaha mengangkat tubuh Kamila yang tergeletak di lantai, dengan susah payah, badan Yati yang kecil sungguh kepayahan mengangkat tubuh Kamila.


"Mas," Dara mencolek lengan Bagas, seraya memberinya kode untuk membantu mengangkat tubuh Kamila.


Bagas yang sejak tiba di ambang pintu seperti terkena sawan, hanya terlihat bengong langsung berjalan menghampiri Kamila dan membopong tubuh mantan kekasihnya itu dengan mudahnya.


"Nyonya Kamila tiba-tiba pingsan tuan, maafkan keteledoran saya!" Yati terisak dengan panik mengekor langkah kaki Bagas yang berjalan menuju ke luar kamar sambil menggendong tubuh Kamila.


"Aku akan membawa dia ke rumah sakit, kamu baik-baik di rumah, aku tak akan lama," langkah Bagas terhenti sebentar saat dirinya melewati tubuh Dara yang juga sedang berdiri di depan pintu kamar Kamila, setelah mendapat anggukan dari Dara, Bagas melanjutkan langkahnya, sekarang tak hanya Yati yang mengekornya, namun juga Anwar yang sudah siap dengan kunci mobil di tangannya.


"Ada apa dek? Kenapa mbak Kamila di bopong seperti itu?" Yoga yang baru saja datang dari luar terlihat bingung melihat kerumunan orang di depan pintu kamar Kamila, terlebih saat melihat Kamila di gendong keluar kamar oleh Bagas.


"Kamila pingsan, kak" jawab Dara singkat, dia buru-buru berjalan menuju kamarnya karena takut kalau Kaisar terbangun di kamarnya.


"Pingsan? Pingsan kenapa? Mbak Kamila sakit?" tanya Yoga lagi yang terus mengekor langkah Dara menuju kamarnya di lantai atas.


"Dia sedang hamil, mungkin daya tubuhnya sedang lemah, di tambah lagi kata perawatnya dia tidak mau makan," terang Dara sambil melongok ke boks bayi tempat Kaisar yang ternyata masih terlelap.


"Hamil? Anak tuan Bagas? Bukannya mereka sudah---" selidik Yoga yang kini mirip seperti ibu-ibu sedang bergosip saat acara dasawisma di kampung.

__ADS_1


"Ish,,, apa sih kak, itu bukan urusan kita!" tepis Dara yang kini justru entah mengapa malah terbayang-bayang saat Bagas menggendong Kamila, ada sedikit rasa sakit seperti di cubit di dalam dadanya saat melihat itu, namun juga ada rasa bersalah, memikirkan kemungkinan jika anak itu benar-benar benih dari Bagas, dia merasa menjadi perusak kebahagiaan yang seharusnya mereka peroleh dan kini terenggut olehnya.


Dara merasa dirinya hadir karena ketidak sengajaan dan tidak di inginkan sama sekali oleh Bagas, namun ternyata malah membuat cinta aslinya pada Kamila terpaksa harus kandas akibat pria itu terjebak dalam pernikahan dengan dirinya yang melihat sosok Kamila pada dirinya karena kemiripan wajah mereka.


Terkadang Dara sering berpikir, apa sikap Bagas akan sama manis dan baiknya seperti sekarang ini jika wajahnya tak mirip dengan Kamila? Siapalah dirinya yang hanya wanita kampung dan pegawai pabrik rendahan.


"Dek, kok malah ngelamun!" tegur Yoga saat mendapati adiknya malah memperlihatkan tatapan kosongnya ke arah pintu balkon kamar yang terbuat dari kaca tembus pandang.


"Eh iya kak, tadi kakak tanya apa? Anak siapa? Ya anak bapaknya lah, kak!" seloroh Dara tak ingin memperpanjang percakapan tentang siapa ayah dari bayi yang di kandung Kamila saat ini.


"Ih, nenek-nenek juga tau kalau itu anak bapaknya, maksud ku siapa bapaknya, soalnya meenurut gosip yang beredar di kalangan para pelayan, anatara mbak Kamila dan suami mu itu sudah lama tak tinggal bersama," kata Yoga kesal dengan jawaban asal Dara yang terkesan menutup-nutupi.


"Ya mana ku tau kak, aku gak ikut saat Kamila bikin anaknya!"


**


Sementara di rumah sakit,


Bagas menunggui Kamila yang sedang di periksa di dalam ruangan, tak nampak wajah cemas sedikitpun pada wajah Bagas, tak seperti saat dirinya menunggui Dara di rumah sakit yang sama, pria itu selalu terlihat gusar dan tak ingin jauh dari Dara barang semenit pun.


Pria itu sejak tadi hanya memerhatikan layar ponselnya sambil sesekali menuliskan sesuatu di sana, dia baru berhenti dalam kegiatannya itu saat dokter yang memeriksa Kamila menghampirinya.


"Kandungannya sangat lemah, istri anda harus bed rest, selama beberapa hari di rumah sakit." ucap dokter kandungan yang baru saja selesai memeriksa Kamila.

__ADS_1


"Hem, lakukan saja sebagaimana baiknya, sesuai prosedur, aku ikut saja." jawab Bagas, tak berminat sedikitpun untuk bertanya ini itu tentang bagaimana kondisi Kamila atau janin dalam perutnya, dia seolah hanya melakukan itu tanpa perasaan apapun.


"Bagas, mau kemana?" tanya Kamila yang kini sudah berada di ruang rawat.


"Kata dokter kau hanya perlu istirahat dan makan yang benar juga teratur, tak ada sesuatu yang perlu di cemaskan, aku mau pulang, istri dan anak ku menunggu di rumah." jawab Bagas yang terasa bagai sayatan pisau di hati Kamila, selalu saja Dara dan anaknya yang menjadi pusat perhatiannya, bahkan saat dirinya tergolek lemah seperti ini.


"Tapi dia juga anak mu, dia juga ingin di perhatikan oleh mu, sama seperti kamu memperhatikan anak mu yang lain, masih di dalam perut saja sudah pilih kasih, bagaimana nasibmu kelak saat sudah lahir, nak. Ayah mu bahkan menemani mu saja tak mau!" Kamila mengusap usap perutnya yang masih tampak rata.


"Kamila tolong jangan mulai perdebatan lagi, aku lelah!"


Tangan Bagas terkepal menahan amarahnya, rahangnya mengerasa dengan kedua matanya yang terpejam, dia tak ingin bertengkar dengan Kamila di rumah sakit, dia juga sedikit memberi wanita itu toleransi karena dia sedang sakit, jadi dia tak ingin terlalu kasar padanya.


"Saat anak pertama mu dalam kandungan wanita itu kamu tak mengurusinya, dan kamu merasa menyesal, bukan? Lantas sekarang akan mengulanginya di anak mu yang kedua, jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya, Bagas!" ucap Kamila dengan berani.


"Cih, belum tentu itu anak ku, belum ada yang membuktikan kalau itu anak ku!" tentang Bagas dengan segala argumennya.


"Lantas bagaimana kalau ini benar anak mu? Bagaimana perasaannya kalau sampai kelak dia tahu bahwa ayahnya sendiri pernah mengabaikan dirinya saat dalam kandungan ibunya, dan lebih parahnya lagi dia pernah di ragukan sebagai darah daging nya, bisa kamu bayangkan bagaimana sakitnya dia, kamu akan di hantui penyesalan sampai kamu mati?" ujar Kamila berusaha mempengaruhi pikiran Bagas saat ini.


Sepertinya usaha Kamila itu bisa di katakan setengah berhasil, karena mampu membuat Bagas terdiam beberapa saat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, namun lantas dia tetap keluar dari kamar rawat Kamila tanpa sepatah kata pun, meski Kamila memanggilnya berulang kali dengan teriakan memilukan, membuat Kamila merasa putus asa dengan karena semua usahanya terasa sia-sia saja, Bagas tetap tak mau dan tak memperdulikan dirinya.


Selang beberapa menit berlalu, pintu kamar tempat Kamila di rawat terbuka kembali dari luar, sosok Bagas kembali ke dalam ruangan itu, Kamila yang saat itu masih nangis sesenggukan akibat merasa benar-benar telah kehilangan Bagas dan tak mungkin akan bisa menggapainya kembali, langsung terperangah dan hampir tak percaya kalau ternyata Bagas kembali menemuinya dan kini bahkan sudah duduk di kursi di samping ranjang tempatnya berbaring.


Ini benar-benar bagai mukjijat dan keajaiban serta anugerah terbesar yang Kamila dapatkan, Bagas benar-benar telah kembali dan kini nyata di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2