
Tak seperti biasanya, hari ini Kamila terlihat tak banyak bicara ataupun bertingkah aneh, saat sarapan dan Dara melayani dirinya dan Bagas pun dia tak berulah sama sekali, membuat Bagas merasa yakin akan 'aman' jika meninggalkan Kamila di rumah dan tak harus menjauhkannya dari Dara karena di anggap membahayakan, dan bisa saja mencelakai Dara
Itulah anehnya Bagas, meski dirinya acap kali menyiksa Dara, namun dia tak terima dan tak akan membiarkan jika ada orang lain yang mencoba menyakiti istrinya itu. Benar-benar egois!
"Kemana rencana mu hari ini, sayang?" tanya Bagas penasaran.
"Aku di rumah saja hari ini, aku lelah kemarin seharian berbelanja dengan mu." ucapnya datar namun sengaja di ucapkan agak keras agar Dara yang juga istri Bagas namun diperlakukan bak pembantu di rumah itu mendengar perkataannya.
Sayangnya ucapan Kamila itu hanya terasa bagai angin lalu di telinga Dara, boro-boro iri atau cemburu, dia bahkan tak peduli, malahan kalau boleh jujur dia merasa senang jika Bagas sering pergi berdua dengan Kamila, apalagi jika hubungan mereka kembali menghangat, bukankah itu artinya dirinya akan lebih cepat terbebas dari jeratan Bagas.
Bagas tau kalau Kamila mencoba memanasi istri pertamanya itu, namun hatinya terasa sangat kesal saat dari ujung matanya dia melihat ekspresi Dara yang seolah tampak biasa-biasa saja, sungguh dia mengharapkan kalau Dara merasa kesal atau cemburu saat mendengar dirinya bersama Kamila, namun apa yang dilihatnya malah Dara lebih terlihat masa bodoh dengan itu semua.
"Sayang, besok aku ada perjalanan dinas selama tiga hari, apa kamu mau ikut? kita bisa sekalian honey moon." ujar bagas pada Kamila, meski tatapan ujung matanya tetap mencuri pandang pada Dara yang sibuk menyiapkan sarapan untuk suami dan madunya seolah sedang melayani majikannya.
"Aku mau, mau banget, terimakasih sayang!" Kamila beranjak dari tempat duduknya dan mencium pipi suaminya bertubi-tubi.
Dara yang sedang berdiri di samping Bagas hendak memberikan kopi segera memalingkan wajahnya, muak sekali rasanya melihat pemandangan menjijikan seperti itu.
"Kenapa, apa kau ingin ku ajak juga?" tegur Bagas saat Dara memberikan cangkir berisi kopi dengan wajah yang kecut padanya.
"Tidak tuan, terimakasih," jawabnya dingin, menusuk sampai ke ulu hati Bagas yang merasa kelu mendengar jawaban dari Dara.
Bukan jawaban seperti itu yang ingin Bagas dengar sebenarnya, dia berharap Dara akan merengek untuk minta ikut bersamanya, namun dia salah, tak ada perasaan apapun di hati Dara untuknya selain perasaan benci, jadi jangan harap hal-hal seperti itu akan terjadi padanya.
__ADS_1
Mungkin Bagas mengira kalau degan ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya, semua wanita akan dengan mudahnya bertekuk lutut di hadapanya, namun Bagas lupa, sekejam apa dia memperlakukan Dara selama ini, sehingga meskipun Dara berasal dari kalangan yang kurang mampu, dia tak akan pernah silau dan tergoda oleh harta Bagas, pria yang setiap saat selalu menyiksanya dan mengata-ngatainya dengan kasarnya.
Bagas tersenyum sumir, egonya terluka karena penolakan Dara, membuatnya semakin merasa tak ingin melepaskan istri pertamanya itu dan berniat untuk terus menyekapnya dalam kehidupannya, entah sebagai apa.
"Tapi kau juga harus ikut!" titah Bagas membuat raut wajah Kamila yang justru kini berubah kesal dan kecewa karena tiba-tiba saja Bagas memutuskan untuk mengajak Dara juga, padahal tadi di awal Bagas hanya mengajaknya, dan niatnya mengajak dirinya untuk berbulan madu, namun ternyata di akhir cerita dia malah mengajak istri kumalnya itu.
"Ta-tapi tuan, bukannya itu acara bulan madu anda dengan istri anda, bukankah sebaiknya anda berangkat berdua saja." tolak Dara, sumpah demi apapun, dia tak ingin ikut pergi bersama mereka, karena dia sudah bisa dipastikan tak akan ada secuil pun kebahagiaan untuk dirinya disana, selain menjadi bulan-bulanan pasangan gila itu.
"Tidak ada kata tapi, dan jangan mengatur ku, paham!" sentak Bagas membuat tubuh Dara berjingkat kaget saking kencangnya suara Bagas pagi itu.
**
Di bandara siang itu.
"Cepatlah, cara jalan mu itu seperti keong saja, lambat!" Bagas menarik dengan kasar barang bawaan dari tangan Dara dan memasukannya ke dalam bagasi mobil mewah sewaan untuk dipakai selama mereka di pulau dewata.
Mobil yang dikendarai langsung oleh Bagas itu sampai di sebuah villa di tepi laut yang sangat nyaman, dengan view lautan lepas yang membuat siapapun pasti akan merasa relaks dan betah berlama-lama di tempat itu.
"Sayang ini indah sekali, kamu tak pernah memberi tahu ku kalau kamu punya tempat seindah ini." Kamila berlari masuk ke area villa yang berkonsep modern namun tetap di beri sentuhan Bali yang cukup kental, dimana beberapa patung berjajar rapi menyambut mereka sebelum masuk pintu utama, lalu lukisan-lukisan eksentrik yang menghiasi dinding, membuat kesan eksotis villa itu semakin terasa.
"Sayang, aku mau kamar yang ini, yang langsung menghadap ke pantai," oceh Kamila membuat Bagas tak sadar tersenyum senyum sendiri, ternyata dia bisa bahagia juga saat melihat Kamila seantusias itu, dia teringat kembali saat-saat dulu mereka menjalani hari penuh kebahagiaan seperti ini, sebelum petaka itu akhirnya terjadi, kebangkrutan yang di alami perusahaan ayahnya, berakhir dengan penghianatan yang dilakukan oleh Kamila yang akhirnya mengharuskan mereka berpisah karena ternyata pria lain yang lebih kaya darinya lebih dipilih Kamila untuk dijadikan pendamping hidupnya.
"Ya, kamu boleh meminta apapun yang kamu mau, asal kamu tetap berada di sisi ku," lirihnya memeluk tubuh Kamila dari belakang, dan menciumi rambutnya, wangi itu masih sama seperti wangi lima tahun yang lalu yang selalu menjadi bagian favoritnya.
__ADS_1
Memeluk Kamila seperti itu membuat ingatannya kembali kemasa-masa itu, masa dimana mereka masih berpacaran, sehingga sejenak membuat Bagas melupakan Dara, sosok yang baru saja di kenalnya namun menguasai sebagian besar hati dan pikirannya.
Dara kini sedang duduk termenung sendirian di teras memandang hamparan lautan lepas, wanita itu tak berani melakukan kegiatan apapun di tempat itu sebelum ada perintah dari Bagas, salah-salah dia bisa di maki atau bahkan menerima kekerasan lagi jika dia melakuakan hal tanpa seijin suaminya itu, biarlah kali ini dia menikmati indahnya alam, melupakan kesedihannya untuk sementara waktu, lagipula, liburan seperti ini tak akan mungkin dia alami jika dia tak pergi bersama suami kejamnya itu, dinikmati saja, pikirnya.
"Kau, masuklah dan tunggu aku pulang, aku akan bertemu klien ku sebentar, setelah itu akan mengajak kalian makan di suatu tempat yang sangat bagus,"
Bagas yang sudah berpakaian rapi itu tiba-tiba sudah berdiri di belakanya, di temani Kamila yang selalu menempel seperti lintah pada Bagas.
"Kau bisa beristirahat, kamar mu di belakang, dekat ruang makan." lanjut Bagas, kemudian di angguki Dara yang langsung bergegas masuk dan menuju tempat yang tadi Bagas tunjukkan, sungguh badannya terasa sangat pegal dan ingin merebahkan badannya.
Belum ada sekitar tiga puluh menit dirinya merebahkan badan di kasur empuknya, terdengar suara ketukan di depan pintu kamarnya.
"Bagas menelepon ku dan meminta mu untuk mengantarkan dokumen penting ini ke tempat nya mengadakan pertemuan dengan kliennya." Kamila menyodorkan sebuah map yang sepertinya berisi beberapa lembar dokumen entah apa itu isinya.
"Tapi, aku tak tau dimana tempat pertemuan Bagas, dan aku juga tak tau darah sini, aku baru pertama kali datang ke Bali," tolak Dara yang memang tak tau seluk beluk Bali, boro-boro liburan ke bali, buat makan saja dia kesulitan.
"Ini alamatnya sudah ku tulis, kau bisa naik angkutan umum atau apapun, pakai lah otak mu untuk berpikir, Bagas meminta kau yang mengantarnya kesana, jadi cepatlah sebelum dia marah!" Kamila memberikan secarik kertas berisi sebuah alamat didalamnya.
Membayangkan amarah Bagas, Dara lantas buru-buru mengambil tas kecilnya yang berisi dompet dan ponselnya, lalu bergegas pergi ke alamat yang di tulis Kamila itu.
Kamila tersenyum iblis, lantas dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang,
"Dia menuju ke tempat mu, dan selamat menikmati," ucapnya dengan seringai jahat seiring berakhirnya pembicaraannya dengan seseorang di ujung telepon sana.
__ADS_1