
Dara menatap punggung Yoga yang semakin menjauh dan meninggalkan dirinya dalam diam, niat baik ternyata tak selalu berakhir atau di terima dengan baik pula, selain merasa sedih dan kesal, ada sejumput perasaan bersalah dan penyesalan dalam dirinya karena 'ngeyel' tak mau mengikuti apa kata suaminya kalau untuk membiarkan saja dulu Yoga dengan perasaannya saat ini, benar saja, bukannya mau mendengarkan apa yang di ucapkannya, kakak laki-lakinya itu malah seperti balik memusuhi dirinya.
Kalau sudah seperti ini, dia kini merasa kebingungan sendiri, karena keadaan malah semakin memburuk, kini Yoga memilih pergi dari rumah, sementara dirinya sudah di pastikan tak akan lagi bisa memantau kegiatan kakaknya yang bisa saja akan semakin tak karuan jika jauh dari rumah dan pengawasan dirinya.
"Mas, bagaimana ini," adu Dara pada suaminya yang baru saja menghampiri istri ngeyelnya itu.
"Sudahlah, tak usah terlalu di pikirkan, dari awal aku sudah bilang untuk serahkan saja semuanya padaku. Biar aku dan Panji yang mengurusnya, tugas mu hanya menjaga Kai dan mencintai ku." Bagas mengecup pipi istrinya yang kini terdiam dengan segala rasa bersalahnya.
"Maaf, tadinya aku hanya---" lirih Dara tertunduk lemah.
__ADS_1
"Aku tau kalau kamu hanya ingin berbuat baik, percayalah setiap perbuatan baik maka akan kembali pada diri kita sendiri, sekecil apapun itu, maka fokuslah untuk berpikir baik, berkata baik, berbuat baik dan tetaplah berhati baik, tak perlu takut akan balasan tidak baik dari orang yang kita tolong, tanamkan dalam hati mu bahwa kamu sedang berbisnis dengan Tuhan, karena berbisnis dengan Tuhan pasti untung. Satu kebaikan kamu akan mendapat seribu balasan kebaikan dari Tuhan." Urai Bagas panjang lebar, dia tak ingin istrinya menjadi berkecil hati dan pikirannya terbebani dengan dengan permasalahannyang terjadi pada pagi ini.
"Maafkan aku mas, maafkan aku yang tidak sabaran, yang mengutamakan ego, dan tidak pernah mendengarkan apa yang kamu katakan pada ku, aku salah dan aku berjanji akan menuruti semua yang kamu katakan mulai dari sekarang. Aku semakin yakin kalau Tuhan mengirimkan mu pada ku untuk melengkapi aku yang serba ceroboh dan ngeyel ini." Sesal Dara.
"Sayang, berhenti menyalahkan diri sendiri, tenang saja, ada aku yang akan membantu mu, selalu melindungi mu dan bersedia menjadi tempat untuk mu berkeluh kesah tentang apapun."
"Terimakasih mas, maafkan aku." Lirih Dara yang hanya bisa menundukan wajahnya di hadapan suaminya itu.
Di tempat lain Kamila sedang memarahi Yoga yang menceritakan kalau dirinya memutuskan untuk meninggalkan rumah Bagas dan berniat keluar dari pekerjaannya saat ini.
__ADS_1
"Dimana otak mu, bisa-bisanya kau dengan sombongnya keluar dari rumah mereka dan berniat keluar dari pekerjaan, punya apa kau? Bagaimana kau bisa memenuhi kebutuhan ku? Sementara masih bekerja saja kau belum mampu memenuhi semua keinginan ku, apa sih yang kau pikirkanj? Gengsi itu berlaku hanya untuk orang yang punya duit, pria kere seperti mu tak perlu gengsi-gengsian!" Kamila berceramah di pagi itu, darahnya seketika mendidih saat mendengar penuturan Yoga.
"Aku akan berusaha, dan aku yakin kalau aku pasti bisa, aku hanya tak mau kehidupan pribadi ku di usik dan di atur-atur oleh mereka, aku sudah muak dengan gaya mereka yang selalu seolah karena mereka punya segalanya lantas mereka bersikap senaknya dan semena-mena pada ku, sampai urusan pribadi ku saja mereka atur dan ikut campur." Yoga masih bersikukuh dengan pendapatnya dan pendiriannya untuk keluar dari rumah Bagas dan juga keluar dari perusahaan meski jujur saja sampai saat ini dirinya juga belum mempunyai bayangan akan tinggal dimana dan bekerja apa, mungkin untuk tempat tinggal dia berharap bisa ikut tinggal bersama Kamila di rumah petaknya, namun untuk pekerjaan, jujur sampai saat ini dia belum punya rencana sama sekali.
Namun saat melihat bibit-bibit kebencian di diri Yoga ada Dara dan Bagas terlihat sangat jelas, tiba-tiba Kamila tersenyum culas, sebuah rencana besar dan sudah barang tentu licik terbersit dalam benaknya, rencana yang bisa mewujudkan semua keinginannya, menjadi kaya, membalas dendam pada Bagas dan Dara, yang lebih menguntungkan lagi baginya, dia tak perlu mengotori tangannya sendiri untuk melakukan semua itu, karena Yoga bisa menjadi alat untuk mewujudkan semua itu.
"Aku akan mengizinkan mu tinggal di sini, dan juga akan setuju dengan keputusan mu keluar dari pekerjaan mu yang sekarang ini, tapi dengan satu syarat," ujar Kamila menatap tajam wajah Yoga yang saat ini sepertinya tak punya pilihan lain selain hanya bisa setuju dan mengikuti semua yang di perintahkan dan ucapkan Kamila agar demi dirinya bisa tetap bersama wanita yang ditengarai mengandung anaknya itu.
"Selama itu bisa membuat ku bisa bersama mu dan anak kita, apapun itu akan aku lakukan, seberat apapun syaratnya, akan aku jalankan." Ucap Yoga dengan lugas dan penuh keyakinan.
__ADS_1
Kamila mendekat ke arah Yoga dan membisikan sesuatu, menguraikan tentang rencana busuk yang akan dan harus Yoga lakukan.