Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Suatu sore ketika hujan


__ADS_3

"APA?!" teriak Dara.


Mata wanita itu membelalak sempurna, dia sungguh syok dengan pengakuan kakak laaki-lakinya yang mengklaim kalau bayi yang di kandung Kamila bisa saja merupakan darah dagingnya, dan kalau itu benar, bukan kah berarti anak itu merupakan keponakannya? Akh,, kenapa jadi runyam begini seperti ini masalahnya, pikir Dara.


"Sssttttsss,,, jangan keras-keras kak, nanti tuan Bagas dengar," desis Yoga setengah berbisik seraya meletakan jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri, tak lupa matanya yang ikut sibuk melirik ke arah pintu kamar Dara, karena takut kalau Bagas tiba-tiba datang atau malah sedang mencuri dengar pembicaraan mereka secara diam-diam.


"Kenapa bisa begitu? Kak yoga dan Kamila berpacaran diam-diam?" secara spontan dan otomatis Dara pun mengecilkan suaranya dan ikut berbisik, entah mengapa dia juga jadi merasa takut kalau hal itu sampai di ketahui oleh suaminya.


Apa jadinya coba, jika sampai Bagas tau kalau bayi yang di akui Kamila sebagai anaknya itu ternyata merupakan anak dari kakak iparnya sendiri, Dara sungguh tak bisa membayangkan, selain takut, dirinya pun akan sangat merasa malu jika sampai hal itu di ketahui oleh Bagas, apa yang akan di katakan pada suaminya, sementara dalam hal ini dia tak bisa membela salah salah satu pihak, dia tak bisa memilih antara kakaknya dan suaminya, meski dalam hal ini Yoga pun salah.


"Aku dan mbak Kamila tidak berpacaran, hanya saja pada saat itu waktu aku menyelamatkannya dari ayahnya yang akan menjualnya pada pengusaha tua, pulangnya kami mampir ke pantai Anyer, dan di sana---"


Mata Yoga menerawang jauh, mengingat-ingat kembali kejadian hari itu,


*Flash back


Karena hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, Yoga memutuskan untuk membuka kamar di salah satu losmen sederhana di daerah sana, dia masih mempunyai uang lumayan banyak pemberian Bagas yang katanya untuk pegangan kakak iparnya itu agar Yoga tak menyulitkan Dara nantinya.


"HUjannya sepertinya akan lama,mbak, jadi kita menunggu di sini saja sampai hujan reda, lagi pula kita tak mungkin pulang menerobos hujanlebat begini dengan mengendarai motor, aku gak mau nantinya mbak Kamila sakit." ujar Yoga.


Tanpa berpikiran panjang dan berpikiran aneh-aneh, Kamila setuju saja, lagipula benar apa yang di katakan Yoga, dia pun tak akan sudi jika harus pulang dengan basah-basahan , perjalanan dari tempat mereka ke rumah pun lumayan agak jauh, tak mungkin untuk tetap memaksakan pulang.

__ADS_1


"Mbak, apa aku boleh bertanya?" yoga membuka pembicaraan saat mereka sedang duduk di dalam kamar sewaan mereka sambil menikmati kopi yang baru saja dia buat yang sudah di sediakan di dalam penginapan itu.


Kamila mengangguk pelan sambil menempelkan keedua telapak tangannya di permukaan mug untuk mencari kehangatan, hujan yang cukup deras menjadikan suhu ikut turun dan menjadi sangat dingin.


"Maaf, aku memperhatikan antara mbak Kamila dan tuan Bagas seperti tak pernah bertegur sapa, dan tak pernah terlihat bersama, kalau boleh aku tau, apa kalian ada masalah?"


"Apa urusan mu ingin tau masalah ku? Apa hidup mu kekurangan masalah?" ketus Kamila, dia terlihat tak suka saat Yoga mempertanyakan masalah pribadinya dengan Bagas, terlebih dia adalah kakak dari wanita yang sangat di bencinya, bisa saja dia akan menertawakan dirinya jika sampai dia terpancing menceritakan tentang Bagas yang sudah menceraikan dirinya dan satu-satunya alasan dirinya masih tinggal di rumah itu hanya karena belas kasihan Bagas atas dirinya yang memohon menjatuhkan harga dirinya di hadapan mantan suaminya itu agar tetap mengizinkannya untuk tetap tinggal di sana.


"Bu-bukan begitu maksud ku, mbak. Hanya saja, aku merasa heran dengan tuan Bagas, dalam keadaan istrinya seperti ini apa dia tia tidak merasa khawatir," gugup Yoga merasa tak enak hati karena sepertinya wanita di hadapannya itu tersinggung dengan pertanyannya.


"Bagas pria yang sangat perhatian dan sangat menyayangi ku, dulu. Ya,,, dulu sebelum adik mu datang dan menghancurkan semuanya, adik perempuan mu merebut dia dari ku, merebut perhatiannya, rasa sayangnya, sehingga aku tersisihkan." Urai Kamila, seolah melimpahkan semua yang terjadi pada dirinya saat ini adalah imbas dari kehadiran Dara yang sengaja merebut Bagas darinya.


"Maafkan adik ku, tapi bukan maksud ku mau membelanya, hanya saja,,, setahu ku, adik ku juga terpaksa menikah dengan tuan Bagas, dulu orang tua ku bahkan harus menipunya dengan pura-pura bapak sakit, agar Dara mau pulang dan menikah dengan suami mu." Urai Yoga lagi menceritakan bagaimana adiknya dulu bisa menikah dengan Bagas.


Yoga hanya bisa mengendikan kedua bahunya pelan, dan tak berniat melanjutkan pembicaraan yang sepertinya akan semakin membuat Kamila emosi itu, Yoga memilih untuk menutup rapat bibirnya lagi sambil melihat rintik hujan dari kaca jendela.


Duar,,,,!


Suara petir menyambar sangat kencang membuat Kamila terlonjak dan memeluk Yoga, dan bertepatan dengan itu, lampu kamar mati, sepertinya pihak losmen memiliki gangguan pada genset yang harusnya otomatis menyala saat saluran listrik terputus.


"A-aku takut," cicit Kamila yang memang mempunyai phobia kegelapan itu semakin menenggelamkan wajahnya di dada Yoga, pria yang beberapa tahun lebih muda darinya itu mendekap erat tubuh Kamila, mengusap-usap punggungnya untuk memberi ketenangan.

__ADS_1


"Tenanglah, aku di sini, aku di sini,,," ucap Yoga meyakinkan nKamila kalau dirinya akan menjaganya dan tak akan meninggalkannya, Kamila pun terlihat diam saja saat Yoga sesekali menciumi rambut panjang wanita yang sedang ketakutan di dalam dekapannya itu.


Belaian lembut dan ciuman-ciuman yang di daratkan Yoga di pucuk kepalanya justru malah mengundang hasrat Kamila yang sudah sekian lama tubuhnya tak tersentuh oleh lawan jenis, Kamila menengadah, di balik remang cahaya yang melesup masuk lewat kaca jendela kamar berukuran sekitar 5X5 meter itu, memperhatikan dan menatap wajah Yoga yang juga kini menunduk menghadap ke arah wajahnya, tanpa pikir panjang lagi Kamila langsung menyerang bbibir Yoga tanpa ampun, dirinya yang lama tak mendapat sentuhan hangat pria itu seakan merasa sangat 'lapar' dengan semua hal yang berbau kenikmatan duniawi itu.


Tak perlu di tanya lagi, meskipun awalnya Yoga merasa kaget, takut, dan canggung, namun pria yang memang penyuka wanita-wanita yang usianya di atasnya itu langsung menyambut dan membalas serangan Kamila dengan serangan yang tak kalah panasnya.


Sudah dapat di pastikan, kalau ujung dari pertempuran mereka berakhir di atas ranjang dengan pakaian yang sudah bercecer di lantai, hawa dingin karena hujan deras pun kini berganti dengan hawa panas di sekitar mereka, saat lampu kembali menyala, tampak keringat yang membanjiri tubuh keduanya akibat pergumulan yang sengit, bahkan seakan tak puas dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka, keduanya memulai pertempuran baru, hasrat liar Kamila di sambut baik oleh Yoga yang juga seolah tak punya rasa lelah sedikitpun dalam mengimbangi Kamila yang lama 'berpuasa' itu.


"Mbak, kenapa mbak Kamila---"


"Ssstttss, tak usah banyak bertanya, nikmati saja, karena hal ini aku jamin tak akan terulang lagi di kemudian hari, anggap saja ini ucapan terimakasih ku karena kau menyelamatkan ku dari tua bangka berengsek itu, dan satu hal lagi yang harus kau ingat, ini rahasia kita berdua, jangan sampai ada seorang pun yang tahu, kau mengerti!" ujar Kamila di akhiri dengan kecupan singkat di bibir Yoga yang hnya bisa mengangguk pasrah sambil menikmati tarian lincah Kamila di atas tubuhnya.


*Flash back off


Dara memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit karena mendengar cerita kakaknya yang bermain gila dengan mantan istri suaminya.


"Bagaimana kakak bisa yakin kalau itu aalah anak kakak? Apa kakak yakin tak ada pria lain yang berhubungan dengan Kamil tanpa sepengetahuan kita?"


"Entahlah, namun hati kecil ku mengatakan seperti itu, dan bukankah selama ini dia tak pernah kemana-mana dan hanya tinggal di rumah kecuali pas hari itu bersama ku? Kalau bukan aku, lantas siapa lagi? Apa iya Anwar? Karena suami mu sudah membuktikan kalau anak itu bukan anaknya," ujar Yoga lagi.


"Hush, kenapa jadi nuduh Anwar, sih!" dengus Dara, mau tak mau jadi ikut berpikir tentang siapa saja yang berkemungkinan sebagai ayah dari bayi yang di kandung Kamila itu.

__ADS_1


Lantas keduanya kompak terdiam dengan wajah kaku dan tegang saat Bagas tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua,


"Sayang, Kai nangis, sepertinya dia lapar." ucap Bagas sambil menatap kedua kakak beradik yang tingkahnya terlihat sangat mencurigakan itu.


__ADS_2