Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Gara-gara Mie


__ADS_3

Pagi menjelang siang suasana di kediaman Bagas terasa lebih ramai dari biasanya, Dara yang penasaran, berjalan ke arah balkon kamarnya yang mengarah langsung ke halaman depan berniat mencari tahu kehebohan apa yang sedang terjadi di sana.


Ah, rasanya dia akan menyesali rasa kepenasarannya saat ini, karena bertepatan dengan Dara melongok dari pagar pembatas balkon, Kamila turun dari van mewah Bagas dengan bergelayut manja di lengan pria yang semalaman tak pulang ke rumah itu, namun sekalinya pulang sudah menggandeng mesra mantan istrinya.


Tak salah bukan, jika Dara menyebut Kamila mantan istri Bagas, karena menurut pengakuan pria itu, dia sudah menceraikan Kamila beberapa bulan yang lalu.


"Cih, katanya udah cerei tapi di buntingin!" cibir Dara yang langsung masuk kembali ke dalam kamarnya mengurung diri di kamarnya dari pada matanya harus ternodai karena melihat pemandangan yang menyesakan mata dan hati nya di pagi hari begini.


Ah, rasanya Dara ingin mencuci matanya berulang ulang kali agar pemandangan menyebalkan tadi tak terus terbayang dan menempel di pelupuk matanya.


Satu jam berlalu semenjak kepulangan Bagas setelah semalaman tak pulang ke rumah, Bagas baru menampakan dirinya di kamar tempat Dara dan putranya berada, dirinya sudah tampak segar dan berganti baju dari yang tadi saat Bagas datang ke rumah, tak pelak semua itu membuat hati Dara semakin membara, karena dia mengira kalau sejak tadi Bagas hanya terus berdiam di kamar Kamila, dan tak berkeinginan langsung menemui Kai dan dirinya.


'Mandi dimana dia?' tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benaknya begitu saja tanpa permisi, bahkan perkara mandi saja sudah sangat mengganggu pikirannya.


"Bagaimana kabar kalian, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bagas pada pada Dara yang tak menjawab sepatah kata pun.


"Jagoan ayah, apa kamu tak menyusahkan ibu mu semalaman saat tak ada ayah?" Bagas mengangkat tubuh bayi yang langsung tertawa-tawa saat Bagas menimangnya.


"Apa dia tidak rewel semalam?" tanya Bagas lagi, sementara Dara masih konsisten melakukan gerakan tutup mulutnya serapat mungkin.


Bagas menghela nafasnya dalam, ada yang tidak beres dengan istrinya karena dia terus terdiam semenjak dirinya masuk ke dalam kamar mereka.


"Sayang, katakan, ada apa? Apa kamu marah pada ku?" tatap Bagas dengan Kaisar yang masih tetap dalam gendongannya.


'Nih orang emang beneran gak peka apa pura-pura gak peka sih, pake tanya segala ada apa, jelas-jelas dirinya semalaman tidak pulang, lantas tiba-tiba tadi pagi pulang dengan pamer kemesraan bersama mantan sang istri,' dengus Dara, ingin sekali dia mengatakan semua itu dengan lantangnya, namun rasa gengsi sepertinya lebih mendominasi pada dirinya sehingga dia lebih memilih untuk tetap diam saja dan mengomel sepuasnya dalam hatinya saja.


"Dara, aku tanya apa Kai tidak rewel semalam? Kamu pasti lelah karena mengurus bayi kita sendirian semalam, dan tidak bisa bergantian jaga dengan ku," ucap Bagas lagi tidak mengerti tentang apa yang membuat istrinya tiba-tiba menjadi bisu.

__ADS_1


"Kai baik-baik saja dan tak rewel sama sekali, dia anak yang pengertian tau kalau ayahnya sedang menjaga ibu dan calon adik tirinya, jadi dia anteng-anteng saja." sinis Dara.


Sepetinya Bagas mulai memahami situasi apa yang terjadi pada istrinya kini.


"Sayang apa kamu marah karena aku tak pulang untuk---"


"Tidak, aku tidak marah karena itu, terserah kalau kamu mau menungguinya semalaman kek, pulang ke rumah gandeng-gandengan kaya mau nyebrang kek, itu bukan urusan ku!" Dara membuang pandangannya jauh ke luar jendela kamar, dia tak ingin bersitatap dengan mata suaminya yang kini terus memandang dirinya dengan tatapan yang 'aneh'.


"Sayang, jangan bilang kalau saat ini kamu sedang cemburu?" Bagas menatap wajah memberengut Dara dari jarak yang lebih dekat lagi, jarak wajahnya dengan wajah Dara kini hanya sekitar lima centi saja, bahkan hembusan hangat nafas Bagas terasa di kulit wajah Dara, membuat wanita yang kini sedang kesal itu mematung, dia tak tau harus melakukan atau berkata apa, dan tak ada lagi penolakan dari tubuhnya saat Bagas semakin mendekat ke arah wajahnya, apa itu bererti dirinya sudah tak lagi merasa takut dengan pendekatan Bagas itu?


Ah,, betapa kesalnya Dara, jika benar tubuhnya sudah bisa menerima kontak fisik dengan Bagas, sangat di sesalkan kenapa dirinya terlalu cepat 'sembuh' dari rasa trauma itu, di saat kedekatan Bagas dengan Kamila mulai terjalin kembali, di saat kelangsungan hubungannya ke depan masih abu-abu dan dirinya merasa tak ada kejelasan.


Namun tiba-tiba,


Oeeekkk,,,,,!


Kaisar yang masih berada dalam gendongan Bagas dan melihat akan terjadi adegan tidak senonoh di depan mata sucinya itu menangis sangat kencang, membuat Bagas dan Dara terjingkat dan saling menjauhkan diri.


"Sebentar, aku masih kangen, mungkin dia hanya terharu melihat ayah dan ibunya kini semakin dekat, atau mungkin juga dia menangis karena ikut merasakan kecemburuan yang di rasakan ibunya, bukankah ikatan batin ibu dan anak itu sangat erat?" cengir Bagas menggoda.


"Ih, apa sih mas, gak jelas banget," wajah Dara kini semerah udang rebus karena ledekan yang di lontarkan Bagas padanya, dia bahkan lupa kalau saat ini sedang merasa kesal pada ayah dari bayinya itu.


"Percaya pada ku, apa yang aku lakukan ini semata untuk masa depan kita, tolong jangan berpikiran aneh-aneh!" Bagas mengusap lembut pucuk kepala Dara yang sejak tadi masih saja berusaha menghindari tatapannya.


Tok,, tok,,,tok,,,!


Suara ketukan pintu kamar membuat Dara bergegas melangkah ke arah pintu, Yati ternyata sudah berdiri di depan kamarnya.

__ADS_1


"Maaf tuan, nyonya Kamila tidak mau makan lagi, sepertinya tuan harus menyuapinya lagi, karena ini sudah masuk jadwal nyonya minum obat dan vitamin." tutur Yati tanpa dosa, di hadapan Dara yang langsung melirik ke arah suaminya menantikan jawaban apa yang akan di ucapkan Bagas.


Bagas berjalan menuju pintu, "Baiklah, aku akan segera turun." jawab Bagas sambil menyerahkan putranya yang masih berada dalam dekapannya itu pada Dara yang setengah menganga tak percaya dengan jawaban yang di berikan Bagas.


"Aku turun dulu sayang, jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh!" ucap Bagas searaya mengusap bahu Dara sambil berlalu pergi.


"Percaya pada ku sayang, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Bagaimana aku tak berpikiran aneh-aneh, sikap mu saja sudah aneh seperti itu, demi kebaikan, demi kebaikan, kebaikan siapa? Dasar buaya!" gerutu Dara saat Bagas sudah tak ada lagi di kamarnya karena hendak menyuapi Kamila yang lagi-lagi mogok makan.


"Ada apa Mil? Apa kamu mogok makan lagi? Apa kamu lupa janji mu untuk patuh dan menjaga kesehatan mu dan bayi mu?" tanya Bagas yang kini sudah berada di kamar Kamila.


"Bayi ku? Bayi kita!" protes Kamila tak terima dengan ucapan Bagas atas janin dalam perutnya.


"Oke oke, bayi--kita." Bagas meralat ucapannya.


"Aku tak suka makanan yang di siapkan Yati ini, semuanya gak enak, aku mau makan di mie di resto favorit kita dulu!" rajuk Kamila.


"Oh ayolah Mil, ini menu makanan sehat yang di anjurkan dokter mu, tolong jangan kekanak-kanakan seperti ini!"


"Aku tak peduli, apa kamu tak tau apa yang dinamakan ngidam? Kalau tak di turuti apa kamu mau anak mu ileran? Oh iya ya, kamu kan gak ngalamin ngurus istri yang hamil meski sekarang sudah punya anak, ayolah, untuk anak kedua mu ini kamu berperanlah sebagai ayah yang baik, dia yang mau makan mie!" tunjuk Kamila ke peritnya sendiri.


Bagas menghela nafas berat, tangannya terkepal, kenapa Kamila harus membawa-bawa kehamilan Dara dalam masalah se-sepele ini, tapi sungguh saat ini dia tak bisa dan tak boleh emosi.


"Aku akan menelepon dokter Rita, dan menanyakan apa boleh kamu makan mie." Bagas keluar kamar dengan agak kesal.


Bagas kembali ke kamar atas untuk mengambil ponselnya yang memang di tinggal di sana.


"Kenapa?" tanya Dara penasaran saat wajah suaminya terlihat sangat kesal setelah menemui Kamila di kamarnya.

__ADS_1


"Kamila gak mau makanan sehat yang di siapin di rumah, dia malah minta mie, aku harus konsultasi dulu ke doter, takutnya dia tak boleh makan makanan seperti itu." ucap Bagas dengan enteng dan tanpa dosa, dia tak mengira kalau ucapannya justru akan menyulut kekesalan Dara yang sejak tadi seperti bom waktu yang menunggu kapan meledak.


"Elah, timbang mie doang ribet amat, beliin mie ayam abang-abang gerobakan, apa ajakin ke warmindo ujung gang sana, masa iya bakal keracunan cuma gara-gara makan mie, sebegitu khawatirnya, sih!" gerutu Dara dengan penuh emosi, membuat Bagas yang baru pernah mendengar omelan Dara melongo tak percaya.


__ADS_2