Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Drama beristri dua


__ADS_3

Sudah hampir tiga minggu berlalu kesabaran Dara di uji dengan tingkah manja berlebihan yang di tunjukkan oleh Kamila, bahkan tak jarang wanita itu sengaja melakukan kemanjaan-kemanjaan menjijikan di depan Dara, dan anehnya Bagas seolah menutup mata dengan semua itu, dia hanya akan menegur pelan Kamila jika dirasanya keterlaluan.


Seperti sore ini, Dara sedang berjalan-jalan di taman belakang sambil menggendong sang putra, dikejutkan dengan kepulangan Bagas yang mulai berangkat lagi ke kantor meski terkadang harus bekerja setengah hari karena Kamila yang merengek minta sesuatu yang harus di turutinya dan Bagas biasanya hanya bisa mengalah dengan permintaan Kamila yang tak ada habisnya itu, waktu kebersamaan Bagas dan Kaisar yang sudah mulai terbagi dengan pekerjaan, kini harus tersita juga dengan tingkah manja Kamila yang seoalh ingin memonopoli Bagas sendirian dan tak memberikan kesempatan padanya untuk bersama Dara maupun putra mereka.


"Hai sayang, jalan yuk! aku kangen banget sama kalian, kita pergi makan atau kemana lah," ajak Bagas sambil menatap wajah Dara dan Kaisar secara bergantian, ada terselip rasa penyesalan yang begitu dalam di sana karena dirinya tak lagi dapat memberikan waktu yang utuh untuk istri dan anaknya itu seperti sebelum-sebelumnya, namun ini semua memang dia lakukan demi kebaikan semua pihak, dan meski berat, rasa-rasanya hanya jalan ini lah yang di rasa paling efisien.


"Boleh, kita ke taman kota aja yuk, mumpung terang, terus pulangnya beli nasi goreng di sana, kebetulan aku juga laper," jawab Dara sumringah, jarang-jarang dirinya bisa keluar rumah di temani Bagas setelah sekian lama suaminya itu seakan di sekap oleh Kamila.


Baru saja mereka hendak menaiki kendaraan, tiba-tiba Kamila berlari ke arah mereka,


"Bagas, aku ikut!" teriaknya.


Bagas yang melihat itu hanya bisa meringis dan membuang nafasnya kasar.


"Kenapa wajahnya seperti itu? Gak suka kalau aku ikut bersama kalian? Aku juga pengen jalan-jalan, bosen di rumah terus!" Kamila menggoyang-goyang lengan Bagas merajuk.


"Bukan begitu, tadi aku hanya ngeri liat kamu berlari, kamu kan lagi hamil, kalau jatuh bisa bahaya," jawab Bagas tak ingin Kamila beropikiran yang tidak-tidak, apalagi mengira dirinya tak ingin Kamila ikut serta bersama, bisa panjang urusannya, karena sudah di pastikan jika merajuk seperti itu Kamila mogok makan dan mogok minum vitamin, Kamila seperti sudah tau kelemahan Bagas yang sangat ingin Kamila dan bayinya tumbuh sehat itu pasti tak akan bisa berkutik dengan ancaman itu.


"Kalau kamu gak ngijinin aku ikut nanti aku----"


Belum sempat Kamila menyelesaikan kalimatnya, Bagas sudah memotongnya, "iya, iya, kamu ikut!" jawabnya pasrah.


Dara langsung menoleh ke arah suaminya itu dengan kesal, bagaimana bisa dia selalu saja mengiyakan semua keinginan Kamila, meskipun saat ini Kamila sedang mengandung anaknya, bukankah Kaisar juga punya hak yang sama untuk punya waktu bersama dengan ayahnya tanpa di tempeli terus oleh Kamila.

__ADS_1


"Aku sepertinya gak jadi pergi mas, tiba-tiba aku mual," ujar Dara menurunkan sebelah kakinya yang sudah naik ke pijakan mobil Bagas karena tadi sudah bersiap pergi.


"Sayang,,, kamu kenapa, apa kamu sakit, kamu mual, masuk angin?" Bagas berlari menghampiri Dara yang berjalan dengan langkah cepat setengah berlari sambil menggendong buah hatinya masuk ke dalam rumah kembali.


"Mual melihat tingkah mu dan tingkah lebay mantan istri mu!" ketus Dara.


"Ayo lah Dara, aku ingin pergi bersama kalian, kita jarang punya waktu bersama sekarang ini,"


"Ya, karena waktu mu habis oleh mantan istri yang kamu hamili itu, sudahlah mas, sana pergi, aku sudah tak mood untuk pergi kemana-mana!" Dara menepis tangan Bagas yang memegang bahunya, seraya menahannya untuk pergi.


"Bagas, sayang,,, ayo!" teriak Kamila yang kini bahkan sudah duduk di dalam mobil membuka kaca jendelanya dan berteriak memanggil-manggil pria yang kini sedang merasa serba salah karena akhir-akhir ini terjebak dalam drama pertikaian dua istri.


"Aku akan membawakan nasi goreng taman kota untuk mu nanti!" ujar Bagas.


"Gak usah, aku sudah kenyang makan janji manis dan PHP mu!" ujar Dara tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya, yang membuat Bagas akhirnya sangat merasa bersalah karena sudah mengecewakan perasaan istrinya berkali-kali, namun saat ini memang dia bear-benar sedang tak berdaya.


Jujur Dara sebenarnya merasa sangat berterimakasih untuk hal kakaknya yang kini sudah mau bekerja dan tidak bermalas-malasan atas usaha dan motivasi yang Bagas tanamkan pada Yoga, entah bagaimana cara Bagas bisa sampai berhasil membuat kakaknya yang pemalas akut bisa tergerak hatinya untuk berubah.


"Gak apa-apa kak, cuma lagi kesel aja." ucap Dara yang semenjak Yoga ikut tinggal di rumah Bagas, hubungankakak adik yang biasanya hanya berkomunikasi jika Yoga butuh uang dan memintanya pada Dara, kini sudah sering banyak bertukar cerita.


"Kesel sama Tuan Bagas ya?"


"Dia adik ipar mu kak, masih saja manggil dia Tuan," ucap Dara yang teringat dirinya juga sebelumnya memanggil pria angkuh yang kini selalu mengobrak abrik hatinya itu dengan sebutan Tuan.

__ADS_1


"Tapi dia juga atasan ku, di kantor semua orang memanggilnya tuan, masa aku panggil dia adek? aku tak berani, lah! Lagian usianya lebih tua dari aku," selorohnya membuat dara yang tadinya menangis itu ikut tertawa karena membayangkan Yoga memanggil Bagas dengan sebutan Adek di kantor.


"Bagaimana kabar gebetan kakak yang katanya sangat sulit di gapai itu?" tanya Dara, tentang curhatan kakaknya yang katanya sedang naksir cewek itu.


"Entahlah dek, sulit di tebak, bahkan setelah kami sempat dekat kini malah semakin mejauh!" keluh Yoga lesu.


"Sabar ya kak, kalo jodoh tak akan kemana," ujar Dara yang melihat sepertinya kalau kakaknya itu benar-benar sedang jatuh cinta.


**


"Sayang, ini nasi gorengnya, tadi aku antri panjang banget di sana, tapi demi istri ku ini aku rela menunggu antrian meski hampir satu jam lebih lamanya." Kata Bagas seraya menaruh bungkusan nasi goreng favorit Dara di meja rias dekat dimana kini Dara duduk sedang membersihkan wajahnya bersiap mandi.


Menjelang Malam Bagas baru tiba kembali di rumah.


"Siapa yang pesan? Bukankah aku sudah bilang, aku kenyang, sana di makan sama mantan istri mu, suapin sekalian, biar dia sehat---otaknya!" gerutu Dara, dia sampai hafal kata-kata bujukan Bagas jika sedang meminta Kamila untuk makan yang benar, 'biar sehat,' itu selalu kata-kata yang di ucapkan Bagas pada mantan istrinya sampai Dara hafal di luar kepala.


"Sayang, tolong bersabar, bersabarlah sebentar lagi!" Bagas sampai bersimpuh, karena dia tak tau lagi harus berbuat apa, bukan hanya Dara, dirinya pun sejujurnya lelah dengan keadaan yang harus di jalaninya akhir-akhir ini, percayalah, terjebak dalam dunia dua istri itu jauh dari kata indah.


"Apa aku kurang bersabar selama ini mas? Tapi sampai kapan? Sampai waktu perjanjian kesepakatan kita habis dan selesai?" Ujar Dara, matanya menunduk menatap wajah Bagas yang mengiba di depan dadanya, karena pria itu kini sedang berlutut di hadapannya, yang bahkan tak pernah dia lakukan di hadapan wanita mana pun termasuk Kamila.


"Dara! Tolong jangan ungkit perjanjian itu, aku tidak mau dan tidak akan pernah rela berpisah dengan mu, tolong!" mata Bagas berkacaa-kaca, dia tak menyangka jika Dara bahkan akan mengungkit tentang surat perjanjian di antara mereka yang sudah dia lupakan dan di anggap tak pernah ada.


"Sampai kapan? Aku tau mas juga lelah menjalani semua ini, jadi tolong, jangan mempersulit keadaan, aku tak meminta mu untuk memilih salah satu di antara kami, karena aku tau diri, sejak awal bukan aku yang mas inginkan, aku hanya ingin kita kembali ke kesepakatan awal kita, aku akan selesaikan perjanjian kita sampai akhir, lalu biarkan aku pergi bersama Kai, dan silakan mas jalani hidup mas dengan Kamila dan calon anak kalian, mas akan tetap menjadi ayah Kaisar, tak akan pernah tergantikan oleh siapapun, dan aku akan selalu mengingatkan itu padanya kelak," kata Dara panjang lebar.

__ADS_1


"Tidak, tidak akan pernah, aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun!" Bagas berhambur memeluk tubuh Dara dengan sangat eratnya, dia tak peduli jika istrinya itu akan menolaknya dan melepaskan pelukan eratnya, dia hanya tak ingin kehilangan Dara lagi.


"Mas, dua minggu, waktu kita bersama tinggal dua minggu, setelah itu aku akan pergi dan sesuai janji mu, kamu urus perceraian kita." kata Dara lagi mengingatkan lagi tenggat waktu yang tersisa untuk kebersamaan mereka sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat dan setujui.


__ADS_2