Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Kau menyakiti ku!


__ADS_3

Hampir tiga bulan telah berlalu, Dara tak juga dapat di ketemukan di belahan bumi mana pun, seakan bumi ini telah menelannya dn tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya, namun meski telah sekian banyak hari terlalui, dengan segala ketidak berhasilan, semua itu tak membuat Bagas patah semangat untuk mencari keberadaan istri pertamanya yang konon tak dia cintai namun bayangannya mampu mengganggu pikiran dan konsentrasinya setiap hari, Bagas memang sudah kembali bekerja lagi dan kembali ke ibukota, namun seminggu sekali dia pasti menyempatkan untuk datang ke Bali, barangkali ada berita tentang Dara, apalagi sampai saat ini tak ada yang tahu siapa sosok yang mengaku kerabat Dara dan sudah membawanya pergi tanpa jejak itu.


Bagas juga beberapa kali datang ke kampung halaman istrinya berharap Dara pulang dan kembali ke keluarganya, namun keluarga Dara justru tak pernah tahu menahu tentang keberadaan putri bungsunya itu, bagi mereka selama pundi pundi uang masihmengalir dan mencukupi mereka, tak perlu memikirkan bagaimana nasib putrinya itu, entahlah keluarga macam apa yang Dara miliki selama ini sebenarnya.


"Sayang, aku butuh uang, aku ingin berbelanja bersama teman-teman ku ke luar negeri," seru Kamila saat baru saja masuk ke ruangan kerja Bagas yang masih sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya.


Sejak pernikahan sampai saat ini Bagas masih setia membiarkannya, dengan dalih trauma, lelah, dan sibuk, Kamila selalu saja tidur sendiri di setiap harinya, untuk membunuh rasa bosan dan kesepiannya, Kamila memilih untuk menghabiskan waktu dengan shopping, jalan-jalan ke luar negeri, pokoknya pelampiasannya hanya menguras uang Bagas sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan dirinya.


Sementara Bagas yang mengalami kehilangan seseorang dalam hidupnya untuk ke dua kalinya tentu saja sangat tertekan dan stress, meski semua itu selalu dia sembunyikan dan selalu berusaha bersikap biasa saja di hadapan semua orang bahkan Panji orang terdekatnya yang sudah dia perintahkan untuk menghentikan investigasi tentang pencarian Dara, sungguh dia merasa gengsi jika ada orang lain yang tau kalau dirinya sangat kehilangan Dara dan berharap istri pertamanya itu bisa kembali.


Bagas memilih untuk bergerak sendiri, mencari tahu sendiri tanpa melibatkan orang-orang yang di kenalnya seperti Panji atau orang-orang di sekelilingnya yang selama ini biasanya membantunya.

__ADS_1


"Bukankah minggu kemarin aku baru saja memberi mu uang untuk mu berjalan-jalan ke luar negeri?" protes Bagas.


"Itu hanya seratus juta, tentu saja sudah habis dari beberapa hari yang lalu, kenapa kamu jadi itung-itungan seperti ini? lagi pula kamu harusnya memberi ku kartu kredit tanpa limit, jadi aku tak perlu meminta uang seperti pengemis pada mu," sinis Kamila.


"Yang ada di pikiran mu hanya istri kumal mu itu, terus saja kau kau cari dia, sadarlah Bagas, wanita itu mungkin saja sudah mati, saat ini akulah satu-satunya istri sah mu, jadi sudah sewajarnya kamu memanjakan ku," lanjut Kamila.


"Kau memang pengemis, lebih tepatnya pengemis tak tau diri, jangan kira selama ini aku tak tai apa yang kau lakukan di luaran, aku sudah menahan ini semua, namun sepertinya kau sudah keterlaluan,!" bentak Bagas, lantas dia membuka laci meja kerjanya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto Kamila yang sedang pergi berlibur bersama pria-pria muda di suatu tempat.


Namun saat Kamila mulai mengusik dan membawa-bawa nama Dara dalam pertengkaran mereka kali ini, Bagsa seolah tak mau lagi berdiam diri, kemarahannya pecah dan meledak begitu saja.


Dilemparnya setumpuk foto yang berisi gambar-gambar tak senonoh Kamila dengan pria-pria muda yang nyaris berbeda-beda di setiap lembarnya itu membuat Kamila sontak merasa kaget, dia tak percaya kalau Bagas yang dia pikir hanya sibuk mengurusi pekerjaan dan pencarian Dara, ternyata tau banyak tentang kehidupan kelamnya selama ini.

__ADS_1


"Kau--Kau memata-matai ku?" cicit Kamila dengan suara yang gemetar.


"Kau tau siapa aku, sekarang ini aku bukan lagi si pecundang yang tak punya uang hanya untuk mengetahui dengan siapa kau pergi dan apa saja yang kau lakukan di luar sana, aku masih mendiamkan mu selama ini, tapi sepertinya kau mulai semakin tak tau diri!" tunjuk Bagas seraya berdiri dari kursikebesarannya.


"Tapi semua ini juga karena mu, andai saja kau mau menemaniku, memperlakukan ku selayaknya istri, aku tak akan mencari kepuasan di luaran sana," elak Kamila membela diri.


"Tubuh ku memang selalu mengeluarkan reaksi yang tak pernah salah, tadinya aku selalu bertanya-tanya mengapa diri ku selalu tak bergairah dengan mu, ternyata kini aku tau jawabannya,,, tubuhku tak akan tertarik dengan wanita yang membiarkan tubuhnya di masuki oleh banyak pria!" cibir Bagas, di lengkapi dengan pandangan merendahkan yang dia lemparkan pada istrinya yang kini tertunduk dengan penuh rasa malu, kesal, marah dan terhina.


"Kau menyakiti ku, ucapan mu itu sangat menyakiti ku!" ujar Kamila dengan tetesan air mata yang lambat laun kini berubah menganak sungai dipipinya, entah itu air mata apa, air mata buaya atau airmata penyesalan, seringnya Kamila berdrama membuat susah sekali membedakan mana sedih betulan dan mana sedih palsunya.


"Kau yang terlebih dulu menyakiti ku, aku sudah memberi kesempatan untuk kau berubah, namun kau malah tambah menggila!" balas Bagas berapi api.

__ADS_1


__ADS_2