
Seiring berjalan waktu, meski tak berpisah, hubungan Bagas dan Kamila semakin memburuk, tak pernah lagi ada percakapan di antara suami istri itu, meski kini Kamila sudah berubah dan sering berdiam di rumah, memperbaiki semua sikap buruknya dan terus berusaha membuat Bagas mau memaafkannya dan kembali mencintainya seperti dulu, namun mirisnya Bagas tak pernah melihat semua perubahan yang di lakukan Kamila, bahkan Bagas kini memilih tinggal di paviliun rumhnya dibanding tinggal di rumah utamanya, selain untuk menghindari seringnya bertemu dengan Kamila, dia juga sering merasa kalau Dara hadir di tempat itu, katakan lah Bagas gila, namun kerinduannya terhadap istri yang tak di inginkannya itu membuatnya menjadi sosok yang seperti kehilangan akal dan semangat hidupnya.
Kehilangan Dara yang kini sudah berjalan lebih dari setengah tahun itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih buruk di banding saat dia kehilangan Kamila dulu.
Sering kali batin Bagas bertanya tanya, kemana Dara pergi, atau masih hidupkah dia, bagaimana jika yang dikatakan polisi waktu itu benar, bahwa Dara di tengarai sedang berbadan dua saat di temukan, lantas bagaimana nasib buah hati mereka?
Semua pikiran itulah yang kadang membuat Bagas depresi, sehingga diam-diam dia sering menemui psikister untuk mencurahkan semua beban yang hanya dia pendam sendirian, dia sadar kalau kali ini bebannya terlalu berat dan terapi adalah satu-satunya jalan untuk agar dia bisa tetap berpikiran sedikit waras.
"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Kamila yang sengaja mencegat Bagas di teras rumahnya karena kini Bagas jarang sekali masuk rumah utama, sementara dirinya juga di larang keras untuk memasuki area paviliun.
Kamila tak mampu menolak atau melawan semua aturan yang terapkan padanya, maupun sikap dingin yang terkadang menyakitkan yang Bagas tunjukkan padanya, baginya masih tetap bersama Bagas dan menikmati semua kemewahan dan fasilitas yang masih Bagas berikan padanya meski agak berkurang, itu sudah cukup, masih untung dia tak di usir dari rumah itu, karena perselingkuhannya dengan para berondong bayarannya itu, jadi menurutnya bertahan akan lebih baik untuk dirinya.
"Apa pentingnya buat mu tau urusan ku?" ujar Bagas dingin.
"Ah tidak. bukankah hari ini ulang tahun mu,? Aku akan memasak makanan kesukaan mu, aku harap kamu mau makan malam dengan ku malam ini di rumah." jawab Kamila tenang, dia kini sudah terbiasa menerima perlakuan dingin Bagas, lebih tepatnya membiasakan diri.
Namun Bagas hanya melengos tanpa menjawab iya atau tidak, terlalu malas sepertinya bagi Bagas untuk berinteraksi terlalu lama dengan wanita yang dulu sangat di cintai dan di agung-agungkannya, namun sekarang seolah sudah tak ada artinya lagi di matanya semenjak terungkapnya perselingkuhan istrinya itu, bahkan saat ini dia sudah masa bodoh jika pun Kamila memilih pergi dari hidupnya, hanya saja dia belum bisa menceraikan Kamila karena Kamila selalu memohon dan mengiba padanya untuk tidak menceraikannya, karena dia kini tak punya siapa-siapa lagi, orang tuanya sudah tak memperdulikannya lagi.
__ADS_1
Dengan alasan demi kemanusiaan, Bagas membiarkan Kamila tinggal di rumahnya, dengan status istrinya meski mereka tak pernah benar-benar menjadi suami istri, bahkan semenjak pernikahan itu di laksanakan.
Bagas berjalan di koridor rumah sakit swasta terbesar di ibu kota, hari ini merupakan jadwal rutinnya untuk terapi, setiap malam bahkan dia hampir tak bisa tertidur tanpa bantuan obat tidur yang dia dapat tanpa resep dokter itu, pikirannya selalu kacau setisp malam menjelang, bayangan Dara selalu mengacak-acak pikirannya dengan brutal.
"Maaf!" ucap wanita yang baru saja keluar dari ruang obgyn, perutnya yang sudah membesar itu
terlihat sangat kesulitan saat hendak mengambil kunci yang jatuh dari genggamannya, sehingga tanpa segaja dia menabrak tubuh Bagas.
Bagas yang fokus dengan langkahnya hanya melirik sekilas lalu melanjutkan perjalanannya, begitulah Bagas sekarang ini, dingin dan acuh pada siapapun yang ada di sekitarnya, namun saat itu hidungnya tak sengaja menangkat wangi colonge bayi yang biasa Dara gunakan, Bagas masih hafal wangi itu, bahkan dia sampai membeli selusin colonge itu dan dia stok di kamarnya, kadang dia memercikannya di kasur agar terasa seperti ada sosok Dara di ranjangnya.
Namun saat dirinya berbalik dan mencoba memastikan kalau wanita itu bukanlah sosok yang ada di pikirannya, wanita itu telah menghilang, 'cepat sekali perginya?!' Batin Bagas berkomentar, namun dia hanya mengendikan kedua bahunya tak peduli, colonge itu di jual bebas di pasaran, siapa saja bisa memakainya, pikirnya lagi coba menyangkal.
Setelah beberapa saat mengetuk pintu ruangan Faisal, pintu itu akhirnya terbuka juga, kebetulan hari itu sudah sore, dan Faisal sudah selesai berpraktek.
"Hai Cal, lama tak ada kabar, apa kau masih marah pada ku?" sapa Bagas, mereka memang biasa bertengkar dan berbaikan lagi setelahnya, namun kali ini mereka memang agak lama tak saling bertemu.
"Ah, tidak. Hanya saja beberapa bulan terakhir ini aku sibuk di sana dan tak ada waktu pulang," terang Faisal agak kaku.
__ADS_1
Lagi, hidung Bagas seolah mencium wangi colonge itu lagi di ruangan Faisal, saat dirinya masuk dan duduk di kursi kerja Faisal. Hidung Bagas kembang kempis mengendus-endus ke arah kiri dan kanannya, sepertinya hidungnya tidak salah, dia memang mencium wangi itu, wangi yag sangat di kenalnya.
"Apa kau memakai colonge bayi?" tanya Bagas penasaran.
"Colonge bayi? Mana ada!" elak Faisal mengerutkan keningnya kebingungan.
"Aku mencium wangi itu di sini, aku sangat yakin!" keukeuh Bagas.
"Oh,, mungkin wangi parfum pasien terakhir ku tadi, dia membawa bayinya saat ke sini," terang Faisal.
"Owh,,," Bagas hanya manggut-manggut saat Faisal mengatakan hal itu.
"Apa kau mau keluar makan dengan ku? Apa kau lupa kalau hari ini aku ulang tahun?" ucap Bagas.
"Ah iya, selamat ulang tahun bro, tapi maaf, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini, next time mungkin kita bisa makan bareng!" tolak Faisal.
Meski raut wajahnya kecewa, namun Bagas bisa mengerti, sejal dulu pekerjaan sepupunya itu tak mempunyai jam kerja, kapan pun di butuhkan harus segera datang, akhirnya Bagsa pun pamit pulang.
__ADS_1
Selepas kepergian Bagas dari ruangannya, Faisal segera membuka tirai ruang pemeriksaannya, tampak wanita yang sedang hamil besar dengan wajah pucat terdiam ketakutan bersembunyi disana.
"Dara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Faisal sangat khawatir.