Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Rasa yang Kadaluwarsa


__ADS_3

Seminggu berlalu Bagas menjalani kehidupan rumah tangga barunya bersama keluarga kecil yang sangat di sayanginya, meski Dara belum mau dan belum siap untuk berdekatan dengan dirinya, dan dia harus rela tidur di ranjang yang sama namun berjauhan dan hampir tak pernah ada kontak fisik di antara mereka, lagi pula Dara masih dalam masa nifasnya, jadi sepertinya tak begitu menjadi masalah besar bagi Bagas anggap saja sedang belajar pengendalian diri.


Selama itu pula Bagas tak pernah peduli dengan hal lain kecuali keluarga kecilnya dan perusahannya, semua menjadi tak terlihat di mata Bagas, termasuk juga tentang Kamila, wanita yang pernah sangat di cintainya dan beratahun-tahun menjadi penghuni tunggal di hatinya yang kini masih berada di rumahnya namun tak pernah terlihat keberadaannya.


Ironis memang, se bucin itu dulu Bagas pada Kamila sampai dia bertingkah layaknya orang gila terobsesi pada wanita yang memilih menikahi pria yang lebih kaya darinya dan kegilaannya pada Kamila juga menyebabkan dia menikahi gadis berusia 20 tahun tanpa cinta hanya karena obsesinya ingin memiliki gadis yang berwajah mirip dengan kekasih tercintanya itu, namun kini justru berbalik, Bagas seakan melupakan Kamila begitu saja, semua rasa cintanya pada Kamila yang sebelumnya sebesar dunia itu tak berbekas walau sebesar biji jangung sekali pun, bak terkena karma, hatinya kini tertambat hanya pada Dara, wanita yang kini telah memberinya seorang keturunan yang tampan dan juga sehat.


Di tengah kesibukannya membantu Dara yang baru saja selesai memandikan baby Kai pagi itu, pintu kamar mereka di ketuk dari luar, Bagas segera berteriak mengijinkannya untuk masuk karena mengira kalau itu Anwar yang akan melaporkan perkembangan kasus paviliun, atau Panji yang biasanya mengantarkan setumpuk dokumen untuk di tandatanganinya dan di bawa lagi ke kantor.


Namun ternyata dugaannya salah, bukan Anwar ataupun Panji yang datang menemuinya pagi itu, melainkan Kamila, badannya terlihat semakin kurus dengan lingkar mata yang menghitam pertanda kalau dia sering begadang, wajahnya pun terlihat sangat pucat, wanita itu tak ubahnya seperti mayat hidup.


"Boleh aku berbicara dengan mu!" ucap Kamila datar, berusaha tegar saat melihat pria yang dulu sangat memujanya itu bahkan tak mengalihkan pandangannya ke arahnya se detik pun, dia terlihat serius dan asik bercanda dengan putranya yang usianya belum genap satu bulan itu, tatapan mata penuh cinta Bagas kini bukan lagi miliknya, perhatiannya pun tak tersisa sedikit pun untuknya, sakit rasanya menyaksikan semua itu, meski dirinya sadar kalau dirinya sendirilah yang menyebabkan semua itu, andai dirinya mau bersabar dalam menghadapi Bagas, andai dirinya tak menuruti hawa napsu untuk bermain-main bersama pria-pria muda yang memberinya kenikmatan sesaat dan hanya memeras uangnya saja,,, Ah,,, sepertinya semua andai itu sudah tak berlaku lagi, semuanya sudah kadaluarsa dan kenyataannya Bagas sudah benar-benar lepas dari genggamannya, yang tersisa hanya rasa sakit dan penyesalan yang juga sebesar dunia saat ini.


"Bicaralah, aku akan mendengarkannya!" jawab Bagas dengan mata yang masih tertuju pada bayi tampannya.


Kamila terlihat sangat kesal, dia melirik ke arah Dara, sungguh dia tak mau Dara mendengar ucapan kasar atau makian Bagas padanya sehingga membuat dirinya kehilangan muka di hadapan wanita yang dia anggap musuh terbesarnya itu.


"Aku akan keluar dulu, silakan berbicara!" seperti mengerti dengan tatapan mata Kamila yang tak ingin dirinya berada di antara percakapan mereka, lagi pula dia pun tak berminat sama sekali untuk mengetahui apa yang akan mereka bicarakan.


"Tidak, kau tetap disini--cegah Bagas saat Dara berpamitan-- dan kau, jika kau keberatan berbicara di depan istri ku, lebih baik tak usah berbicara dengan ku!" Bagas kini menoleh ke arah Kamila, namun tatapannya bersorot lain, tak ada tatapan teduh seperti biasanya, atau tatapan penuh cinta yang selalu dia dapatkan sebelumnya dari pria itu.

__ADS_1


Dara menelan ludahnya, kini dia seolah terjebak dalam drama percakapan dua manusia yang sungguh sangat tak ingin dia dengar dan ketahui, akhirnya dia mengambil bayinya dari gendongan Bagas dan berjalan menuju balkon, dengan alasan ingin berjemur bersama bayinya, hanya itu cara dia menghindar dari obrolan mereka, karena Dara tak di ijinkan ke luar kamar oleh Bagas, dia tak ingin menyembunyikan apapun dari istrinya itu, sehingga percakapannya dengan Kamila pun dia ingin Dara ikut mendengarnya juga, itu bentuk keseriusan Bagas dalam menunjukkan kalau dirinya sudah tak ada rasa lagi pada Kamila.


"Bicaralah, waktu ku tak banyak!" ujar Bagas, tak keberatan Dara memilih berada di balkon kamarnya, karena dia yakin Dara masih bisa mendengar percakapan dirinya dengan Kamila sangat jelas.


Bagas mempersilahkan Kamila untuk duduk di sofa yang berada di kamar itu, tempat dirinya mengerjakan semua pekerjaan kantornya.


"Bagas, tak bisakah kita berbicara berdua?" tatapan mata Kamila mengiba, sungguh dirinya tak ingin menjatuhkan harga dirinya di hadapan Dara karena dirinya yang hanya ingin sedikit waktu untuk berbicara dengan pria itu.


"Bicara disini atau tidak sama sekali!" tegas Bagas, jelas Kamila sangat tau sifat keras Bagas, sehingga mau tak mau dirinya harus mengikuti kemauan Bagas.


Pria yang bertahun-tahun dianggapnya cinta mati pada dirinya sehingga dia besar kepala dan merasa kalau Bagas tak mungkin bisa mencintai wanita lain selain dirinya itu kini sudah menganggapnya seperti orang asing di hidupnya, cuma seorang wanita yang harus dikasihani karena cerita tragis hidupnya yang punya orang tua tapi seakan terbuang, dan tak punya siapa-siapa lagi selain dirinya.


"Aku sakit!" adunya, berharap Bagas akan tersentuh dengan apa yang di adukannya, ingin melihat reaksinya apa masih se khawatir dulu jika dirinya hanya teriris pisau saat mengupas buah saja Bagas akan panik dan ketakutan terjadi apa-apa.


"Kamu tau aku sakit, dan kamu bahkan tak berniat sama sekali untuk melihat bagaimana keadaanku, sakit apa aku, atau masih hidupkah aku? Kamu berubah!" Kamila mulai histeris saat mendengar jawaban datar Bagas, sungguh dirinya mereasa tak lagi berharga sama sekali di hadapan Bagas yang dulu selalu mengatakan kalau dirinya adalah satu-satunya wanita yang paling berharga bagi hidup Bagas dan dia tak mau kehilangan Kamila.


"Bukankah aku sudah memanggilkan dokter untuk memeriksa mu, kamu berharap apa lagi? Aku tak bisa menyembuhkan mu karena aku bukan dokter atau tabib!"


"Bagas, apa aku sudah tak seberharga itu bagi mu? Semudah itu kamu buang aku dari hati mu? Ingat, aku yang menemani mu saat bisnis keluarga mu belum sebesar ini,"

__ADS_1


"Aku ingat, dan aku juga ingat kalau kamu meninggalkan ku saata bisnis ku terpuruk karena kamu memilih untuk menikah dengan pria yang lebih kaya." sinis Bagas, hatinya merasa panas kembali saat harus membahas masalah itu.


"Aku terpaksa, itu kemauan orangtua ku!" elak Kamila.


"Omong kosong, harusnya kau bisa menolak, seperti yang saat ini sedang kau lakukan, lari dari perjodohan yang ayah mu buat dengan Aryo?" ucap Bagas lagi.


"Aku salah, aku minta maaf, aku hanya ingin kau kembali seperti Bagas yang dulu lagi, yang mencintai ku, menyayangi ku sepenuh hati, aku sadar tak ada pria manapun yang mampu mencintai sepertiku, bukankah aku sudah berubah? Aku tak pernah pergi kemana-mana lagi, aku diam di rumah meski kamu tak pernah menganggapku ada di rumah ini," ratap Kamila, dia sudah tak peduli jika Dara mendengar semua perkataanya yang memohon ini, dia juga tak peduli jika Dara akan mengejel atau menertawakannya karena harga dirinya yang dibiarkan terjun bebas di hadapan Bagas.


"Kamila, aku tak mau menjadi orang bodoh untuk kesekian kalinya karena mencintai mu, lagi pula bukankah aku sudah menalak mu, dan kau setuju asalkan kau masih aku ijinkan untuk tinggal di rumah ini, selama kau mencari tempat tinggal baru, bukankah itu berarti kita sudah tidak ada hubungan apa-apa selain kau sebagai penumpang di rumah ini?" Bagas sudah tak bisa memilah kata-kata lagi untuk di sampaikan pada Kamila, dia tak peduli jika perkatannya akan menyakiti wanita itu, semua harus di perjelas karena kalau tidak, Kamila akan terus menjadi duri dalam rumah tangganya dengan Dara.


"A-aku tak mau berpisah dengan mu, aku tak bisa!"


"Kamila, aku sudah memutuskan untuk membelikan mu sebuah rumah, atau apartemen untuk mu tinggal, anggaplah sebagai kompensasi perceraian kita, mari kita akhiri semuanya secara baik-baik, kita mulai hidup kita masing-masing, mencari kebahagiaan kita sendiri-sendiri." ucap Bagas mereda lagi setelah tadi hampir kehilangan kendalinya, namun dari balik kaca balkon Dara meliriknya, sehingga membuatnya kembali menurunkan emosinya.


"Tidak--kamu tidak bisa menceraikan aku, kamu tak bisa mengusir ku dari rumah ini, kamu tak bisa membuat ku jauh dari mu," tolak Kamila.


"Kamila tolong jangan mempersulit keadaan, aku sudah tidak mencintai mu lagi, kita tak bisa bersama, aku sudah punya kehidupan baru yang membuat ku bahagia, aku ingin menjadi suami yang baik untuk istri ku, dan menjadi ayah yang baik untuk anak ku!" Pandangan mata Bagas beralih ke arah balkon yang berada tepat di seberangnya, terlihat Dara yang sedang menimang bayi mereka, membuat suasana hatinya adem seketika, Dara mengajarkan dirinya unuk menjadi sosok yang sabar secara tidak langsung dari sikap yang dia tunjukkan padanya, sehingga dirinya bisa berangsur bersikap lebih baik dari hari ke hari.


"Kau tak adil, kau hanya ingin menjadi ayah yang baik untuk anak mu itu, tapi kau ingin mengusir anak mu yang masih ada dalam perut ku ini!" ucap Kamila pada akhirnya.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" Bagas menajamkan pendengarannya dan berharap dirinya hanya salah dengar saja.


"Aku hamil, dan ini adalah anak mu!" tegas Kamila dengan sorot mata yang tajam menatap wajah Bagas yang kini sedang mengerutkan keningnya, bertanya-tanya apa dirinya salah dengar?


__ADS_2