Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Pelangi setelah hujan


__ADS_3

Dara sudah berada di kamarnya saat dia membuka mata, terlihat suaminya duduk di tepi ranjang menunggui dirinya dengan cemas, bahkan kini emak dan bapaknya juga ada di sana, putra mereka nyaman dalam gendongan neneknya.


Entah berapa lama dirinya tak sadarkan diri, karena bajunya yang penuh darah pun kini sudah berganti dengan pakaian bersih.


"Mak,,,,Pak,,,,Kak Yoga, kak Yoga pergi, ini semua salah Dara, Kak Yoga berkorban demi Dara, bagaimana ini?" Tangisan dara kembali pecah saat ucapan dokter saat ereka di rumah sakit tadi kembali terngiang di telinganya.


Bagas memeluk istrinya yang kembali histeris, sungguh dirinya tak tega melihat Dara terpuruk seperti itu.


"Sayang, sadarlah,,,semua sudah takdir, dan ini semua bukan salah mu, dan tak ada yang menyalahkan mu." Bagas mengusap kepala Dara yang kini bersandar di pundaknya.


"Kak Yoga menyelamatkan ku, padahal sebelumnya dia marah pada ku, dia juga pergi dari rumah karena aku, bahkan aku belum sempat meminta maaf padanya, namun dia sudah pergi," raungan tangis Dara memenuhi ruang kamar luas itu, membuat Kai terbangun dari tidurnya yang baru saja beberapa menit yang lalu terlelap di gendongan sang nenek.

__ADS_1


Bagas berdiri dan mengambil alih Kai dari gendongan Tuti, karena Kai pun tiba-tiba ikut menangis kencang, sehingga Tuti kewalahan.


Selepas kepergian Bagas ke balkon kamar sambil menimang putranya agar tangisnya mereda, kini Tuti dan Aceng mendekati putrinya, sepertinya banyak hikmah dan pelajaran yang di ambil oleh kedua orang tua yang kini hanya tinggal mempunyai satu anak itu.


"Dara,,, Emak dan Bapak sudah iklhas dengan kepergian kakak mu,kami berdua juga tak kalah sakitnya dengan apa yang di rasakan oleh mu kini, tak ada yang lebih sakit dari yang di rasakan orang tua selain kehilangananaknya, rasanya seperti separuh nyawa kami ikut pergi. Hanya saja,,, kami sadar kalau ini semua takdir Tuhan, entah besok atau lusa semua akan dapat gilirannya, dan dengan cara apa kita berpulang tentu saja itu rahasia yang di atas, jadi berhenti menyalahkan diri mu sendiri, ini semua sudah menjadi suratan takdir kita semua, kita hanya bisa mendoakan kakak mu mulai saat ini dan seterusnya."


Untuk yang pertama kalinya, Aceng selaku ayah berbicara serius dan panjang lebar mengutarakan isi hati juga petuahnya sebagai orang tua yang baik dan benar bukan sebagai bapak yang hanya mengajak putrinya berbicara hanya jika dia butuh uang.


Kehilangan orang paling berharga dalam diri kita memang terasa begitu menyiksa dan menyakitkan, meski bibir terus berkata ikhlas, terkadang hati belum tentu mampu menerima dengan ikhlas, butuh waktu yang sangat panjang untuk sekedar menyembuhkan rasa sakit akibat kehilangan, dan mungkin butuh waktu seumur hidup untuk terus di bayangi rindu pada jiwa terkasih yang kini telah pergi dan tak bisa disentuh lagi, butuh kelapangan hati untuk menerima semua ini atas nama takdir.


Karena saat kita menangis dan terpuruk, dunia akan tetap terus berjalan seperti biasanya, lantas kita akan tetap berdiam dalam kubangan kesedihan sementara waktu telah jauh meninggalkan kita?

__ADS_1


Terkadang hal yang indah seperti pelangi itu datang setelah hujan badai, begitu pun dengan apa yang terjadi pada keluarga Dara kini, kehilangan Yoga justru membuat kedua orang tuanya sadar dan berubah menjadi bersikap baik pada Dara, menyadari kekeliruannya dan hubungan keluarga mereka juga menjadi lebih akrab dan lebih erat.


Tuhan memang punya seribu satu cara unik dalam menulis takdir umatnya, tak jarang kita di buat menangis, terluka dan menderita sedemikian rupa sebelum kita di buat tertawa bahagia, namun apapun itu kita hanya perlu menjalani apa yang menjadi takdir kita, karena percayalah, rencana Tuhan selalu indah buat umatnya.


Seminggu berlalu semenjak kepergian Yoga, suasana berkabung masih terasa di rumah itu, Beruntung Tuti dan Aceng mau menuruti permintaan Bagas untuk tetap berada di rumahnya dulu untuk beberapa waktu agar Dara tak merasa kesepian saat dirinya harus berangkat ke kantor.


Kedua orang tua itu pun hanya mengangguk setuju, apalagi mereka juga sangat senang melihat perkembangan cucu mereka yang jarang-jarang bisa mereka temui sebelumnya.


"Fix wanita itu berada di sana, tuan!" ujar Panji melaporkan hasil penyelidikannya tentang keberadaan Kamila yang terus di burunya, dan kini penyelidikannya sepertinya berbuah hasil, karena keberadaan Kamila sudah bisa di ketahui.


"Siapkan segala sesuatunya, kita akan ke sana besok!" Ujar Bagas dengan tatapan tajam dan wajah marahnya sungguh dia sudah tak sabar ingin membantai wanita yang pernah menjadi penguasa hatinya selama bertahun-tahun itu.

__ADS_1


__ADS_2