
"Kepung tempat itu!" Titah Bagas berteriak memerintahkan semua anak buahnya, sementara dirinya yang terbakar emosi akibat cerita yang tadi di tuturkan Dara langsung berlari menuju vila sambil terus memegangi Dara dan tak melepaskan kewaspadaan nya sedikitpun.
"Tangkap mereka hidup atau pun mati!" Teriaknya lagi.
Secepat kilat para anak buah Panji yang memang sudah sangat terlatih dan tak perlu di ragukan lagi keterampilannya dalam melawan musuh di berbagai medan langsung melesat mengepung vila itu,
"Tuan, mereka melarikan diri ke sana!" Tunjuk Panji yang samar-samar melihat bayangan beberapa orang berlari ke arah hutan.
"Arrrghhh sial, mengapa mereka bisa meloloskan diri," Umpat Bagas, "Ayo kejar mereka, harus dapat hari ini juga, ingat,,, jangan sampai ada yang lolos!" titahnya.
Suasana hutan semakin mencekam, dengan suara petir yang berkali kali terdengar bersahutan, namun belum turun hujan, hanya saja langit semakin menghitam, membuat hutan semakin terasa gelap dari sebalumnya.
Dor,,,Dor,,,!
Terdengar dua kali suara tembakan dan jerit kesakitan seseorang dari kejauhan, membuat semua orang semakin waspada.
"Tuan, nyonya, apa kalian berdua baik-baik saja?" Teriak panji memastikan kalau jeritan yang dia dengar bukan berasal dari tuannya.
__ADS_1
"Kami baik-baik saja, bagaimana dengan mu?" Bagas bertanya balik saat Panji sudah berada di hadapannya.
"Dua anak buah kita terluka,mereka masing-masing terkena tembak di paha dan bahu, sepertinya mereka juga mempunyai senjata, kita harus hati-hati." Ujar Panji mengingatkan.
"Mereka akan kabur dengan perahu tuan, bergegaslah!" panggil salah satu anak buah Panji berteriak dari kejauhan memanggil Panji yang masih mengobrol dengan Bagas dan Dara.
"Ayo, jangan sampai mereka lolos!" Ajak Bagas.
"Berhenti!" teriak Bagas ke arah Kamila, Dimas, dan tiga orang anak buahnya yang kini sudah di atas perahu, sementara Kamila dan Dimas baru saja bersiap akan naik.
Pantas saja mereka berlari, rupanya mereka tau kalau mereka kalah jumlah personil, dan di paksakan seperti apapun mereka akan kalah, meski mereka juga masing-masing memegang senjata.
"Apa yang kau inginkan dari ku Bagas? Kau sudah menceraikan ku, dan kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan aku juga sudah meninggalkan rumah mu, jika aku mengambil beberapa surat penting dan juga beberapa uang di brankas kantor mu, anggap saja itu sebagai tunjangan perceraian kita, anggap saja kita impas!" Ujar Kamila dengan kedua tangan yang di rentangkan ke atas kepalanya,
"Cuih, enteng sekali kau berbicara, kau masih punya muka untuk meminta tunjangan perceraian dari ku? Jujur saja uang yang kau curi itu tak ada artinya buat ku, seperti halnya kau yang tak pernah ada artinya buat ku! Namun kau telah membunuh Yoga, dan kau juga yang ternyata membuat istri ku harus menceburkan diri ke lautan lepas di saat kondisi sedang hamil karena mantan suami mu yang ingin memperkosa istri ku saat itu!" tunjuk Bagas dengan senjatanya.
"Hahaha, Yoga,,, pria bodoh itu, aku tak berniat membunuhnya, karena saat itu yang aku ingin bunuh adalah wanita itu, sayangnya nasib dia terlalu baik karena kakaknya menyelamatkan nyawanya, sama halnya saat kejadian saat itu, aku beritahukan pada mu, dia bukan hendak di perkosa oleh mantan suami ku, namun aku memang menjual istri mu padanya, tadinya dimas akan menjualnya ke luar negeri untuk di jadikan wanita pemuas napsu di sana, namun sialnya, saat Dimas ingin mencicipi tubuh istri mu, dia malah memilih bunuh diri, dan lagi-lagi dia tidak mati, malah aku harus menanggung rugi karena harus mengembalikan uang hasil penjualan dia dari Dimas."
__ADS_1
Dengan santainya Kamila justru menceritakan semua kejahatannya bak sedang melakukan pengakuan dosa, sepertinya dia merasa kalau tak akan ada lagi harapan baginya untuk lolos dari kepungan Bagas dan anak buahnya, jadi dia sudah mulai pasrah dengan keadaan.
"Bajingan, kau harus mati di tangan ku, aku menyesal telah membuat iblis seperti mu menjadi bagian dalam hidup ku." Rasa marah yang tak bisa di kendalikan lagi oleh Bagas membuat pria itu menarik pelatuk senjatanya dan mengarahkan langsung ke dada wanita yang pernah menjadi ratu di hidupnya selama beberapa tahun itu.
Dor,,,!
Letusan senjata Bagas bersahutan dengan suara petir yang sangat kencang, namun siapa menyangka jika Kamila ternyata sudah sangat waspada sejak tadi, seperti sudah sangat tahu kalau Bagas menargetkan dirinya, dengan cekatan dia berlindung di balik punggung Dimas dan menjadikan pria itu sebagai tamengnya.
Dimas yang tidak dalam keadaan siap langsung terhuyung saat Kamila mendorong tubuhnya dari belakang dan menggantikan dirinya untuk menerima muntahan timah panas yang di lesatkan dari senjata yang di genggam Bagas.
Berbarengan dengan itu hujan turun dengan derasnya, kilat menyambar-nyambar besahutan di atas laut, Kamila segera melompat ke atas kapal kecil itu dan memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk segera menyalakan mesin kapalnya.
"Cepat hidupkan mesin dan pergi dari dari sini jika kalian masih ingin hidup!" teriak Kamila.
Di tengah guyuran hujan lebat dan petir yang bergemuruh tidak berhenti semua orang menjadi sangat panik karena konsentrasi harus terbagi antara menyelamatkan diri dari kilatan petir dan mengejar Kamila beserta anak buahnya yang mulai menjalankan kapalnya.
"Tembaki mereka,,,,tembaki terus!" Perintah Bagas yang tak ingin kehilangan buruannya.
__ADS_1
Suara peluru saling bersahutan semua anak buah Panji mengarahkan senjata mereka ke kapal yang mulai berlayar menjauhi bibir pantai, namun sekitar kurang lebih sepuluh meter dari bbir pantai, entah karena peluru yang terus di berondongkan ke arah kapal, atau karena kerusakan mesin kapal, tiba-tiba terlihat percikan api dari bagian mesin kapal, lama kelamaan api semakin membesar dan kapal meledak di atas laut, seketika langit yang gelap gulita menjadi terang karena kobaran api yang kian membesar meski di guyur air hujan.
Hampir semua orang yang berada di bibir pantai hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun, sungguh itu suatu kejadian yang sangat mengerikan, kapal itu terbakar habis di depan mata mereka yang menatap ke arah lautan di bawah guyuran hujan deras, sampai akhirnya kapal itu karam dan tak terlihat lagi di permukaan air.