
"Aku belum bisa memberi jawaban yang pasti pada mu," ucap Bagas yang tentu saja membuat Dara merasa teramat sangat kecewa di buatnya.
Fix, Bagas memang mancla mencle, plin plan, gak konsisten, dan apapun itu namanya, yang jelas Dara merasa dirinya semakin yakin untuk tidak mempertahankan pernikahan yang entah akan di bawa kemana oleh Bagas si nakhoda pembawa bahtera pernikahan yang tak punya pendirian dan tanpa tujuan yang jelas.
Sudah dapat dipastikan jika Dara akan sangat merasa lelah dengan pernikahan yang di bayang-bayangi mantan, sementara suaminya tak mau bersikap tegas dalam hal ini.
"Sudahlah, segera temui calon pengantin mu itu, jangan sampai mentalnya terganggu akibat di bentak oleh mu, dia pasti syok berat karena biasa di manjakan oleh mu, mas, cepat sana, aku ingin sendiri!" usir Dara, tiba-tiba saja dirinya merasa muak dengan segala hal yang di lakukan Bagas padanya, entah itu kebaikannya apalagi keburukannya, Dara sudah tak ingin lagi tenggelam semakin dalam di pernikahan absurd ini.
"Tapi sayang---"
"Mas, aku sudah bilang, kalau aku sedang ingin sendiri, tolong mengerti aku," nada bicara Dara mulai meninggi.
"Apa kamu marah karena masalah rujuk itu?"
"Mas, aku tak peduli kamu mau rujuk lagi dengan nya atau bahkan mau kumpul kebo sekali pun dengannya itu bukan urusan ku, toh kesepakatan kita akan berakhir dalam hitungan hari, harusnya itu tak akan menjadi masalah buat ku!"
"Dara hentikan, kenapa masih saja kamu ungkit tentang perjanjian sialan itu!" kesal Bagas.
"Mas tolong hargai aku, hargai keputusan ku, hargai juga kesepakatan kita, sekarang pergilah, aku ingin sendiri, aku muak dengan pria yang tak punya pendirian, serakah, menginginkan semuanya untuk di miliki." ceroscos Dara tanpa henti.
Tak ingin terpancing dengan provokasi Dara, akhirnya Bagas memilih untuk meninggalkan kamar itu, mungkin Dara benar-benar butuh waktu untuk dirinya sendiri, memberinya ruang untuk sendirian mungkin akan membuat pikiran dan hati Dara tenang kembali, pikir Bagas.
__ADS_1
Alih-alih menemui Kamila seperti yang Dara anjurkan padanya untuk melihat kondisi mantan istrinya itu, Bagas malah memutuskan untuk pergi, entah kemana tujuannya, yang jelas jika Dara tak menginginkan dirinya untuk di dekatnya, maka dia pun tak ingin dekat dengan yang lain saat ini selain istrinya itu.
Hati Dara semakin kesal tat kala Bagas ternyata tak kunjung kembali menemuinya di kamar sampai keesokan paginya, dia yakin kalau semalaman Bagas tidur di kamar Kamila, namun dirinya juga gengsi untuk mencari tahu tentang kebenaran dimana keberadaan Bagas semalaman sampai saat ini.
Emang cewek mah suka gitu, kalo lagi ngambek, lakinya di suruh pergi, giliran ngilangnya lama di cariin, ntar kalo udah balik pura-pura cuek dan gak peduli, padahal penasaran ke mana aja dia pergi, padahal cuma pengen di bujuk dan di rayu aja, (Jiaaah,,, curhat!)
Sehari mungkin Dara masih bisa bertahan menelan rasa kepenasarannya,, menekan jiwa kekepoannya, dan bergeming untuk tak mencari tahu, tapi ini sudah hari ke empat, dan masih tak ada kabar dari Bagas, pria itu seperti hilang begitu saja, tak pernah sekalipun menyambangi dirinya dan anak mereka, padahal biasanya tak begitu, apa perkatannya pada Bagas terlalu keras dan menyakitinya? Atau malah mungkin kini Bagas telah benar-benar rujuk dengan Kamila dan melupakan keberadaan dirinya dan Kaisar?
Batin Dara bergemuruh di penuhi dengan pertanyaan, empat hari, dan ini rekor waktu terlama Bagas tak menemui Kai sama sekali.
Setelah berhari hari bertahan di kamarnya yang berada di lantai atas, akhirnya Dara turun, selain badannya sudah mulai baikan, dia juga penasaran ingin mengetahui informasi dimana keberadaan Bagas, dia hanya ingin memastikan kalau tidak ada sesuatu yang buruk yanmg menimpa pada diri suaminya itu, karena bagaimana pun, se benci-bencinya dia pada Bagas, pria itu ayah dari anaknya, seorang ayah yang hebat dimana Dara sealu mendoakan segala kebaikan dan juga kesehatan untuk suaminya yang akan dia tinggalkan dalam beberapa hari lagi ke depan, agar putranya bisa tau dan bisa merasakan betapa sayang ayahnya padanya.
"Apa maksud mu?" Jantung Dara seakan berhenti berdetak mendapati ternyata Kamila mengetahui tentang perjanjian kesepakatan yang harusnya hanya dirinya, Bagas dan Panji saja yang mengetahuinya, tak ada yang lain.
"Tak usah berpura-pura, aku tau semuanya, Bagas sudah menceritakan semuanya pada ku!" cibir Kamila masih dengan tatapan meghinakan.
"Pantas saja dia selalu mengulur waktu untuk menikahi ku kembali, rupanya menunggu kesepakatan kalian berakhir, Bagas memang tipe orang yang selalu konsisten memainkan perannya sampai akhir, tak apa lah, toh cuma tinggal beberapa hari saja, dan aku akan menjadi istrinya kembali!" lanjut Kamila.
Mata Dara sudah mulai terasa panas, jantungnya juga berdebar sangat kencang karena emosi yang saangat ingin dia ledakkan namun di tahannya mati-matian karena dia tak ingin terlihat lemah dan kalah di hadapan Kamila.
"Syukurlah kalau Bagas sudah memberi tahu mu tentang kesepakatan itu, jujur sebenarnya aku sudah ingin pergi dari semenjak beberapa hari sebelumnya, tapi dia terus menahan ku, tapi kalau kau sudah tak sabar ingin menikah kembali dengannya, aku akan mempermudahnya, aku akan pergi dari sini sekarang juga, dan katakan pada calon suami mu itu, tak perlu menunggu kesepakatan itu berakhir, karena aku akan pergi dari rumah ini hari ini juga agar kalian bisa cepat bersatu kembali!" Ujar Dara dengan dadanya yang naik turun pertanda ucapannya sarat dengan emosi yang tertahan.
__ADS_1
Sudah tak penting lagi kapan di perjanjian itu kesepakatan untuk bersama berakhir, Dara sudah tak sanggup lagi bertahan di rumah yang membuatnya selalu merasa tertekan dan tak mustahil bisa membuatnya gila jika tinggal lebih lama lagi di tempat itu, Dara sudah memutuskan dan membulatkan tekatnya untuk pergi hari itu juga, dengan ataupun tanpa persersetujuan dari Bagas yang dinilainya sudah sangat membuatnya kecewa dan terluka teramat sangat itu.
"Keputusan yang tepat, pergilah, lebih cepat lebih baik, ingat kau hanya pemeran pengganti, saat peran asli sudah datang kembali, sebaiknya sadar diri menyingkir sejauh jauhnya, jangan menjadi duri dalam hubungan ku dengan Bagas, saat ini kau sudah tidak di perlukan lagi, karena bagaimana pun cinta Bagas hanya untuk ku, apa kau tak pernah merasa kalau Bagas sedang bersama mu yang ada di pikirannya itu adalah aku, karena wajah mu yang sedikit mirip dengan ku, pergilah, cari kebahagiaan mu sendiri, jangan mencari kebahagiaan dengan menjadi bayangan ku, jangan biarkan Bagas terus menipu diri, mempertahan kan mu karena selalu melihat diri ku di wajah mu!" Kata-kata Kamila memang cukup menohok hati Dara, wanita ular itu sangat pintar menyerang lawannya dengan kata-kata yang membuat drop lawannya.
"Jangan di kira mempunyai kemiripan wajah dengan mu adalah keberuntungan untuk ku, andai Tuhan memberi ku satu permintaan pada ku, aku ingin wajah ku di rubah, sejelek apapun itu aku terima, asalkan tak mirip dengan wajah mu, karena wajah yang mirip denganmu ini, sudah menjadi sumber kesialan dalam hidup ku."
"Sialan kau, tanpa mirip dengan ku pun hidup mu sudah sial wanita udik, cepat pergi, kembali ke habitat asal mu, kau tak di butuhkan lagi di rumah ini!" teriak Kamila.
"Tenang saja, aku pun sudah tak sabar ingin pergi dari sini, aku akan pergi saat ini juga!" ucap Dra yang bersiap naik untuk membawa naknya di kamar untuk ikut pergibersamanya meskipun entah kemana, yang penting dirinya tak tinggak di rumah itu lagi.
"TAK ADA YANG MENGIZINKAN MU UNTUK PERGI!"
Suara lantang Bagas terdengar menggelegar dan tegas membuat dua orang wanita yang sedang beradu argumen itu serentak menoleh ke arahnya.
"Aku tetap akan pergi!" ucap Dara yang sudah kadung emosi sejak tadi, lagi pula tekadnya sudah sangat bulat untuk meninggalkan rumah itu, dia tak mau menunggu lebih lama lagi meskipun itu hanya satu hari, jika ujung-ujungnya sama saja, buat apa? Benar kata Kamila, lebih cepat kebih baik, dan lebih jauh lebih tenang. Melihat wajah Bagas pun rasanya Dara sudah sangat muak, pria munafik yang seolah mencintai dan sangat menginginkannya itu tak akan lagi membuat pendiriannya goyah.
"Cukup, aku tak akan membiarkan mu pergi dari rumah ini, dan kalaupun ada yang harus pergi dari sini itu bukan kamu, tapi dia!" Tunjuk Bagas ke arah Kamila yang langsung tersentak kaget.
"Anwar, Yati, bereskan semua barang dia dan suruh dia pergi jauh dari sini, dan ingat jangan pernah kembali!" Tegas Bagas.
Anwar dan Yati yang dari tadi hanya menjadi penonton kedua nyonya mereka yang beradu mulut dan tak berani berbuat apa-apa langsung mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan perintah tuannya yang dalam mode bahaya itu.
__ADS_1