
"Apa kau akan membiarkan kami di depan pintu terus sampai tahun depan, tanpa mempersilahkan kami masuk? Dasar anak kurang ajar!" omel Tuti sang ibu yang langsung menyerobot masuk ke dalam apartemen itu di susul Aceng ayahnya, tanpa menunggu sang putri mengijinkannya untuk masuk.
"Auwh,,," ringis Dara karena Tuti dengan sengaja menabrak bahu anaknya yang sedang hamil besar itu.
Tak ada darama berpelukan dan saling tangis melepas rindu antara orang tua dan anak yang berbulan-bulan tak bertemu, bahkan Tuti hanya melirik sekilas perut buncit sang anak.
"Apa itu anak suami mu?" tanya Tuti dengan nada sinisnya.
Namun Dara tak menjawab pertanyaan ibunya itu, dia hanya bisa terdiam dengan berjuta rasa yang tak bisa dia gambarkan seperti apa, semuanya bercampur aduk dan berkecamuk di dalam dadanya,
"Jawab! Apa itu anak suami mu, atau anak selingkuhan mu? Anak tak tau diri, menyusahkan semua orang berlagak hilang ternyata lari bersama pria lain, apa kau ingin menjadi jal lang seperti--"
"Tuti!" kalimat Tuti menggantung begitu saja saat Aceng tiba-tiba membentak dan memelototinya.
"Seperti siapa mak?" tanya Dara penasaran dengan kalimat ibunya yang seakan menggantung itu.
"Ya seperti wanita-wanita jal lang yang sering di pacari bapak mu itu!" ucap Tuti kesal.
"Sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan, katakan anak siapa yang ada dalam perut mu itu?" Tuti mengulangi pertanyaanya karena Dara sepertinya keberatan untuk menjawab pertanyaan yang di ajukannya sejak tadi.
"Tentu saja ini anak ku," kilah Dara.
"Aku tau itu anak mu, tapi siapa bapaknya, kau bukan komodo yang bisa beranak tanpa pejantan bukan?" kesal Tuti.
"Ayahnya tentu saja suamiku, mak." aku Dara pada akhirnya, dia tau kalau ibunya tak akan pernah berhenti bertanya sebelum dia menjawab pertanyaannya.
"Baiklah kalau begitu, ayo cepat ikut kami kembali ke rumah suami mu!" timpal Aceng yang kini sedng asik memakan makanan di meja makan tanpa sungkan.
"Emak dan bapak apa-apaan, aku tak mau kembali ke rumah itu, tolong jangan ikut campur urusan rumahtangga ku!" tolak Dara.
__ADS_1
Tentu saja Dara menolak untuk kembali ke rumah yang baginya bagaikan neraka itu, setelah merasakan hidup tenang selama beberapa bulan ini, lantas dirinya harus kembali hidup tersiksa? Oh tidak, terimakasih!
"Kau wanita bersuami, bagaimana bisa kau meninggalkan suami mu begitu saja, dan kau juga akan memisahkan seorang anak dari ayahnya? Ibu macam apa kau ini!" sinis Tuti seolah-olah selama ini dirinya adalah ibu peri yang super baik tanpa cela.
"Mak, aku tidak mau kembali ke rumah itu, tolong jangan paksa aku, lagi pula selama ini tuan Bagas juga tak peduli dan tak pernah mencari dimana keberadaan ku, mungkin saja dia justru dia bahagia dengan ketidak adaan aku di rumahnya, toh disana juga ada istri yang sangat di cintainya," urai Dara.
"Cih, tau apa kau tentang suami mu? Dia suami yang baik dan dia juga itu sangat mencintai mu, sudah menjadi kewajiban ku sebagai orang tua untuk menegur mu, karena apa yang kau lakukan ini salah."
"Mak, aku tak akan pernah kembali padanya,"
"Kau masih sah sebagai istrinya!"
"Aku akan meminta cerai padanya,"
"Maka selesaikan masalah mu, dan jangan lari dari masalah lantas tinggal bersama pria lain seperti wanita murahan saja!" teriak Tuti.
"Mas, tolong aku, mereka ingin membawa ku kembali ke rumah neraka itu," setengah berlari Dara menghampiri Faisal yang sekian hari tak di jumpainya itu.
Namun terasa ada yang aneh dan berubah dari diri Faisal, sikap pria itu seperti terkesan dingin pada Dara.
"Maaf Dara, aku sudah mendengar apa yang di katakan oleh ibu mu, tapi sepertinya apa yang di katakan beliau benar, meskipun kita tak ada hubungan apa-apa, namun tetap saja kamu adalah wanita bersuami, apapun permasalahan yang terjadi memang seharusnya di selesaikan dengan baik-baik, bukan lari dan menghindarinya." ucap Faisal datar, membuat Dara terperangah kaget dengan jawaban yang diberikan Faisal saat itu.
Dara pikir Faisal adalah orang paling mengerti dirinya dan sangat tahu kondisi rumah tangganya selama ini, dan selalu berada di pihaknya, lantas mengapa tiba-tiba sekarang dia berubah?
Mendapatkan tekanan dari sana sini membuat Dara merasa pusing, pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya limbung lalu kehilangan kesadarannya, beruntung Faisal sigap menahan tubuh Dara agar tak sampai terjatuh.
**
Entah berapa lama Dara tak sadarkan diri, yang jelas saat dirinya siuman dia mendapati kalau dirinya sedang berbaring di ranjang pasien rumah sakit, terlihat masih ada ayah dan ibunya yang menunggui dirinya di ruangan yang sepertinya ruang vip itu, bahkan kini ada Yoga juga, kakak laki-lakinya yang pemalas itu bersama orang tua mereka.
__ADS_1
Dan tunggu, apa saat ini dirinya tak salah lihat? Beberapa kali Dara mengerjap bahkan mengucek matanya, karena ternyata ada sosok Bagas duduk di sebelah ranjang tempatnya kini tertidur.
"Kau sudah siuman?" tanya pria yang sampai detik itu masih sah sebagai suaminya itu.
"Tu-tuan!? Kenapa tuan berada di sini!" cicit Dara, suaranya terbata, tubuhnya gemetaran, sungguh saat ini dia merasa ketakutan yang teramat sangat.
"Aku di kabari Faisal, kalau kamu pingsan dan di rawat di sini," terang Bagas tak ada lagi raut permusuhan dan kata-kata ketus nan kasar dari Bagas, tatapannya terlihat penuh kasih dan ucapannya juga terdengan lembut.
Berlawanan dengan sorot mata Dara yang menampakkan kebencian yang teramat sangat pada suaminya itu.
Mata Dara beralih pada Faisal yang juga berada di ruangan itu duduk di sofa bersama oarang tua dan kakak laki-lakinya.
"Mas, apa maksud semua ini?" tanya Dara pada Faisal yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Dara, dia berpura-pura meriksa selang infus hanya untuk menutupi kegelisahan dan kegugupannya saat ini dan berusaha seolah terlihat sebiasa mungkin.
"Mas, bukankah kamu tau betapa kejamnya perlakuan orang ini padaku?" mata Dara mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, mungkin sebaiknya aku pergi." Bagas tau kehadirannya tak di inginkan Dara saat ini, melihat mata dara yang mulai berkaca-kaca, dan mendengar panggilan 'Mas' untuk Faisal membuat dadanya terasa seperti di remas, rasanya dia tak akan mampu lebih lama lagi bertahan di ruangan itu.
"Tidak, kau harus menunggui istri mu, suami macam apa yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar dan sakit sendirian," cegah Faisal.
"MAS!" protes Dara.
"Tidak baik memusuhi suami mu terlalu lama, apalagi kalian akan mempunyai anak, keponakan ku pasti sangat menginginkan ayah dan ibunya akur." ucap Faisal datar.
"Mas, aku tak percaya kamu bisa berbuat seperti ini pada ku, aku pikir kamu berada di pihak ku, aku pikir kamu mengerti aku," lirih Dara, membuat telinga Bagas terasa sangat panas dan sakit mendegarnya.
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian berdua, ah,,, untuk kalian bertiga maksud ku," Faisal tersenyum hambar sambil melirik perut buncit Dara yang tertutup selimut tebal rumah sakit, membayangkan akan akan berpisah dengan Dara dan si calon bayi yang bahkan sudah dia sayangi meski belum meliahat wajahnya menciptakan siksaan batin tersendiri di hati Faisal, namun semua ini harus dia lakukan, dia harus memberikan kesempatan pada Bagas untuk memperbaiki keutuhan rumah tangganya, memiliki kembali istri dan anaknya yang memang sedari awal merupakan haknya sebagai seorang suami dan ayah dari bayi itu.
Namun sesuai dengan apa yang dia sepakati dengan Bagas beberapa jam yang lalu saat dirinya mengabari Bagas tentang Dara yang tiba-tiba harus di rawat di rumah sakit, bahwa jika sampai sekali saja Bagas menyakiti Dara lagi, maka dia tak segan-segan untuk membawa kembali Dara dan juga anaknya ke tempat yang tak mungkin Bagas ketemukan.
__ADS_1