
Bagas sudah tak ada di kamarnya saat Dara terbangun karena suara tangisan Kaisar pagi itu, entah jam berapa suaminya itu pergi dari kamar meeka, Dara bahkan tak mendengar suara apapun saat Bagas bersiap-siap, atau karena saking lelahnya berpikir semalaman sehingga dia merasa sangat mengantuk dan tak menyadari kepergian suaminya.
"Cih, semangat sekali sepertinya dia mau ke rumah sakit!" Decih Dara di susul dengan gumaman pelannya.
Ingin sekali dirinya tak peduli dan masa bodoh, namun ternyata hatinya tak bisa di ajak kompromi, rasa kesal tiba-tiba saja hadir di hatinya, dan pagi itu hari Dara di awali dengan mood yang sangat buruk.
Sementara itu, tepat pukul tujuh gurang lima belas menit Bagas sudah berada di rumah sakit menunggu dokter Rita, dokter yang menangani Kamila saat ini, Bagas bahkan harus berangkat dari rumahnya sejak pukul 6 pagi, dia sangat antusias untuk bertemu dengan dokter Rita yang membuat janji dengannya pukul 7 pagi itu.
Bagas bahkan tidak sempat berpamitan pada Dara yang pagi tadi terlihat sangat lelap tidurnya, dia tak mau mengganggu istirahat istrinya yang seharian lelah mengurus bayi mereka.
Dara menolak untuk di bantu pengasuh dalam merawat bayi mereka, katanya ingin merawatnya sendirian dengan alasan biar bonding antara dirinya dan Kaisar bisa lebih erat.
"Apa anda sudah menunggu lama tuan? Maaf saya sedikit terlambat," Sapa dokter yang berusia sekitar empat puluhan awal namun masih terlihat sangat sehat itu.
"Ah, tidak-tidak. Aku yang datang terlalu awal, dok!" jawab Bagas yang menyadari kalau dirinyalah yang terlalu bersemangat bertemu dengan dokter itu.
"Baik, mari kita berbicara di ruangan saya!" ajak dokter Rita seraya mempersilakan Bagas untuk masuk ke ruangannya.
Sekitar hampir dua jam Bagas berada di ruangan itu dan entah apa yang mereka bicrakan di dalam sana, yang jelas itu pasti seputar masalah kehamilan Kamila.
"Terimakasih dok, saya akan menjaga kesehatannya dan juga memastikan Kamila makan makanan yang bergizi seimbang," ucap Bagas seraya membalas uluran tangan dokter Rita untuk saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan mereka.
Bagas lantas melewati lorong menuju di mana ruang rawat Kamila berada.
"Hai Mil, bagaimana kabar mu hari ini, apa sudah membaik?" Sapa Bagas sesaat setelah dia melewati pintu kamar ruang rawat Kamila, sikapnya tak ketus lagi, bicaranya sudah mulai terasa hangat lagi, dan selain kehadiran Bagas di pagi itu yang membuat Kamila merasa sangat bahagia, panggilan akrab yang hampir lebih dari lima tahun ini tak pernah di dengarnya lagi keluar begitu saja dari bibir Bagas.
__ADS_1
"Ka-kamu panggil aku apa?" gagap Kamila yang baru saja berganti pakaian dan di seka oleh perawat di bantu Yati yang tetap setia menemani nyonyanya semalaman.
"Mila, kenapa, ada yang salah?" raut wajah Bagas terlihat biasa saja, bahkan kini dia duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah dirinya setengah terbaring.
"Lama sekali rasanya aku tak mendengar mu memanggil ku dengan sebutan 'Mila' membuat ku rindu masa-masa pacaran dulu," mata Kamila menerawang menatap dinding putih rumah sakit.
"Yati, belikan aku makanan di bawah, aku lapar sekali, tadi aku belum sempat sarapan karena terburu-buru datang ke sini. Biar nyonya aku yang menjaganya." Bagas menyodorkan 3 lembar uang berwarna merah pada perawat yang mengurus Kamila itu.
"Bagas, apa ini benar-benar kamu? Kenapa tiba-tiba kamu jadi---?" Kamila menggeleng beberapa kali memastikan kalau ini bukanlah mimpi, bagaimana bisa sikap bagas berubah menjadi sangat manis padanya hanya dalam satu malam, ini terlalu mustail.
"Kenapa lagi? Bukankah ini yang kamu mau? Aku berada di sini, menemani dan menjaga mu? Apa aku salah lagi?" Tanya Bagas seraya menyambar makanan rumah sakit ransum untuk Kamila, tanpa segan dia menyendok bubur dan sayur lalu mengasongkan sendok itu ke depan mulut Kamila.
Kamila yang terpana hanya bisa membuka mulutnya sambil menerka-nerka apa yang terjadi pada diri Bagas selama semalaman sehingga dia bisa berubah se drastis ini.
"Kedepannya kamu harus makan lahap seperti ini agar ibu dan bayi sama-sama sehat," ujar Bagas seraya mmenyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah di beri sedotan.
"Ah, i-iya, tapi kenapa? Kenapa kamu tiba baik seperti ini pada ku?" Tanya Kamila lagi yang masih saja penasaran dengan alasan Bagas.
"Aku ingin kamu dan dia sehat!" ucap Bagas sambil menunjuk perut rata Kamila.
Buliran bening dari sudut mata Kamila berjatuhan begitu saja, hatinya tiba-tiba menghangat mendengar ucapan Bagas barusan, sungguh dia tak menyangka jika hati Bagas yang selama ini seakan membatu itu akhirnya dapat dia luluhkan juga.
"Aku kangen kamu yang sepeti ini, kangen kamu yang selalu merhatiin aku, manjain aku, peduli pada ku," Kamila merangkul lengan kekar Bagas dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Sudahlah, jangan bersedih, tak baik untuk kehamilan mu, kata dokter jika hari ini kondisi mu oke, besok pagi sudah bisa pulang, tapi di rumah harus tetap menjalankan pola hidup dan makan sehat, untuk yang satu itu aku akan memantaunya langsung nanti di rumah," kata Bagas seraya membaringkan kembali tubuh Kamila dengan hati-hati di ranjangnya.
__ADS_1
"Benarkah, kamu akan menjaga dan mengurus ku saat aku sudah pulang nanti? Kamu janji?" Mata Kamila berbinar cerah mendengar ucapan Bagas yang sungguh sulit untuk di percaya olehnya.
"Hemh!" Bagas mengangguk dengan sangat yakin. "Dengan satu syarat, patuh pada ku dan Yati tetap mengurus mu juga karena aku harus membagi waktu ku dengan-- Bagas sedikit menjeda kalimatnya-- pekerjaan, ya aku sudah harus mulai bekerja, karena kini tanggungan ku sudah semakin bertambah, aku ingin memastikan semua keturunan ku hidup layak dan tak berkekurangan sedikit pun." lanjut Bagas menghembuskan nafas nya yang terasa sedikit agak berat.
"Terimakasih, aku bahagia mendengarnya dan aku tak akan merepotkan mu!" ujar Kamila di akhiri dengan senyum termanisnya.
"Istirahatlah, agar cepat pulih dan cepat kembali ke rumah, aku akan menunggui mu di sini."
Dada Dara ingin meledak rasanya karena sejak pagi memendam rasa kesal pada Bagas yang pergi tanpa berpamitan sedikitpun padanya, sesiangan bahkan Bagas tak menelepon ataupun mengirim pesan padanya walau sekedar bertanya kabar putra mereka, Dara tetap bertahan untuk tidak menghubungi Bagas, namun ketika malam sudah tiba dan Bagas tak juga pulang dan tak memberinya kabar, benteng pertahanan ego Dara akhirnya runtuh juga, dengan menyingkirkan rasa gengsi yang menahan dirinya untuk menghubungi dan mencari tau keberadaan Bagas dan alasan kenapa dia tak kunjung pulang.
Namun jawaban yang di terima Dara dari ujung telepon sana ternyata bukan membuatnya tenang, tapi malah membuat amarah di dadanya semakin berkobar-kobar, mana kala Bagas mengatakan kalau dirinya tak perlu menunggu suaminya itu pulang, karena Bagas akan menginap di rumah sakit.
Berlebihan kah sikapnya dia jika merasa marah dan tak suka saat mendengar kalau Bagas memutuskan untuk tidak pulang malam itu demi menunggui Kamila di rumah sakit.
Jahatkah dia yang tak suka Bagas memberi perhatian lebih pada Kamila yang mungkin saja benar-benar sedang mengandung bayinya saat ini?
Dara sungguh tak bisa mengendalikan emosinya sendiri, semua rasa itu terasa begitu menyiksanya, ada banyak suara di kepalanya yang mengatakan hal-hal berbeda, entah itu prasangka baik yang yang mengatakan kalau semua itu hal yang wajar karena Kamila yang kondisinya sedang drop,dan selayaknya dia memberi waktu untuk Bagas menunggui Kamila, dan Bagas saat ini hanya menunggui, begitu salah satu suara yang terdengar dalam kepalanya.
Namun suara lain mengatakan kalau hal itu sungguk tak wajar dan bisa saja merupakan pertanda tidak baik dan dirinya harus waspada akan kemungkinan buruk yang akan terjadi, karena sepertinya hubungan Bagas dan Kamila sudah membaik, dirinya hanya perlu bersiap-siap terusir dari kehidupan Bagas.
"Aaarrrrgggh aku bisa gila kalau seperti ini, kenapa aku jadi seperti ini,!" Dara mengumpat dirinya sendiri yang tiba-tiba seperti sedang di landa cemburu buta.
Tangan Dara terulur pada laci di nakas sebelah kasurnya, sebuah map warna hijau terang membuatnya kembali teringat dengan surat perjanjian kesepakatan yang pernah di buatnya dengan Bagas atas permintaannya.
"Apa ini masih berlaku untuk hubungan kami ke depannya?" gumamnya lirih sambil mendekap erat map berisi kertas bermaterai yang menyatakan kalau dirinya dan Bagas akan berpisah setelah dua bulan kelahiran putra mereka, dan itu tinggal sebentar lagi, hanya tinggal lima minggu tersisa kalau hitungannya tidak salah.
__ADS_1