Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Mangsa baru Kamila


__ADS_3

Kamila menarik nafas sangat dalam, sepertinya wanita itu sedang memikirkan sesuatu dan memilih kata-kata apa yang akan dia sampaikan pada Yoga saat ini.


"Katakan, dia anak ku, kan?" telunjuk Yoga mengarah ke perut Kamila yang saat itu mengenakan celana jins ketat.


"Kenapa pakai celana seperti ini, kasihan dia akan tertekan di dalam!" sambung Yoga sudah mirip seperti emak-emak rempong yang menasehati anaknya dengan begitu banyak aturan dan pantangan untuk wanita hamil.


"Ah iya, tidak apa-apa, tadi aku lupa ganti baju habis dari mini market depan, tapi aku tertidur karena sangat ngantuk," gagap Kamila.


"Mbak, katakan, apa dia anak ku?" tanya Yoga lagi saat mereka kini tengah duduk berhadapan di sofa ruang tamu mereka.


"Emhhh ini,,,, iya." jawabnya terdengar agak ragu.


"Aku sudah mengira, kalau ini benar-benar anak ku, kenapa mbak tak mengatakan pada ku dan malah mempersulit diri dengan mengatakan kalau dia anak dari tuan Bagas," tanya Yoga.


"Emhhh, aku hanya berpikir jika anak itu menjadi anak Bagas, maka hidup dia akan serba terjamin, lagi pula, aku memang tak berniat untuk serius dengan mu, apalagi sampai memiliki anak dari mu, semua sungguh di luar rencana ku." Urai Kamila blak-blakan.


"Aku tau mbak, aku juga sadar kalau mbak pasti berpikir anak ini tak akan punya masa depan jika bersama ku, tapi karena kini tuan Bagas juga sudah mengetahui kalau itu bukan anaknya, izinkan aku mengambil alih tanggung jawab itu, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan anak kita, aku akan bekerja keras demi dia dan juga mbak Kamila." Yoga meraih kedua tangan Kamila dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.


Kamila tampak tak bereaksi apa-apa dengan perlakuan yang terimanya dari pria muda yang menawarkan tanggung jawab dan kebahagiaan untuk dirinya itu, jujur saja dirinya sangat ragu dengan kemampuan Yoga, kebutuhan dan juga gaya hidupnya sama sekali tak akan bisa di penuhi Yoga yang hanya sebagai pengawas pegawai gudang di pabrik milik Bagas.


"Apa yang bisa kau beri untuk kami? Sementara gaji mu saja tak seberapa, tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan ku, apalagi jika di tambah kebutuhan anak nantinya." Oceh Kamila tanpa tedeng aling-aling.


"Aku bisa, pasti aku bisa, aku akan berusaha," Yoga terus meyakinkan Kamila bahwa dirinya bisa dan akan berusaha untuk memenuhi apa yang di minta dan di inginkan Kamila dan juga anakya kelak.

__ADS_1


"Baiklah, untuk saat ini, aku sedang ingin makan steak di restoran mahal, aku ingin melihat kesungguhan mu, ini semua keinginan bayi mu," Kamila tersenyum culas, sepertinya dia punya mangsa dan mainan baru untuk sekedar mengganjal perutnya sehari-hari sepertinya kini dan selanjutnya dia tak harus lagi memutar otak untuk mencari dari mana, karena dia bisa memanfaatkan Yoga yang dengan suka rela membiayai hidupnya meski mungkin jauh dari kata mewah.


"Oke, kalau hanya ngidam stek di restoran mahal aku masih bisa mewujudkannya, ayo kita pergi sekarang juga, aku tak mau anak kita ngiler hanya karena tak bisa makan steak." Yoga bangkit dari tempat duduknya, membawa Kamila pergi mengendarai mobil fasilitas kantor yang biasa dia gunakan setiap harinya.


"Besok-besok kau minta bagas ganti fasilitas kendaraan mu dengan yang lebih bagus lagi, kasian anak mu di ajak naik mobil murahan seperti ini," ejek Kamila sambil melirik ke kiri dan kekanan mobil mini bus yang jok baris kedua dan ke tiganya sengaja di copot karena biasanya sering di pakai untuk membawa barang.


"Iya mbak, semoga saja aku bisa membeli mobil yang mewah seperti milik tuan Bagas." Ujar Yoga dengan senyuman yang sengaja dia sunggingkan untuk wanita yang kini duduk dengajn gesture yang seperti tak nyaman berada dalam kendaraan yang jauh dari kata mewah seperti kendaraan milik Bagas.


"Kalau ngehayal itu jangan ketinggian, nanti ketabrak pesawat lewat!" ketus Kamila, yang hanya di tanggapi dengan senyuman tipis oleh Yoga yang harus mulai membiasakan diri dengan sikap ketus dan dingin Kamila pada dirinya.


Dia harus bisa sabar dan bertahan karena anak mereka yang tak ingin dia sia-siakan dan terlantar nantinya.


**


Bagas terlihat serius melihat lembar demi lembar foto yang di sodorkan Panji padanya, sesekali kedua alisnya bertaut dan keningnya berkerut.


"Awasi saja terus dan tak usah bergerak dulu, kita lihat pergerakannya akan seperti apa, kita tinggal menangkap lemparan bola dari mereka saja." Kata Bagas dengan santai.


Semenjak kepergian Kamila dari rumahnya dan terbongkar bahwa bayi dalam kandungan Kamila bukan merupakan anaknya, pembawaan Bagas memang terlihat menjadi lebih tenang, sikapnya pun menjadi lebih bijak tak meledak-ledak lagi seperti dulu dimana semua hal di hadapinya dengan emosi tingkat tinggi, namun kini semua masalah di hadapinya dengan slow dan kepala dingin, Panji bahkan sangat bersyukur karena dirinya sudah tak pernah lagi mengalami apa yang namanya amukan Bagas yang dulu seolah menjadi makanan sehari-harinya.


Ceklek,,,,!


Suara pintu ruang kerjanya terbuka dari luar, Bagas yang menghadap langsung ke arah pintu, wajahnya langsung pucat pasi saat menyadari kalau yang datang ke ruangannya adalah Dara dengan membawa serta putra mereka.

__ADS_1


Sontak saja tangan Bagas sibuk membereskan lembaran foto yang baru saja di lihatnya itu, lantas dia masukan ke dalam laci dengan terburu-buru, dia tak ingin foto-foto itu sampai terlihat oleh istrinya, karena mungkin saja akan menimbulkan banyak masalah dan akan menjadi sumber keributan di antara mereka berdua, dan Bagas sungguh tak ingin itu terjadi.


"Sayang, kenapa tak bilang pada ku jika akan datang ke sini?" tanya Bagas berusaha tetap tenang meski sedang berusaha setengah mati menyembunyikankekagetannyaa dan rasa groginya.


"Kenapa, apa aku tak boleh sidak ke kantor mu?" picing Dara seraya mendorong stroller berisi putranya yang asik dengan mainan di tangannya, Dara kini sudah semakin ahli dalam menundukan suaminya itu, jika dulu dirinya yang selalu menjadi korban penindasan Bagas, maka kini dirinya sudah mulai menguasai suaminya, sehingga suaminya yangbternyatq sangat bucin padanya itu tak berani untuk berbuat macam-macam padanya.


Ini memang kali pertama Dara datang menemui Bagas di kantornya, sebetulnya tak ada niatan Dara untuk datang ke kantor Bagas, hanya saja ketika dia baru saja pulang dari rumah sakit selepas imunisasi sang putra, tiba-tiba saja terbersit untuk mampir ke kantor suaminya sambil mengantarkan makan siang yang tadi di belinya sepulang dari rumah sakit.


"Bukan seperti itu sayang, tentu saja kamu boleh datang ke sini kapan pun kamu mau, tak ada yang melarang mu, hanya saja aku cukup terkejut karena tidak biasanya kamu mau datang kesini." Bagas menyambut kedatangan istri dan anaknya dengan pelukan dan ciuman untuk kedua orang kesayangannya itu, sementara Panji, tanpa harus di komando dia meninggalkan ruangan itu memberi waktu untuk tuannya menikmati waktu bersama, lagi pula dia tak mau menjadi obat nyamuk di antara pasangan suami yang mesranya masih terlihat seperti pasangan pengantin baru itu.


"Aku hanya mengantarkan makan siang untuk mu, kebetulan tadi aku baru saja dari rumah sakit mengantar Kai imunisasi." Terang Dara seraya menbuka paper bag yang berisi beberapa box makanan.


"Kai imunisasi? Oh sayang, harusnya kamu mengabari ku, jadi aku bisa mengantar kalian,"


"Aku lupa memberi tahu jadwal iminisasinya pada mu, dan aku juga tak mau merepotkan mu, kamu pasti sibuk bekerja, mas."


"Emhhh aku mau ke toilet, sebelah mana toilet diruangan mu, mas?" tanya Dara, ini merupakan kali kedua dalam hidupnya masuk ke ruang kerja Bagas, pertama saat dirinya mempertanyakan tentang kenaikan pangkatnya saat dirinya masih bekerja di sana dan belum menikah dengan Bagas, dan ini kali ke dua bagi dirinya menyambangi tempat itu.


"Lurus, belok kiri!" tunjuk Bagas menunjukkan arat toilet di dalam ruangannya, lantas dia kembali asik mengajak main putranya.


Saat Dara berjalan melewati meja kerja Bagas, dia melihat selembar foto yang tercecer di lantai, saat dia memungutnya, betapa terkejutnya dia karena itu adalah foto Kamila, sontak saja dadanya merasa sangat sesak dan panas di buatnya.


Berbagai pikiran buruk dan segala tuduhan untuk Bagas pun memenuhi kepalanya, seketika dirinya merasa sangat marah akan hal itu, bagaimana bisa suaminya masih menyimpan foto Kamila di ruang kerjanya, sementara dirinya selalu di yakinkan oleh suaminya itu kalau dia sudah tak lagi peduli pada Kamila, apa selama ini diam-diam suaminya masih menyimpan hati pada mantannya itu? Batin Dara terus saja bergejolak memikirkan hal-hal dan kemungkinan yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2