Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Pria itu!


__ADS_3

"Jangan jauh-jauh dari ku, tetap waspada, dan kalau ada apa-apa dengan ku, ingat untuk selamatkan nyawa mu, setidaknya salah satu di antara kita masih bisa mendampingi Kai." Ucap Bagas memasangkan rompi anti peluru di tubuh Dara yang terus memaksa untuk ikut aksi suaminya dalam menangkap Kamila, dia tak mau di tinggal di villa dan Bagas tak mampu lagi mencegah keinginan istrinya itu untuk ikut serta bersamanya, dia hanya bisa berpasrah diri dan berharap tak ada sesuatu hal buruk terjadi pada mereka.


"Mas,,, tolong jangan bicara seperti itu, kita berdua akan mendampingi Kai sampai dia dewasa." Wajah Dara berubah sendu, tak terbayangkan oleh dirinya jika harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa Bagas yang selalu menjadi pelindung dirinya dan juga anak mereka.


"Tentu saja sayang, aku pasti akan selalu mendampingi mu!" Bagas mengecup pucuk kepala istrinya setelah berhasil memasangkan rompi itu dengan sempurna.


"Aku harap semua akan berakhir sampai di sini, tak ada lagi dendam atau pun benci, aku lelah!" sambung Bagas.


"Ya, semoga saja mas, aku juga sudah ingin hidup tenang bersama keluarga kecil kita, sudah cukup kak Yoga yang menjadi korban dari semua pertikaian ini, jangan ada lagi korban lainnya."


Mata Dara berkaca-kaca saat kembali mengingat kakak laki-lakinya yang sudah tiada.


"Maafkan aku, ini semua salah ku." Bagas memeluk erat tubuh sang istri.


"Maaf tuan, semua sudah siap, apa kita akan berangkat sekarang?" Panji mengetuk pintu kamar dan berbicara dari luar.


"Kami akan segera kesana!" Jawab Bagas mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Mereka kini berada di villa dekat pulau terpencil di sebelah timur laut, Kita harus segera menuju pelabuhan, kapal yang kita pesan sedah menunggu kita." ujar Panji.


Mereka berangkat ke pelabuhan menuju kapal yang sudah Panji sewa untuk menyebrang menuju pulau kecil dimana tempat villa yang Kamila tempati kini berada.


Butuh waktu sekitar satu setengah jam menyebrang menggunakan kapal untuk sampai ke pulau yang jarang sekali di datangi orang itu, di pulau itu juga tercatat hanya ada sekitar dua villa, yang berada di tengah hutan yang lumayan besar dan masih sangat rimbun.


Waktu sudah menjelang sore saat mereka tiba di pulau kecil itu, namun benar benar sial karena cuaca yang tiba-tiba mendung sehingga pulul setengah empat sore di hutan itu terasa bagai pukul tujuh malam, suasana sangat gelap, sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat.


"Ayo cepat, jangan sampai kita terjebak hujan atau badai di tengah hutan, kita harus segera menemukan vila itu." Panji memimpin pasukannya, sementara Bagas dan Dara mengekor di belakangnya, tak ada keluh dan protes sedikitpun dari Dara, satu-satunya wanita yang ikut dalam perjalanan itu, saat tekad sudah benar-benar bulat pantang baginya untuk mengeluh apa lagi untuk mundur, meski beberapa kali Bagas menanyakan kondisinya apakah istrinya kelelahan dan lain sebagainya,


Namun Dara hanya menggeleng, entah kekuatan dari mana dia seperti tak merasa lelah sedikitpun dalam melewati rute hutan yang tak bisa di katakan mudah itu, jalan yang tak rata akibat banyaknya bebatuan, rumput dan alang-alang setinggi orang dewasa kadang menghalangi langkah mereka, apalagi dengan suasana gelap dan hanya mengandalkan pencahayaan dari senter yang mereka persiapkan membuat perjalanan untuk menuju tempat persembunyian Kamila bisa di katakan cukup membutuhkan tenaga dan kesabaran yang ekstra.


"Kita bagi menjadi dua kelompok, kau dan beberapa orang dari mereka ke sebelah kiri, dan selebihnya ikut aku ke sebelah kanan, kita tak tau berapa orang yang ada di villa itu, jangan gegabah, utamakan keselamatan kalian!" atur Bagas.


Panji mengangguk, dia mengajak beberapa orang untuk mengikuti langkahnya menuju ke bangunan sebelah kiri, dan tanpa di komando lagi, sisanya langsung mengekor di belakang Bagas menuju ke bangunan sebelah kanan.


"Apa kamu takut?" tanya Bagas melirik ke arah sang istri.

__ADS_1


Dara menggeleng, "Aku percaya Tuhan akan melindungi kita semua," ujarnya dengan lugas.


"Dia,,,!" Pekik Dara menunjuk ke arah pria yang kini sedang mengobrol santai di teras villa bersama Kamila.


"Dimas?" cicit Bagas pelan.


"Dia mantan suami Kamila, apa kamu mengenalnya?" sambung Bagas menoleh ke arah istrinya yang terlihat syok melihat pria itu.


"Ma-mantan suami Kamila?" beo Dara.


"Pantas saja, berarti waktu itu mereka memang bekerja sama," gumam Dara.


"Apa maksudnya?" Bagas menghentikan langkahnya di balik pepohonan menanyakan apa maksud pernyataan istrinya itu.


"Saat itu Kamila menyuruh ku mengantarkan dokumen penting untuk mu, dia sengaja mengarahkan aku ke sebuah kapal di dermaga, dan ternyata di sana sudah ada pria itu, dia ingin memperkosa ku, sehingga aku akhirnya memutuskan untuk menceburkan diri ke laut, aku memilih mati dari pada harus di perkosa oleh pria asing itu."


Dara menceritakan peristiwa yang lama dia simpan rapat di hatinya dan tak membagikannya pada siapapun.

__ADS_1


"Bajingan, mereka harus mati di tangan ku!" geram Bagas dengan emosi memukul batang pohon yang tadi di sandarinya.


Namun sialnya lagi, pria yang di sebut Bagas bernama Dimas dan merupakan mantan suami dari Kamila itu sepertinya melihat ke arah mereka, sehingga tiba-tiba saja Dimas menarik tangan Kamila dan mereka langsung berlari masuk ke dalam vila, sepertinya mereka mulai mencurigai ada yang mengawasi mereka di sana.


__ADS_2