Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Ikutlah dengan ku!


__ADS_3

"Dara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Faisal sangat khawatir.


Namun tak sepatah kata pun keluar dari bibir Dara, tatapannya terlihat kosong, pertemuan pertamanya dengan Bagas tadi di lorong rumah sakit membuatnya sangat syok, dia buru-buru berlari menemui Faisal dan menceritakan kejadian yang baru saja dia alami, namun sialnya saat mereka hendak pulang justru Bagas datang ke ruangan Faisal sehingga membuat dia harus diam bersembunyi di pojok ruangan pemeriksaan dengan gorden sebagai penyekatnya, untung saja Bagas tak menemukannya, padahal dia sudah curiga dengan wangi colonge yang selalu di pakainya itu.


Sakit yang di ciptakan Bagas begitu sangat membekas, bahkan tadi sampai membuat tubuhnya gemetaran, walau hanya mendengar suaranya dari balik tirai, bayangan sikap kasar Bagas mampu membuat tubuhnya tremor tiba-tiba, meski dia berusaha menenangkan dirinya sekuat tenaga.


"Bukankah sudah ku bilang untuk periksa nanti saja, tapi kamu 'ngeyel'!" oceh Faisal sedikit kesal.


"Ini Jakarta, kemungkinan untuk bertemu dengan nya pasti akan lebih banyak, jadi berhati-hati lah, kecuali kalau memang kau sangat merindukannya dan sangat ingin bertemu dengannya," ketus Faisal, ada rasa sebah di dadanya saat mengucapkan kata-kata itu.


**Flash back**


Delapan bulan yang lalu, Faisal tiba-tiba di minta untuk menjadi pembicara di salah satu rumah sakit yang berada di Bali, selepas memberikan materi di hadapan para dokter muda disana, dirinya di minta untuk menangani wanita korban tenggelam di laut, karena dokter jaga di UGD sedang sibuk menangani pasien tabrakan beruntun yang juga baru saja terjadi malam itu dan memakan banyak korban, sehingga keadaan di UGD saat itu sangat chaos.


Pekerjaannya yang memang berada di bawah sumpah untuk menyelamatkan nyawa pasien, akhirnya mau tidak mau menyingsingkan bajunya dan membatalkan penerbangan malam itu karena harus membantu pasien yang membludak malam itu, biarlah dia mengambil penerbangan besok pagi, untuk pulang ke Jakarta dan mempersiapkan keberangkatannya ke Singapur sore harinya.


Namun keningnya tiba-tiba berkerut saat melihat sosok wanita yang terbaring lemah tak sadarkan diri dengan semua pakaiannya yang basah kuyup, sambil memberikan pertolongan pertama, otaknya terus saja berjalan, bagai mana bisa istri dari sepupunya itu berada di sini, dan dimana Bagas? batinnya terus saja bertanya tanya.


Setelah melakukan serangkaian pertolongan pertama dan pengecekan seluruh tubuhnya, di temukan fakta juga kalau sepertinya istri sepupunya itu sedang berbadan dua.


Baru saja dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bagas sang sepupu, meskipun dia kesal dengan sepupunya yang tak memberi tahunya perihal dua kali pernikahannya yang terkesan mendadak dan mengejutkan itu, namun dia tetap punya kewajiban untuk memberi informasi pada sepupunya itu kalau istrinya sedang terbaring lemah di sini, dan dia juga akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Ah, tolong, jangan ---jangan!" igau Dara yang mulai siuman namun masih merasa trauma atas kejadian di kapal tadi.


"Nyonya tenanglah, nyonya!" Faisal mengurungkan niatnya untuk menghubungi Bagas, sebagai dokter, dia lebih memilih menenangkan pasiennya terlebih dahulu, apalagi Dara terlihat sangat syok, sepertinya sesuatu yang buruk baru saja terjadi padanya sebelum dirinya tercebur ke lautan, pikirnya.


"Jangan,,, jangan sentuh aku, jangan nodai aku, tolong!" Dara terlihat sangat ketakutan saat Faisal hendak mendekat dan mengecek kondisinya.


"Tenanglah nyonya, saya dokter, anda juga berada di rumah sakit, anda aman saat ini," ucap Faisal yang menjaga Dara sendirian karena perawat dan dokter yang lain memang sedang sangat sibuk menangani pasien lain.


"Dok-dokter,,?" Dara mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan bercat putih polos itu, juga beberapa alat medis yang berada di ruangan itu membuat Dara memeng benar-benar yaki kalau dirinya betul-betul sedang berada si rumah sakit.


"Dokter, tolong saya, saya di kejar orang jahat, saya akan di celakai seseorang, saya takut, tolong saya dokter!"


"Aku akan menghubungi suami mu, biar Bagas menjemput mu ke sini, karena aku juga harus pulang ke Jakarta beberapa jam lagi." ucapnya.


"Tidak,,,tidak,,,jangan! Dokter mengenal tuan Bagas? Saya mohon jangan hubungi dia, jangan beri tahu dia kalau saya ada di sini, saya mohon, saya takut, dia selalu menyiksa saya, saya juga takut bertemu dengan Kamila, karena sepertinya yang berniat menjual dan mencelakai saya hari ini adalah dia," ucap Dara dengan mata yang menyiratkan kebencian, entahlah hatinya begitu yakin kalau itu semua adalah ulah jahat dari Kamila, wanita itu yang sengaja mejebaknya dengan alasan menyuruhnya mengantarkan dokumen yang ternyata hanya akal-akalannya wanita licik itu saja.


"Tapi?" Faisal justru malah bingung dengan penolakan Dara.


Dara akhirnya menceritakan apa yang di alaminya tadi di kapal, termasuk kecurigaannya terhadap Kamila dan dia juga menceritakan bagaimana dia bisa menikah dengan Bagas.


Sungguh hati Faisal merasa terenyuh dengan cerita hidup Dara yang baru saja di dengarnya jika benar apa yang di ceritakan Dara, maka kasihan sekali nasib bayi yang ada di dalam kandungan Dara yang juga merupakan keponakannya itu, terlahir dari ayah dan ibu yang tidak saling mencintai, dari sebuah pernikahan yang di paksakan karena kegilaan Bagas akibat dosa yang dilakuakn Kamila.

__ADS_1


"Ada satu hal yang harus aku sampaikan pada mu, kau sedang mengandung, maaf,,,apa itu anak Bagas?" tanya Faisal hati-hati tak ingin menyinggung perasaan Dara yang sedang rapuh.


"Ha-hamil?" beo Dara, lemas sudah seluruh tubuhnya, ternyata apa yang di takutkannya selama ini terjadi juga, dia mengandung anak dari Bagas, pria yang sama sekali tak mencintainya dan juga tak dia cintai, namun tak mungkin juga dia menyingkirkan atau membuang bayi tak berdosa yang kini tumbuh dalam perutnya itu.


"Ya, kau sedang mengandung, dan kau memerlukan ayah dari bayi ini untuk membesarkannya dengan figur orang tua yang utuh,"


"Tapi tuan Bagas pasti tak menginginkan bayi ini, dia tak pernah menginginkan ku, apalagi bayi dari rahim ku," ratapnya dengan berlinangan air mata.


Faisal menghela nafas yang sangat panjang, entah ini keputusan yang benar atau salah, namun tiba tiba sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirnya.


"Apa kau mau ikut dengan ku? kau bisa membantu ku dengan menjadi asisten ku, kau juga bisa aman dari Bagas dan Kamila," tawarnya.


"Ikut dokter? Tapi kemana? Dan bagaiman dokter bisa mengenal saya, tuan Bagas dan juga Kamila?" kalimat terakhir hampir saja lupa Dara tannyakan pada Faisal.


"Faisal, namaku Faisal. Aku kakak sepupu dari suami mu, dan aku sempat mengobati mu saat kau mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan mu sendiri, hanya saja saat itu kau tak sadarkan diri, jadi tak sempat melihat ku." terang Faisal.


"Bagaimana,aapa kau bersedia menerima tawaran ku? Aku hanya ingin membantu mu dan menyelamatkan keponakan ku saja, aku tak punya niat jahat pada mu." lanjutnya.


"Tapi ikut kemana?" tanya Dara lagi kebingungan, karena jika dia tetap tingal di Jakarta, maka Bagas akan dengan sangat mudah menemukannya.


"Singapura!" jawabnya, membuat Dara terperangah kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, tak pernah sekali pun Dara bermimpi akan pergi ke luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2