Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Piknik bikin panik


__ADS_3

Dara terus berjalan menyusuri jalan besar, berharap bertemu angkutan umum atau ojek atau apalah yang bisa membawanya menuju alamat yang akan di tujunya.


Sungguh saat ini diaerasa sangat kebingungan di kota orang yang sangat asing dan baru pernah dia datangi namun harus mencari sebuah alamat yang tak tau dimana itu tempatnya, belum lagi dia juga tak mempunyai banyak uang di dompetnya, sehingga dia tak bisa sembarangan menaiki taksi, karena takut uangnya tak cukup untuk membayar tagihan ongkosnya.


"Ojek mba?" tanya seorang pria menepikan sepeda motor matiknya tepat di samping Dara yang terlihat kebingungan berdiri di pinggir jalan besar yang agak sepi.


"Ah, iya, saya mau ke alamat ini, apa anda bisa mengantarkan saya?" dengan polosnya Dara menyodorkan secarik kertas berisis alamat yang tadi di berikan Kamila.


"Oh iya, saya tau tempatnya. Ayo naik, saya antar ke sana." ajaknya.


"Sebentar, berapa ongkosnya? Saya tak punya banyak uang soalnya," tanya Dara lagi tak buru-buru ikut ajakan pria yang masih duduk di atas motornya itu.


"Hanya 25 ribu saja, kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh, namun kalau di tempuh dengan berjalan kaki ya lumayan jauh." terang pria itu.


Dara tersenyum, kalau hanya 25 ribu dia masih mampu untuk membayarnya, kalau dia tak salah masih ada sekitar 160 ribu uangnya di dompet.


Tanpa perasaan curiga atau apapun, Dara menaiki motor matik berwarna hitam itu, pikirannya hanya satu, dia harus cepat-cepat mengantarkan dokumen itu pada Bagas dan menghindari amukannya jika sampai dia terlambat memberikan map itu pada suami galaknya.


Lima, puluh, lima belas, sampai dua puluh menit berlalu dan Dara masih berada di atas jok motor, belum ada tanda-tanda motor yang ditumpanginya itu akan berhenti, entah kemana si pria tukang ojek yang tadi mengatakan kalau tempat tujuannya dekat itu membawanya pergi, rasa-rasanya kalau Dara tidak salah, mereka sudah melaju sangat jauh dari tempat awal mereka.

__ADS_1


"Maaf pak, mas, apa ini masih jauh? Bukannya kata anda tadi tempatnya dekat?" setengah berteriak Dara bertanya pada pengendara motor yang membawanya, karena suaranya harus bersaing dengan suara angin dan deru mesin motor yang dilajukan dengan kecepatan tinggi.


"Oh, ya,,, sebentar lagi sampai, kita mengambil jalan sedikit memutar karena menghindari razia kendaran, motor saya belum bayar pajak, mbak." kilahnya beralasan, membuat Dara yang tak punya pikiran buruk itu pun hanya bisa percaya saja dengan apa yang dikatakan pria yang mengaku tukang ojek itu.


Tepat setengah jam perjalanan, akhirnya motor berhenti di sebuah pelabuhan, membuat Dara kebingungan, ini pengalaman pertamanya berada di sebuah pelabuhan, banyak kapal bersandar, baik itu kapal besar maupun kapal kecil milik perseorangan para orang kaya yang kebanyakan uang.


"Kenapa disini?" cicit Dara dengan mata yang terus saja memindai tempat yang terasa asing baginya itu.


"Ini tulisannya pelabuhan Benoa mba, ya disini tempatnya, kalau menurut catatan alamat di kertas ini, tempat yang mbak tuju adalah salah satu kapal di sana," Tunjuk pria itu pada deretan kapal mewah tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Itu,,,sepertinya kapal nomor dua itu mbak!" tunjuk pria itu lagi sambil sesekali matanya melihat kertas di tangannya dan melirik ke arah pelabuhan lagi setelahnya, seolah sedang membantu mencarikan tempat tujuan yang di cari Dara.


"Ah, iya terimakasih." Setelah menyerahkan uang guna membayar ongkos pada pria itu, Dara berjalan menuju tempat yang tadi pria tukang ojek itu tunjukan, dia tak ingin Bagas menunggunya lebih lama lagi dan berakhir dengan amukan pada dirinya.


Seorang petugas mencegatnya, setelah Dara menunjukkan secarik kertas yang diberikan Kamila dan mengatakan tujuannya datang kesana, petugas itu lantas mempersilahkan dirinya masuk denagn ramah.


Namun anehnya kapal itu terasa sepi, tak ada seorangpun yang berada di atas kapal mewah itu, dan yang tak lebih membuat Dara terkejut adalah kapal tempatnya kini berada terasa bergerak, Dara yang tak pernah menaiki kapal sebelumnya itu berpikir mungkin kapal bergoyang karena hantaman ombak, namun ternyata, objek di sekitar kapal terlihat menjauh, kapal ini benar-benar bergerak, membuat Dara menjadi sangat panik.


Saat Dara hendak kembali ke arah dirinya masuk tadi, seorang pria menghadang langkahnya.

__ADS_1


"Selamat datang dan selamat bergabung dengan kami, nona." ucapnya dengan senyum yang terlihat misterius namun menakutkan.


"Maaf tuan, saya kesini mencari suami saya, namun sepertinya saya salah masuk kapal, bisakah tuan membantu saya mengantarkan saya kembali ke pelabuhan?" gugup Dara ketakutan.


"Kau tidak salah tempat nona, aku sudah menunggu mu sejak tadi," pria berpostur tegap itu membelai pipi Dara dengan lancangnya, membuat Dara menepis tangan kekar pria itu dengan kasar, Dara pun memundurkan kakinya beberapa langkah, wajahnya memucat dan ketakutan, dia mulai merasa kalau ada sesuatu yang ganjil di tempat itu.


"Mau kemana, Dara Jelita?" pria itu menyeringai setelah memanggil nama Dara dengan begitu fasihnya, membuat Dara merinding karena sepertinya pria di hadapannya itu sangat mengenalnya, terbukti saat dia menyebutkan nama panjangnya dengan benar.


"Si-siapa kau!" teriak Dara dengan lutut yang mulai gemetaran karena ketakutan.


"Aku pemilik mu sekarang," jawabnya.


"Apa maksud mu, pemilik ku? Aku sudah bersuami, jangan macam-macam!" ancam Dara.


"Sudahlah, suami mu itu tak menginginkan mu, bukankah dia selalu menyiksa mu? lebih baik kau bersama ku, aku akan membuat mu bahagia, kau akan terlihat lebih cantik saat sudah ku poles nanti, ah,,, sepertinya kau juga akan mencetak banyak uang untuk ku, akan banyak pria yang berani mengeluarkan banyak uang untuk menikmati mu, tapi sebelum itu, aku harus menikmati mu terlebih dahulu," oceh pria itu terus mendekat ke arah Dara berdiri dengan tangan yang terus saja terulur mencoba menggapai tubuh dan wajah Dara yang terus saja menghindar dan mengelak dengan gesitnya meski dirinya dilanda ketakutan yang sangat hebat saat ini.


"Tolong jangan sakiti aku, jangan macam-macam, aku mohon!" cicit Dara mengiba.


"Oh sayang, aku tak mungkin menyakiti mu, justru aku akan memberimu kenikmatan yang luar biasa , asal kau menurut dan patuh pada ku, tenang saja, aku ahlinya dalam memberi kenikmatan pada perempuan,"

__ADS_1


Dengan sekali sentakan pria kekar yang tenaganya sungguh tak sebanding dengan Dara itu akhirnya berhasil mendekap paksa tubuh dara, menenggelamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukan tubuh kekarnya, membuat Dara menjerit ketakutan.


"Teriaklah sayang, teriak yang kencang, semakin liar, aku semakin bersemangat!" ucap pria itu sambil terbahak seolah mengejek Dara yang terus berontak berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.


__ADS_2