
Semenjak pertemuan dirinya dengan Bagas, Faisal seolah menghindari Dara, biasanya dia datang menemuinya di apartemen hampir setiap hari, namun kali ini sudah hampir 3 hari Faisal tak terlihat batang hidungnya.
Sempat beberapa kali Dara mencoba meneleponnya, namun Faisal tak mengangkat panggilannya, sungguh itu sama sekali bukan kebiasan Faisal.
Faisal duduk di kursi ruang praktiknya, memandangi ponselnya yang terus berdering namun tak ingin dia terima, ya,,, itu panggilan telepon dari Dara, demi Tuhan bukan maksudnya untuk mengabaikan wanita hamil itu, dirinya pun tersiksa berjauhan dan memendam rindu selama 3 hari ini, namun dia belum siap untuk bertemu dengan istri dari adik sepupunya itu, sampai sempat terbersit bagaimana rasanya jadi Bagas yang memendam rindu hingga berbulan-bulan lamanya, sementara dirinya yang hanya tiga hari saja sudah hampir gila rasanya.
Faisal belum siap untuk menyampaikan pesan yang di titipkan Bagas padanya untuk Dara, jujur dia ingin Dara kembali bersama Bagas, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dirirnya juga tak ingin kehilangan Dara, bukankah itu sangat menyulitkannya?
Di tempat lain Kamila juga tak kalah merasa gelisahnya dari Faisal, bagaimana tidak, posisinya yang kini sudah di ambang jurang itu terancam akan tertendang dari kehidupan Bagas jika Dara kembali ke rumah itu, apalagi Dara juga mengandung anak Bagas yang sudah dapat dipastikan akan menjadi pewaris seluruh harta kekayaan Bagas yang tak terhingga itu, lantas dirinya dapat apa?
"Ah, tidak! Ini benar-benar tidak bisa di biarkan, dia tak boleh kembali ke sini," gumamnya sambil terus saja mondar-mandir di depan ranjang kamarnya, malam sudah hampir berganti pagi, namun Kamila benar-benar tak bisa beristirahat sama sekali akibat terus memikirkan bagaimana caranya caranya agar Dara tak kembali ke rumah itu.
Belum lagi pengakuan perasaan cinta Bagas untuk Dara yang dia ungkapkan pada Faisal tempo hari benar-benar sukses membuat hatinya hangus terbakar, Kamila harus memutar otaknya agar dirinya kembali menjadi ratu dan bertahta di hati Bagas seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Hallo, Dimas!" Akhirnya, karena saking buntunya otak Kamila malam itu, dia lantas memutuskan untuk menghubungi seseorang yang dia panggil dengan nama Dimas itu.
Lama Kamila mengobrol serius dengan lawan bicaranya di ujung telepon sana, terhitung sekitar lebih dari tiga jam itu, sepertinya banyak sekali yang mereka bicarakan malam itu.
Sepertinya memang kali ini jadwalnya galau berjamaah, selain Faisal, Kamila dan juga Dara yang kebingungan karena Faisal yang tiba-tiba menghilang, sepertinya yang paling galau saat ini juaranya tiada lain dan tiada bukan adalah Bagas.
Bagas pantas di sematkan sebagai kandidat tergalau di antara mereka berempat, karena dirinya di paksa untuk menekan egonya yang semua orang sangat tinggi itu demi kebahagiaan Dara, sungguh dia tak ingin mengulang kesalahan yang sama yang pernah dia lakukan dimana dia selalu menyakiti perasaan istrinya itu.
Jika menuruti egonya, tentu saja dia ingin menyeret Dara pulang kembali ke rumahnya, karena bagaimana pun wanita itu masih sah sebagai istrinya, tak pernah ada kata talak terucap dari mulutnya sekali pun. Namun dia sudah tak mau mengulangi hal itu lagi, terlebih ada calon anaknya di dalam perut Dara, jika dia menekan atau menyakiti Dara, dan itu akan berpengaruh pada calon darah dagingnya itu, bukankah itu berarti dia tak hanya menyakiti istrinya, namun juga menyakiti calon buah hati mereka.
**
Merasa sangat penasaran dan khawatir dengan Faisal yang sampai saat ini tak juga datang menemui nya dan tak pernah mau menerima panggilan teleponnya, Dara memutuskan untuk datang ke rumah sakit pagi itu, dia masih hafal jadwal kapan Faisal di rumah sakit dan kapan di kliniknya, karena lamanya mereka bersama, entah dalam konteks apa, entah sebagai apa, yang jelas Dara juga sering merasa bahagia jika Faisal datang, dan merasa kehilangan jika dia menghilang sepertiini, meskipun ini untuk pertama kalinya Faisal benar-benar lost contact dengan dirinya selama itu.
__ADS_1
Sepasang mata terus saja mengikuti kemana kaki Dara melangkah di loby rumah sakit swasta ternama itu, tanpa Dara sadari jika dirinya sedang di perhatikan sejak tadi.
Dara terlihat semakin bingung saat resepsionis tadi mengatakan kalau Faisal tidak berada di sana karena sedang mengambil masa cutinya selama satu minggu.
Dengan keadaan dirinya yang sedang hamil besar dan gampang lelah, akhirnya Dara memutuskan untuk kembali ke apartemen, dan lagi lagi dia tak menyadari kalau seseorang membuntutinya sampai dirinya masuk ke unit apartemen milik Faisal yang kini di tinggalinya itu.
"Aku sudah menemukan dimana Dara tinggal, sudah ku kirimkan alamat lengkapnya." ucap si penguntit melapor pada seseorang di ujung telepon.
Keesokan harinya, pagi sekali bel apartemen berbunyi membuat Dara yang tengah menikmati sarapannya mengernyitkan keningnya bingung, selama ini tak ada orang lain yang datang ke tempat itu selain Faisal, namun itu pun biasanya dia langsung masuk karena tau kode pin pintu itu.
Dara beranjak dari kursinya, lantas berdiri beberapa menit di depan pintu, menimbang-nimbang apakah dia harus membuka pintu itu atau tidak, dan sialnya dia tidak bisa mengintip siapa yang datang pagi itu andai saja dia bisa mengintip dari lubang pintu, sungguh dia takut jika ternyata tiba-tiba Bagas yang datang ke sana, namun tetap saja Dara harus siap dengan segala kemungkinan, karena cepat atau lambat pertemuannya dengan Bagas pasti akan terjadi, karena mereka tinggal di kota yang sama, meskipun ibukota itu sangat besar dan luas.
Dengan tangan gemetaran dan jantung yang mulai dag dig dug tak menentu, Dara memutar handle pintu itu dan menariknya sampai setengah terbuka, benar saja, tamu yang sangat di rindukan namun tidak dia harapkan kedatangannya sama sekali itu sedang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Lemas rasanya lutut Dara melihat dua orang pria dan wanita yang kini berdiri menatapnya dengan tajam di ambang pintu, tatapan yang sangat lama sekali tak pernah lagi dia lihat.
"Emak, Bapak,,," cicit Dara memanggil kedua orang tuanya yang tiba-tiba saja ada di hadapannya pagi itu dan entah siapa yang telah memberi tahu tempat tinggalnya yang sekarang ini sehingga mereka sampai berhasil menemukan keberadannya.