Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Obrolan antar pria


__ADS_3

"Kenapa kau belum tertidur juga?" tanya Bagas saat memeriksa keadaan Dara di kamar namun istrinya belum juga memejamkan matanya.


"Perut ku merasa tak enak tuan, rasanya yang sebelah kiri sering sekali kram," ujar Dara yang tak menyangka jika ucapannya itu membuat Bagas langsung berjalan mendekat ke arahnya, dengan wajah yang terlihat sangat panik.


"Mana yang sakit? Apa perlu aku telepon dokter atau kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Bagas yang terlihat sangat panik dan ketakutan.


"Tidak, kata dokter ini biasa bagi wanita yang hamil besar, semua posisi tidur menjadi sangat tidak nyaman," tolak Dara.


"Maafkan aku, sudah membuat mu menjadi tak nyaman seperti ini," lirih Bagas, dia sungguh merasa bersalah karena dirinyalah yang membuat Dara hamil akibat dirinya yang selalu mememaksa Dara melakukan hubungan suami istri meski Dara tak menginginkannya, hanya saja dirinya memang tak pernah bisa menahan hasratnya jika itu tentang Dara.


"Sudahlah tuan, lagi pula aku tak pernah menganggap kehamilan ku ini sebuah beban, namun sebaliknya, ini adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk ku." balas Dara membesarkan hati Bagas.


Dara memang sudah mulai berdamai dengan hatinya yang selalu membenci, dan menerima keadaan yang meskipun tak seperti yang di harapkannya, tapi ya sudahlah, bukankah ini hanya selama 3 bulan saja, apa salahnya sedikit berbaik hati dengan membiarkan ayah dan anak itu saling mengenal sejak dini, karena kelak saat mereka sudah berpisah mungkin akan sangat sulit untuk mereka saling bertemu.


"Emh,,, Dara, apa boleh aku menyentuhnya, aku ingin berbicara antar pria dengannya!" telunjuk Bagas mengarah tepat ke perut Dara yang rasanya semakin hari semakin membesar saja.


Bagas langsung mengulurkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya di atas perut buncit itu, saat Dara mengangguk pelan tanda memberikan izin padanya.


"Hey boy, ini ayah! Ayah tau sangat sesak, sempit dan gelap di dalam sana, tapi kau harus bersabar boy, seperti ayah yang selalu bersabar walau sangat ingin bertemu dengan mu, tolong jangan buat ibu mu sakit ya, jadilah anak baik, pria hebat yang selalu menyayangi ayah dan ibu mu,"


Cup,,,


Hampir saja Dara terlonjak kaget saat tiba-tiba Bagas mengecup perutnya dengan lembut di sela usapan tangan halusnya yang mampu membuat semua rasa sakit dan tak nyaman yang dia rasakan sejak tadi hilang seketika, belaian lembut tangan Bagas seperti menghipnotis Dara sehingga dia hanya membiarkan saja dan menikmati tangan besar itu mengusap-usap perutnya, hingga akhirnya dia terlelap tanpa dia sadari.


Ah, orang hamil memang paling gampang laper, cape dan ngantuk, dan seperti itulah kurang lebih yang sedang di alami Dara selama beberapa bulan ini.

__ADS_1


Bagas tersenyum puas, karena sepertinya Dara sudah mulai melihatnya sebagai ayah dari anaknya, bukan melihatnya sebagai musuhnya seperti yang selama ini sering di perlihatkannya.


Meskipun mungkin Dara belum membuka hati untuk dirinya, namun Bagas yakin dengan seiring waktu dia akan dapat meruntuhkan tembok yang membentengi hati Dara selama ini.


Sungguh Bagas harus sangat berterima kasih pada putranya kelak, karena dengan kehadirannya kini dirinya bisa sedekat ini dengan Dara tanpa penolakan dan paksaan.


Terhitung lebih dari seminggu sudah, ritual usap perut sambil mengobrol dengan calon jagoannya yang masih berada dalam perut Dara itu di lakukan, dan Dara pun hanya bisa terlelap jika Bagas sudah menunaikan tugasnya sebagai pengusap perut, terkadang Bagas juga memijat pelan kaki istrinya yang juga terlihat membengkak itu.


Sungguh itu seperti bukan seorang Bagas Prawira yang selalu di takuti oleh semua lawan bisnisnya dan di segani semua karyawannya itu.


"Dara, besok aku harus ke luar kota, ada sedikit trouble di perusahaan yang berada di sana, sementara Panji juga harus menemui klien di kota yang lain, mewakili ku, aku usahakan akan segera pulang jika pekerjaan itu sudah selesai," kata Bagas menyampaikan izin tentang pekerjaan mendesak yang harus dia tangani di luar kota.


Rasanya berat sekali bibir Dara untuk mengatakan iya, hanya beberapa hari terbiasa mendapatkan perlakuan manis dan perhatian ekstra dari suaminya itu membuatnya agak berat untuk melepas Bagas pergi, namun rasa gengsi dan egonya tetap masih bisa mengalahkan semua rasa itu,


**


Pagi sekali Bagas sudah pergi, setelah memberikan banyak sekali peraturan dan tugas yang harus Anwar dan Yoga lakukan untuk Dara selama dirinya pergi, padahal Bagas hanya akan pergi satu hari saja, besok pagi rencananya dia akan segera kembali pulang, namun pesan dan tugas yang di berikan pada Anwar dan Yoga seolah dia akan meninggalkan Dara selama bertahun-tahun saja.


Dara terbangun Dari tidur lelapnya, semalam Bagas mengusap perutnya dan memijit kakinya sampai hampir dini hari, katanya itu bonus karena nanti malam suaminya itu tak bisa menjaganya, mengingat ucapan konyol Bagas itu, bibir Dara tanpa di sadarinya membentuk senyuman tipis, dia sangat tak menyangka kalau ternyata Bagas bisa sekonyol dan semanis itu.


Saat dirinya keluar menuju ruang tamu paviliun, sofa yang biasa menjadi tempat tidur suaminya itu sudah kosong, itu berarti suaminya sudah pergi.


"Hemh,,, bahkan dia tak membangunkan ku untuk berpamitan,!" kesalnya.


"Ah sudahlah, apa peduli ku, mau pamit atau tidak toh kami pun akan berpisah sebentar lagi, sepertinya otak ku mulai tak waras!" gerutu Dara sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Tok,,, tok,,, tok,,,!


Pintu utama paviliun itu di ketuk dari luar, susah payah Dara berjalan ke depan untuk membukakakan pintu.


"Ini sarapannya nyonya, dan ini vitaminnya juga susu yang kata tuan harus di habiskan tidak boleh di buang ke tempat sampah." terang Anwar menaruh baki besar berisi makanan yang tadi dia absen satu persatu tadi.


Dara melirik susu hamil kemasan kotak yang berada di antara makanan itu, dia tersenyum miring, bagaimana bisa Bagas tau jalau dirinya sering membuang susu itu dan hanya meminumnya sedikit karena dia tidak suka dengan rasanya, namun khusus pagi hari Bagas memang selalu memberinya susu itu, sementara kalau siang dan malam hari susu buatan Bagas selalu dia habiskan sampai tandas.


Bagas memang tak pernah bermain-main dengan gizi dan kesehatan istri da calon anaknya, seingga dia memberikan semua hal yang istimewa dan terbaik untuk mereka berdua.


"Ayo nyonya saya antar anda untuk berjalan-jalan kecil di taman belakang, kata tuan hanya anda harus berjalan selama 15 menit saja di taman," kata Anwar lagi menuntaskan satu persatu tugas yang di amanahkan Bagas pada dirinya.


"Apa saja yang di tugas kan tuan Bagas pada anda Pak anwar untuk mejaga ku?" tanya Dar penasaran.


Banyak sekali nyonya, ini sebagian catatan yang di berikan Tuan Bagas pada saya," Anwar menunjukkan dua lembar kertas berisi tugas-tugas yang harus di lakukan Anwar dalam menjaga dirinya, bahkan ad di antaranya harus melaporkan keadaan Dara dan situasi seperti apa yang terjadi di sekitar paviliun, paling lambat satu jam sekali. Membuat Dara geleng-geleng kepala dan tak bisa berkata-kata.


"Wah wah,, tuan putri sedang berjalan-jalan pagi di temani ajudan rupanya, sungguh sepertinya menyenangkan sekali kehidupan anda tuan puteri, setelah mengambil Bagas dari ku, lantas sekarang pamer kebahagian di hadapan ku, apa kau ini manusia, hah?!" sentak Kamila.


"Nyonya Kamila, tuan tidak mengizinkan siapapun mendekati nyonya Dara, kecuali saya dan mas Yoga, mohon maaf!" Anwar dengan sigap menempatkan Dara di belakang tubuhnya, sebagai upaya pelindungan istri dari tuannya itu, dia tak ingin di salahkan jika sampai sterjafi sesuatu pada istri tuannya dan calon anak majikannya itu.


"Cih sungguh istimewa sekali penjagaan nyonya udik mu itu, bahkan lebih ketat dari seorang istri presiden." cibir Kamila sinis.


"Maaf nyonya, saya hanya menjalankan perintah saja." ucap Anwar sambil terus bersikap waspada.


"Saya tidak pernah merasa ada masalah dengan anda nyonya, tapi mengapa anda selalu menganggap saya musuh? Bahkan anda sampai tega menipu saya saat di Bali, beruntungnya sampai saat ini aku belum berkeinginan menyampaikan kelicikan mu saat itu, namun jika anda macam-macam, saya tidak akan segan untuk meceritakan kelakuan jahat mu padaku," ujar Dara setengah mengancam.

__ADS_1


__ADS_2