Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Cari Aman


__ADS_3

"Siapkan segala sesuatunya, kita akan ke sana besok!" Ujar Bagas dengan tatapan tajam dan wajah marahnya sungguh dia sudah tak sabar ingin membantai wanita yang pernah menjadi penguasa hatinya selama bertahun-tahun itu.


"Lantas bagaimana dengan nyonya, apa tuan akan---?" Tanya Panji ragu, dia sungguh tak ingin istri dari Tuannya tiba-tiba menyusul seperti saat kejadian penyergapan di kantor terulang lagi.


"Tidak,,tidak,,, aku akan berbicara dan meminta izin padanya secara baik-baik, aku kapok menyembunyikan rahasia dari istri ku, rasa panik saat dia tau-tau ada di kantor saja, sampai saat ini rasanya belum hilang." Terang Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu sepertinya lebih baik, tuan." Panji terlihat tenang dan setuju dengan keputusan tuannya itu.


"Sayang, ada yang perlu aku bicarakan dengan mu, apa kita bisa mengobrol sebentar?" Ujar Bagas sore itu ketika dia baru saja pulang dari kantor.


Dara mengangguk, dia segera memposisikan dirinya dengan duduk di sofa kamar mereka, kebetulan putra mereka sedang di asuh nenek dan kakeknya di lantai bawah.


"Aku akan berangkat ke Bali besok pagi-pagi sekali, penerbangan pertama. Panji mendapat kabar dari anak buahnya kalau Kamila ada di sana, besok, aku, Panji dan beberapa anak buahnya akan bertolak ke sana, doakan aku dan yang lainnya agar bisa menangkap wanita itu." Urai Bagas dengan tenang.


"Aku ikut!" Ujar Dara tanpa basa basi.

__ADS_1


"Sayang, ini berbahaya. Kamu bisa lihat kemarin betapa mengerikannya saat kejadian di kantor, aku tak mau terjadi apa-apa dengan mu," Bagas memang sudah memprediksi tentang permintaan Dara yang satu ini, namun dirinya keukeuh untuk menolak permintaan konyol istrinya itu, mereka pergi dalam misi, bukan untuk liburan atau bersenang-senang.


"Aku tau, dan untuk itu aku ingin ikut, atau kamu mau aku pergi menyusul mu diam-diam seperti saat itu?" Ancam Dara.


"Sayang, bagaimana dengan Kai, kita tak bisa meninggalkannya apa lagi mengajaknya, bukan?"


"Emak dan bapak ku akan menjaga putra kita, aku percaya mereka akan mengerti dan tidak akan keberatan di titipi cucunya beberapa hari, stok asi ku juga masih banyak di freezer, aman untuk beberapa hari ke depan."


Jawaban Dara dapat mematahkan penolakan dan larangan suaminya agar dia tak ikut serta dalam perjalanannya memburu Kamila.


"Aku tak akan mengganggu kalian mas, aku hanya ingin ada di dekat mu apapun keadaannya, aku tak akan tenang jika aku tetap berada di sini sementara kamu mempertaruhkan nyawa mu di sana, kamu tau kalau aku orangnya nekat jika kamu tetap melarang ku untuk ikut pergi dengan mu." Sambung Dara.


Bagas menghela nafas panjang dan beratnya, "Oke,,, kamu ikut. Ayo kita bicara dengan orang tua mu, untuk menitipkan anak kita dan meminta restu dan doanya untuk keselamatan dan keberhasilan kita, bagaima pun doa orang tua lebih mujarab dari jimat sakti manapun."


Bagas akhirnya mengalah, sungguh dia sedikit-sedikit sudah mulai paham dengan karakter ngeyel dan keras kepala istri tercintanya itu, sekuat apapun dia melarang, kalau istrinya sudah berkehendak tak akan ada yang bisa mencegahnya.

__ADS_1


Mengizinkan adalah jalan satu-satunya agar dia tak kecolongan lagi dengan sikap nekat Dara, atau dengan kata lain Bagas hanya cari aman saja dalam hal ini.


Pagi buta semua orang yang akan berangkat sudah berkumpul dan bersiap di rumah Bagas, Panji dan beberapa anak buahnya juga sudah terlihat siap, sementara puluhan anak buah Panji sudah terlebih dahulu berangkat dan mengamati pergerakan Kamila di sana.


Di lepas dengan doa tulus kedua orangtua Dara yang kini sudah sadar akan semua kesalahannya dan sudah menjadi orang tua normal seperti pada umumnya, mereka semua berangkat dengan percaya diri yang tinggi kalau upaya mereka kali ini untuk menangkap Kamila akan berhasil dengan sempurna, rencana yang matang, personil dengan jumlah yang lumayan banyak membuat mereka melangkah dengan pasti.


Perjalanan yang memakan waktu sekitar kurang lebih dua jam perjalanan udara itu terasa sangat singkat, matahari pagi masih terasa hangat saat mereka semua tiba di pulau dewata itu.


Menuju villa yang dulu pernah di kunjungi saat Dara dan Bagas saat itu akhirnya harus terpisah karena tragedi di kapal itu.


Kilas balik ingatan Dara langsung terbayang nyata begitu saja saat Dara masuk ke pekarangan bangunan tepi pantai itu, melihat ruang demi ruang saksi kesedihan dirinya saat itu karena perlakuan kejam Bagas muncul kembali di memorinya.


"Sayang, maaf. Seharusnya saat itu aku tak mengajak mu pergi ke sini, sehingga membuat kita terpisah sangat lama, tapi taukah kamu, saat itu aku tak ingin meninggalkan mu di Jakarta dan aku harus jauh dari mu, namun ternyata ---" Bagas tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, sungguh dia tau apa yang kini ada dalam benak Dara, istrinya itu pasti sedang mengingat betapa jahat sikap dirinya saat itu padanya.


"Tak apa mas, kalau kamu tak kehilangan aku di sini mungkin kamu juga tak akan pernah menjadi se-baik dan se-sayang seperti sekarang ini pada ku," Dara memberikan senyum termanisnya.

__ADS_1


"Hemmhh,,, benar kata pepatah, kita baru akan menyadari betapa pentingnya seseorang setelah kita kehilangan, beruntungnya aku hanya kehilangan sementara waktu saja, aku tak bisa membayangkan jika aku benar-benar kehilangan mu untuk selamanya, mungkin aku akan gila."


__ADS_2