
"Informasi apa yang kau sembunyikan dari ku?" sambar Bagas sangat penasaran.
"Tapi tuan belum menjawab pertanyaan saya yang tadi," Panji tetap bertahan untuk tak mengatakan informasi apapun juga.
"Shiiiit, bajingan kau, apa hubungannya perasaan ku dengan informasi mu, cepat katakan apa yang kau tau tentang wanita itu?" Bagas mulai tak sabaran.
"Tidak, sebelum anada menjawab pertanyaan saya, karena ini terlalu sensitif untuk di biacarakan, sehingga saya harus tau perasaan anda dahulu."
"Ah sial. TIDAK,,,AKU TIDAK MENCINTAINYA, apa kau puas? Sekarang cepat katakan!" bentak Bagas penuh emosi, dia tetap membohongi dan mengingkari perasaannya sendiri, entak karena apa.
"Baiklah, karena anda tidak mencintai nyonya Dara, seharusnya anda akan merelakan jika nyonya kini sudah bahagia dengan pasangannya yang baru, lagi pula wanita yang anda cintai, nyonya Kamila juga sudah anda miliki, bukan?" ujar Panji berhati-hati.
'Tak usah berputar-putar katakan saja intinya, hari ini beban pikiranku sudah terlalu banyak!" tepisnya.
"Saya melihat nyonya Dara dua minggu yang lalu di bandara, saat saya baru saja pulang dinas dari Medan, sepertinya dia sangat bahagia dengan suaminya, dan dia juga,,,"
"Ah shiiiiit, apa maksudmu dengan suaminya, aku masih sah sebagai suaminya, aku bisa menuntutnya jika sampai dia menikah lagi,"
__ADS_1
"Tapi tuan, anda dan nyonya hanya menikah siri, dan tak tercatat di catatan sipil. Akan berat jika anda menuntutnya, lagi pula bukankah anda tidak mencintainya, nyonya terlihat sudah bahagia dengan suaminya," ujar Panji lagi.
"Suami, suami, suami, stop mengatakan itu! Aku masih menjadi suami sahnya, lagi pula bagaimana kau bisa tau kalau dia sedng bersama suaminya, bisa saja itu teman atau siapanya?" bantah Bagas, panas dadanya mendengar Paji berulang kali mengatakan kalau Dara sedang bersama suaminya, sementara dirinya tak merasa pernah menjatuhkan talak pada istri pertamanya itu.
"Nyonya sedang hamil besar tuan, dan suaminya sepertinya sangat menjaganya dengan baik, nyonya terlihat segar," kata Panji yang memang tak mengetahui jika saat menghilang dulu Dara ditengarai sedang mengandung anak dari bosnya itu, jadi dia mengira kalau bayi yang ada di perut Dara bukanlah benih dari Bagas.
Tiba-tiba pandangan Bagas menjadi sangat gelap, pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali di kepalanya, Dara hamil, apakah itu anaknya yang saat sebelum menghilang dulu dokter mengatakan Dara sedang mengandung, atau anak pria yang Panji sebut suaminya itu, tapi Bagas yakin kalau saat itu dirinyalah yang membobol gawang Dara untuk yang pertama kalinya.
"Hamil? Dia sedang hamil? Pria berengsek mana yang berani berurusan dengan ku? Dia mencuri istri ku!" geramnya.
"Faisal?" cicitnya tak percaya, sungguh benar-benar di luar perkiraannya.
Pikiran Bagas langsung kembali ke peristiwa tadi di rumah sakit dimana dia mencium wangi tubuh Dara di depan ruang obgyn dan di ruang praktek sepupunya itu bukanlah halusinasinya semata, namun sepertinya jalan Tuhan yang ingin memberi tahunya kalau sang istri yang selama ini di cari-carinya itu berada sangat dekat dengan dirinya.
Ah betapa dirnya merasa menjadi manusia yang sangat bodoh tadi, tak peka dengan petunjuk yang sengaja Tuhan berikan padanya tadi.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Panji saat melihat Bagas yang hanya terus saja mengisi gelasnya dan menenggak minuman itu hingga hampir satu botol dia habiskan, namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.
__ADS_1
Penyesalan di dadanya kini menggunung, bahkan rasanya lebih besar jika di bandingkan gunung semeru, belum lagi dirinya yang merasa kebingungan bagaimana dia harus menentukan sikap dirinya seperti berada di persimpangan jalan, di hadapkan pada dua pilihan yang teramat sulit bagi dirinya, dimana dirinya harus memilih dia antar adua hal yang sangat penting untuk hidupnya, memilih keutuhan persaudaraan dengan sepupunya yang merupakan saudara satu-satunya yang dia miliki, atau memilih Dara yang sudah menginvasi seluruh hidup dan jiwanya selama beberapa bulan ini, jujur saja ini bukan pilihan yang manusiawi menurut Bagas, sehingga membuatnya terus menenggak minumannya sampai akhirnya dia mabuk berat.
Panji mengantarkan tuannya pulang ke rumahnya, ada setitik perasaan bersalah alam dirinya sudah mengatakan kenytaan pahit itu pada Bagas, karena ternyata dugaannya benar, kalau Bagas jatuh cinta pada Dara, dia sangat tau itu, namun dia juga tak bisa berbuat apapun, apalagi setaunya kini Dara tengah berbahagia bersama Faisal dan calon anak mereka, ini pun tak kalah membingungkan karena Panji pun akhirnya harus ikut-ikutan beraa dalam situasi yang serba salah seperti halnya yang di rasakan sang tuan saat ini.
"Apa yang terjadi?" Kamila yang mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah segera keluar karena dia sedang menantikan kedatangan Bagas malam itu, memang yang datang saat itu Bagas, namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan, setengah sadar dengan bau alkohol yang menyengat dari sekujur tubuhnya seperti suaminya itu habis berendam dalam bak berisi alkohol.
"Biar aku saja yang membawanya ke dalam," ujar Kamila lagi.
"Tapi nyonya," Panji ingin menolak permintaan istri dari tuannya itu, karena dia ingin mengantarkan nya sendiri ke paviliun tempat dimana biasa Bagas tinggal selama beberapa bulan terakhir ini.
"Aku istrinya, tidak ada tapi-tapian, aku yang akan mengurusnya, kau pulang saja!" titah Kamila.
Dengan berat hati Panji menyerahkan tubuh tinggi besar Bagas pada Kamila untuk di papahnya, meskipun agak kewalahan, Kamila akhirnya berhasil membawa Bagas ke dalam kamar mereka, kamar yang selama hampir delapan bulan ini tak pernah lagi Bagas injakan kakinya.
Kamila tersenyum penuh kemenangan, saat memberingkan tubuh Bagas di ranjangnya yang menjadi saksi kesepiannya setiap malam, karena pada akhirnya malam ini Bagas bisa kembali dia miliki, perlahan satu persatu Kamila melepas pakaian yang dikenakan suaminya, sungguh otot-otot perut suaminya yang tersusun rapi itu begitu menggodanya, membuat tangannya bergerilya dan meraba-raba kulit perut dan dada suaminya yang keras itu.
"Dara, aku merindukan mu!" Tiba-tiba Bagas menangkap tangannya yang sejak tadi bergerak nakal dan Bagas mulai menciumi tangan Kamila dengan bibirnya yang terus saja meracau memanggil-manggil nama Dara sepanjang malam.
__ADS_1