Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Bayi Besar


__ADS_3

"Mas, apa kamu tidak tidak ke kantor?" Tanya Dara, ketika hampir menjelang siang suaminya masih memakai kaos oblong dan celana joger sambil mengajak bercanda Kaisar yang selalu tertawa renyah jika sedang di ajak main oleh ayahnya.


"Panji bisa mengatasi pekerjaan ku, yang penting kamu sembuh dulu, aku juga tak akan tenang jika meninggalkan mu bekerja dalam keadaan seperti ini, lagian kasian Kai tak ada yang menjaganya, dia selalu terlihat muram jika di jaga oleh orang lain," urai Bagas.


"Mana ada seperti itu, Kai masih bayi, mana dia ngerti, itu alasan kamu saja!" Ketus Dara yang menilai kalau jawaban Bagas itu terlalu mengada ada dan menggunakan anak mereka sebagai alasan.


Ini sudah hari ke tiga Bagas seakan tak beranjak dari kamar atas menunggui Dara dan mengasuh anak mereka, Bagas bahkan berpesan pada Anwar untuk tak ada yang mengganggunya kecuali Panji, sehingga Kamila pun tak bisa mengutus Yati untuk memanggilnya seperti biasa jika Bagas di rasa terlalu lama bersama dengan anak dan istrinya di lantai atas.


"Apa bayi besar mu tak kelabakan mencari mu, nanti dia tidak bisa makan kalau tak di suapi oleh mu, nanti tidak sehat," sindir Dara menirukan cara bujukan Bagas pada Kamila setiap wanita itu mogok makan.


Tentu saja Bagas tau siapa 'bayi besar' yang di maksud Dara, tapi dirinya memilih untuk tak meladeni sindiran Dara tersebut, dia tak ingin memulai perdebatan di antara mereka karena hal-hal yang sepele seperti itu.


"Bagas,,,! Bagas,,,! Buka pintunya!"


Benar saja, belum ada satu menit mulut Dara tertutup, si bayi besar itu sudah terdengar berteriak-teriak seperti tarzan di luar pintu kamar mereka.


Sontak saja Dara langsung melirik ke arah Bagas sambil tersenyum nyinyir, "Tuh, kan!" cebik Dara seraya memajukan dagunya ke arah pintu.


Dengan langkah malas Bagas berjalan menuju pintu, dia tak mau teriakan Kamila mengganggu ketenangananak dan istrinya di kamar itu.


"Ada apa? Dan kenapa dia bisa ke sini, bukankah aku sudah bilang kalau aku tak mau ada yang mengganggu?" Suara Bagas meninggi dengan mata membelalak ke arah Anwar yang berdiri ketakutan di belakang tubuh Kamila.


"Ma-maaf tuan, anu itu---"


"Aku yang memaksa untuk ke sini, kau telah mengabaikan ku selama tiga hari, apa-apaan ini!" sewot Kamila.


"Tolong pelankan suara mu, istri ku sedang sakit dan aku harus merawatnya juga menjaga putra kami!" suara Bagas terdengar datar dan dingin.


Tak terlihat lagi Bagas si 'mister yes' yang selalu mengatakan iya, oke dan baiklah pada Kamila dengan suara lembut dan hangat.

__ADS_1


"Tapi aku juga is---"


"Kita sudah bercerai, tolong jangan lupakan itu, kita sudah sepakat saat itu!" potong Bagas.


"Bagas, apa yang terjadi? Terakhir saat kau mengantar ku ke rumah sakit kau masih bersikap manis padaku, bahkan kau menjanjikan untuk menikahiku kembali, kenapa tiba-tiba sekarang jadi seperti ini?"


"Aku tak merasa menjanjikan apapun, aku hanya mengiyakan permintaan mu saja." Bagas mengendikkan kedua bahunya.


Melihat sikap cuek dan dingin Bagas yang kini di tunjukkannya, membuat Kamila naik pitam dan menerobos masuk ke dalam kamar dimana Dara sedang mennimang putranya sambil menguping pembicaraan antara Bagas dan bayi besarnya yang sedang meradang itu.


"Hei wanita udik, wanita sial, kau apakan Bagas selama tiga hari ini sampai dia bersikap acuh dan tak peduli pada ku dan anaknya, seharusnya kau tau diri, kalau kau di sini hanyalah pemeran pengganti, hanya figuran bagi Bagas selama aku tak ada di sisinya, kau hanya beruntung memiliki sedikit kemiripan wajah dengan ku, tapi jangan besar kepala seolah kau paling cintai karena kau mempunyai anak darinya karena kau hanya cadangan yang sebentar lagi akan terusir, karena aku dan bagas akan segera rujuk kembali, berbahagia dengan anak kami!" Bak kesetanan Kamila meluapkan amarahnya pada Dara yang di rasanya sudah memberikan hasutanpada Bagas sehingga sikap Bagas kini berubah drastis padanya.


"Kamila cukup! Jangan usik atau libatkan istri dan anak ku dalam masalah kita, antara kita sudah tak ada hubungan apapun selain hanya karena anak yang ada dalam perut mu, jangan melewati batas mu!" Geram Bagas yang langsung meledak amarahnya karena Kamila berusaha menyerang Dara.


Kamila terdiam, dia mundur beberapa langkah, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Bagas membela Dara di hadapannya, setelah sebelumnya pria itu biasanya selalu diam dan tak peduli jika pun dirinya mengintimidasi istrinya itu.


"K-kamu membentak ku dan membelanya?" gagapnya.


"Kau menyakiti ku dan anak mu yang ada dalam perut ku ini, kau berjanji akan membahagiakan anakmu ini," si ratu drama mulai menebar iba.


"Tak perlu aku janji pada siapapun untuk kebahagiaan anak-anak ku, karena itu sudah kewajiban ku sebagai seorang ayah yang harus memberikan kebahagiaan untuk anaknya, dan tak perlu kau ingatkan aku terus menerus, karena ketika Tuhan telah mengirimkan ku seorang anak, perjanjian ku dengan Tuhan untuk menjamin kebahagiannya otomatis sudah berjalan dan tak mungkin aku ingkari selama nafas ku masih berhembus, kau catat itu dalam ingatan mu!" jari telunjuk Bagas menunjuk pelipisnya sendiri.


"Anwar, bawa dia keluar dari sini, dan sekali lagi ada orang yang lolos masuk ke lantai atas mengganggu ku, kau tanggung akibatnya!" ancam Bagas pada kepala asisten rumah tangganya itu.


Bagai dejavu, dara yang sejak tadi terdiam itu seperti kembali melihat sosok Bagas yang dulu di kenalnya pemarah, arogan, angkuh, impulsif, namun kali ini dirinya bukan sebagai objek penderita dari sasaran kemarahannya, melainkan sebagai penontonnya.


Merasa pernah berada di posisi Kamila saat ini dan bahkan lebih, sebenarnya Dara sedikit merasa iba dengan Kamila, terlebih wanita yang menjadi sasaran kemarahan suaminya itu sedang mengandung, dia pasti sangat sedih, pikirnya.


"Mas, apa sikap mu tak terlalu berlebihan dan terlalu kasar pada Kamila? Ingat, dia sedang mengandung, jangan sampai dia tertekan dan berpengaruh pada janin yang di kandungnya," ujar Dara.

__ADS_1


Begitu lah Dara dengan segla kenaifan dirinya, di saat dirinya yang tadi di persalahkan dan di maki oleh Kamila, dia masih sempat-sempatnya memikirkan kondisi psikis Kamila yang bisa saja terganggu, karena sikap Bagas yang di nilainya terlalu kasar dan berlebihan dalam menghadapi mantan istrinya itu.


Jujur saja Dara juga merasa syok, sungguh ini di luar ekspektasinya, karena biasanya Bagas hanya akan terlihat cuek dan bahkan diam saat berada di kondisi seperti tadi, namun pembelaan yang dilakukan Bagas terhadapnya tadi membuatnya semakin merasa dirinya kebingungan di sisi sebelah siapa sebenarnya Bagas berpihak, kenapa dia selalu plin plan dalam bersikap saat menghadapi istri dan mantan istrinya.


"Aku tak suka dia menghina mu,"Bagas masih terbawa suasana sehingga nada bicaranya masih terdengar ketus.


"Bahkan hinaan mu dulu lebih kasar, pada ku!" jawab Dara.


"Oh sayang, kau masih ingat saja, maafkan aku, saat itu aku masih belum mau mengakui kalau aku sebenarnya sudah tertarik dengan mata coklat terang mu dari pertama kali kita bertemu di pabrik,"


Menyadari nada bicaranya masih terdengar ketus dan bisa saja semakin menyulut kemarahan Dara, akhirnya dia mendekati istrinya itu dan memeluk bahunya,


"Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada mu dulu, kamu boleh membalasnya pada ku, aku tak akan melawan."


"Aku tak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, karena itu berarti aku tak ada bedanya dengan orang itu, aku sudah memaafkan mu, tenang saja, tak akan ada dendam di hati ku untuk ayah dari anak ku ini,"


Ucapan Bagas tentang janjinya untuk menbagagiakan anaknya masih terngiang jelas di telinga Dara, jujur dia bangga, anaknya punya ayah yang baik dan hebat meskipun mungkin Bagas bukan suami yang baik dan hebat bagi istrinya karena sikapnya yang di nilai Dara selalu saja plin plan, tidak konsisten.


"Apa tak sebaiknya kamu melihat keadaan Kamila, dia pasti bersedih dan merasa sangat terpukul dengan perkatan kasar mu tadi, mas."


"Tidak, biar dia tau kalau sikapnya tadi pada mu adalah salah, aku tak bisa terus membiarkan kesewenang-wenangannya." Bagas bergeming.


"Mas, boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" Tanya Dara yang langsung di jawab dengan anggukan suaminya.


"Tapi kamu harus jujur ya, jawabnya." Ujar Dara lagi.


"iya sayang, katakan apa yang ingin kamu tanyakan." Bagas terlihat tak sabaran.


"Apa kamu akan rujuk dan menikah kembali dengan Kamila?"

__ADS_1


Bagas menghela nafas panjang,


"Aku belum bisa memberi jawaban yang pasti pada mu," jawabnya yang tentu saja membuat Dara merasa teramat sangat kecewa di buatnya.


__ADS_2