Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Itu bisa di Atur


__ADS_3

"Sayang, kenapa aku lihat kamu seperti banyak melamun, sekarang. Kamu juga terus menghindari ku, apa kamu sedang ada masalah?" tanya Bagas, mendekati istrinya yang sedang mengasihi putra mereka.


Memang semenjak kejadian Yoga yang menceritakan tentang hubungan terlarangnya dengan Kamila hari itu, Dara jadi banyak terdiam, dia juga seperti takut jika harus terlibat pembicaraan dengan suaminya itu, bukan apa-apa, bukannya dia ingin menyembunyikan masalah ini dari suaminya, hanya saja jujur Dara takut dan bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Tidak, tidak ada apa-apa, mungkin aku hanya sedikit lelah akhir-akhir ini." Dara beralasan.


"Apa kamu sakit?" tanya Bagas lagi seraya menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri.


"Aku lelah, mas. Bukan sakit."


"Apa perubahan sikap mu ini ada kaitannya dengan pembicaraan mu dengan Yoga tempo hari?" tebak Bagas yang sontak saja langsung membuat Dara gelagapan di buatnya.


"A-apa maksud mas? Pembicaraan apa yang di maksud?" gugup Dara, matanya bahkan berulangkali dia lemparkan jauh ke luar jendela, saat Bagas berusaha menatap dalam manik coklat mudanya itu.


"Tentang kakak mu yang tidur dengan Kamila, tentang kemungkinan anak yang di kandung Kamila adalah anak nya," urai Bagas dengan santainya, sementara ucapan Bagas terdengar bagar gemuruh petir di siang hari bagi Dara, menakutkan.


"Mas, kamu tau tentang semua itu? Kamu menguping pembicaraan aku dan kak Yoga?"


"Aku tak perlu menguping sayang, aku hanya tinggal melihat tayangannya di ponsel ku, karena semua sudut di lantai atas aku pasangi kamera pengawas yang terhubung langsung dengan ponsel ku. Oh iya, dan tentang pertanyaan mu yang penasaran dari mana Kamila tau tentang surat perjanjian kita itu, jawabannya ada di sini, dia menguping pertengkaran kita saat membahas surat perjanjian itu." Bagas menunjukkan video Kamila sedang menempelkan telinganya di pintu kamar mereka secara diam-diam.


"Mas, kamu tau tentang kak Yoga dengan Kamila?" Dara membelalak tak percaya, selain tak percaya ternyata selama ini ternyata gerak geriknya di pantau oleh Bagas diam-diam, dia juga tak tau kalau ternyata Bagas mendengar percakapannya dengan kakaknya, karena Bagas seperti tak mempermasalhkan semua itu, padahal dirinya sudah ketakutan luar biasa.


"Tapi kenapa mas seperti tenang saja, apa mas tidak marah?" Tanya Dara seperti tak yakin.

__ADS_1


"Kenapa mesti marah? Kamila sudah bukan istri ku saat dia tidur dengan Yoga, bahkan saat masih menjadi istri ku dia tidur dengan beberapa pria muda saja aku tak marah, dari sana aku mulai menyadari kalau aku sudah tak mencintainya, karena kalau aku mencintainya, tentu saja aku akan sangat marah saat tau dia ber cinta dengan pria lain, untuk itu aku menceraikannya, aku tak mau terus terlibat pernikahan tanpa ada perasaan apapun." terangnya lagi dengan santai.


"Tapi kamu menikahi ku tanpa perasaan apapun, bahkan dengan jelas kamu bilang kalau aku bukan tipe mu, pernikahan itu terjadi hanya karena aku mirip---"


"Itu tidak benar, semua itu aku katakan padamu hanya karena aku berusaha untuk mengingkari perasaan ku sendiri kalau sedari awal bertemu, aku jatuh cinta pada mu,"


"Karena wajah ku yang---"


"Bukan! Aku bahkan belum menyadari kalau wajah mu mirip dengan Kamila, mata mu, mata coklat terang mu yang seakan langsung membius aku untuk tak sedikit pun berpaling dari mu, beberapa menit kemudian baru aku menyadari kalau wajah mu ada kemiripan dengan Kamila, tapi di perjumpaan awal kita, mata coklat terang mu lah yang membuat aku jatuh cinta, warna mata yang tentu saja sangat berbeda dari Kamila, jadi salah besar jika kamu atau siapapun mengira aku mendekati dan menikahi mu karena kemiripan wajah mu dengannya, aku mencintai mu karena itu kamu, karena kamu sebagai Dara bukan sebagai orang lain." Urai Bagas panjang lebar, mengungkapkan apa yang selama ini di pendamnya dan nyaris tak ada seorang pun yang tau bahkan Panji atau Anwar sekalipun, dia menyimpannya rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri, dan baru kini dia mengungkapkan semua itu pada istrinya.


Dara terdiam tergugu dengan perkataan dan perasaan yang Bagas ungkapkan padanya. Bagas sungguh pandai mengobrak abrik perasannya sehingga sering membuatnya merasa seperti melambung tinggi karena hal-hal yang mengejutkan seperti sekarang ini.


"Maafkan kak Yoga ya, mas." cicit Dara pelan, sungguh dirinya sangat ikut merasa bersalah atas semua itu meskipun Bagas terus mengatakan padanya kalau dirinya tak apa-apa dan marah sama sekali.


"Urusan kita yang belum di selesaikan? Urusan apa?" tanya Dara mengernyitkan dahinya, dia merasa semua masalah sudah mereka bicarakan, bahkan terakhir masalah kakak laki-lakinya pun baru saja terselesaikan.


"Urusan program menambah adik untuk Kaisar, bukankah sekarang sudah lewat empat puluh hari, dan sudah lewat masa nifas?" Bagas menyeringai, sementara wajah Dara langsung memerah seketika.


"Aku merasa iri padanya, dia bisa dengan bebas menikmati dada mu setiap waktu, sementara aku hanya bisa menontonnya saja," cebik Bagas.


"Mas, apa sih! Lagian program adiknya Kai bagaimana, dia saja usianya belum genap tiga bulan." Ujar Dara yang lantas meletakkan bayinya di boks karena putranya itu langsung terlelap karena kenyang minum asi.


"Tapi aku rindu, aku sangat rindu dengan semua hal yang ada pada diri mu, aku ingin melakukannya, tapi aku juga tak ingin menyakiti mu, aku tau dulu aku sering memaksa mu sehingga membuat mu merasa trauma, aku mengerti jika kamu belum siap melakukannya dalam waktu dekat ini." Ucap Bagas dengan tatapan sayu dan mendamba.

__ADS_1


Dara mendekati tubuh kekar suaminya itu, lantas berhenti tepat di depan tubuhnya sehingga mereka kini berhadapan dengan tatapan mata yang saling mengunci, sedikit berjinjit Dara mendaratkan kecupannya di bibir penuh Bagas.


Mendapat aba-aba seakan Dara memberi lampu hijau padanya, Bagas lantas menahan tengkuk Dara dan memperdalam ciuman mereka, seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang di dapatnya.


Dara mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang kini membuat jantungnya berdegup begitu kencangnya.


Sementara tangan Bagas kini sudah bergerilya di balik blouse Dara menyusuri punggung halus istrinya, merasakan inci demi inci kulit mulus yang sangat di rindukannya.


Tak ada suara lain di ruangan kamar super luas itu selain suara deru nafas sepasang suami istri yang seolah sedang menikmati bulan madu mereka yang tertunda itu.


Tangan Bagas semakin nakal dan semakin berani membuka satu persatu kancing blouse yang di kenakan istrinya, sehingga nampaklah bagian dada putih mulus yang selama ini hanya bisa dia curi pandang saat Dara mengasihi putranya.


"Mereka tampak semakin berisi dari sebelumnya, aku semakin suka." Bisik Bagas nakal, sambil memainkan dua bagian menyembul di dada Dara yang kini terlihat lebih penuh dan berisi karena memang sedang dalam masa mengasihi.


"Mas,,," gumam Dara menikmati semua sentuhan yang dilakukan Bagas, sungguh semua ini baru pernah di rasakannya, dia tak mengira jika percintaannya dengan Bagas yang sebelumnya hanya menyisakan kesakitan dan trauma karena sikap kasar dan paksaan Bagas, kini Bagas membuat dirinya merasa tak menapak di tanah, dia seakan di bawa terbang jauh dengan semua perlakuannya yang bisa di katakan sudah sangat ahli itu.


"Kenapa, hemh,,, apa kamu sudah siap melakukannya?" bisik Bagas tepat di telinga Dara yang trus menggeliat karena ulahnya.


"Katakan kalau kamu menginginkannya, aku tak akan melakukannya jika kamu belum mau menginginkannya." Goda Bagas yang tau kalau Dara saat ini jelas-jelas sudah berkabut gairah.


"Aku mau, tapi jangan buat aku hamil lagi, aku ingin fokus membesarkan Kai dulu," cicit Dara pada akhirnya, runtuh sudah pertahanannya oleh seorang Bagas yang terus membuatnya meracau dan menyebut nama Bagas berulang kali dalam rauannya.


"As you wish nyonya, itu bisa di atur!" ucap Bagas bersemangat, dia tak ingin melewatkan kesempatan emas ini, kesmpatan yang sudah sangat lama di tunggunya, menjadikan Dara benar-benar miliknya, melakukannya atas dasar keinginan dari kedua belah pihak dan tanpa ada paksaan dari siapapun.

__ADS_1


__ADS_2