
Sungguh dua suara yang sama-sama mendominasi dalam hatinya itu membuat dirinya di landa kebingungan yang teramat sangat, suara mana yang harus dia pilih dan dia turuti saat ini.
Hingga saat dirinya kembali ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, tak sengaja terbayang kembali saat bagaimana tadi suaminya menyelipkan senjata di jaket kulitnya, membuat pikiran-pikiran buruk itu datang begitu saja di kepalanya.
"Arrgghhh tidak-tidak,,, aku tidak bisa berdiam diri begitu saja, aku yakin kalau suami ku dalam kesulitan dan dalam masalah besar malam ini, aku harus menyusulnya." Gumam Dara berbicara sendiri.
Bayangan Suaminya terlibat dalam suatu masalah dan bahaya besar membuat dirinya semakin tak merasa tenang jika dia harus tetap berada di rumah ongkang-ongkang kaki sementara bagaimana nasib suaminya dia tak tahu, bagaimana pun, baik buruk, manis pahitnya dia sudah bertekad untuk menghadapi semuanya berdua, dia tak mau mati pesaran di rumah karena menghawatirkan suaminya yang entah akan berbuat apa.
Entah ini keputusan benar atau salah yang jelas saat ini keputusan dan tekad Dara sudah bulat, dia harus menyusul suaminya yang menurut apa yang dia dengar lewat pecakapan antara Bagas dan Panji kemarin mereka akan melakukan sebuah misi di gudang, dan itu akan melibatkan kakak laki-lakinya, bagaimana pun dirinya berada di posisi yang sulit saat ini, jika ternyata suami dan kakaknya harus bertikai entah di sisii sebelah mana dirinya harus berdiri, meskipun jika ternyata kakaknya yang bersalah, namun kakak tetaplah kakak, mereka mempunyai ikatan darah yang sama, meski demikian dia juga tak bisa mengabaikan suaminya, ayah dari anaknya yang kini sangat di cintainya itu.
Setelah menitipkan Kai pada salah satu asisten rumah tangga yang di percayanya, Dara akhirnya pergi dengan alasan membeli sesuatu di mini market dekat rumah, dia tau semua asisten rumah tangga di rumah itu akan melaporkan apapun yang di lakukannya pada Bagas atau Anwar jika dia melakukan hal-hal yang di rasa mencurigakan bagi mereka.
Dengan menumpangi taksi online Dara langsung meluncur menuju kantor, dia sengaja berhenti di tempat yangak jauh dari halaman kantor Bagas agar tak ada yang melihat kedatangan dirinya, dia juga mengenakan jaket dengan penutup kepala, tak lupa masker dia juga kenakan demi menyamarkan identitasnya dan tak ada yang mengenali dirinya, secara kini orang kantor sudah banyak yang tau tentang status dirinya yang merupakan istri dari Bagas, pemimpin perusahaan mereka.
Dari kejauhan mobil yang Bagas tumpangi terlihat parkir di area parkir khusus, sepertinya Bagas dan kedua asistennya pun tak ingin keberadaan mereka di kantor banyak yang tau.
__ADS_1
Sementara di dalam kantor, Bagas, Panji dan Anwar mulai menyusun strategi, di bantu beberapa anak buah Panji yang biasa membantunya dalam menyelesaikan berbagai masalah tuannya, mereka kini berpencar dan bersembunyi di antara tumpukan barang-barang di gudang yang lumayan sangat luas itu, tak ada yang berjaga di gudang malam itu, semua sudah di atur oleh Panji sedemikian rupa agar rencana mereka bisa sukses.
Salah satu informan Panji mengatakan kalau malam ini Yoga beserta beberapa kawanannya yang merupakan komplotan penjahat kenalan Kamila akan menjarah barang dari gudang secara besar-besaran, mereka juga akan mencuri apapun barang berharga yang ada di kantor.
Atas informasi dan pengamatan Yoga yang bisa di bilang mempunyai kewenangan di gudang, tentu saja hanya untuk mengkondisikan gudang aman dari penjagaan, itu merupakan hal yang sangat mudah baginya, di tambah lagi embel-embel dia yang sebagai kakak ipar pemilik perusahaan, tentu saja semakin memudahkan dirinya untuk bergerak sesuka hati di sana.
Betul saja, tepat pukul sepuluh malam, kawanan Yoga yang berjumlah sekitar lebih dari dua puluh orang itu tiba di gudang dengan menumpangi truk yang biasa di pakai perusahaan untuk mengirim barang, mereka memakai seragam layaknya karyawan gudang, hanya saja yang membedakan dari karyawan asli, mereka menggunakan topi hitam berlogo jaguar, sepertinya mereka dari sebuah organisasi atau kelompok mafia apa entahlah, yang jelas pasti mereka sudah merencanakan semua ini dengan begitu matangnya.
Terbukti dari cara mereka memilah barang mana saja yang merupakan produk unggulan dan bisa di jual dengan harga yang tinggi, mereka langsung angkut ke dalam dua buah truk yang sudah menunggu di muka pintu gerbang gudang.
Sementara di tempat lain, Dara masih mencari-cari keberadaan suaminya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari ke ruang kerja suaminya saja, namun saat dirinya berada di depan pintu ruang kerja Bagas, dia langsung syok saat dari celah pintu yang tak tertutup sempurna itu, dia melihat kakaknya sedang membongkar brankas di ruangan suaminya, tentu saja di temani seorang wanita yang sangat dia kenali.
"Kak Yoga, Kamila,,,, apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tegur Dara yang langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu.
Wajah Yoga langsung terlihat pias."D-dek,,," cicitnya terbata.
__ADS_1
"Kak, apa yang kakak lakukan ini salah, apa yang kakak lakukan ini tindakan kriminal, sadarlah kak." Mata Dara terus terkunci ke arah wajah kakak laki-lakinya yang tak bisa menutupi keterkejutannya karena tak menyangka jika akan ada sosok adiknya yang memergoki dirinya sedang menjarah harta benda suaminya.
"Ah, banyak bacot kau, rupanya Tuhan mengirim mu ke sini untuk mati di tangan ku!" Kamila mengacungkan sepucuk senjata yang berada di tangannya dan di arahkan tepat ke dada Dara.
"Mbak, jangan! Dia adik ku, tolong jangan sakiti dia, biar aku yang akan mengurusnya, dia tak akan mencelakakan kita percayalah!" cegah Yoga menahan tangan Kamila.
"Dasar bodoh, dia pasti akan berpihak pada suaminya dan menjebloskan kita ke penjara, jadi lebih baik dia di hilangkan saja dari bumi ini," pekik Kamila yang terlihat mulai kesetanan.
"Mbak, dia juga tante dari anak kita, tolong lepaskan dia demi anak kita!" mohon Yoga.
"Anak kita? Cih, kau pikir aku sudi mengandung bayi dari darah gembel seperti mu? Tadinya aku pikir anak itu bisa aku jadikan senjata untuk membuat Bagas kembali pada ku, namun ternyata terlalu dini terbongkar kebohongan ku, dan kau tau,,, sudah dari semenjak aku di usir dari rumah itu, anak mu sudah aku gugurkan, dia sudah tak ada lagi, dia sudah mati karena aku tak sudi mengandung bayi dari mu, dan sekarang giliran dia menusul keponakannya untuk pergi dari dunia ini." beber Kamila.
Dor,,,,!
Suara nyaring tembakan membahana di seluruh ruangan, bahkan suara letusannya dapat di dengar oleh Bagas dan kawan-kawannya yang sudah berhasil meringkus semua kawanan penjarah di gudang, membuat mereka semua saling bertatap-tatapan satu sama lain dengan wajah bingung, dan bertanya tanya dari mana arah suara letusan senjata itu berasal.
__ADS_1