
"Ke-kenapa tuan di sini?"Dara terjingkat kaget saat baru saja dirinya membuka mata ternyata Bagas berada di hadapannya, peia itu sedang duduk di tepian ranjang degan mata yang menatap dirinya intens.
"Kau melewatkan makan siang mu, tadi aku tak tega membangunkan mu, karena sepertinya kamu sangat lelah, tapi ini sudah hampir sore, kalian harus makan, dan sudah jadwalnya minum vitamin."
"Kalian?" cicit Dara mengernyit.
"Ya,, kamu dan dia," tunjuk Bagas pada perut buncit Dara.
Dara hanya membuang pandangannya malas, dia tak mau tertipu dengan perlakuan manis Bagas padanya yang bisa saja itu hanya pura-pura.
"Aku hanya hamil, bukan cacat, aku bisa dan sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, gak usah lebay, tuan!" ujar Dara ketus, seraya merebut piring di genggaman Bagas yang baru saja mengangkat sendok hendak menyuapi istrinya.
Tak ada perlawanan sedikitpun dari Bagas selain hanya terus saja mengalah dan menerima perlakuan ketus dan sinis istrinya padanya. Bagas sadar kalau perlakuannya pada Dara sebelumnya bahkan lebih menyakitkan dan lebih jahat dari itu, jadi anggap saja dia sedang menuai karma buruk atas apa yang dilakukan dirinya pada sang istri.
"Biar aku melakukannya sendiri, tuan bisa pergi dan melakukan aktifitas seperti bisanya, tak perlu repot-repot menjaga ku." Ucap Dara mengusir Bagas agar tak terus menempel pada dirinya.
"Aku tak merasa kerepotan menjaga istri dan anak ku, lagi pula aku bisa melakukan pekerjaan ku dari rumah," kilah Bagas.
"Tuan, mari kita perjelas hubungan kita!" Dara menghentikan kegiatan makannya dan menaruh piring yang masih berisi separuh makanannya itu.
Dara menatap wajah Bagas dengan serius, dirinya sadar dan sangat teramat sadar kalau Bagas itu masih berstatus suaminya, namun, atas semua yang pernah Bagas lakukan padanya di waktu sebelumnya, membuat dirinya sangat membenci ayah dari anaknya itu, perlakuan Bagas padanya sudah di batas kewajaran dan menginjak-injak harga dirinya sebagai wanita dan sebagai istri, jadi sepertinya tak mudah untuk Dara bisa bersikap biasa- biasa lagi pada Bagas seolah tak terjadi apa-apa, itu rasanya tak mungkin.
"Yang pertama, pernikahan kita terjadi karena paksaan, tepatnya karena anda memaksa ku, dan tentu saja tak ada cinta di antara kita berdua, jadi jangan seolah-olah kita pasangan suami istri yang normal, karena pernikahan kita pun di awali dengan ketidak normalan." tegas Dara.
__ADS_1
"Oke, aku salah. Aku juga minta maaf atas apa yang terjadi pada kita sebelumnya, aku hanya ingin memperbaiki semuanya, karena percaya atau tidak, jujur aku mulai menyadari kalau sebenarnya aku mencintai mu." Bagas sedikit terbata menyampaikan pengakuannya.
"Tuan, bagaimana aku bisa percaya dengan kata-kata anda, mana ada orang yang mencintai tapi menyakiti? Tolong jangan bodohi aku, meskipun di mata anda mungkin aku ini wanita bodoh." Dara keukeuh dengan pendapatnya kalau saat ini Bagas hanya sedang membodohinya agar dirinya luluh dan kembali terjebak dalam kehidupan rumitnya.
"Tapi ini memang yang sejujur-jujurnya aku rasakan, aku mencintai mu dan ingin memperbaiki semuanya," Bagas pun tak ingin menyerah begitu saja dalam misi meyakinkan istrinya tentang perasaannya.
Dara menarik nafas panjang, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar dia bisa bisa berpikir waras dalam menghadapi situasi yang cukup aneh menurutnya ini, bagaimana bisa tiba-tiba Bagas mengungkapkan rasa cintanya setelah semua kekacauan yang di timbulkan olehnya.
Cinta? Sejak kapan? Bukankah sebelumnya dia sering bilang kalau dirinya bukanlah tipe wanita yang di sukainya, gumam Dara dalam batinnya mencibir.
"Tuan, boleh aku jujur pada mu? Sejak awal aku melakukan pernikahan ini karena terpaksa dan merasa terjebak dengan tipu muslihat anda yang memanfaatkan orang tua ku, dan jujur saja aku tak pernah mencintai mu bahkan sampai detik ini, dan sebagai informasi aku juga tidak berniat untuk mencoba atau berusaha mencintai anda, bagaimana bisa kita meneruskan rumah tangga? Jadi aku mohon, lepaskan aku, tolong ceraikan aku tuan, ini untuk kebaikan kita bersama, aku tak akan menyimpan dendam apapun lagi pada anda dan anda juga boleh menemui putra kita kapan saja, tapi tolong, bebaskan aku!" mohon Dara, kata-katanya lugas dan jelas bahkan sangat tegas mengatakan tentang dirinya yang tak berminat meneruskan hubungan pernikahan itu dengan Bagas.
Rasanya bagai di hempaskan dari atap gedung yang sangat tinggi, setelah sebelumya Bagas merasa sangat bahagia karena akhirnya dapat bertemu dan berkumpul lagi dengan istri dan calon anaknya, namun kini dirinya di paksa untuk merasakan kekecewaan yang teramat dalam karena ternyata Dara tak menginginkan hidup bersama kembali dengannya, bahkan Dara juga meminta suatu hal yang tak mungkin bisa dia kabulkan, yaitu perceraian, mana mungkin dirinya menyetujui permintaan Dara yang akan membuat dirinya kehilangan istrinya selamanya itu.
"Tuan?" Panggil Dara ketika Bagas hanya terdiam dengan pandangan kosong dan nanarnya ke arah dinding bercat putih polos itu.
"Emhhh,, apa kamu sangat ingin bercerai dari ku? Apa kamu akan sangat bahagia jika lepas dari ku?" lirih Bagas, rasanya berat sekali mempertanyakan hal ini pada istrinya itu, karena sepertinya jawabannya Bagas sudah sangat tahu apa.
"Hem," deham Dara sambil mengangguk penuh percaya diri, sesuai dengan apa yang di tebaknya dalam pikirannya.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan mu, tapi sebaliknya, aku pun ingin kamu mengabulkan permintaan ku," ucap Bagas pada akhirnya.
"Anda memang seorang pengusaha sejati, tak pernah ingin rugi, katakan, jika aku sanggup aku akan menyetujuinya." sinis Dara.
__ADS_1
"Karena kita tak mungkin bercerai saat kamu sedang mengandung, maka aku akan menceraikan mu dua bulan setelah melahirkan."
"Kenapa harus menunggu dua bulan? Setelah melahirkan bukankah kita bisa langsung bercerai?" protes Dara yang merasa itu terlalu lama, dua bulan setelah melahirkan berarti sekitar tiga bulan lagi dari sekarang, karena usia kandungannya sekarang 8 bulan.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara, aku ingin mengurus mu selama sebulan terakhir kehamilan mu dan menemani persalinan mu nanti, aku juga ingin merasakan mengurus anak kita bersama-sama selama dua bulan saja, setelah itu aku akan mengabulkan permintaan mu untuk menceraikan mu, bagaimana,, apa kamu sepakat?" tawar Bagas.
Agak berat memang hati Dara untuk menyetujuinya, tapi sepertinya hanya ini satu-satunya cara untuk bisa terlepas dari jerat pernikahannya dengan Bagas yang sangat tak membahagiakan ini, sepertinya mau tak mau, suka tak suka Dara harus menyetujui usulan Bagas ini, bukankah kesempatan tak selalu datang dua kali?
"Oke, tapi aku mau ada perjanjian hitam di atas putih tentang kesepakatan kita ini, aku tak mau jika ini hanya akal-akalan anda saja dan setelah tiga bulan anda tak menceraikan ku." Dengan sangat berat hati Dara menyetujui permintaan suaminya itu, namun dia juga tak boleh lengah, dia harus waspaa dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, surat perjanjian adalah solusi yang saat ini ada di kepalanya.
"Panji akan membuatkan surat perjanjian kesepakatan itu. Oh iya, ada satu lagi, kita akan mendaftarkan pernikahan kita secara hukum besok." sambung Bagas lagi.
"Apa maksud tuan? Bukankah kita akan bercerai? kenapa malah mendaftarkan pernikahan kita secara hukum!" Sewot Dara yang merasa belum apa-apa sepertinya Bagas sudah ingin mempermainkan nya, mereka menikah secara siri, perceraian harusnya bisa lebih mudah karena Bagas cukup mengucapkan kata talak saja sudah maka sudah selesailah hubungan mereka, sementara jika pernikahan mereka di catat secara hukum negara akan lebih rumit dan memakan waktu lama jika mereka akan bercerai, apa Bagas sengaja ingin membodohinya? Kesal Dara membatin.
"Tunggu dulu, dengarkan dulu penjelasan ku sampai selesai, kita tetap akan bercerai sesuai kesepakatan kita, mengenai pengajuan pencatatan pernikahan kita secara hukum, itu semata untuk pencatatan akta anak kita kelak, aku tak mau jika anak kita nanti di bully hanya karena dalam akta kelahirannya tak tertulis nama ayahnya, dan itu akan mempermudah untuk mengurus surat-surat dia keperluan dia kedepannya, seperti sekolah dan lain sebagainya," terang Bagas menjelaskan, hingga akhirnya tak ada protes lagi dari Dara, sepertinya dia mengerti dan memahami kalau itu semua di lakukan demi anak mereka kelak, untuk sementara Dara percaya niat baik Bagas ini.
Tentu saja Dara pun ingin anaknya sama seperti anak-anak lainnya dan tak ingin menjadi korban bullian hanya karena keegoisan dirinya yang tak mau menikah resmi dengan Bagas, dia akan menyetujui semua ini demi anaknya.
"Oke, aku setuju, jangan lupa aku minta hitam di atas putih!" ujar Dara mengingatkan sekali lagi pada Bagas seolah ingin menunjukkan kalau dirinya benar-benar tak percaya pada Bagas.
"Ya, aku segera menghubungi Panji, apa perlu kita membuatnya di hadapan notaris dan pengacara agar kamu semakin yakin?" goda Bagas dengan senyum yang belum pernah Dara lihat sepanjang dia bersama suaminya itu selama ini, senyum yang menggambarkan kalau saat ini dia sedang sangat berbahagia.
"Tidak perlu, pakai materai saja sudah cukup!" ketus Dara yang menyambar lagi piring berisi makanan yang tinggal separo itu, setelah bernegoisasi sangat alot dengan suaminya tadi, perutnya menjadi lapar kembali, apa lagi tadi dia belum cukup kenyang saat berhenti makan.
__ADS_1